Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 25. Perkelahian Xavier VS Zero



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari kalian menyenangkan dan dilimpahkan banyak rezeki.


***


Bab 25


Xavier merasa mendengar suara Allura, dia pun segera berlari ke arah sumber suara itu berasal. Dia pun terjebak di sebuah lorong yang memiliki banyak pintu. Dia mencoba membuka satu persatu pintu itu, tetapi tidak bisa terbuka. Seolah terkunci dengan sangat rapat dan tidak sembarang orang yang bisa memasukinya.


'Allura, kau ada di mana sebenarnya?' batin Xavier sambil berlari dan mencoba membuka pintu-pintu itu.


Xavier tidak bisa menggunakan kekuatan penuh saat ini. Maka, dia pun memakan pil hasil dari formula yang dicampur menggunakan darah Allura untuk meningkatkan kekuatannya. Dia merasakan sesuatu yang menjalar di setiap saraf yang ada di dalam. Rasa hangat dan energi yang kuat mulai Xavier rasakan di permukaan kulitnya.


Hanya dengan satu kali pukulan, dia pun berhasil membuka pintu yang tertutup rapat itu. Pintu pertama yang dia buka ternyata hanya sebuah kamar kosong. Xavier pun membuka satu persatu pintu itu dengan cara dipukul dengan kekuatan penuh. Sampai di pintu terakhir baru bisa menemukan sosok yang diajari dan dia rindukan selama ini.


Xavier melihat Allura sedang berada di bawah kungkungan Zero di atas tempat tidur. Melihat hari ini Xavier pun marah dan langsung menerjang Zero, sampai mereka berguling di lantai dan saling menyerang satu sama lain.


"Dasar berengsek, rasakan ini!" teriak Xavier melayangkan tinju ke wajah Zero.


Zero yang tidak mau kalah dari lawannya, memberikan serangan balik dengan menenangkan kaki ke perut Xavier. Sampai laki-laki itu terpental jauh dan menabrak dinding tembok. Dia pun kembali menyerang dengan kecepatan yang tinggi. Melayangkan cakaran dari kukunya yang panjang dan kuat ke arah jantung Xavier.


Xavier dengan kecepatan yang lebih jauh cepat, bisa menghindari serangan Zero. Sebaliknya dia pun memberikan serangan dari arah belakang punggung dengan menusukkan tangannya yang memiliki kuku tajam menembus ke dada Zero.


"Aaaakh!" Zero mengarang kesakitan dengan memegang dadanya yang mengeluarkan banyak darah.


"Kamu pikir bisa mengalahkan aku dengan mudah," ucap Zero sambil terkekeh pada Xavier yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Tentu saja aku tahu, bagaimana caranya memberikan akhir kehidupan yang indah untukmu," sindir Xavier pada Zero.


"Aku menantikan hal itu," balas Zero masih dengan tawa mengerikannya.


Allura yang berada di atas tempat tidur hanya bisa menatap dengan shock, melihat perkelahian dua orang laki-laki dewasa. Dia tidak menyangka kalau hidupnya sekarang dikelilingi oleh makhluk-makhluk mengerikan.


"Sekarang pun dengan senang hati aku akan memberikannya untukmu," ujar Xavier sambil mengeluarkan sebuah pistol.


Zero menatap jengah pada Xavier. Dia tahu kalau pistol itu berisi dengan peluru perak suci yang bisa membunuhnya dan mengubahnya menjadi abu. Kemudian, dia pun dengan cepat mengeluarkan pistolnya yang berisi peluru perak suci. Benda yang sudah dia siapkan sejak ratusan tahun lalu untuk membunuh Xavier.


