
Matahari terik menyingsing tak mengganggu orang - orang yang tengah menjalani aktivitas dan di kala siang itu terdapat sekumpulan para remaja yang sedang bersenda gurau di depan sebuah halaman rumah _atau bisa di sebut istana? yang luas di temani banyak cemilan beserta jus yang tertata rapi di tengah - tengah meja
Brumm..
Brumm..
Ckittt..
Suara nyaring bunyi knalpot disusul suara gesekan antara ban motor dengan jalan mengalih kan seluruh atensi manusia yang ada di sana sejenak guna melihat siapa gerangan yang berkunjung.
Terlihat sepasang muda mudi yang tengah duduk di atas motor sport berwarna hitam metaliq , seorang perempuan turun dari sana dengan membuka helm nya selepas nya memegang helm full face nya ditangan kanan berjalan menuju kumpulan itu sembari merapikan tatanan poni nya dengan tangan kiri .
" Hai guys.." Ana ber high five dengan teman - teman thunder nya , terlihat mencoba terbiasa dengan wajah - wajah asing di sana, bersalaman sambil melemparkan senyuman semanis madu, tak berselang lama terdengar celetukan dari arah samping kanan nya.
" Wih.. Apa kabar t'say , kangen nih uke .. kangen ngeprik bareng kita " sebut saja dia Anton laki -laki berbandana pink berbicara dengan nada khas kemanyu nya berjalan mendekati Ana sambil merentangkan kedua tangan nya, memberikan isyarat ingin memeluk.
Ana menerima pelukan itu setengah hati , bagaimana pun juga ia tak terbiasa bercengkrama dengan laki - laki yang asing menurut nya. Tapi bagaimana pun juga ia harus terbiasa berada di tengah - tengah kerumunan orang asing itu , demi kepentingan semua nya.
Ekhemm..
Deheman seseorang di belakang mereka membuat pasang mata terbelalak kaget
" Perasaan bukan Ana doang dah yang dateng kok gue nya di acuhin gitu aja " Juan memanyunkan bibir nya menghasilkan kekeham beberapa orang di sana . GEMES.
Namanya Juan Prasetyo si ahli komputer dan panahan satu sekolah dengan Justin dari Daisy High School, di tangan kanan nya terdapat tengtengan berlogo minimarket terdekat.
" Owh Ngana mau uke peluk juga sini - sini, uke peluk yang kenceng biar ngak bisa lepas "
Anton berlari sambil merentangkan kedua tangan berotot nya lebar - lebar berniat memeluk Juan dengan penuh cinta. wkwkwk.
Melihat hal itu Juan melebarkan kedua matanya bergegas berlari menghampiri Ava yang baru keluar dari rumah itu berniat bersembunyi di belakang sang ketua.
Anton yang mendapati sang ketua kini berada di depan nya langsung berhenti mendadak tanpa persiapan yang berkibat ia terjungkal kedepan mencium lantai dengan tak elit nya, terdengar ledak kan tawa dari teman - teman di sekitar nya
Ana mengulurkan tangan kanan nya selepas meredakan tawa nya guna membantu Anton berdiri, bukan kah teman seperti itu ketika kita sedang jatuh tertawa dahulu baru berniat menolong.?
" Aduh jenong uke benjol - benjol gini, kan udah ngak cantulilah lagi. " Anton mengusap dahi nya sembari sesekali meringis, memang benar terdapat memar di sana. pasti sakit.
" Makasih yah t'say udah bantuin uke, jadi tambah sayang, ehh."
Ana hanya berdehem pelan menanggapi perkataan itu, ia beralih menghampiri kakak nya dengan tatapan penuh rindu bagaimana tidak selepas keluar dari rumah sakit ia tak bertemu kakak nya lagi. Ingin rasanya ia peluk erat kakak nya tapi malu karena akan banyak pasang mata yang menatap nya heran nanti.
Ava yang melihat Ana sedang berjalan menghampiri dirinya tersenyum tipis, lalu melebarkan kedua tangan nya guna memeluk sang adik kembar tercinta nya, pelukan penuh rasa rindu itu nyatanya mampu membangun suasana penuh haru disana.
Kruyuukkk...
Pelukan kedua nya terlepas saat terdengar bunyi pelan dari perut Ana yang membuat semua orang di sana terkikik geli, owh ayolah image Cool Lia di kehidupan lalu nyata nya tak berlaku untuk kehidupan nya yang sekarang, Ia benar - benar malu .
" Yuk masuk dulu semua nya, kita makan siang bersama - sama " Ava menarik pelan tangan kembaran nya menuntun nya menuju ruang makan yang sudah tersaji beberapa hidangan yang mampu mebuat siapa pun menetes kan air liur nya .
" Wangi bener nih makanan , kayak di restoran bintang lima ya gak bro." Juan meminta pendapat kepada orang di sebelah nya
" Heem.. bener nih mana banyak banget lagi " bukan nya orang di sebelah Juan yang berbicara tetapi Anton yang menyerobot dalam percakapan itu.
" Udah - udah jangan ngomong terus, ini kita kapan makan nya kalo nunggu kalian selesai ngomong nya?" Kylie memecah obrolan itu dengan nada datar nya. Ia hanya ingin segera makan karena sedari tadi perut nya meronta - ronta untuk segera di isi.
Juan yang mendengar teguran itu lantas terdiam , beberapa detik setelah nya ia melangkah kan kaki nya menuju pantri untuk menaruh belanjaan yang sedari tadi di tengteng nya.
Semua muda - mudi di sana sudah menempati tempat duduk nya masing - masing, di pandu Ava yang memimpin doa bersama, setelah nya hanya keheningan yang terjadi karena etika makan yang sudah di terapkan.
