Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 30. Anak Pertama Lahir



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 30


Papa vampir pun saling beradu kekuatan. mereka menyerang satu sama lain, dengan saling menyakar dan menggigit. Bagi kelompok vampir Light ini merupakan pertempuran demi melindungi Nyonya dan keturunan pimpinan mereka. Maka dari itu, mereka berjuang sekuat tenaga agar tidak ada vampir yang menyerbu kastil.


Sementara itu, para vampir lainnya yang sudah kehilangan kendali, merasakan haus yang sangat menyakitkan. Dikarenakan mereka menginginkan darah yang wangi ini.


"Secepatnya kita harus melumpuhkan mereka!" teriak salah seorang pimpinan tim itu.


Kelompok Light terbagi menjadi beberapa tim. Ada yang bagian menjaga di depan gerbang kastil. Ada juga yang berjaga di kaki bukit. Serta ada yang terjaga di hutan Savana, dan juga di pusat ibukota, untuk melumpuhkan para vampir yang sedang mengamuk. Mereka menggunakan senjata berupa pistol yang berisikan peluru perak dan juga pisau perak, maupun belati perak yang berukuran sangat kecil, dalam melumpuhkan lawannya.


"Baik, Tuan. Kami akan secepatnya membereskan merek," sahut para anak buah yang berada di bawah pimpinannya.


***


Sementara itu, di kastil Allura masih berjuang untuk melahirkan kedua buah hatinya. Dia mengalami kesulitan untuk mengeluarkan bayi-bayi itu karena ukuran pinggulnya yang agak kecil sedangkan ukuran bayi sangat besar. Allura tidak bisa melakukan proses melahirkan dengan cara sesar karena itu sangat berbahaya bagi nyawanya maupun kedua bayi itu. Baik Xavier, dokter, maupun asistennya, tidak akan kuat melihat darah milik Allura nanti.


"Aaaakh, sakit sekali!" teriak Allura sambil mengejan berusaha mengeluarkan anak pertamanya.


"Honey, ayo kamu pasti bisa ucap safir hamil mencium pucuk kepala Allura.


"Ayo, Nyonya! Rambut bayinya sudah terlihat. Anda pasti bisa mengeluarkan mereka dengan selamat," ucap dokter memberikan dukungan kepada Allura.


Allura kembali mengejan dengan sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayi, yang telah dia rasakan berada di pintu keluar peranakannya. Dia sudah mencapai batas kesadaran dirinya, antara sadar dan tidak sadar.


"Ayo, Nyonya! Kepala bayi sudah keluar!" pekik dokter itu.


"Aaaak!"


Lalu, Allura mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan bayi itu. Akhirnya anak pertama mereka bisa keluar dengan selamat. Tangisan bayi itu begitu nyaring dan terasa memekakan telinga orang orang yang ada di kastil dan di sekitarnya.


"Selamat, Nyonya! Anak pertama anda adalah seorang laki-laki," kata dokter yang kini sedang menggendong bayi kecil yang berumuran darah.


Sang asisten dokter itu melihat bayi Allura yang berlumuran darah. Tiba-tiba saja kehilangan kendali dan hendak merebut bayi Allura dari tangan dokter.


Xavier dengan cepat langsung menendang sang asisten. Sampai tubuhnya membentur dinding dan perempuan itu pun akhirnya tersadar kembali.


"Maafkan saya, Tuan! Karena tidak bisa mengendalikan diri, saat melihat bayi itu berlumuran darah," kata sang asisten sambil terduduk di lantai dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Sudahlah kau sebaiknya keluar dari ruangan ini!" perintah Xavier sambil berjalan kembali ke sisi Allura.


Perempuan itu pun berjalan terseok-seok keluar dari ruang bersalin, yang dijaga oleh Lukas dan Cedric. Mau tidak mau dokter itu yang mengurus untuk membersihkan bayi Allura agar tidak tercium wangi darah darinya.


