Twin's Transmigration

Twin's Transmigration
~ Chapter 12 ~



Kring~ Kring~


Bel tanda kebebasan terdengar di seluruh penjuru Sma Edelweiss sorakan penuh kebahagiaan terdengar di setiap kelasnya, menghamburkan siswa siswi untuk segera berburu makanan dikantin mengisi lagi energi serta perut kosong mereka dengan asupan makanan.


Terlihat Ava yang sedang menelusuri lorong demi lorong kelas dengan tujuan kantin sambil mengemut permen kaki yang ia minta -ups ralat yang ia palak dari teman sekelas nya, karena ia mengambil permen itu sebelum mendapat persetujuan si pemberi.


Mata Ava fokus memindai segala objek ia tangkap dari netra hazel nya, mengamati satu persatu objek yang menarik menurut matanya. Sedang asik melihat kanan - kiri ia dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba menarik tangan nya dengan kasar.


Bugh..


Suara hantaman itu terdengar jelas di kedua telinga Ava hantaman itu memberikan rasa sakit di hidung mancung nya, mendongak melihat presensi asing yang baru pertama kali ia temui.


" Kamu udah pulang , kenapa ngak ngabarin aku Va? Aku kangen banget sama kamu " Orang itu memeluk Ava dengan erat menyalurkan rasa rindu yang teramat besar.


Ava yang bingung dengan situasi ini hanya mampu bergeming, entah lah mungkin faktor perutnya kosong otaknya agak susah mencerna apa yang barusan terjadi.


" Syukur lah kamu udah sembuh, aku khawatir banget sama kamu Va." Farez kini mengelus surai hitam legam milik Ava


Ava menaikkan alis nya sebelah dia menggerutu sebal dengan orang di depannya ini , belum puas menyumpah serapahi pria di depannya Ava di buat terkejut lagi saat seseorang menarik tangan nya lembut hingga ia terbebas dari pria di depannya.


" Owh.. Masih ada muka toh nampak kin diri di depan Ava." Albert menatap dingin pemuda di depan nya itu


" Udah bosen sama Maria jadi inget masih punya pacar?" genggaman Albert di tangan Ava sedikit mengeras, Ava tau pria di sampingnya ini sedang menahan emosi nya mati matian.


" Lo ngomong apa? gue ngak jalan sama Maria, lagi pula apa urusannya sama lo gue inget masih punya pacar atau ngak? ." Setelah beberapa saat termangu Farez berani menantang netra kelam orang di depannya


"Cih.. pacar koma kok jenguk nya cuman satu kali doang. Jantan lo?" Albert memandang remeh Farez sambil tersenyum miring, Skak mat.


Aaaa....Setelah melihat perseteruan di depan nya kini dia tau apa yang tengah terjadi, pria didepan nya adalah kekasih pemilik raga asli yang ketahuan selingkuh di belakang nya, menarik. Saat nya ini giliran Ava untuk memainkan peran nya dengan serapih mungkin. Ava melepas lembut genggaman Albert ditangan nya sambil melempar senyum tipis.


" Lo kangen sama gue rez? kenapa ngak jengukin gue pas koma, kemana aja lo? meski lo lagi sibuk ngurusin tentang masa ketos periode baru lo seharus nya masih sempet jengukin gue walau dua hari sekali, nyatanya lo cuman jengukin gue pas pertama gue di bawa ke rumah sakit akibat jatoh dari tangga." Oke mari Ava tambah kan agar matanya berkaca-kaca


" Lo ngak ada disaat gue butuh lo, lo selalu menomor dua kan gue di segala aktivitas lo, kadang gue mikir gue siapa nya lo sih? label Pacar doang? meski kita jadian karena dare sialan dari temen-temen gue seenggak nya gue perlakuin lo tulus dari hati. " telunjuk Ava menekan nekan dada kiri Farez dengan cukup kuat.


'Ganteng sih, cuman sayang otak nya segede biji wijen.'


" Gue rasa permasalahan kita selesai cukup sampai sini, kedepan nya jangan cari gue lagi." Setitik air mata mengalir di ujung mata Ava -okey beri piala oskar pada Ava karena sangat mendalami peran nya .


Farez yang mendengar itu menggeleng ribut , ia tak setuju bagaimana pun ia sangat amat mencintai Ava , mencekal tangan Ava.


" Ngak Va, aku ngak mau kita putus" hatinya mencelos saat Ava mengeluarkan kata keramat itu, ia tidak mau kehilangan separuh hatinya, mungkin kata 'lo - gue' masih Farez terima meski terkesan aneh karena Ava selalu menggunakan kosakata 'aku-kamu' pada siapapun.


