The way I love you

The way I love you
Part 9



Setelah hari itu Hani mulai berusaha mencari pacar baru agar dapat terlepas dari Bima, sebenarnya bukan karena Hani tidak suka jika setiap hari harus melayani Bima ini itu tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah perasaan aneh yang tiap kali muncul membuat Hani ingin segera menjauh dari Bima.


Hani duduk di sebuah bangku panjang yang memperlihatkan luasnya lapangan sekolah, di sisi kanan sekelompok cowok yang sedang asyik bermain basket dan di sisi kiri ada sekelompok lain yang sedang bermain volly, ia bingung dari kedua olahraga itu yang mana akan di jadikannya pilihan mencari pacar baru.


Hani telah memutuskan untuk mencari pacar baru di tim basket, ia beranjak dari tempat duduknya menuju luar lapangan kemudian matanya tertuju pada satu persatu cowok yang tengah memainkan bola berwarna oranye tersebut. Dari semua cowok yang di lihatnya saat ini entah kenapa wajahnya tampak seperti Bima semua sehingga membuat Hani mencoba menyadarkan dirinya untuk menghilangkan wajah Bima dari ingatannya.


" Apa yang sedang kau pikirkan Han, Kenapa kamu terus memikirkan cowok itu sih. " Ucap Hani sambil menyentuh kedua pipinya.


Bagai pucuk di Cinta ulam pun tiba, Bima saat ini terlihat berjalan ke arah Hani dengan wajah dinginnya, waktu seakan berhenti dan membuat Hani membeku di tempatnya seketika itu Bima hanya melewatinya tanpa berkata apapun.


Hani menoleh meyakinkan dirinya lagi apa yang barusan melewatinya benar adalah Bima atau hanya khayalannya saja, Dan benar cowok yang lewat tadi adalah Bima yang saat ini sedang memasuki lapangan basket. Hani bingung saat Bima menghampiri Andrew selaku ketua tim basket, Hani tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan yang Hani paham saat ini ialah Bima meminta untuk join di tim basket terbukti setelah Andrew menyerahkan kaos basket seperti yang di pakai anggota lain.


" Memangnya dia bisa main basket ? "gumam Hani kembali menyaksikan saat di mana Bima sudah bergabung di lapangan.


Sesuatu tiba-tiba terjadi, seseorang berteriak kepada Hani untuk menyingkir karena sebuah bola volly kini melayang tepat ke arahnya, Hani menoleh karena panggilan barusan namun siapa sangka ketika ia berbalik bola tersebut langsung mendarat tepat di kepala Hani sehingga membuatnya jatuh.


Sayup-sayup Hani mendengar orang-orang yang mulai berlarian menghampiri nya, seseorang datang lebih dulu di hadapannya namun Hani tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, kesadarannya mulai menghilang dan Hani mengutuk dirinya yang terlalu lemah hanya di hantam bola bisa pingsan seperti itu.


\*


Perlahan tapi pasti Hani mulai membuka kedua matanya, ia melihat seorang pria yang duduk membelakanginya sejenak Hani berharap kalau pria itu adalah Bima, Hani berusaha mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya dan mengapa ia bisa berada di ruang UKS saat ini, Pria itu menoleh ke arah Hani dengan wajah khawatirnya entah kenapa Hani merasa sedikit sedih mengetahui bahwa pria yang ada di ruangan itu bukanlah Bima melainkan pria lain yang tidak di kenalnya.



" Kau baik-baik saja? Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit? " Tanya Pria itu seketika membuat Hani menggelengkan kepala.


" Aku baik-baik saja, sedikit pusing tapi masih bisa di tahan kok. " Jawab Hani tersenyum kecil.


" Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja melempar bolanya sampai mengenaimu.., aku sungguh minta maaf. "


" Iya nggak apa-apa, namanya juga kecelakaan, santai aja. "


" Kenalin.., aku Rendy... " Pria itu menyodorkan tangannya ke arah Hani.


" Aku Hani Utami. " Balasnya meraih uluran tangan pria itu.


Walaupun bukan Bima yang datang setidaknya pria itu terlihat sangat tampan, Rendy kembali menanyakan keadaan Hani agar dirinya tidak semakin merasa bersalah, Hani dengan polosnya menggeleng kepala lalu setelah itu Hani tersadar bahwa hari ini ada ujian harian di kelasnya, Hani menengok jam yang masih menunjukkan pukul 09:40 sementara ujian di mulai tepat pukul 10:00.


