Twin's Transmigration

Twin's Transmigration
~Chapter 9~



Tiga hari berlalu kini kondisi Ava maupun Ana sudah pulih sepenuhnya, dan kini terhitung satu minggu mereka berada di ruangan dengan fasilitas yang mewah .


Farel beserta antek-antek nya sedang memberes kan beberapa barang di ruangan Ana beserta Ava, sedangkan sang empu-berdua hanya diam sambil memandang mereka dengan jengah.


Bagaimana tidak? seharus nya mereka fokus memberes kan barang bukan malah saling melempar barang satu sama lain. Ruangan yang tadi nya bersih kini malah berantakan dengan bantal dan selimut berada di lantai.


Farel hanya acuh membiarkan saja teman - teman laknat nya berulah dia hanya fokus membereskan pakaian Ana untuk di masuk kan kedalam sebuah tas , Setelah semua pakaian masuk dan beres ia melangkah menuju pada tempat Ana berada.


" Semua udah selesai, yuk pulang." Menggandeng tangan kanan Ana


Sebelum mencapai pintu Farel berbalik, dan memandang datar Juna, Tono dan Jaka. Sedangkan sang pemilik nama masih asik dengan kegiatan mereka, saling melepar bantal.


" Beresin Cepet! ." Semua orang yang ada di ruangan itu mematung mendengar ucapan dengan nada datar dari Farel.


" Baik Rel. " Jaka menyauti ucapan Farel dengan kepala menunduk, merasa bersalah atas apa yang telah dibuat hingga mengacau kan ruangan itu.


Setelah mendengar jawaban dari Jaka Farel berbalik untuk keluar ruangan dengan tetap menggandeng Ana.


Kini ruangan Ana hanya tersisa Albert, Ava, Jaka, Tono dan Juna. Albert memandang trio somplak itu dengan datar, bukan nya langsung menuruti perkataan Farel untuk segera membereskan kekacauan mereka malah saling melempar kata - kata makian menyalahkan satu sama lain, seolah mereka bukan pelaku pembuat kekacauan itu.


Albert melihat Ava yang masih termenung dengan pandangan kosong seolah pikiran nya tengah melanglang buana tak tentu arah, Ava terlonjak kaget saat Albert menepuk pundak nya pelan.


" Lagi mikirin apa? " Menatap wajah terkejut Ava terdapat sensasi aneh di dada Albert, seakan ia ingin mencubit pipi tembam itu


" Eeunng ngak mikirin apa - apa kok, udah selesai semua kan? pulang yuk." Menyingkirkan tangan Albert yang bertengger di bahu nya dengan perlahan.


Albert hanya mengangguk kan kepala nya, menuntun Ava turun dari atas brankar dengan penuh hati - hati.


Semua pasang mata yang ada di ruangan itu memandang pada Albert dengan tatapan heran, hey siapa pun tau bahwa Albert paling anti dengan namanya perempuan, tolong garis bawahi anti perempuan.


Semua tau bahwa Albert terkesan selalu acuh pada perempuan, ada satu cerita ketika dimana ada seorang perempuan yang jatuh tepat di depan nya saja Albert hanya akan melewati nya tanpa ada niatan membantu sedikit pun. Dan semua orang di ruangan itu bahkan sampai ada yang menjatuh kan rahang nya melihat perlakuan Albert yang penuh kelembutan pada Ava.


" Bro gue kagak salah liat kan, itu Albert? " Jaka menyenggol perut Juna dengan sikut nya


" Ini mata gue yang burem apa emang bener itu Albert ." Juna memukul belakang kepala Tono.


" Gue terkejut Omaygat, sampe ngak bisa berword - word. " Tono menyubit keras lengan Jaka.


Mendengar suara bisik - bisik di sebelah nya Albert berbalik memandang jengah pada teman - teman nya itu.


" Buru beresin ." Setelah itu ia keluar bersama Ava menuju lantai bawah.


" Ayo babu - babu ku kita beresin ini semua sebelum Farel balik lagi." Jaka memungut bantal dan menaruh kembali ke brankar menata dengan rapih.


" No no no Gue bukan babu lo tapi tuan muda keluarga Setiabudi anak tunggal kaya raya bukan babu lo, dasar pembantu ." Juna bersungut - sungut tak terima di katai babu. memungut selimut sambil melipat nya dan di tata di atas brankar.


" Hey kalian para rakyat jelata berilah hormat pada putra bungsu Wicaksono sang pemilik hotel mewah bintang tujuh. " Tono bergaya dengan menyibak kan rambut nya ke belakang.


" Bacot! mending beres - beres yang bener dari pada di amuk Farel. Nyaho sia " Kali ini ucapan Juna terdengar lebih manusiawi.