Berbalik. Ava menghiraukan Farez begitu saja setelah menghempaskan cengkeraman tangan nya, tujuan nya kini hanya ingin mengisi perut nya yang sudah memberontak sedari tadi.


" Ganteng doang, jenguk pacar koma cuman satu hari, Cih" seruan itu terdengar di belakang Albert,


" Diputusin masih mohon - mohon, tebel amat tuh mukanya bang?"


" Kalo gue yang jadi Ava dah gue gampar bolak - balik tuh muka nya".


Tono, Jaka dan Juna terus melontarkan kalimat - kalimat nyinyiran pada Farez, setelah puas mereka berempat bergegas menuju tempat yang di kunjungin hampir semua siswa siswi di jam ini.


Tiba di kantin mata Ava mengedar melihat sekeliling guna menemukan seseorang yang mirip dengan wajah nya, gotcha! setelah menemukan objek yang di cari ia bergegas kesana, terlihat dua orang berbeda gender yang sedang duduk di pojok kantin dekat dengan stan penjual nasi goreng, sedang berbicara yang entah membicarakan apa.


"Hallo An... Gue boleh gabung?" tanya nya pada gadis bersurai dark brown itu.


"Sini duduk aja. kak lo belum mesen kan? gue suruh Farel aja yah yang mesen".


Pandangan Ana kini beralih pada sang suami yang tengah mengaduk pop ice taro nya, seakan tau maksud sang istri Farel bertanya ingin di pesankan apa pada Ava dan dijawab dengan ingin makan nasi goreng, setelah nya ia melenggang pergi begitu saja.


Ava menatap Ana yang berada di depan nya dengan raut wajah yang serius.


" Ngak lama lagi bakalan ada pemilihan ulang buat Kantor Pusat, aku pengen semua yang kita rencanain bisa berjalan dengan mulus."


Ana mengangguk sekali sambil berujar.


" Aku udah nyiapin dua rencana yang 99% bakalan berhasil, kita tunggu musuh bergerak lebih dulu buat ngejalanin rencana yang udah disiapin buat ngejebak mereka." Senyum miring terpatri di bibir penuh nya. Ah rasanya tidak sabar untuk mempermainkan nyawa orang yang penuh dosa seperti musuh - musuh mereka.


" Bagus, kamu yang paling hebat dan paling bisa diandelin." Tangan Ava bergerak mengelus surai Ana perlahan.


Saking terlarut nya mereka dengan pembahasan serius hingga mereka di kaget kan dengan gebrakan meja yang dilakukan oleh trio somplak.


Brakk...


Bunyi nyaring itu sontak menarik perhatian orang - orang di sana , setelah di rasa tau siapa pelakunya mereka kembali acuh dan melanjutkan makan nya lagi, meski ada beberapa cibiran dan sorakan tak terima lantaran kaget yang di layang pada ketiga pria itu.


Plak..


Plak..


Plak...


Dengan tidak berperasaan nya Albert menempeleng bagian pelakang kepala Tono, Juna dan Jaka dengan keras.


" Gampang, tinggal ganti kepalanya" Albert menyaut dengan muka datar nya.


" sekate kate ya lu anjir ini pala bukan bolham bisa gonta ganti sama pasang copot gitu aja ish" Jaka memegang leher nya dan berjalan menjauhi Albert, ngeri cuy.


" Bang Al tangannya santun banget yah? minta di gaplok?" Tono berjingjit menyamakan tinggi nya dengan Albert sambil memelototkan matanya.


"Hooh, tau nih ngajak ribut emang." Juna menatap sengit Albert


Sedangkan sang empu hanya memutar bola matanya malas, lebay sekali teman sekawan nya ini.


"BERISIK.. SETAN" Ava berteriak dengan empat oktaf suaranya, dia kesal setengah mati harusnya dia menikmati makan dengan tenang -meski makanan nya belum dateng. Setidak nya ia ingin suasana yang tenang di kantin tempat orang ricuh tak jelas.


Tak lama kemudian Farel datang dengan pesana Ava di tangan kanan nya dan bakso di tangan kirinya tentunya untuk istri tercinta.


"Diem, Makan." Setelah nya ia menyodorkan bakso kedepan Ana sambil menatap mata itu lembut.


Trio somplak sontak memenuhi tempat yang tersisa dengan Albert disisi kiri Ava yang tengah fokus dengan nasi goreng nya , sungguh demi apapun dia lapar jadi ia hanya ingin makan dengan khidmat tanpa memperdulikan sekeliling nya.


Tak lama setelah nya terdengar suara bisik - bisik ah tidak lebih tepatnya obrolan karena bila berbisik orang yang jadi bahan pembicaraan tidak akan mendengar apa yang di bicarakan.


