Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 29. Para Vampir Kehilangan Kendali



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 29


Dokter dan asistennya memakai masker pelindung wajah begitu juga dengan Xavier. Selain mereka Lukas dan Cedric juga memakai hal yang sama, sehingga mereka tidak akan mencium wangi darah milik Allura. Para penjaga di luar kastil, baik yang berada di depan gerbang maupun di kaki bukit. Semua memakai masker pelindung ini.


Allura merasakan sakit yang amat sangat dan mengejan keras. Dia berusaha untuk mengeluarkan kedua bayinya.


"Aaaakh, Darling! Ini sakit sekali," erang Allura semakin mencengkram kuat genggaman tangannya pada Xavier.


"Ayo, Nyonya! Tarik napas dalam-dalam ... keluarkan secara perlahan," kata Dokter itu memberikan instruksi pada Allura.


"Kamu adalah wanita kuat, Honey. Pasti bisa melahirkan anak kita," kata Xavier memberikan dukungan agar Allura bisa melahirkan anaknya.


"Aaaaaakh, kenapa sulit sekali mereka keluar! Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Xavier, tolong aku!" Allura mengerang sambil meracau kesakitan.


"Dokter, cepat lakukan sesuatu agar Allura tidak kesakitan seperti ini," pinta Xavier. Dia juga merasa tidak tega melihat istrinya mengerang kesakitan.


Wajah Allura terlihat mengerikan ekspresinya karena merasakan sakit. Keringat di tubuhnya juga sangat banyak. Sampai rambut dia juga basah seperti sudah keramas.


"Aaaaaakh!"


***


Begitu darah Allura keluar, di luar kastil para makhluk vampir mutan maupun vampir berdarah campuran yang tidak memakai masker, mulai bereaksi. Mata, gigi, dan kuku mereka semua berubah.


"Aaaa."


"Vampir!"


"Mereka berubah menjadi vampir."


"Tolong, ada vampir!"


Keadaan di ibu kota pun mulai kacau. Vampir yang tidak bisa mengendalikan dirinya, tiba-tiba berubah. Tentu hal ini membuat takut dan panik para manusia. Orang-orang yang mereka kenal dan dikira manusia biasa ternyata adalah vampir.


"Keadaan seperti yang kita perkirakan. Kalian harus mampu membunuh atau membuat para vampir itu tidak sadarkan diri," kata salah seorang anak buah kelompok Light.


"Baiklah, kita mulai pemburuan para vampir!" timpal yang lainnya dan di sambut teriakan semangat dari rekan mereka.


Para vampir dari kelompok Light yang sudah tahu akan terjadi hal buruk seperti ini. Maka, mereka pun sudah siap untuk melumpuhkan para vampir yang tiba-tiba mengamuk karena mencium wangi darah Allura.


Selain itu, agar pada vampir itu tidak menyerang manusia biasa. Ada tim dari kelompok Light yang memancing para vampir itu ke lahan hutan Savana dengan menggunakan darah milik Allura. Mereka sengaja melakukan hal itu agar para vampir itu berdatangan ke sana.


"Bagus. Berkumpullah kalian semua di sini, para vampir yang haus akan kesegaran darah orang hebat ini."


Para vampir satu persatu datang ke sana dan kelompok Light sudah siap untuk melumpuhkan mereka. Mereka saling menyerang dan dengan mudah dikalahkan dengan pistol perak.


***


Zero dan Pierre yang sedang mengadakan rapat bersama dengan jajaran direksi perusahaan miliknya. Merasa sangat terkejut saat mencium wangi darah segar dan manis. Begitu juga dengan para vampir berdarah campuran yang ada di sana. Mata, gigi, dan kuku mereka berubah menunjukan kalau mereka adalah vampir.


"Ada apa ini?" tanya Zero sambil menghirup wangi segar yang memabukkan.


"Tidak tahu Tuan, tiba-tiba saja tercium wangi yang manis dan terasa memabukkan," jawab Pierre.


"Ini sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Zero entah pada siapa.