Mereka bekerja sama membereskan kekacauan itu dengan cepat, setelah semua kembali bersih seperti semula trio somplak bergegas keluar, sama dengan panggilan mereka 'somplak' ketika sampai di pintu bukan nya berjalan satu - satu ini malah jalan bergandeng tiga jelas sekali pintu nya tidak akan muat bila dilalui tiga orang sekaligus dan yah terjadi lagi adu cek cok tidak jelas.


" Gue dulu ya anjim, yang muda ngalah sama yang tua." Juna berujar dengan keras


" Mana ada kek gitu, harusnya gini yang tua sama yang muda ngalah harus nya sama yang ganteng kek gue. " Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi Jaka berceletuk


" Hey harus nya kalian ngalah sama Anak bungsu kaya raya kek gue."


" Wah malah Tinggi shaming , mentang - mentang tinggi ngehina tinggi orang sembarangan! ngak bisa di biarin nih anak satu. " Tono bersungut - sunggut sensitif dia tuh kalo ada yang nyenggol tinggi badan nya.


Saat kedua nya asik bercek - cok ria Jaka nyelonong keluar pintu sendirian sambil bersenandung kecil.


" Lanjutin terus ribut nya sampe lebaran monyet. "


Tono dan Juna menengok kearah Jaka dengan pandangan siap membunuh, buru - buru mereka keluar bersama - sama meski terjadi sedikit aksi dorong mendorong. Dan tujuan mereka bertiga adalah kembali ke base camp Aries dengan mengendarai motor Ducati Panigale V4 sp milik masing - masing yang memang sebagai ciri khas motor anggota inti Aries



...*****...


Farel dan Ana kini telah sampai di unit apartemen milik mereka setelah tadi Farel menekan digit kata sandi apartemen, berjalan beriringan menuju kamar mereka, ya meski pun mereka menikah karena sama - sama saling menguntungkan bukan berarti mereka pisah ranjang.


Dan lagi Apartemen mewah ini hanya tersedia satu kamar utama saja jadi mau tidak mau mereka harus berbagi kamar bersama, Ana berjalan menuju


walk-in closet untuk memilih baju apa yang akan ia kenakan malam ini.



Pilihan nya jatuh pada piyawa dengan motif polka-dot berwarna navy ukuran celana dengan panjang di atas lutut, setelah meraih apa yang ia kenakan berbalik menuju kamar mandi sebelum meraih gagang pintu ia di kejut kan dengan suara Farel yang sangat dekat dengan telinganya ditambah sepasang tangan melingkar apik di tubuh ramping nya.


" Ingin makan apa malam ini? atau mau ku buat kan sesuatu? " Farel berbisik lirih di samping telinga kanan Ana dan bertopang dagu di bahu kanan Ana.


" Mmm.. Mau nasi goreng spesial boleh? lagi pengen soalnya tapi harus kamu yang masak ya." Ingin rasanya jiwa Lina menonjok wajah yang sial nya tampan milik Farel karena seenak nya saja main peluk dia tanpa izin, menahan rasa risih demi mempelancar sandiwara yang ia dan kakak nya buat supaya berjalan dengan mulus.


"Oke kalo gitu, mandi yang wangi nanti malam mau aku peluk sepuas nya. " Melepas kan pelukan nya pada Ana dan mendorong nya masuk ke kamar mandi, tersenyun lebar ah rasanya Farel semakin cinta saja pada istri fake nerd nya itu.


Di dalam kamar mandi kini Ana sedang meremat kedua telapak tangan nya hingga buku-buku jari nya memutih.


"Sial kalo bukan karena yang punya tubuh ngelarang gue buat perhitungan sama dia udah gue cincang - cincang tubuh nya sambil lemparin dia ke kandang Luca." Mengacak rambut nya sendiri dengan perasaan kesal dan frustasi .


Memilih mengisi bathtub dengan air hangat , menaburkan sabun dengan aroma mawar dan meninggal kan beberapa potong pakaian di lantai, melangkah memasuki bathtub mungkin berendam dapat mengilangkan segala pikiran yang berkecambuk .


Ana memijat kepala nya yang kembali pusing akibat memikirkan rencana dengan sang kakak dan akan di laksanakan ketika mereka kembali masuk sekolah, karena terlalu asik dengan pikiran nya sendiri hingga tak terasa Ana mulai mengantuk dan yah berakhir dia tertidur di dalam Bathtub.



*****


REVISI DIKIT - DIKIT YA WAK


Hohoho aku balek lagi yey O(≧▽≦)O ,


ada yang kangen Twin's Transmigration.?


Oya oya kek nya buat minggu depan aku rajin up tapi ya gimana ntar aja >_< kalo ada ide cerita , contoh nya kek tadi siang baru bangun tidur terus tiba-tiba dapet ide scene apa buat next chapter nya ╰(*´︶`*)╯ dan tiba - tiba aja gitu dapet hidayah buat up ~_~


Ini kek nya gue banyak cingcong nya


Oke Salam hangat dari Nda


See you next Chapter


*****