Twin's Transmigration

Twin's Transmigration
~ Chapter 6 ~



~ Ruangan VVIP Keluarga Setiawan~


Farel terbangun karena mendengar bunyi Elektrokardiograf (EKG) yang melengking dan garis nya menunjukkan garis lurus, Karena terlalu panik Farel melupakan cara mudah memangil dokter hanya dengan memencet bel yang ada di kepala ranjang pasien.


Berlarian menuju lift dengan tujuan lantai 22 ,dimana letak ruangan dokter keluarga nya berada, Tanpa ba bi bu ia menendang dengan keras pintu itu hingga mengejutkan sang pemilik ruangan yang tengah terlelap.


Peluh telah membanjiri pelipis nya, dengan sekuat tenaga dan tanpa aba - aba ia menarik salah satu dokter tersebut menuju ruangan dimana Ana dan Ava di rawat , Persetan dengan sopan santun toh dia dibayar mahal juga oleh keluarga nya , yang terpenting sekarang adalah Ana-nya harus selamat.


Setiba di depan ruangan Ana dan Ava, dokter yang di gandeng oh tidak lebih tepatnya di seret masuk menuju ruangan Ana, alat pendektesi jantung itu masih berbunyi nyaring dengan tanda lurus, tanpa aba - aba dokter mempersiapkan Pacemaker jantung di bantu suster yang baru datang beberapa detik lalu.


Saat dokter terlihat menggosok kan kedua alatnya untuk menghasilkan tegangan listrik dan di arahkan pada dimana jantung Ana berada, Farel tak henti - hentinya merapal doa dalam hati sambil meremat tangan nya sendiri hingga telapak tangannya memutih.


Sungguh iya tak tega melihat kondisi Istrinya seperti itu, kalau bisa iya saja yang akan menggantikan posisi itu, hatinya menangis pedih melihat orang yang amat ia cintai sedang dalam kondisi seperti ini.


Karena tak kuasa melihat keadaan istrinya Farel berbalik dan menangis dalam diam dia mengigit bibir nya hingga mengeluarkan setitik darah segar, semakin mengepal kan tangannya hingga kukunya tertancap semakin dalam dan mengeluarkan darah.


Selang beberapa menit Elektrokardiograf (EKG) itu kembali berbunyi normal dengan titik garis yang stabil, semua orang yang ada di ruangan itu menghembus kan nafas lega terutama para dokter karena berhasil menyelamatkan menantu kesayangan Keluarga Setiawan.


Farel tersenyum cerah karena doa- doa nya dikabul oleh tuhan, tak lupa ia mengucapkan syukur karena masih bisa melihat gadis-nya lagi, sungguh tiada kebahagiaan yang berarti baginya kecuali melihat mata bambi itu menatap wajah nya lagi.


Sial Farel baru ingat Ava juga sedang kritis dengan langkah cepat ia sampai di depan ruangan Ava, masuk tanpa izin dan melihat bahwa kondisi Ava sudah membaik , Farel melakukan ini karena bagaimanapun juga Ava kakak iparnya, Sedangkan di ruangan ini tidak ada yang menjaga Ava, Teman - temannya juga belum datang.


Mengecek jam tangan nya sekilas sekarang pukul 04.50 WIB pantas saja Albert belum datang beserta Juna karena bagaimana pun juga mereka berdua lah yang paling pagi untuk datang ke Rumah Sakit ini.


Mengeluarkan ponsel nya dari saku celana nya,


...Leluhur ARIES ♈...


^^^Farel.S^^^


^^^@Albert, @Junanjing, lo berdua cpt ke sini^^^


Albert


Otw bos


Junanjing


bentar bos ngumpulin nyawa dulu, ini nyawa gue sliweran mulu et dah dari tadi


Tonowi


ketikan lo berdusta


Junanjing


Cot! btwe tumben bangun pagi biasanya masih mimpi Luna love


^^^Farel.s^^^


^^^GPL.🐵^^^


Tonowi


hayoloh bos udh pake titik, siap siap kena sembur air mbah dukun.


Junanjing


Kampret


Setelah keluar dari obrolan grup kini Farel kembali ke ruangan Ana, tanpa memperdulikan luka di sudut bibirnya, yah meskipun ia mengecap rasa asin dari luka yang terbuka itu.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan keadaan Farel yang bisa dibilang tidak baik-baik saja, seorang suster melangkah maju berinisiatif untuk mengobati luka di bibir Farel.