" Aku harus pergi, terima kasih karena sudah membawaku ke UKS. " Lanjut Hani segera meninggalkan Rendy yang masih mematung.


" Padahal bukan aku yang membawanya kemari, tapi biarlah. " Lanjutnya mengangkat bahu pelan.


\*


Kembalinya Hani di kelas ia langsung menjatuhkan tubuhnya di kursinya, Tania dan Anna menghampirinya dan bertanya apakah dia baik-baik saja dan Hani mengangguk mantap menandakan dirinya baik-baik saja, Pandangan Hani tertuju pada kursi kosong di sebelahnya tak ada Bima di sana sedangkan ujian sebentar lagi akan di mulai.


" Dia kemana? " Batin Hani merasa cemas.


Secara bersamaan guru Kimia memasuki kelas begitupun dengan Bima yang langsung menuju ke tempatnya, Wajah ceria Hani kembali merekah seraya menyambutnya namun di balas wajah dingin Bima seperti biasa.


Ujian pun di mulai setelah ketua kelas membagikan kertas soal dan jawaban kepada semua murid, di tengah-tengah menjawab soal Hani tiba-tiba merasa pusing sehingga ia tak bisa berpikir dengan jernih, soal di hadapannya seakan bergerak ke sana kemari membuatnya kesulitan bahkan untuk membuat cakaran.



Bima meliriknya sekilas kemudian cowok itu mengangkat tangannya sehingga membuat guru Kimia menatapnya heran, Bima menggeser kertas jawabannya agar Hani dapat melihatnya sementara itu dirinya sibuk menanyakan rumus yang tidak ia ketahui sebelumnya mengingat Bima adalah murid pindahan dan pelajaran yang sebelumnya tidak mengajarkannya cara seperti itu.



Bima di persilahkan untuk maju agar dirinya dapat di beritahu mengenai rumus tersebut, Hani melirik Bima dengan wajah melongo terlebih lagi ketika melihat jawaban Bima yang sudah selesai bahkan waktu ujian masih ada 20 menit lagi.


Setelah Bima dari atas dan kembali ke tempatnya, Hani sudah menyalin semua jawaban Bima dan bergegas mengumpulnya duluan, Hani segera mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan begitu pak guru mempersilakan nya untuk pulang, Sebelum Hani pulang Bima sempat menyuruhnya untuk istirahat dan hal itu membuat Hani semakin terbawa perasaan.


\*


Hani tidak langsung pulang saat itu, dia masih berada di depan gerbang menunggu Bima keluar rencananya Hani ingin mengajak Bima jalan-jalan dan mentraktir nya makanan enak sebagai tanda terima kasihnya karena telah di bantu dalam ujian kali ini, walaupun Hani tidak tahu apakah jawabannya benar atau salah setidaknya ia percaya bahwa Bima bukanlah orang bodoh seperti yang di pikirkan murid lain.



Sosok Bima yang baru saja keluar dengan sepedah nya langsung di kejutkan oleh Hani hingga cowok itu tampak terkejut dan langsung mengerem mendadak. Bima memarahi Hani dengan kasar dan di balas Hani dengan menunduk maaf.


" Kenapa lo belum pulang, Bukannya lo masih sakit. " ucap Bima segera turun dari sepedanya dan melanjutkannya dengan berjalan kaki bersama Hani


" Aku nunggu kamu, mau bilang makasih sekaligus traktir kamu makan enak. " Jawab Hani


" Nggak usah, gue cuma bercanda waktu itu. "


" Ihh nggak apa-apa, sini aja yuk. " Hani menarik lengan Bima untuk menaiki sepedahnya sementara dirinya langsung duduk di kursi belakang sambil memegang tas Bima agar dirinya tidak jatuh.


Bima masih diam di tempat dan merasa canggung ketika membonceng Hani seperti itu, Jujur ini adalah kali pertama Bima membonceng seorang cewek dan ini benar-benar sangat memalukan di matanya. Hani menyuruh Bima untuk segera melaju, Dan Bima pun mulai mengayuh sepedanya menuju arah yang di tunjukkan oleh Hani.