
Hamburg , Jerman 02.00 A.M
Di sebuah kantor yang menjulang tinggi tepatnya disalah satu ruangan Direktur, dilantai 30.
Terlihat dua orang wanita dan seorang pria -yang terikat, wanita pertama tersenyum miring sembari memegang pistol Desert Eagle Mark XIX ditangan kanan dan pisau lipat di tangan kirinya.
"Ada kata-kata terakhir sebelum meninggalkan dunia? pak tua"
"Kakak terlalu berbasa- basi , sini biar aku saja yang menembak otak kosongnya itu". Wanita lain berceletuk sembari terus mengunyah permen karet.
"Bersabarlah Lina, dia masih bisa kita ajak kerja sama, bukan begitu pak tua?"
Sedangkan orang yang ditanya hanya bergeming ditempat, mengucurkan keringat dingin di pelipisnya. Tak ada jalan keluar baginya, Ada! Tapi hanya ada satu namun dia harus rela tubuhnya hancur berkeping keping.
" Mulai " Dia menyeringai, tak apa dia meledak toh tidak akan ada yang selamat dari ledakan ini.
"Heh.. ingin meledakkan kantor mu? percuma saja kami telah mematikan bom dikantor ini"
'Tik.. Tik'
"Sial, kak kamu dengar suara itu? "
"Damn it kurasa suara itu berasal dari tubuhnya ". Cepat-cepat Lia membuka baju pria itu, menggeledah. Namun tak ada bom disana.
"Percuma saja kau menggeledah dan membunuh ku Bom ini ku pasang dalam tubuhku, Hahaha.. "
Tawa menggelegar di dalam ruangan itu.
Tak berpikir lama Lia menarik Lina untuk keluar dari sana, namun sebelum mencapai pintu
"Kau tak akan bisa lari karena waktumu kurang dari 1 menit" Pria tua itu menyeringai
Dor
Lina menembak tepat ke kepala Pria itu, ia kesal setengah mati dan lanjut berlari menggandeng tangan kakaknya untuk sampai ke tangga darurat yang ada di dekat mereka, karena jika mereka menggunakan lift mereka memerlukan banyak waktu untuk sampai ke lift yang diujung lorong.
Namun Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada mereka, baru setengah jalan di tangga lantai 30, Bunyi ledakkan terdengar jelas sampai memekakkan telinga, mereka berdua terlempar keluar dengan keadaan yang mengenaskan.
~•~Sedangkan Disisi Lain~•~
"Caroz, Aku tidak bisa menghubungi Lina bagaimana ini? Kenapa perasaanku jadi tak enak"
Carlie mondar mandir sembari memegang ponsel berusaha untuk terus menghubungi tunangannya sedari tadi namun tak kunjung tersambung.
"Aku pun tak bisa menghubungi istriku, lebih baik kita kunjungi saja target terakhir mereka"
Carlie mengangguk mengikuti Carloz di belakang mereka menggunakan mobil Carloz, Karena masih pagi buta jalanan cukup lengang untuk mereka lewati dengan kecepatan penuh.
Sesampainya mereka di kantor yang menjulang tinggi terdengar bunyi ledakkan yang amat keras dari lantai 30, mereka bergegas mendekati bangunan itu dan melihat Lia dan Lina terlempar keluar lumayan jauh dari bangunan itu.
Lia tersenyum mendapati suaminya Menangis melihat keadaannya yang cukup parah penglihatannya berkunang-kunang .
"Hey, berhentilah menangis bayi besar, aku hanya lelah di dunia Xio dan maaf sepertinya aku tidak bisa memberikan hadiah ini karena masih 7 bulan lagi baginya untuk lahir ke dunia". Ucap Lia sembari mengusap perut ratanya.
Deg
"Lia tolong katakan apa yang aku pikirkan itu benar? aku akan jadi seorang ayah, tapi kumohon bertahanlah kita akan ke rumah sakit" Menggendong istrinya ke mobil.
Carlie mengikuti dibelakang sembari menggendong tunangan tercintanya, di dalam mobil baik Carlie maupun Carloz tidak ada yang bersuara mereka hanya membiarkan air mata mereka mengalir tanpa mau menyeka sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
"Berhentilah menangis Carl ku tampak lebih jelek daripada sebelumnya " Ujar Lina sembari mengelus muka penuh air mata milik tunangannya.
