
Albert menyusuri lorong rumah sakit sendirian tanpa teman - teman nya , seperti janjinya pada Farel bahwa sepulang sekolah nanti ia akan langsung menuju rumah sakit untuk menemani Ava. Tak lupa ia menenteng sekantong plastik berlogo iomart di tangan kanan nya pesanan sang ketua.
Dengan wajah datar tak tersentuh miliknya yang membuat kaum hawa tergila-gila padanya, terpasang pula sepasang earphone di kedua telinganya sesekali bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang ia dengar.
Menaiki lift untuk sampai pada lantai teratas dengan tangan sebelah kiri yang masuk kantong celana depannya .
Ting...
Suara pintu terbuka mengalihkan atensi semua orang yang di sana kepada seseorang yang berada dalam lift.
" Bang Al tau aja lo kalo gue laper, sini in gih makanan nya biar gue aja yang bawa. Gue tau kok pasti berat bawanya. " Tanpa menunggu persetujuan sang empu Tono mengambil alih sekresek makanan dari tangan Albert.
" Itu pesenan Farel " belum genap 4 langkah. Tono terdiam mendengar penuturan Albert.
" Hehehe biar gue aja ya bang yang nganterin nih makanan ke Pak Boss." Hais padahal perut nya sudah meronta - ronta ingin di isi , sudahlah lebih baik iya segera mengantar kan pesanan sang ketua.
Sedangkan Albert mengedikkan bahu nya acuh lalu segera pergi ke ruangan dimana Ava berada, karena ia di tugas kan untuk menemani gadis itu atas perintah sang ketua.
Ceklek...
Pintu terbuka perlahan menampilkan seorang gadis yang masih terbaring lemah di atas brankar tempat tidur nya dokter bilang kondisi nya mulai membaik dan di perkirakan akan segera sadar.
Albert melangkah dengan perlahan tanpa berniat mengusik ketenangan sang gadis, menduduk kan dirinya di kursi samping brankar menelisik rupa wajah gadis di depannya, hanya satu kata yang bisa menggambarkan wajah itu , Cantik.
Ya Albert mengakui bahwa ia terpesona dengan pahatan wajah bak barbie hidup itu ia bahkan nyaris tidak bisa mengontrol ekspresi nya bila berhadapan dengan wajah gadis itu.
Ingatan nya kembali memutar kejadian saat dirinya baru menginjak kan kaki sebagai murid baru kelas sepuluh, setelah selesai dengan MOS -nya.
kejadian awal mula ia mengetahui keberadaan Ava -gadis dengan rok span yang ukuran rok nya 5 cm di atas lutut , dulu bajunya tidak ketat seperti sekarang.
****
FLASHBACK ON
Albert menyusuri lorong sekolah dengan tujuan pergi ke perpustakaan ia ingin meminjam buku sebagai referensi untuk tugas yang di berikan Bu Rika -guru biologi.
Brukk...
Ia di kejutkan oleh gadis yang menabrak nya dengan kencang saat berbelok dari arah kantin
" Sstt.. pantat gue OMG, udah tepos malah nambah tepos lagi , sial banget gue hari ini mana dateng telat segala rok di gunting, ini lagi orang jatoh tuh tolongin bukan malah liatin doang sambil plonga plongo."
Sungguh ini hari tersial yang pernah Ava dapat rok kesayangan nya di gunting dengan tak elitnya oleh osis yang sedang rajia dadakan dengan alasan rok -nya terlalu pendek, dan saat bel istirahat berbunyi ia segera meluncur ke koperasi sekolah yang di mana berdekatan dengan kantin , malah yang ia dapat stock rok yang ada di sana sedang kosong.
Dengan kekesalan yang menumpuk ia berbalik dengan langkah di hentak sesekali misuh -misuh atas apa yang ia terima hari ini, sampai tidak memperhatikan jalan dan berujung menabrak seseorang dari arah berlawanan.
Masih dengan keadaan terduduk , Ava memincingkan mata -nya pada seseorang di depannya yang tak kunjung membantu nya berdiri maupun bersuara.
