
Holla holla aku balik Xixixi, ada yang kangen?. Pastinya ngak ( ̄. ̄).
Happy reading
...*****...
Farel sedari tadi tersenyum cerah, bagaimana tidak? saat tau bahwa sang istri sudah sadar dari koma-nya dan kini sedang terduduk di depan nya sambil memakan bubur yang Farel suapi dengan lahap.
Setelah mangkuk berisi bubur -nya habis ia memberi Ana minum dengan penuh kehati - hatian, meletak kan semua peralatan makan ke atas nakas.
Tangan kanan -nya memegang tangan kiri Ana dengan lembut.
" Cepet sembuh, jangan buat aku khawatir terus sama kamu Ana." Tatapan lembut Farel layang kan pada Ana . Hey! bayang kan Farel yang memiliki tatapan setajam elang yang sedang mencari mangsa malah melempar kan tatapan lembut dan hangat pada Ana.
" A..aku udah baik -baik aja kok cuman masih pusing dikit aja." Jangan heran bagaimana Lina bisa berbahasa indonesia padahal dia keturunan Jerman karena ia memiliki rekan kerja yang ada di Indonesia serta ber- investasi dalam berbagai cabang hotel dan sekolah. Mengharus kan ia belajar bahasa Indonesia begitu pula dengan Lia yang notabene CEO perusahaan mereka.
"Kalau begitu lebih baik sekarang tidur, biar lebih enakan." Dengan gerakan lembut Farel membantu Ana berbaring kembali setelah tadi duduk untuk makan, menata bantal dan menarik selimut sampai sebatas leher.
"Tapi aku nggak ngantuk Rel." Dengan sedikit merengek dan memberikan puppy eyes-nya.
Ayolah bantu Lina supaya bersikap selayak-nya Ana -sang pemilik raga. agar orang di depan-nya tak tau siapa dia sebenarnya , yang notabene hanya jiwa yang menepati tubuh Ana. Selama lebih dari 23 tahun baru kali ini dia merengek pada seorang lelaki ,bahkan tunangan nya sendiri ia selalu bersikap acuh tak acuh meski dia mencintai tunangan -nya itu.
" Katanya pusing, mending istirahat aja yah biar nanti lebih seger?." Farel gemas sendiri dengan Ana, ia sebenar-nya ingin memberikan izin pada Ana tapi mengingat perkataan dokter bahwa Ana masih butuh istirahat lebih banyak membuat ia mengurung kan niat nya. Farel memberikan elusan penuh kasih sayang.
"Ngggg... oke deh " Menyesuaikan posisi yang nyaman, dengan di temani elusan ringan Farel membuat kedua kelopak mata Ana tertutup dengan perlahan, mengantuk.
Kini berpindah pada ruangan Lia yang hanya terdiri dari Lia sendiri dan Albert, baru saja ia menghabis-kan semangkuk bubur.
Di temani jam berdetik tak ada suara yang terlontar dari bibir Albert dia hanya diam sambil memandang Ava yang tengah memandangi pemandangan di luar jendela ruangan nya.
"Cepat Sembuh " Hanya dua kata itu yang terlontar dari Albert setelah beberapa menit berdiam diri.
" I...iya ." tersenyum kecil
Sungguh Lia merasa kaku menjawab seperti itu, yah bagaimana pun iya masih terkejut lantaran benar - benar sudah hidup kembali, di tubuh gadis berusia 17 tahun. Namun iya juga sedih lantaran harus jauh dari seseorang yang masih ber-status sebagai suami -nya.
Albert dapat melihat wajah sendu dan pandangan kosong Ava, dan yang terlintas di pikiran Albert ialah bahwa Ava kecewa karena tak melihat sosok Farez yang seharus nya ada di sisi nya yang sedang membutuhkan perhatian dari Farez yang notabene -nya kekasih Ava.
Mengepal kan tangan dengan erat, sial.! perasaan amarah kini memenuhi rongga dada Albert, bagaimana bisa ia merelakan sang pemilik hati pada lelaki yang tak bertanggung jawab seperti itu? melupakan sang kekasih yang sedang terbaring koma dan pergi dengan wanita lain.