"Tuan, terjadi kekacauan di dalam gedung perkantoran di lantai lima," ucap seorang anak buah Zero yang datang secara tergopoh-gopoh.


Zero dan Cedric pun langsung bergegas ke lantai lima. Ternyata para vampir berdarah campuran yang level lemah, menyerang beberapa manusia biasa. Ada juga vampir berdarah campuran level kuat mencoba menghentikan mereka.


"Ternyata jumlah mereka sangat banyak sekali," gumam Zero dengan kesal karena mengetahui banyak sekali anak buahnya yang lemah dalam pengendalian diri mereka.


"Pierre, bereskan mereka!" perintah Zero kepada sang asisten.


"Baik, Tuan!"


Maka Pierre mengeluarkan dua pisau perak dari balik celana. Lalu, dengan gerakan cepat langsung menghajar semua vampir yang kehilangan kendali. Tubuh dia bagaikan kapas yang tertiup angin. Bergerak meliuk-liuk menghindari serangan. Kemudian dia memberikan perlawanan dengan tepat sasaran mengenai tubuh mereka. Akhirnya, dia bisa mengalahkan mereka dalam waktu yang singkat.


Zero mencari informasi tentang apa yang sedang kejadian saat ini. Sebab, menurutnya ini merupakan fenomena yang sangat aneh.


"Bagaimana?" tanya Zero pada anak buahnya.


"Kami belum tahu secara pasti apa yang membuat para vampir itu mengamuk. Hanya saja banyak vampir yang pergi menuju ke lahan hutan Savana," jawabnya.


"Apa? Mau apa mereka ke sana?" tanya Zero.


"Itu karena sumber wangi yang memabukkan ini ada di sana," jawab laki-laki berbadan tegap.


Gara-Gara pertempuran dia dengan Xavier dahulu, sampai sekarang kondisi kekuatan Zero belum pulih kembali. Jika dia memaksakan diri, maka akan semakin memperparah keadaannya.


"Tuan, saya dengar wangi yang memabukkan ini adalah darah dari wanita suci!" teriak seorang pemuda yang masuk dengan napas terputus-putus karena berlari sekuat tenaga ke sana.


"Apa? Darah dari wanita suci? Apa dia itu seorang Saintess?" tanya Zero tidak percaya kalau ada orang yang memiliki darah langka itu.


"Iya, kemungkinan seperti itu. Hal ini seperti ada dalam catatan Duke Alessio. Kalau darah seorang Saintess Aprhodite meski satu tetes bisa menyembuhkan luka yang sangat parah dan meningkatkan kekuatan berkali-kali lipat," Jelas laki-laki itu.


"Siapa orang itu? Bagaimana bisa dia jadi seorang Saintess?" tanya Zero dengan penuh penasaran.


"Menurut legenda, Saintess Aprhodite itu berasal dari dunia lain. Dia muncul ke dunia ini melalui salah satu danau yang ada di Pulau Aprhodite. Tapi, untuk kali ini, aku belum mendapat informasi kalau ada seorang asing yang datang ke dunia ini," jawabnya lagi.


"Secepatnya kita harus menemukan orang yang mempunyai darah suci ini!" Zero merasa kalau orang yang diduga Saintess ini akan sangat berguna bagi dirinya, juga kelompoknya nanti.


"Baik, Tuan. Kami akan cari secepatnya orang itu," jawab laki-laki itu lagi.


"Tuan, apa orang yang punya darah suci ini sedang terluka. Sehingga, dia mengeluarkan banyak darah dan memancing para vampir untuk menuju ke sana," ucap laki-laki paruh baya itu.


"Benar juga. Pasti dia sekarang berada di tempat itu dan mengeluarkan banyak darah," ujar Zero sambil berpikir keras.


"Kenapa tidak Tuan pastikan saja sendiri ke sana?" kata laki-laki itu lagi.


***


Akankah Zero datang ke tempat hutan Savana? Apakah identitas Allura akan ketahuan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya aku yang lainnya.