" Ekhemm.. sampe kapan situ bengong terus.? Kagak ada niatan bantuin gue berdiri gitu? . " Geram juga lama - lama Ava pada pemuda di hadapan nya itu.
Suara Ava memecahkan lamunan Albert , tangan kanan nya terulur di depan gadis itu dengan maksud membantu nya untuk segera berdiri.
Setelah berdiri Ava tanpa mengucap kan kata terima kasih langsung pergi dari sana ia benar - benar tak nyaman di tatap Albert se-intens itu , namun belum sempat ia melangkah sebuah tangan mencekal lengan nya membuat langkah nya terhenti , berbalik dengan mengangkat satu alis nya pertanda ada apa?
Ava yang di perlakukan seperti itu tentu saja terkejut setengah mati, hey gadis mana yang tidak shock saat orang asing tiba - tiba menarik dan mengikat jaket pada dirinya?
" Rok lo terlalu terbuka." Hanya kata itu yang baru keluar dari bibir Albert
" Anak Setan, lo ngak ada sopan - sopan nya sama cewek, Fucek.!" Sembari mengacung kan jari tengah nya pada Albert.
Albert hanya diam terheran - heran apa salah nya? dia kan berniat membantu biar menutup apa yang tak boleh di liat, kenapa cewek di depan nya ini malah marah - marah tidak jelas?
Ava berbalik tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu pada Albert , persetan dengan semua nya kini Ava lebih memilih melangkah kan kakinya kembali ke kelas nya 10 ips 1.
FLASHBACK OF
Setelah kejadian itu Albert diam - diam mengamati dan mengawasi Ava, segala tingkah Ava yang menurut nya terlalu bar-bar untuk seukuran cewek bagaimana tidak bar-bar , di saat cewek-cewek makan dengan tenang dan anggun Ava malah menaikkan satu kakinya di atas kursi satunya lagi mengelantung bebas di bawah dan juga posisi bersila di atas kursi sambil sesekali berteriak bersama teman cowok sekelasnya. apakah itu tidak bar-bar?.
Sempat terlintas di pikiran Albert bahwa wajah dan perilaku Ava sangat bertolak belakang, wajah nya menunjukan sisi feminim sedangkan perilaku nya menunjukan sifat tomboy. Namun itu lah daya tarik tersendiri Ava bagi Albert yang ingin mengenal lebih jauh siapa Ava sebenarnya.
Saat Albert ingin mengungkapkan ketertarikan nya pada Ava ia malah di pukul mundur oleh kedekatan Farez dan Ava yang kelihatan Romantis dan Serasi. Dan di titik itu pula Albert berbalik dari Ava namun tak sepenuh nya terbukti kini ia yang malah berada di sisi Ava bukan Farez.
" Hey bangun, lo ngak ada niatan buat nyiduk cowok lo yang lagi asik berdua an sama cewek lain? "
" Mentang - mentang pacar nya lagi koma malah asik berdua -duan."
" Kalo lo ngak buka mata gue jamin sih si bangsat itu bakalan kesenengan karena bisa jalan sama cewek cewek cantik".
setelah asik bercoleteh ria pandangan Albert tak sengaja melihat pergerakan jari - jari Ava , memencet tombol di samping brankar menunggu dokter muncul di baik pintu bercorak putih di depannya.
Beberapa saat kemudian dokter tiba di sana di barengi dengan para suster guna memperlancar prosedur Albert di suruh keluar ruangan terlebih dahulu.
Di luar ruangan banyak pasang mata yang melihat kearah nya seakan bertanya kondisi Ava , ia hanya berkata ada pergerakan dari Ava walau hanya sekilas.
*****
Holla holla aku kembali yey yey yey
Update di tengah tengah tugas numpuk berteriak ingin segera di selesaikan 😀(╯°□°)╯︵ ┻━┻
kayaknya bakalan up seminggu 3x atau 2x \=)
Jangan lupa like and vote
bye bye
(^ω^)
see you next chapter
*****