
~•~ Keesokan Paginya ~•~
SMA EDELWEISS
Digemparkan dengan berita lenyàpnya keluarga Darmawangsa dalam satu malam, berita itu memenuhi headline berita pagi ini yang telah tersebar dimana - mana bahkan ada yang menempelkan nya di mading sekolah.
Bisikan - bisikan itu terdengar di seluruh penjuru sekolah, ada yang mengatakan keprihatinan dan ada pula yang melayangkan segala umpatan - umpatan kepada berita yang memenuhi headline utama yang sedang hangat berembus itu.
tuk... tuk... tuk...
Suara sepatu yang beradu dengan lantai itu nyata nya mampu menarik beberapa pasang mata di sekitar nya, sepatu putih dengan logo Céline dipadukan dengan kaus kaki dengan logo yang sama pula membuat si pemakai tampak lebih percaya diri di setiap kaki nya melangkah.
Beberapa orang bahwa sampai menganga tak percaya akan setiap barang branded yang tertempel di sang pusat perhatian tersebut, sedangkan si empu nya hanya berjalan tanpa minat terhadap sekeliling nya.
Kelas demi kelas ia lewati hingga akhirnya tungkai kaki nya membawa ia tiba di depan kelas nya sendiri, terlihat hanya segelintir orang yang menempati kelas tersebut, hanya acuh dan terus melewati mereka semua Ava segera duduk di tempat nya.
Menyumpal telinganya dengan Airpods sembari tangan nya terulur membuka buku yang lumayan tebal jika kalian menebak buku pembelajaran ataupun buku novel kalian salah besar, karena yang Ava baca adalah berkas perkembangan perusahaan miliknya yakni ( R.A Corp ) dari tahun ke tahun ia ingin memeriksa apakah ada kecurangan atau tidak di dalam perusahaan miliknya -ah tidak maksudnya pemilik raga asli.
Di karena kan ia merasa janggal dengan pengeluaran dana lebih besar di banding pemasukan dana nya, dan tentu saja grafik laba yang ia lihat semalam memiliki ketimpangan yang drastis dari tahun - tahun sebelum nya.
Saking fokus nya Ava melihat buku itu, ia dikejut kan oleh gebrakan meja nya oleh seseorang yang ia kenal beberapa hari ini , dia seseorang yang telah Ava permalukan di kantin beberapa hari yang lalu, Raina Wulandari.
" Ngaku lo kan yang udah mémbunuh Karin beserta keluarganya , iya kan! " Jari telunjuk Raina teracung tinggi di depan wajah Ava, kilat kemarahan terlihat di kedua netra nya.
" Punya bukti ? atau lo saksi saat gue membantài keluarga Darmawangsa? "
Ava memutar bola mata nya malas, jengah sekali ia dengan hama satu ini.
" Halah ngak usah ngelak lo, lo tuh sejak awal juga orang yang bermasalah, murahan dan anak pembawa s!al mat! aja lo nyusul kakek nenek lo yang udah di alam baka sana. " Raina tertawa mengejek sambil menunjuk - nunjuk Ava tepat di wajah nya.
Ava menangkap jari telunjuk itu menekan nya ke atas sambil mempertahankan wajah datar tak tersentuh nya, jerit kesakitan terdengar menguar dari mulut Raina semakin keras jeritan Raina semakin di kuat pula Ava menekan jari telunjuk itu.
Siswa - siswi di dalam kelas meringis ngeri sembari memegangi jari telunjuk mereka sedang membayangkan apabila mereka yang berada di posisi Raina, jeritan kesakitan Raina masih terdengar nyaring di segala penjuru kelas yang sunyi namun tak sepi itu.
Ah... rasanya menyenangkan ketika Ava akan mematahkan jari orang yang jadi benalu bagi orang lain, beberapa inch lagi ia yakin jari Raina sepenuhnya akan bergeser dari tempat awal nya.
Krekk...
Bunyi pergeseran tulang itu menglengking memenuhi indra para pendengar yang hadir disana menimbulkan sensasi menyenangkan bagi si pelaku dan sensasi ketakutan di sekitar nya, Ava berdiri dari tempat duduk nya setelah aksinya beberapa detik yang lalu.