' Tuh cewek ganjen banget deketin Farel gue'


' iya mana baju nya kek cabe ' heol mbak nya ngak ngaca.? itu lipstik merah darah nya emang ngak terlalu cabe?


' Idih murah banget jadi cewek, iyuh jijik anjir liat muka nya sok cantik banget '


' Itu tuh yang lagi makan nasgor eneg banget gue liat mukanya, sok- sok an deketin Albert.'


' eh kalian nyadar ngak sih mereka kembar?'


' iya yah pantes kelakuan nya sebelas duabelas. kayak jãl@ng ' setelah nya mereka yang berada di meja itu tertawa terbahak bahak.


Awal nya Ava hanya abai, karena bagaimana pun ia tak mau membuat masalah sebelum tujuan nya tercapai dalam sebulan lagi, tapi niat nya berganti setelah mendengar kata 'keramat' diakhir obrolan mereka.


meremat sendok itu hingga sedikit bengkok, setelah nya ia melempar kan sendok beserta garpu tepat melintas pada samping telinga gadis yang menyebut dirinya beserta adik nya 'jàl@ng' demi apapun dia akan menewaskan orang yang berani menyebut dirinya beserta adiknya dengan kata itu.


Siswi itu terkejut dengan lemparan garpu beserta sendok yang melayang di samping telinga kanan nya, tangan nya bergetar ketakutan ia hampir saja kehilangan salah satu telinga nya.


Ava bangkit berjalan dengan perlahan namun penuh dengan tekanan intimidasi di setiap langkah nya mendekati target nya dengan senyum miring yang ia tampil kan, memasukkan satu tangan pada saku rok nya, tepat di samping gadis itu dia berujar dengan lantang.


" KALO MAU BISIK - BISIK JANGAN KETAHUAN SAMA ORANG NYA! KAN KESAN NYA BEGO KALO GIBAHIN ORANG NYA MALAH KEDENGARAN."


"Kalo ngak punya kaca lain kali bilang sayang biar gue yang beliin, ngatain orang kek cabe sendiri nya apa? baju sama - sama ketat jangan sok keras! cih tuh bibir habis di sengat lebah? merah amat neng." Gadis itu tertunduk malu sekaligus takut


" Ngatain gue jâl@ng punya bukti apa lo bisa ngomong kayak gitu? owh apa perlu gue sebarin foto lo yang lagi jalan sama bokap sahabat lo sendiri?" Bisa diliat badan siswi di samping nya menegang kaku, kini senyum miring Ava makin lebar


" Kayak nya seru kalo nyebarin seangkatan. " Setelah nya iya memencet sent dan boom ..banyak bunyi notifikasi di sekeliling nya.


Bisik - bisik kembali terdengar namun lebih menghebohkan ,terdapat dua foto sebut saja siswi tadi dengan ayah sang sahabat nya sedang berciuman di toilet salah satu mall terbesar disana.


Plak...


Bunyi tamparan itu menggema di sekeliling kantin


" Tega lo ancurin hidup gue! Lo Yang udah buat orang tua gue cerai! kenapa Rai kenapa? gue udah anggep lo kakak gue sendiri tapi lo dengan teganya ancurin keluarga gue gitu aja. padahal gue sering cerita segala nya ke lo ngasih semua yang lo mau tapi ini balasan lo! gue benci banget sama lo"


Setelah nya siswi itu pergi meninggalkan kantin dengan air mata yang berderai, sedangkan siswi yang di panggil Rai hanya mampu menatap kosong kedepan ia tau ia salah tapi apa daya kini dirinya mencintai ayah dari sahabat nya itu hingga rela menjadi pelakor di rumah tangga orang lain.


" INI BALASAN DARI GUE KARENA LO UDAH NYEBUT GUE SAMA ADEK GUE JAL@NG, NYATANYA SIAPA YANG LEBIH JAL@NG? B!ŤĆH! "Setelah nya Ava melemparkan sejumlah uang yang ia ambil dari saku rok nya kedepan wajah Rai.


Dia lebih suka di katain "boss b!tčh" karena demi apapun kekayaan nya bisa membeli harga diri orang - orang yang tak tau diri.



*****


Revisi dikit - dikit karena lupa alur 😀


Holla holla ada yang kangen? Xixixi maaf yah baru up, di RL lagi sibuk banget, eh ngak deng sok sibuk sksksksk. Ada yang masih bingung sama Farel - Farez? atau Ana - Ava? kalo iya kita sama bestie, aku kalo ngetik suka kebalik nama tokoh nya


ㅠ ㅠ


bye bye


salam hangat dari Nda


See you in next chapter, xie xie


*****