Vampire Bride

Vampire Bride
Bab 32. Lahirnya Anak Kedua



Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian menyenangkan dan dilapangkan rezekinya.


***


Bab 32


Allura sedang berjuang mengeluarkan bayinya yang kedua. Dia mengejan dan mengerang kesakitan karena bayinya masih sulit untuk dikeluarkan. 


"Ayo, Nyonya! Tarik napas anda yang dalam dan dorong," perintah dokter dengan memberi aba-aba.


"Tubuhku sudah terasa sangat lelah dan lemas sekali," ucap Allura.


Xavier yang melihat istrinya dalam keadaan lemah seperti ini merasa kasihan. Dia pun meminta agar diberi kembali cairan formula.


"Tidak boleh, Tuan. Bagaimana jika tubuh Nyonya menolak kembali. Hal itu malah akan membahayakan nyawanya," kata dokter. Itu terjadi karena tadi dia sudah pernah mencoba sekali. Namun, cairan itu tidak bisa masuk ke dalam aliran darah di dalam tubuhnya.


Xavier bingung harus melakukan apalagi agar Allura tidak terlalu lama mengalami kesakitan seperti ini. Melakukan operasi cesar tidak boleh mereka lakukan terhadap Allura. Sebab akan membuat dia semakin terancam nyawanya di tengah-tengah kelompok vampir.


"Lalu, apa yang bisa kita lakukan saat ini?" tanya Xavier dengan putus asa.


"Nyonya yang harus berjuang sendiri saat ini. Hanya Anda yang bisa mengeluarkan bayi itu," ucap dokter kepada Allura agar lebih bersemangat lagi untuk mengeluarkan bayinya.


Xavier hanya bisa menitikkan air mata, melihat keadaan istrinya. Dia merasa telah menjadi laki-laki yang lemah dan tidak berguna. Dikarenakan tidak bisa berbuat sesuatu untuk wanita yang dicintainya


Allura masih saja berteriak dengan sekuat tenaga mendorong bayi itu agar secepatnya keluar dari dalam perut. Hal ini membuahkan hasil, dokter berteriak kalau kepala bayi sudah terlihat.


"Ayo, Nyonya. Dorong sekali lagi! Kepala bayi sudah terlihat," kata dokter dengan senang.


"Aaaa!" teriak Aurora dan tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi kedua memenuhi ruangan itu.


"Akhirnya, bayi ini keluar juga dengan selamat!" seru dokter tersenyum bahagia.


Allura pun tersenyum senang saat melihat anak keduanya terlahir. Dia merasa tulang di selutuh tubuhnya terasa patah di waktu yang bersamaan. Selain itu dia juga merasa ada yang hilang dalam tubuhnya.


"Selamat, Tuan. Bayi Anda yang kedua juga berjenis kelamin laki-laki. Hanya saja ukuran anak kedua lebih besar dari anak pertama," lanjut dokter itu sambil menyerahkan bayi yang sudah terbungkus oleh kain kepada Allura.


"Sepertinya anak kedua kita ingin menyusu juga," ucap Xavier dengan suara bergetar, karena menahan tangis haru dan bahagia melihat anak keduanya terlahiran dengan sempurna.


Allura pun menyusui terlebih dahulu bayinya, sebelum dibersihkan oleh dokter. Dia menangis terharu dan bahagia secara bersamaan mengingat kembali Betapa sulitnya dia melahirkan anak kembarnya ini.


***


Zero pun mengalami hal yang sama. Dia merasa sangat kehausan dan kelaparan sehingga semakin brutal dalam menyerang lawannya. Dia ingin secepatnya masuk ke dalam kastil yang menjadi tempat tinggal musuh bebuyutan selama ratusan tahun ini.


Mata Zero merah menyala dan taringnya semakin tajam. Muka dia pun berubah layaknya seperti monster. Dia terus memberikan serangan terhadap anak buah kelompok Light. Dia terus maju menuju ke atas bukit di mana kastil milik Xavier berdiri kokoh.


"Hentikan, dia! Jangan sampai Zero naik ke atas bukit!" teriak salah satu komandan yang memimpin kelompok Light di kaki bukit.


Lalu, para vampir dari kelompok Light berusaha menghentikan laju dari Zero. Mereka melancarkan serangan kepada pemimpin kelompok Shadow. Tembakan peluru perak dan lemparan belati perak, mereka arahkan kepada tubuh Zero.


Akan tetapi Zero berhasil menghalau semua serangan itu. Dia masih mampu terus berjalan menuju ke arah puncak bukit.


Keadaan di sana semakin genting karena semakin banyak berdatangan para vampir lainnya ke bukit itu. Mereka adalah vampir berdarah campuran yang bukan merupakan kelompok Shadow ataupun kelompok Light.


Hanya saja vampir ini tidak sekuat para vampir berdarah campuran yang masuk dalam dua kelompok besar itu. Hal ini dikarenakan tubuh mereka tidak pernah mendapatkan darah yang sudah di formulakan agar menambahkan efek kekuatan.


"Tuan, terlihat banyak musuh baru berdatangan ke sini. Apa yang harus kita lakukan? Sementara orang kita sudah banyak berkurang," ucap salah seorang anak buah Xavier kepada komandannya.


"Mereka adalah vampir yang lemah dan sangat mudah untuk membereskan mereka, yang sulit adalah melawan vampir kelompok Shadow," balas komandannya.


Kini pisau perak mereka saling beradu untuk mengalahkan lawan mereka. Selain terdengar teriakan suara para vampir, terdengar juga bunyi pisau yang saling beradu. Banyak sekali terdengar bunyi keras yang menghiasi pertempuran mereka.


***


Lukas dan Cedric menerima laporan, kalau Zero beberapa anak buahnya berhasil naik ke atas puncak bukit. Ada kemungkinan dia dan beberapa anak buahnya akan menyerang para penjaga yang ada di depan benteng, dengan menggunakan kekuatan monster mereka.


"Sebaiknya kita juga harus bersiap-siap menyambut kedatangan tamu tak diundang itu," ucap Cedric sambil memeriksa semua perlengkapan liriknya baik itu senjata maupun formula untuk menambah kekuatannya nanti.


"Aku sudah tidak sabar ingin kembali bertarung dengan Ketua kelompok Shadow itu," ucap Lukas.


"Kamu masih saja dendam terhadapnya, ya?" Cedric tertawa kecil.


"Seumur hidupku tidak akan pernah melupakannya," balas Lukas dengan geram.


***


Apa yang sudah terjadi antara Lukas dan Zero di masa lalu? tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu apa berikutnya baca juga karya aku yang lain. Novel Ini sudah tamat, jadi kalian bisa membacanya secara maraton.