
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 24
Allura di bawa oleh Zero belum juga sadarkan diri. Kini dia berada dalam pelukan laki-laki yang usianya lebih tua Xavier. Meski begitu jika dilihat dari rupa mereka seperti tidak beda jauh. Kini Zero pun mulai terobsesi kepada Allura. Dia menciumi pipi dan kening wanita yang masih diam tidak berdaya. Sesekali dia juga mencium bibir ranum milik Allura. Dia tidak bisa mengendalikan gairahnya saat berada di dekat Allura. Apalagi saat dia menciumnya, rasanya dia ingin bercinta dengannya. Hanya saja saat ini kondisi tubuhnya sedang tidak seimbang. Bisa-bisa nanti dia malah membunuh Allura karena dirinya tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Pierre yang juga mengalami luka parah, sekarang sedang berada di suatu kamar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kantung labu cair berwarna biru dan kantung labu darah terpasang di tiang besi dan masuk ke tubuh Pierre lewat selang infus.
Beberapa orang sedang memeriksa keadaan tubuh Pierre lewat monitor. Terlihat kalau jantung tinggal sepertiga lagi yang masih berwarna merah. Sementara yang dua pertiga sudah menghitam. Jika, satu kali lagi jantungnya terkena tusukan pisau perak maka bisa dipastikan jantungnya akan hancur dan dia akan berubah menjadi abu.
"Bagaimana?" tanya salah seorang laki-laki yang memakai baju jas putih.
"Tuan Pierre masih kritis," ucap laki-laki yang memakai seragam biru muda.
"Aku merasa ada yang aneh ke kelompok Light. Aku yakin dulu pernah menusuk jantung dia dua kali. Yang pertama saat kami masih muda sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu. Kemudian, yang kedua sekitar lima puluh tahun yang lalu. Namun, hari ini aku berhasil menusuk kembali jantungnya, tapi dia masih baik-baik saja," kata laki-laki yang memakai tuxedo berwarna hitam.
"Apa? Aku rasa itu mustahil!" ucap laki-laki berjas putih.
"Aku yakin sekali dengan ini karena dia adalah musuh bebuyutan aku dari kecil," lanjut laki-laki bertuxedo hitam itu sangat meyakinkan.
"Aku dengar. Kelompok mereka berhasil membuat suatu formula yang baru. Aku tidak tahu dengan pasti formula itu seperti apa yang jelas aku dengar kalau formula itu bisa menyembuhkan luka yang ada pada tubuh kita dengan cepat.
***
Xavier saat ini berada di puncak gedung Hotel Obelix. Dia kini sedang memusatkan panca indra untuk mengetahui Allura saat ini. Ternyata hal ini sangat sulit untuk melakukan hal ini karena Pulau Aprhodite dibuat untuk melemahkan kekuatan para vampir. Bahkan sampai lima kali lipat melemahkan kekuatan mereka.
"Allura, di mana kamu?" Xavier terus memanggil nama istrinya.
"Ayo, tunjukan keberadaan kamu meski hanya sekali!" gumam Xavier.
'Kyaaaak!'
Xavier mendengar suara teriakan dari Allura. Dia kini tahu di mana keberadaan Allura. Kalau istrinya itu masih berada di dalam hotel. Maka dia pun memberikan kode ke semua anak buahnya untuk mengepung Hotel Obelix.
Xavier pun masuk ke dalam hotel dan mencari keberadaan Allura. Dia menelusuri setiap tempat yang dirasa memancarkan sinyal keberadaan istrinya.
***
"Kyaaaak!" teriak Allura sambil menjauhkan dirinya dari laki-laki itu.
"Jangan takut. Aku tidak akan melukai kamu," ucap Zero mencoba menenangkan wanita itu.
"Kamu siapa?" tanya Allura.
"Aku Zero," jawab laki-laki yang kini duduk di pinggir kasur.
'Zero? Apa dia juga vampir seperti Xavier? Eh, tunggu! Jangan-jangan dia Zero yang terkenal sebagai vampir jahat,' batin Allura.
"Apa apa?" tanya Zero karena tiba-tiba saja Allura terdiam dan menatapnya dengan penuh selidik.
"Aku ingin pulang," ucap Allura dengan lirih.
Allura berusaha jangan sampai membuat Zero curiga apalagi sampai dia marah. Sebab, hal ini akan menyulitkan dirinya. Dia tidak mau menjadi santapan vampir. Makanya dia kabur dari Xavier.
Allura teringat kembali pada Xavier yang tadi berkelahi dan melawan banyak musuh. Dia menjadi merasa khawatir pada suaminya itu.
'Kenapa aku malah khawatir pada makhluk menyeramkan itu. Seharusnya aku mengkhawatirkan diri aku sendiri. Saat ini aku sedang berada di tangan monster penghisap darah,' kata Allura dalam hatinya.
"Tidak bisa. Keadaan di luar saat ini sedang kacau. Kamu, 'kan tahu sendiri tadi. Jadi, lebih baik kalau kita diam di sini untuk sementara waktu," ucap Zero.
"Tapi, bagaimana jika teman-teman mencari aku karena belum pulang juga?" ujar Allura mencoba merayu senormal dan setenang mungkin.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk menghubungi mereka," balas Zero.
Allura kini tidak punya alasan lagi yang masuk akal, agar dirinya bisa keluar dari ruangan itu. Dia mengedarkan penglihatannya dan baru sadar kalau ruangan itu benar-benar tertutup. Tidak ada kaca jendela sama sekali. hanya ada dua pintu. Dia yakin kalau salah satu pintu itu adalah penghubung untuk keluar dari ruangan ini. Namun, yang satunya lagi dia tidak bisa menebaknya.
'Xavier, keluarkan aku dari sini!' teriak Allura dalam hatinya.
***
Akankah Xavier mendengar teriakan hati Allura? Tunggu kelanjutannya, ya!