"Aku hanya belum siap kehilangan mu Lina, Padahal Ki..Kita Sudah ber jan.. ji akan menikah lusa , apabila urusanmu telah selesai membunuh kakek tua itu".
Sungguh dia tak sanggup melihat keadaan tunangannya, Darah dimana- mana dan yang lebih parahnya lagi setengah tubuhnya menghitam dan kulitnya mengelupas, Begitupun dengan Lia.
"Maaf telah mengingkari janji kita, kuharap kau hidup bahagia setelah aku tiada" Perlahan kedua matanya tertutup
"Sayang kumohon buka matamu, Jangan membuatku takut, Hikss... " Menepuk kedua pipi dan mengguncangkan tubuh Lina dengan perlahan, air matanya tak berhenti mengalir deras seperti tak mau berhenti mengalir
"Tidak sayang, kita sebentar lagi sampai kumohon bertahan sebentar lagi" Carloz menambah kecepatan, persetan dengan lampu lalu lintas yang berwarna merah.
5 menit kemudian mereka telah sampai dirumah sakit, berteriak meminta dokter dan suster untuk datang menolong Twins Addison ,tak peduli dengan keadaan mereka yang acak-acakan banyak noda darah dimana-mana .
Menunggu dengan perasaan cemas di depan Ruangan ICU
"Seharusnya aku saja yang melenyapkan si tua bangka itu, dan melarangnya untuk membalaskan kejahatan yang telah dilakukan bajingan tua itu yang telah mengelapkan investasi di perusahaan Lia"
Carloz menarik rambutnya kuat-kuat
"Aku juga seharusnya ikut ketika Lina mengajakku untuk ikut membantu nya dalam hal ini dan bodohnya aku menolak tawarannya". Suara nya terdengar parau
Tak berapa lama dokter keluar bersama suster di belakangnya
"Maaf keduanya tak bisa di tolong dan kami telah berusaha sebisa kami, mereka telah tiada, dan pasien yang mengenakan gelang emas ditangan kirinya tengah mengandung 7 minggu"
Bagai dihantam Berton-ton Beton Carloz tak mampu menopang berat tubuhnya dia jatuh terduduk dan menangis dengan histeris, masa bodo bila ia laki-laki karena kesedihan nya ini berkali-kali lipat dibanding yang lainnya, Istrinya belahan jiwanya dan buah hatinya pergi begitu saja meninggalkan dirinya seorang diri.
Padahal Carloz telah berpikir positif bahwa istri dan anak nya akan selamat namun tuhan berkata lain. Melihat itu Carlie mencoba menenangkan Carloz meski di juga sama-sama sedang sedih.
Dipemakaman Twins Addison hanya kerabat beserta teman dekat saja yang datang, karena pemakaman ini benar-benar tersembunyi kendati keluarga Addison orang yang berpengaruh di Kota Hamburg.
Carloz dan Carlie masih duduk disamping makam orang yang mereka cintai ditemani semilir angin pagi yang dingin menerpa kulit
"Kuharap kau menjaga buah hati kita dan berbahagialah disana tunggu aku menyusulmu sayang"
"Tunggulah aku Lina, semoga tenang disana"
Setelah mengucap salam perpisahan mereka berbalik dengan berat hati , terlihat punggung rapuh mereka menjauh perlahan lahan sebelum akhirnya menghilang tak berbekas.
Selamat Tinggal Twin's Addison
AURELLIA ENGEL KUHN ADDISON
(23 tahun)
Presdir Addison Corp
perusahaan di bidang Konstruksi
Memiliki suami bernama
CAROZ FELIXIO (Presdir Xio's company)
Hal tersembunyi :
* Mejabat jadi ketua Geng Thunder
* Queen Jalanan
* Pecinta Cokelat
* Dan Ketua Mafia SOD (Silent Or Die)
********
Hallo **semuanya ini cerita pertama ku
semoga kalian suka sama ceritanya
kalian bisa panggil aku Nda salam kenal 😉
Bye bye**