Dua menit berselang terdengar suara nyaring derum motor yang mendekati garasi rumah, tak berselang lama seorang pria yang masih lengkap dengan seragam sekolah nya muncul di balik pintu ruang tamu yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang makan, Justin datang dengan menyampir kan tas nya di bahu kanan, sepatu nya telah berganti dengan sendal rumahan yang memang telah tersedia di sana.
" Hallo semuanya. " Tersenyum lebar hingga matanya menutup berbentuk bulan sabit.
" Hello kesayangan uke, sini - sini duduk samping ay, biar nambah cinta sama ay." sudah tau kan siapa yang bersuara?
Justin hanya melempar kan senyum nya, lalu berjalan menghampiri tempat di mana Ava duduk dan setelah nya ia duduk di samping nya, menyampir kan tas nya di sandaran kursi Justin berniat mengambil nasi beserta lauk nya namun sebuah tangan yang mengambil alih piring nya sontak membuat ia berhenti sejenak.
" Te..terima kasih " Justin gugup sungguh, biasanya Ava tak begini pada siapa pun ia hanya akan melontarkan kalimat 'makanlah yang banyak' sesudah itu ia akan kembali kepada aktivitas makan nya. Ekhemmm awas nih jatuh cintrong.
Suasana kembali hening hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, berselang beberapa menit semua nya telah menghabiskan makan siang itu, para pria kembali keruang tamu dan para gadis sibuk mencuci piring.
Justin duduk di sofa single lalu meraih tas nya yang ia letak kan di atas meja , menarik berlembar - lembar kertas di sana, merapihkan nya sebentar melihat adakah kekurangan atau tidak, lalu meletakkan nya di atas meja.
Tak berapa lama Ava datang dengan sebuah laptop dengan gambar apel bekas di gigit, di tangan kanan nya sedang kan tangan kirinya membawa map coklat yang lumayan berisi.
Ava duduk di kursi sebelah Ana yang muat untuk dua orang dewasa, mengotak - atik laptop nya sebentar setelah nya ia tunjukkan kepada sekawan nya, Anton mengerut kan kening nya seperti berpikir keras jarinya menunjuk salah satu photo yang ada di sana.
" Gue tau siapa nih orang, dia yang pernah nabrak jhons sampe koma 1 bulan." Mata Anton melirik Jhons yang berada di sebelah nya, kalian jangan salah kira bahwa Anton orang yang aduhay bisa jadi tegas di beberapa kesempatan apalagi pembahasan yang serius seperti ini akan membuat jiwa kelakian Anton ada.
" Bener, kalo ngak salah nama nya Prasetyo Darmawangsa. " Juan berseru kencang
Ava yang mendengar itu menyungging kan senyum miring, jackpot. Satu tembak dua korban yang kena.
" Oke kalo begitu kita tetep pada rencana....." Pembahasan mereka terus berlanjut dengan sesekali terselip terdengar balasan setuju, mari kita berpindah tempat dimana Farel dan kawan - kawan nya berada.
~•~ Sma Edelweiss ~•~
Farel berjalan santai menyusuri lorong - lorong setiap kelas, tujuan nya ya tentu saja menemui sang istri ia ingin mengajak Ana untuk makan bersama nya di kantin dengan menu Soto ayam favorit Ana , langkah nya berhenti di depan pintu kelas XI Ipa 4 mata elang nya mengedar keseluruh penjuru ruangan, alis nya menukik saat tau bahwa orang yang ia cari ternyata tak ada di sana.
Kini mata nya menangkap sang wakil yang tengah memasuk kan buku catatan nya ke dalam tas, lantas Farel membawa kan langkah nya menuju Albert.
" Tau Ana? Al "
Albert terkejut meski pelan ia berdeham sejenak lalu menjawab
" Tadi pas pelajaran bu Mirna Ana keluar, tapi gue ngak tau dia kemana. " Albert hanya membalas seadanya
" Oke thanks "
Farel merogoh saku celana nya lalu mengambil benda pipih di sana guna menelpon sang istri. Deringan pertama tidak di jawab begitu pun deringan ke dua Farel menunggu dengan harap - harap cemas takut ada sesuatu yang membahayakan milik nya.
" Hallo.?" Farel menghembus kan nafas nya, lega. Setelah deringan ketiga Ana menjawab telpon nya
" Kamu di mana.? An kok di kelas ngak ada? " terjadi hening sejenak
" Aku lagi sama ka Ava di apartemen nya Rel."
"Ya udah kalo gitu, jangan lupa makan. dan lagi kalo mau pergi kemana - mana tuh bilang biar aku nya ngak khawatir An." Farel tersenyum tipis
" Iya kamu jangan lupa makan yah, aku tutup dulu telpon nya kak Ava manggil nih "
" Iya, bye sayang " Farel tertegun sejenak mulut nya keseleo mengucapkan kata keramat itu.
" Bye juga sayang"
Setelah panggilan terputus Farel menutup seluruh mukanya dengan kedua tangan, oh tidak rasa- rasa nya jantung nya akan meledak saat itu juga. kenapa Ana manis banget.
Albert yang melihat itu hanya terkekeh geli ㅋㅋㅋ , jarang - jarang dia bisa melihat muka merona milik ketua nya yang terkenal sangar.
*****
Holla holla Aku balik lagi
ada yang kangen? maaf yah udah dua minggu ngak up minggu kemarin kemarin nya lagi ujian soal nya selesai baru selasa minggu kemaren. huhuhu aku ngak ada inspirasi dikala otak di penuhi pelajaran ㅠ ㅠ
bye bye
salam hangat dari Nda
See you next chapter ♥
*****