
Ava melajukan motor nya membelah jalanan yang sedang senggang itu dengan motor hitam nya, tujuan nya hanya ingin mengistirahat kan raga nya yang tengah lelah itu di apartemen milik nya.
Melirik spion kanan , Ava merasa sedang diikuti oleh beberapa pengendara motor berwarna hitam beserta satu mobil merek BMW berwarna putih, membelokkan stang motor nya ke arah kanan menuju gang sempit yang hanya bisa dilalui sebuah motor saja.
Dan bingo! apa yang ia pikir kan benar adanya , beberapa motor itu terus mengikuti di belakang nya memasuki gang - gang sempit hingga sampai di mana ia membelok kan setir nya ke arah kiri menuju jalan yang agak lebar hingga akhirnya hanya terpampang sebuah tembok besar yang menghadang di depan nya_jalan buntu. Ava menuruni motor nya dengan santai sembari melepas helm full face nya , menyisiri rambut nya menggunakan jari jemari , lidah nya menyentuh ujung rongga pipi bagian dalam.
Terhitung ada enam orang yang turun dari motor masing - masing , pria dengan tubuh tinggi dan besar itu tak mampu mengoyah kan keberanian Ava yang seorang diri , enam banding satu keliatan nya mustahil untuk menang apalagi Ava seorang gadis . Tapi siapa yang tau akhir nya akan bagaimana?.
Dengan lihai Ava mengelak serangan lawan nya dirasa cukup untuk terus mengelak Ava mengarahkan kepalan tangan nya pada rahang salah satu target nya dengan lentingan yang tajam kakinya pun mampu menumbangkan satu target lain nya, pukulan serta elakan Ava lakukan niat nya kini ingin menguras habis tenaga lawan nya.
Brakkk...
Di menit yang entah keberapa, Ava berhasil menumbang kan lawan terakhir nya yang jatuh tersungkur mengenai badan motor milik lawan nya. Berjalan santai sembari mengeluarkan benda kesayangan nya , seringai mengerikan tersemat di bibir plum itu, dengan sesekali bersiul senang Ava terus berjalan mendekati satu persatu korban samsak hidup nya.
Entah kebetulan atau tidak di samping tempat bertumpuk nya papan - papan bekas Ava menemukan seutas tali tergelak disana, mengikat lawan nya dengan kuat hingga tercetak jelas bekas ikatan itu ada pada lengan lawan nya.
" Siapa yang ngirim lo semua buat nyelakain gue?" tanya nya ,dengan mencengkram dagu salah satu wajah lawan nya.
" Ngak ada." Mengeleng keras berusaha melepaskan cengkeraman yang terasa menyakitkan di dagunya akibat kuku panjang Ava.
" Owh.. ngak mau ngaku yah." Kini kuku Ava semakin menancap pada wajah itu seakan - akan takut cengkraman nya terlepas.
" Oke, kalo itu mau lo. Cara halus ngak bisa, gimana kalo pake cara kasar?"
Tangan kiri Ava membuka p!sau lipat itu menghadir kan jarum yang sangat runcing , lawan nya gemetar ketakutan di saat Ava mulai mendekati jarum itu menuju salah satu bola mata nya.
Di dalam hati Ava tertawa akan apa yang dilihat nya Ah.. dia senang akan sensasi ini , sensasi saat lawan nya gemetar tidak berkutik dan hanya mampu membisu.
Aarghhh...
Ava membuat garis melintang dari ujung kiri wajah nya melewati mata hingga hidung dan garis lurus itu berhenti di bawah telinga kanan nya.
mendengar jeritan kesakitan teman satu tim nya membuat beberapa orang di sana was - was tak karuan, Sial! apa yang di informasikan kepada mereka mengenai target nya melenceng 100 % dari perkiraan awal.
Di informasi yang di terima mereka bahwa Ava hanya siswi biasa yang tak pandai seni bela diri dan terkesan manja, tapi apa? fakta nya itu berbanding terbalik saat menghadapi nya langsung, di tambah lagi kini Ava masih asik mengukir -Abstrak . di wajah salah satu teman nya,
Setelah puas dengan tanget nya yang pertama kini Ava berpindah pada target yang ke dua.
" Siapa yang ngirim lo buat celakain gue?" nada dengan intonasi datar itu membuat seseorang nya di depan nya diam - diam meneguk saliva dengan kasar.