Sembari membawa kotak p3k ditangannya


"Mari saya obati lukanya kak."


Sebelum melangkah lebih jauh lagi mendekati Farel langkahnya terhenti mendengar penuturan tajam dan dingin yang Farel ucapkan


"Gue ngak butuh!" Setelah itu Farel melengos pergi mendekati Ana


suara isak tangis kembali terdengar buliran - buliran air kembali turun dari kedua matanya , menarik nafas sebentar


" Ana... cepat sembuh gue ngak bisa liat lo kayak gini, hati gue sakit An saat liat lo yang h-hampir ...." Menghembuskan nafas nya dengan keras ,


" Gue paling lemah kalo udah nyangkut keselamatan lo , hati gue ngak bisa tenang perasaan gue resah gelisah. Gue gak bisa hidup tanpa jantung gue yang dimana lo sebagai pemompa jantung gue untuk terus berdetak."


Suaranya terdengar lirih


" Gue sayang sama lo An, bahkan bisa dibilang gue udah cinta sama lo An." Mencium kening istrinya dengan penuh perasaan.


Tanpa Farel sadari ada sepasang telinga yang sedari tadi mendengar semua perkataannya.


Hati orang itu menghangat saat dia merasakan ketulusan yang di berikan oleh suami sang pemilik raganya, orang asing yang memberikannya getaran hebat, orang asing yang mampu membuat dirinya menginginkan dia hanya untuk dirinya sendiri.


Sungguh, dia bisa membandingkan perasaan orang yang berada di depannya jauh lebih besar dari pada orang yang berada di masa lalunya, tanpa sadar air matanya meluncur bebas mengalir menuju pipi chubby nya.


Farel sempat terkejut melihat sebulir air mata jatuh menuruni pipi sang istri,


Ia merasa bahwa sang istri sedang merespon apa yang ia bicarakan.


Menggenggam tangan itu penuh kelembutan dan mencium telapak tangan yang tertancap jarum infus itu berkali- kali.


Tok...Tok... Tok


Suara pintu diketuk mengalihkan pandangan nya sebentar setelah mendengar suara keributan di balik pintu Farel yakin bahwa itu teman-teman nya.


"Masuk." mendengar sahutan dari bos mereka , tanpa membuang - buang waktu pintu itu di buka dengan cara yang tidak elit nya oleh seseorang yang kini hanya cengengesan tidak jelas sembari menggaruk tengkuk nya -tidak gatal.


"Bego." Sang ketua menatap tajam pada salah satu teman nya yang hanya mengangkat dua jari telunjuk dan jari manis,tanda minta damai.


Plak...


" Udah tau ada yang lagi di rawat lo malah sibuk berisik, babi ." Juna menggeplak kepala Tono dengan kencang tanpa beban.


Setelah puas memukul sang oknum perusak suasana , kini keadaan kembali sunyi.


" Rel bibir lo luka , kenapa bisa kayak gitu ?."


Jari Tangan Farel bergerak menuju luka di sudut bibirnya, serius dia lupa kalo bibir dia lagi luka . Pengaruh Ana emang sehebat itu untuk mengalihkan perhatiannya dari sekitarnya dalam sekejap.


" Obatin dulu gih takut infeksi , nanti ngak ganteng lagi , pas Reva bangun liat lo yang burik nanti di tinggal, terus nangis. "


Juna melotot pada Tono seakan menyuruh nya untuk diam dan tidak banyak tingkah.


Tanpa pikir panjang Farel mengambil kotak P3k yang berada di atas nakas samping ranjang Ana yang sebelumnya telah di letakkan oleh suster tadi.


Sesekali meringis ngilu ,ternyata lukanya dalam juga.


Tono dan Juna berpandangan dalam sekejap dan seakan saling berkomukasi dengan batin satu sama lain


Gila si bos nurut kalo soal Reva.


Cinta bisa meluluhkan segalanya ya bung.


Farel yang terkenal keras kepala dan ganas nya bisa luluh pada sosok Revana yang terkenal polos dan labil.



****


Jadi ruangan Ava sama Ana itu misah diibarat kan satu ruangan dua pintu ada sekat nya di tengah bukan bentuk tembok yah sekat nya kayak semacem kaca transparan tapi yang bisa di buka tutup.


Yo wassap wassap apa kabar kalian, semoga baik dan sehat selalu, jangan lupa love and comment


Salam hangat dari Nda


See you next chapter


bye bye


****