Ketika mengingat bahwa kemarin ia sempat melihat Farel jalan berdua -an dengan maria -teman osisnya. dan saling melempar gurau membuat amarah Albert memuncak. Dan beruntung nya Farez tak langsung Albert hajar di tempat karena sang ketua yang menitipkan pesanan dan menyuruh -nya untuk segera ke rumah sakit.
Sekelebat ingatan itu membuat Albert ingin membunuh Farez sekarang juga, karena bagaimana pun ia tak terima melihat sang pemilik hati yang masih bertahta itu sedang menunjuk kan raut sedih nya.
Menghembus kan nafas dengan kasar.
" Hey… kenapa? ada yang masih merasa sakit ?". Pertanyaan konyol memang, tapi mau bagaimana lagi hanya pertanyaan itu yang muncul di otak cemerlang nya.
" Nggak ada kok, cuman lagi kepikiran seseorang aja." Kini pandangan Ava ber alih pada Albert.
" Mikirin Farez yang nggak ada di sini ?"
Dahi Ava berkerut samar seakan sedang memikirkan sesuatu.
' Farez? siapa?'
hanya mampu bertanya dalam batin, karena bila ia bertanya secara langsung pasti seseorang yang berada di depan nya ini akan curiga.
Oke mungkin kalimat ini terlihat lebih baik.
" Jangan khawatir om Rendy lagi nyari pelaku -nya, dia janji dalam waktu dekat bakalan nemuin siapa pelaku yang udah buat menantu kesayangan nya beserta kakak -nya jatuh dari tangga." Menampilkan tatapan penuh keyakinan.
Kini Albert bangkit berdiri, membantu Ava untuk berbaring dengan nyaman, menyelimuti sampai batas leher dan berucap.
" Sekarang tutup mata " jari jemari nya menutup kedua mata Ava.
Setelah dirasa Ava sudah tertidur kini Albert berjalan keluar dengan perlahan tanpa menimbulkan suara meninggal kan ruangan Ava dengan Ava di dalam seorang diri.
Tujuan nya adalah untuk menghantam muka tampan Farez dengan kepalan tangan nya yang sedari tadi sudah gatal ingin menojok wajah songong -bagi Albert, itu.
Mendengar suara pintu tertutup Ava membuka mata -nya , menatap langit - langit ruangan dengan pandangan datar , Tak lama kemudian muncullah seringai tipis dari bibir plum -nya.
Let's start the game, jerk.
Kini ia tau siapa Farez, dan apa saja yang telah laki - laki itu perbuat pada Ava, jika kalian kira Cowok itu mencintai Ava dengan tulus maka itu tak sepenuh nya benar.
Awal nya Farez hanya merasa kasihan pada Ava tapi lama - lama kemudian ia memiliki rasa nyaman pada Ava dan mulai bergantung akan kehadiran Ava yang selalu ada bersama nya. Namun ada sat sifat yang tak pernah bisa berubah dari Farez dan tanpa diketahui oleh Farez sendiri.
Ava menutup kedua mata- nya ketika di rasa pusing dengan ingatan - ingatan
yang terus saja bermunculan dalam pikiran -nya , dan kini Ava memilih untuk tidur mengistirahat kan tubuh dan pikiran nya untuk menghadapi lintah - lintah yang harus ia basmi dengan strategi yang tentu akan mengejutkan orang - orang di sekitar nya.
Kini kisah pembalasan dendam twins Gunawan baru saja akan di mulai.
...Rendy Setiawan (43 tahun)...
• CEO S'N Corp
* Ayah dari Thoriq setiawan dan Farel setiawan
* Sayang mantu banyak lebih daripada sayang anak sendiri .
*****
Entah kenapa kalo ngetik cerita tuh sukanya malem- malem ๏_๏
Dan akhirnya tugas selesai tinggal praktek belom ㅠ...ㅠ
Maaf yah baru up soalnya ini cerita sama aku ngak di buat Draf, jadi begitu ada ide langsung ngetik langsung up..
ya jadi cerita nya awur - awuran, ngalor ngidul.
Salam hangat dari Nda, Jangan lupa vote and comment
Bye bye
See you next chapter
*****