Terlihat kalau rasa ini Allura tidak sadarkan diri, setelah berhasil mengeluarkan satu bayi mereka. sementara itu masih ada satu bayi lagi di dalam perutnya.


Xavier melihat anaknya sudah selesai dimandikan dan dipakaikan baju lalu dia pun menggendongnya. Betapa senangnya dia saat melihat makhluk mungil itu. Dia mencium kedua pipi gembul putranya.


"Itu pasti, Tuan. Karena anak ini terlahir dari kedua orang tua yang hebat," ucap dokter sambil tersenyum.


Kemudian dokter itu pun menyuntikkan kembali cairan formula ke tubuh Allura. Hal ini membuat wanita itu tersadar kembali dengan kondisi tubuh yang memiliki stamina lebih kuat.


"Honey, lihatlah! Putra kita sangat tampan dan gagah," kata Xavier sambil meletakkan putranya di atas dada Allura.


Tangis haru air mata Allura langsung membasahi pipinya. Dia tidak menyangka kalau bisa memiliki seorang anak dari suami vampirnya ini. Allura memandang wajah putranya yang sedang tertidur, tetapi kepalanya bergerak-gerak seorang sedang mencari sesuatu.


"Nyonya sepertinya putra Anda ingin menyusu," kata dokter dan Allura langsung mengeluarkan sumber ASI-nya.


Bayi itu pun langsung menyusul dengan sangat rakus. Seakan dia benar-benar sangat kehausan dan kelaparan saat ini. Allura menyusui bayinya sekitar 15 menit. Dia kembali merasakan mulas pada perutnya dan ingin mengeluarkan bayi yang satunya lagi.


"Aduh dokter, perutku sangat sakit sekali!" erang Allura dengan meringis kesakitan.


"Sepertinya bayi yang satu lagi sudah ingin keluar," kata dokter sambil menyiapkan diri untuk proses kelahiran anak kedua.


***


Sementara itu, di tempat Zero. Dia yang sedang berkumpul bersama anak buahnya, dapat mencium dengan jelas wangi harum yang sangat memabukkan tadi kembali. Namun, kali ini ini terasa lebih menyengat dibandingkan dengan yang tadi.


"Wangi ini lagi, tetapi sekarang lebih kuat dan terasa jauh lebih segar. Membuat aku kehausan," ucap Zero dengan mata yang berubah merah menyala.


Ternyata bukan hanya Zero saja yang matanya berubah. Semua vampir yang ada di sana, matanya berubah merah dengan gigi taring meruncing dan kuku-kuku tangan mereka juga berubah memanjang.


"Tuan, kami sudah tidak kuat untuk menahan godaan wangi darah ini," ucap seseorang dan diikuti oleh yang lainnya.


Zero pun merasakan hal yang sama. Dia sudah tidak sabar ingin mencicipi darah ini. Lalu, dia pun memusatkan pikirannya, untuk mengetahui di mana titik pasti wangi dari si pemilik darah.


Ada dua titik yang dia rasakan. Namun, ada satu titik yang lebih terasa kuat wanginya dan itu berada di kastil milik Xavier.


"Bagaimana mungkin orang itu berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan," ucap Zero.


"Apa maksudnya, Tuan?" tanya salah seorang anak buahnya.


"Apakah Saintess itu bisa lebih dari satu orang?" tanya Zero.


Para vampir di sana saling melirik satu sama lain. Kebanyakan mereka tidak tahu akan hal ini. Apalagi dari mereka tidak pernah ada satu pun yang pernah bertemu dengan Saintess.


"Kami tidak tahu tapi mungkin saja itu bisa terjadi. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini," jawab anak buah Zero yang lainnya lagi.


Zero pun mangut-mangut dan dia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini bersama dengan anak buah kelompok Shadow. maka dia pun membuat sebuah strategi bersama seluruh anak buahnya.


***


Strategi apa yang akan dibuat oleh Zero dan kelompoknya? Tunggu kelanjutannya, ya!