
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 23
Xavier berhasil menahan tangan Pierre, saat laki-laki itu datang dan menyerang ke arah jantungnya dengan menggunakan pisau perak secara tiba-tiba. Xavier pun memberikan sebuah tonjokan ke arah muka Pierre dengan sekuat tenaga sampai laki-laki itu terlempar jauh dan membentur dinding bangunan hotel.
Zero pun memanggil anak buahnya untuk memberikan perlawanan terhadap Xavier. Dalam waktu yang sekejap anak buah Zero pun mengepung Xavier. Ada ratusan vampir campuran yang berada di bawah komando Zero yang siap memberikan serangan kepada Xavier.
"Dari mana datangnya pasukan ini?" Xavier bertanya-tanya karena setahu tadi mereka tidak ada di sekitar sini.
Maka dia pun melakukan hal yang sama, yaitu memanggil anak buahnya yang ada di pulau Aprhodite ini. Dalam waktu yang bersamaan Zero pun menyuruh anak buahnya untuk menyerang Xavier.
"Aaaaa!" Ratusan vampir itu pun langsung menyerang Xavier.
Xavier pun mempertahankan diri dan memberikan serangan dengan menggunakan pisau perak yang dibawa olehnya tadi. Dengan menggunakan kekuatan dan kecepatan tangan milik Xavier, dia berhasil melumpuhkan para vampir yang menyerang secara bersamaan. Dia mengincar jantung para vampir itu dengan menancapkan pisau perak sebanyak tiga kali agar mereka berubah menjadi abu.
Gerakan tubuh Xavier yang cepat dan tepat mengenai jantung para Vampir itu membuat geram Zero. Dia pun membawa Allura menjauh dari sana.
Allura sangat shock saat melihat pertempuran para vampir. Kuku-kuku jari mereka berubah menjadi panjang. Selain itu gigi taringnya juga bertambah panjang dengan mata yang berubah merah. Telihat kalau para vampir itu menyerang suaminya secara bersamaan.
"Xavier hati-hati!" teriak Allura saat melihat Pierre akan menembakkan peluru perak ke arah suaminya.
Mendengar suara peringatan dari Allura membuat Xavier lebih waspada lagi terhadap serangan musuhnya. Dia pun menggunakan beberapa tubuh vampir sebagai tameng. Agar peluru perak yang dilancarkan oleh Pierre tidak mengenainya.
"Untung saja," gumam Xavier saat melihat beberapa vampir tadi berubah menjadi abu.
Zero yang akhirnya membuat Allura pingsan setelah memukul tengkuknya. Tubuh Allura pun dibohong dan dibawa pergi menjauh dari sana. Akan tetapi Zero dihadang oleh Cedric dan beberapa anak buah vampir kelompok Light yang baru saja tiba.
"Serang mereka!" perintah Cedric dan para vampir kelompok Light pun menyerang vampir kelompok Shadow.
Pertempuran antara vampir pun terjadi malam itu di samping bangunan Hotel Obelix. Para vampir berdarah campuran yang bukan merupakan kelompok Light ataupun kelompok Shadow, langsung mengungsikan para manusia biasa dari wilayah itu.
Malam pesta yang ditunggu-tunggu oleh para penduduk Pulau Aprhodite, berubah menjadi mencekam gara-gara pertempuran dua kelompok vampir. Mereka mengungsikan diri ke arah Pantai Selatan, agar terhindar dari amukan para vampir yang sudah kehilangan kendali pada dirinya.
Para vampir itu saling mencakar dan menggigit satu sama lain. Selain itu, mereka juga menggunakan pistol yang berisikan peluru perak dan juga pisau perak untuk membunuh lawannya. Banyak sekali vampir yang musnah dalam pertempuran ini. Baik dari kelompok Shadow maupun kelompok Light. Hanya saja kekalahan telak diterima oleh kelompok Shadow dengan banyaknya pasukan mereka yang musnah oleh Xavier.
