Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 21. Bertemu Dengan Zero



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


Bab 21


Allura dan kedua temannya terjebak di dalam lautan manusia yang menghadiri acara pesta tahunan ini. Mereka harus berjalan sejauh 3 kilometer karena saking banyaknya orang-orang yang berbondong-bondong menuju ke Hotel Obelix.


"Ramai sekali ternyata acara ini," ucap Sera.


"Tentu saja karena ini merupakan acara tahunan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang," balas Edmond.


"Ya, aku rasa seperti itu. Banyak warga penduduk pulau asli dan turis benar-benar menyiapkan diri mereka dengan baik," lanjut Allura.


Ketiganya berjalan dengan perlahan, sudah hampir satu jam mereka jalan dengan merayap seperti itu. Akhirnya mereka pun sampai di lobi hotel.


Terlihat dua orang laki-laki yang berdiri di dekat jendela kaca yang besar. Salah satunya melambaikan tangan pada Allura dan teman-temannya.


"Allura siapa mereka? Sepertinya mereka melambaikan tangan ke arah kita," tanya Sera sambil menunjuk ke arah dua orang laki-laki yang memakai tuxedo berwarna merah dan biru dongker.


Allura pun terdiam sejenak, dan baru menyadari kalau salah seorang di antara mereka memakai baju pasangan yang sedang dia pakai. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang karena dia yakin kalau laki-laki yang memakai tuxedo merah itu bukan Pierre, tetapi orang lain.


"Siapa dia?" gumam Allura tertelan oleh suara orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Apa kamu bilang barusan?" tanya Sera agak berteriak karena suasana di sana mulai gaduh oleh suara musik yang berparade mengelilingi jalanan di sekitar hotel.


"Kita ke sana! Orang itu terus melambaikan tangan ke arah kita," ajak Edmond sambil menarik tangan kedua temannya.


Mereka melewati orang-orang dengan sudah payah. Semakin banyak saja orang yang berkumpul di sana untuk melihat parade yang disuguhkan oleh penduduk lokal.


"Akhirnya kamu bisa sampai sini juga," ucap laki-laki yang memakai tuxedo berwarna biru dongker.


"Tuan Pierre?" Allura bisa mengenali suara laki-laki itu.


"Iya ini aku, Allura," balas Pierre diikuti dengan suara kekehannya.


Zero menatap lekat ke arah Allura. Dia sedang menelisik sosok wanita yang memiliki tubuh proposional. Dia sampai gagal fokus dengan bagian dada milik Allura yang membusung besar. Dia sampai menelan ludahnya.


'Aku rasa sekarang tahu kenapa Xavier menjadikan wanita ini sebagai istrinya,' batin Zero.


"Tuan, kenalkan ini Allura. Dia asisten baru yang aku pekerjakan untuk urusan hotel ini. Dia orangnya cekatan dan pekerja keras," puji Pierre dan membuat Allura tersipu malu.


"Senang bisa berkenalan dengan kamu, Nona cantik," ucap Zero sambil mengulurkan tangannya.


"Senang juga bisa bertemu dengan Anda ...."


"Zero. Panggil saja aku dengan nama itu," ucap Zero dengan sopan.


"Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Zero," balas Allura sambil mengulurkan tangannya.


Zero merasakan tubuhnya tiba-tiba saja bergejolak. Gairah dalam dirinya tiba-tiba saja bangkit. Sungguh dia tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Padahal mereka hanya saling bersalam dan itu pun hanya sebentar.


'Apa ini? Mana mungkin aku tertarik dengan wanita milik Xavier,' batin Zero.


Tatapan Zero tidak pernah lepas dari Allura. Dia mulai merasa tertarik secara seksual pada wanita yang sering menebarkan senyum pada orang-orang di sekitarnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Pierre pada Zero karena sejak tadi dia melihat pemimpinya itu terus memperhatikan Allura.


"Aku menginginkan dia, Pierre," jawab Zero berterus terang.


"Apa?" pekik Pierre.


"Aku tertarik padanya. Aku menginginkan dirinya," lanjut Zero tanpa mengalihkan perhatiannya pada istri musuh bebuyutannya.


***


Sementara itu, Xavier dan Hana juga mendatangi acara pesta itu. Mereka menonton festival parade di pinggir jalan dekat Hotel Obelix. Tidak jauh dari mereka Cedric mengawasi tuannya. Dia tidak boleh melemahkan pengawasannya di sarang musuh.


Baik Xavier maupun Cedric menyadari banyak sekali vampir berdarah campuran yang ikut pesta itu. Mereka tidak tahu mana vampir kelompok Shadow dan mana yang bukan. Mereka tidak bisa dibedakan jika dalam kerumunan seperti ini. Bau mereka akan tercampur satu dengan yang lainnya.


"Apa kamu suka dengan acara yang seperti ini?" tanya Hana.


"Ya, aku suka," jawab Xavier berbohong.


Dia lebih suka dengan tempat yang tenang dan sepi. Hanya ada satu suara yang dia sukai. Yaitu, suara melodi indah milik Allura saat mereka sedang bercinta. Sementara yang lainnya, dia tidak menyukainya.


"Baguslah kalau begitu. Biasanya kalau parade festival seperti ini, sering diadakan di Pulau Aprhodite setiap bulannya," ujar Hana dengan antusias. Xavier hanya diam saja.


'Aku sudah tahu itu dari zaman dulu,' kata Xavier dalam hatinya.


***


Xavier dan Hana pun memasuki halaman Hotel Obelix. Bagi orang-orang yang ingin ikut pesta dansa, mereka akan masuk ke sana. Kebanyakan mereka adalah pasangan kekasih atau yang sedang mencari pasangan.


Xavier mengedarkan pandangannya menelusuri setiap tempat di sana. Dia memfokuskan penglihatan, pendengaran, dan penciumannya. Meski tidak bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal, tetapi dia masih mampu menggunakan kekuatannya ini.


'Allura? Aku bisa mencium wangi tubuh Allura di sini!' batin Xavier memekik senang.


Xavier pun memberikan kode pada Cedric kalau Allura juga sedang berada di sana sekarang. Dia meminta orang-orangnya bergerak secara diam-diam untuk mencari keberadaan istrinya itu.


***


Akankah Xavier menemukan Allura dengan cepat dan lancar? Di saat istrinya itu dalam pengawasan musuh bebuyutannya. Tunggu kelanjutannya, ya!