" An... Anu... Bos Besar." Lebih baik menjawab seperti itu dibanding kan dia harus menerima kegilaan yang sama oleh seorang gadis cantik di depan nya. Cantik - cantik Psikopat. batin nya.
" Siapa nama nya.?" Ava menaikkan salah satu alis nya
" Sa.. saya tidak tau namanya ." Ia merutuki kebodohan nya saat berada di situasi seperti ini yang malah muncul tiba - tiba.
Menyeringai lebar, Ava semakin mendekatkan pisau nya menuju leher sang korban
" Na.. nama..nya pak Wira ,pe ...pemilik Gunawan Corp, i..itu saja ya.. yang sa.. saya tau."
Menahan nafas saat dingin nya besi itu menempel di leher nya yang semakin lama semakin di tekan pelan.
" Bilang sama Bos lo, anak ingusan yang dia usir sudah bukan anak yang dulu yang ngak bisa lakuin apa - apa , bukan lagi anak ingusan yang dilakuin semena - mena cuman hanya diam saja"
Setelah nya Ava melakukan tendangan berputar dengan sasaran kepala membuat mereka semua yang berada di sana pingsan seketika.
Menaiki motor nya, Ava pergi meninggalkan tempat itu dengan tujuan markas Thunder.
~ Sedangkan disisi lain ~
Ana menatap malas tulisan - tulisan yang berisikan rumus - rumus di depan sana, Owh ayolah bukan masalah sombong atau apa ia bahkan sudah mendapat gelar prof. di kehidupan yang lalu.
Drrtt... drrttt...
...My Twin 🖤...
Pulang sekolah kumpul di markas , ada hal penting yang perlu kita bahas.
^^^Oke👌^^^
……………………………………………………………………………………
Setelah nya Ana menaruh kembali gawai nya ke dalam saku rok nya, menumpukan dagu nya di tangan dengan tangan kanan sedangkan jari tangan kirinya mengetuk meja dengan perlahan menghasil kan irama ketikan yang intens, sepertinya ia tak bisa menunggu lebih lama lagi .
" Permisi bu " Ana mengangkat tangan kanan nya.
" Ya Ana? apa mau menjawab soal yang ada di papan tulis?. " Bu Mirna membenarkan letak kacamata nya
" Apa dengan menjawab soal itu saya di ijinkan keluar bu?."
" Tentu bila kau menjawab nya dengan tepat."
Tanpa menunggu lama lagi Ana bangkit dari tempat duduk nya, berjalan santai menuju papan tulis yang berisi soal - soal matematika , yang terhitung jumlah nya sekitar 15 soal.
Dengan gerakan santai yang terkesan tenang Ana menulis beberapa bilangan angka dan mengisi satu persatu soal yang ada, kelas mendadak hening mereka merasakan hawa menengangkan dan mencekam hinggap di sekitaran mereka .
srett.. srett..
Selesai.
Kini semua soal sudah terjawab oleh Ana, Bu Mirna beranjak dari kursi nya melihat dan menilai hasil kerja anak didik nya. Menakjubkan.! ia terkejut dan terheran - heran semua soal yang ia beri mampu Ana jawab dengan mudah tanpa menemui kesulitan dan kesalahan.
Ekhemm..
" Semua yang kamu tulis benar jawaban nya." Bu Mirna kembali membenarkan letak kacamata nya yang merosot.
Teman sekelas nya tersentak kaget mendengar penuturan Bu Mirna , mereka tak percaya soal yang di berikan belum mereka pelajari sama sekali , lalu bagaimana bisa Ana menjawab nya dengan mudah?
" Terimakasih bu…" Ana tersenyum tipis
" Boleh kah saya keluar sekarang bu.?"
" Tentu saja silahkan, ada apa gerangan kau ingin keluar di jam pelajaran ku?"
" Saya ada urusan mendadak yang tidak bisa di tinggal kan, permisi bu ."
Ana melenggang meninggal kan ruang kelas nya beserta meninggal kan ransel nya di tempat duduk , biarlah biar Farel yang ambil kan dia tak mau ambil pusing dengan itu, kini tujuan nya hanya segera ke markas menemui sang kakak.
****
Holla holla , ai kambek.. ada yang kangen tah?.. sorry yah beberapa hari eh atau minggu? ini ngak update, lagi sibuk banget huhuhu...
Semoga sehat selalu yah..
Salam hangat dari Nda
Bye bye
See you next Chapter
*****