" Tau apa lo tentang kehidupan gue? tutup mulut busuk lo itu sebelum gue tutup mulut lo buat selama - lama nya, faham! " Ava mencengkam kuat dagu Raina sembari menancapkan kuku panjang nya di sudut bibir Raina menggores nya sedikit hingga setitik darah keluar dari sana.
Menghempas kasar wajah itu ke samping kanan hingga dahi nya terbentur ujung meja yang runcing, daràh mengalir ke luar dari luka yang menganga itu meski tak banyak.
Ava menatap orang yang di bawah nya dengan tatapan datar dan terkesan menusuk, membuat yang di tatap merinding tak sadar bahkan bahu nya bergetar sedikit meski sebentar.
Tanpa banyak bicara Ava melayang kan tinju nya ke pipi kanan Raina hingga ia tersungkur kembali ke lantai dengan tak elit nya , Ava menginjak pergelangan kaki Raina dengan tenaga yang kuat menyalurkan segala emosi yang meluap tanpa berniat mengendur kan kekuatan nya sedikit pun.
Raina menjerit kesakitan sembari memegangi kaki Ava dengan tujuan mengurangi segala kesakitan di kakinya
" Mulut lo harus nya di cuci pake kembang tujuh rupa terus di semprot pake parfum biar wangi. " Dengan kata lain segala omongan yang di muntah kan oleh mulut Raina semua nya omongan kosong dan busuk.
" Owh apa perlu gue jahit mulut lo biar ngak ngeluarin bau busuk ? " Tawar Ava ringan.
Setelah nya terdengar suara ketua kelas yang mengumumkan guru pengajar jam pertama akan segera hadir, semua siswa - siswi pun kembali ke tempat duduk nya masing - masing begitu pun Raina yang kembali ke kelas nya yang terpat berada di samping kanan kelas Ava.
Tak lama kemudian Ibu Muthia selaku guru pengajar materi sejarah pun memasuku kelas yang sudah kondusif kembali dan seterusnya seperti itu hingga bel istirahat berbunyi.
~•~ Kantin ~•~
Sepasang sejoli tengah menghabiskan dua gelas jus jeruk, sepiring nasi goreng dan satu mangkok bakso. Si gadis sibuk dengan bakso di mulut nya yang di suapi oleh sang suami sementara jari jemari nya sibuk mengetik sesuatu di gawai yang ia pegang, sedang bertukar pesan dengan sang kakak .
Farel sibuk menyuapi Ana dan sesekali menyuapi diri nya sendiri , memperhatikan apa yang sedang istrinya lakukan dan sesekali mengusap saus di sudut bibir Ana dengan tisu, perhatian sekali bukan?.
Tanpa peduli pada sekitar yang memperhatikan mereka berdua dengan pandangan iri dan lainnya.
Tak lama setelah itu Ava datang dengan permen kaki di mulutnya yang sedang ia **** , berjalan menuju dimana meja Ana berada dengan langkah angkuh dan aura dominan yang menguar di sekeliling nya.
Memilih duduk di kursi depan Ana , Ava berhenti mengemut perman nya dan berbicara dengan Farel namun pandangan nya tetap tertuju pada wajah yang sama dengan miliknya.
" Malam ini Ana akan menginap di apartemen gue, dan gue ngak nerima penolakan. " Ava berbicara dengan tenang namun nada suara terdengar tegas di saat yang bersamaan.
Meski Farel tak mengeluarkan protesan nya lewat mulut namun sorot matanya jelas melayangkan protes yang besar, Ana yang melihat itu hanya mampu menggigit pipi bagian dalam nya supaya tidak tersenyum. Setelah nya Ava pergi memesan makanan untuk mengganjal perut nya yang lapar.
******
Hai hai hai
balik lagi sama aku gimana gimana kangen ngak cerita T2?
Rasa rasa nya ngak ada yang kangen cerita ini, hehehe maaf yah ngilang nya lamaaaa banget 🤧🙏
bye bye salam hangat dari saya
see u next chapter
*****