Xavier menggunakan jurus tarian maut dalam penyerangannya. Dengan menggunakan piasu perak di kedua tangannya, dia banyak membunuh atau memusnahkan para vampir.
Pierre pun mulai merasa terdesak oleh Cedric. Mereka berdua adalah musuh bebuyutan sejak ratusan tahun yang lalu. Keduanya merupakan orang kepercayaan pimpinan kelompok masing-masing.
Pierre kehabisan peluru perak, maka dia pun menggunakan pisau perak untuk menyerang Cedric. Dengan gerakan yang cepat dan kuat Pierre berhasil menusukkan satu kali pisaunya ke jantung Cedric.
"Aaaakh!" erang Cedric kesakitan.
"Rasakan ini lagi!" teriak Pierre sambil mengayunkan kembali tangannya untuk menusuk jantung Cedric.
"Si_al!" teriak Cedric dan menghentikan serangannya karena Pierre menggunakan tubuh vampir itu sebagai tamengnya.
Pierre pergi dari sana dengan menggunakan tubuh vampir berdarah campuran menjadi tamengnya. Hal ini menguntungkan dirinya agar bisa selamat.
Terlihat Xavier sudah kelelahan dalam melakukan penyerangan dan bertahan saat berkelahi melawan para vampir berdarah campuran dari kelompok Shadow. Cedric pun langsung mendekati tuannya.
"Jangan sisakan musuh kita meski pun hanya satu vampir!" teriak Cedric memberikan perintah pada vampir anak buah kelompok Light yang baru saja datang ke sana.
"Baik!" balas mereka dan langsung menyerang untuk memusnahkan semua vampir yang tersisa di sana.
Para vampir yang baru datang itu dengan cepat bisa memusnahkan sisa-sisa vampir dari kelompok Shadow. Mereka menggunakan pisau perak sebagai senjata dalam melakukan penyerangan karena jika menggunakan pistol peluru perak, suaranya akan sangat bising dan membuat takut baru manusia yang ada di sana.
"Aaaakh!" teriak para vampir itu sebelum berubah menjadi abu.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Cedric sambil memapah tubuh Xavier yang lemas.
"Mana obatnya?" Xavier mengulurkan tangan ke arah Cedric, meminta obat yang sudah berhasil mereka kembangkan untuk menyembuhkan luka dan menambah stamina.
Cedric pun memberikan kotak yang berisi beberapa butir obat kepada tuannya. Xavier pun menyuruh Cedric untuk meminum obat itu. Setelah itu sisanya dibagikan kepada para vampir yang terluka parah. Dalam sekejap, mereka pun pulih kembali dan merasa sangat kuat.
***
Zero membawa Allura ke sebuah tempat rahasia yang ada di dalam bangunan itu. Keadaan wanita masih belum sadar dan membuat Zero bisa dengan cepat melarikan diri.
Kini Zero sedang berada di sebuah kamar yang mewah dan besar. Dia meletakan Allura di atas tempat tidur. Dia terus memandangi wajah cantik Allura.
"Kamu cantik sekali," ucap Zero setelah membuka topeng milik Allura.
Disentuhnya setiap sentimeter kulit yang ada pada wajah Allura. Bahkan dia merasa tertarik dengan bibir sensual yang berwarna merah alami.
"Rasanya aku ingin mencium bibir kamu ini. Aku harus menunggu beberapa saat lagi. Karena tubuhku masih dalam reaksi obat penyembuh," ujar Zero dengan penuh penyesalan.
***
"Cari istriku harus sampai dapat!" perintah Xavier pada anak buahnya yang masih tersisa.
"Baik, Tuan!" balas para anak buah Xavier, lalu membubarkan diri untuk mencari keberadaan Nyonya mereka.
"Allura, tunggu aku!"
***
Akankah Xavier berhasil menyelamatkan Allura? Apa Allura mau kembali pada suaminya atau memilih kabur lagi? Tunggu kelanjutannya, ya.