Kini kedua lelaki itu saling menodongkan pistolnya ke arah lawan masing-masing. Mereka seakan menantikan saat-saat di mana bisa menghabisi lawannya. Baik Xavier maupun Zero tidak boleh sembarangan pelancarkan peluru perak suci itu karena sudah tidak ada lagi stok peluru itu saat ini. Peluru perak suci adalah buatan dari seorang murid kebanggaan Saintess Aprhodite. Dulu jumlah peluru itu mencapai ribuan dan digunakan untuk membunuh para pemimpin vampir berdarah murni. Isi di dalam pistol mereka itu masing-masing memiliki tiga perak suci.


'Aku harus bener-bener fokus agar bisa mengenai jantungnya.' Xavier memicingkan matanya dan menetap ke arah dada kiri Zero.


Xavier melemparkan pisau perak ke arah Zero. Saat laki-laki itu menghindar ke arah kanan, Xavier pun menembakkan satu pelurunya ke arah jantung Zero. Akhirnya satu peluru perak suci itu menancap di jantung Zero.


"Tuan Zero!" teriak beberapa orang anak buah Zero lainnya.


Xavier dengan kecepatan penuh bisa menghindari semua serangan yang mereka lancarkan kepadanya. Dia pun memberikan serangan balasan dengan menggunakan pisau perak yang tinggal satu lagi. Dengan kecepatan penuh dia menyerang satu persatu anak buah Zero, sehingga mereka semua berubah menjadi abu. Sementara itu, Zero sendiri bisa melarikan diri melalui pintu rahasia lainnya.


Melihat semua musuhnya sudah tidak ada, membuat Xavier merasa lega. Lalu, dia pun berjalan ke arah Allura. Senyum bahagia terlukis di wajahnya yang biasanya kaku itu.


"Honey," panggilnya kepada Allura.


Allura yang baru menyadari kalau dirinya tidak bisa jauh dari Xavier, langsung saja memeluk laki-laki itu dengan erat. Tangisan dia pun langsung pecah saat suaminya membalas pelukannya. Bagaimanapun juga rasa cintanya terhadap Xavier sangat kuat, itu yang dirasakan oleh Allura.


"Darling, senang bisa bertemu denganmu kembali," ucap Allura diiringi isak tangis.


"Jangan pergi lagi dari sisiku. Itu membuat aku menjadi gila," aku Xavier membisikannya di telinga Allura.


"Iya. Aku akan selalu berada di sisimu, asal saja jangan kamu bunuh aku," lirih Allura.


"Bodoh, mana mungkin aku membunuh wanita yang sangat aku cintai," balas Xavier dan menatap ke arah wajah Allura yang sangat dia rindukan.


Xavier pun membawa Allura pergi dari Hotel Obelix. Dengan kecepatan yang dia miliki mereka pun sampai ke hotel milik Xavier yang ada di Pantai Barat.


Cedric dan anak buah Xavier lainnya menyambut gembira atas kepulangan tuan mereka dengan gembira. Mereka pun merayakan kedatangan tuan dan nyonya, pimpinan kelompok Light.


"Selamat Tuan, akhirnya Nyonya bisa kembali lagi ke sisi kita," ucap Cedric.


"Dia itu hanya sedang ingin pergi honeymoon. Makanya kami pun akan melanjutkan liburan honeymoon kita di sini," ucap Xavier sambil melirik ke arah Allura.


"Baiklah Tuan, akan kami siapkan kamar terbaik untuk kalian tinggali selama liburan di sini," kata manajer hotel.


***


Malam itu pun Allura dan Xavier tidur pulas karena kelelahan. Mereka tidur sambil berpelukan seolah takut salah seorang dari mereka akan pergi.


Kepala manajer hotel mendatangi dapur dan menyuruh koki untuk memasukkan sebuah ramuan di dalam makanan milik Allura. Dia pun membisikan sesuatu padanya, koki itu pun mengangguk dan tersenyum.


"Ingat jangan sampai gagal!" perintah manajer hotel itu.


"Baik, Pak. Semoga saja semua berjalan sesuai harapan kita," ujar di koki sambil memberikan kode, oke.


***


Ramuan apakah yang dimasukkan oleh koki ke dalam makanan Allura? Tunggu kelanjutannya, ya!