
Hari ini Hani datang ke sekolah dengan perasan yang jauh lebih baik, Walaupun selama menjalankan pacar bohongan bersama Bima ia harus mengejerkan tugas dan menjadi asistennya selama mereka memainkan pacaran bohongan itu, baginya itu tak masalah jika kebohongan ini tetap membuatnya menjadi anak yang populer.
Memasuki kelas, Hani sudah mendapat sosok Bima yang sedang tertidur di kelas melihatnya yang tidur seperti itu tentu membuat Hani langsung menegurnya. Karena Tania dan Anna belum datang mereka masih belum melakukan aktingnya dan saat Hani berusaha membangunkan Bima alih-alih terbangun Bima justru memarahi Hani dan menyuruhnya untuk tidak berisik.
" Dasar...., bagaimana aku bisa terhubung dengan cowok aneh sensitif ini. " Benak Hani terpaksa membiarkannya kembali tidur.
Sorakan Tania yang baru saja datang bersama Anna tiba-tiba membuat Bima bangun dan langsung menyapa Hani dengan lembut, Hani kembali di buat kaget dengan aksi Bima yang secara spontan dapat membuat jantungnya copot, Tania menegur mereka karena sudah berbuat mesra di depannya sehingga Bima mengakhiri aksinya kemudian menatap Hani dengan tajam
" Bagaimana akting gue, bagus kan ?" Bisik nya tersenyum jahat.
Hani hanya membalasnya dengan senyum terpaksa dan mereka kembali fokus saat guru Bahasa Inggris sudah memasuki ruang kelas, Di tengah-tengah pelajaran tiba-tiba saja ada soal yang di berikan dan harus di kerjakan sekarang, Bima menyodorkan bukunya ke arah Hani tanpa berkata apa-apa, melihat hal itu tentu Hani langsung paham dan mau bagaimana lagi, ia harus menepati janji yang telah mereka sepakati sebelumnya.
\*
Jam istirahat, ketika semua murid pergi ke kantin Hani terlihat masih di dalam kelas mengerjakan tugasnya supaya dapat menyalin untuk tugas Bima lagi nanti, tak hanya ada Hani seorang di dalam ruangan itu Bima yang sedang asyik tertidur tiba-tiba membuat Hani menoleh ke arahnya memandang wajah tampan Bima yang saat itu sedang berbalik ke arahnya.
" Jika di perhatikan ternyata dia tampan Juga. " benak Hani tersenyum tipis.
" Aku memang tampan. " Sahut Bima kemudian mulai membuka kedua matanya, Hani menoleh dengan cepat.
" S-siapa juga yang bilang begitu, aku diam terus dari tadi.? " Ucap Hani yang mulai terbata-bata.
Bima mengangkat kepalanya dan bersender di tempat duduk sambil melirik Hani yang kembali mengerjakan tugas namun masih di landa kegugupan karena ketahuan memperhatikan Bima.
" Kenapa nggak ke kantin ?" Sahut Bima lagi dan membuat Hani menoleh pelan-pelan ke arahnya.
" Aku harus menyelesaikan tugas kita dulu, soalnya kalau di rumah aku nggak bisa. " Jawabnya lirih.
" Kenapa. ?"
" Orang tuaku punya warung makan yang sedang ramai saat ini, Karena mereka tidak punya cukup banyak asisten maka aku yang di jadikan mereka sebagai pelayan, setidaknya mengerjakan hal itu bisa membuat uang saku bertambah."
Bima hanya manggut-manggut paham kemudian kembali merebahkan kepalanya di atas meja, sejurus kemudian Hani meliriknya dan tiba-tiba saja rasa penasarannya tentang Bima timbul namun Hani menahan untuk bertanya karena ia sudah tahu bagaimana sifat Bima yang cepat marah jika di ganggu.
\*
Waktu pulang akhirnya tiba, Hani tampak bergegas untuk pulang membantu orang tuanya namun tiba-tiba saja Tania dan Anna mengajaknya untuk double date bareng pacar mereka masing-masing, Hari ini Anna telah resmi berpacaran dengan Andrew sehingga ia yang mengusulkan untuk kencan sepulang sekolah dengan pacar masing-masing.
Hani menoleh ke arah Bima yang masih merapihkan barang-barangnya, Bima yang dapat mendengar percakapan mereka segera menghampiri dan berkata.
" Hani sedang sibuk dia.. " Dengan cepat Hani membekap mulut Bima dan menariknya sedikit menjauh dari dua gadis itu.
" Apa yang kamu lakukan, jangan pernah mengungkapkan identitas orang tuaku ke mereka..." Bisik Hani sambil sesekali melirik ke belakang memastikan mereka tidak mendengar ucapannya.
" Lo bohong lagi ke mereka? " Sahut Bima meliriknya tajam.
" Ssst... Jangan berisik nanti mereka denger bisa gawat. "
Karena mereka tidak ingin terlihat seperti anak SMA pada umumnya, Anna yang kebetulan membawa banyak baju segera meminjamkannya kepada Hani dan Tania, Selepas mengganti pakaian mereka berlima segera menuju tempat kencan mereka namun sebelum ituTania harus menjemput pacarnya yang dulu bersekolah di tempat Bima sebelumnya.
Untungnya Andrew membawa mobilnya sehingga mereka dapat pergi berkencan kemana pun menggunakan mobil tersebut, Anna yang duduk di depan, Hani, Bima dan Tania duduk di tengah sementara itu jika Pacar Tania sudah di jemput terpaksa Hani dan Bima mundur di kursi belakang.
" Oiyya Bim.., Gue penasaran banget sama lo, Hani bilang waktu itu ke kita kalau kamu tinggal di Bali, terus kenapa Bu Yuli bilang kalau lo pindahan SMA Nusa? " Tanya Anna yang melirik Bima dari sebuah cermin.
" Soal itu.. "
" Apaan sih Han, Anna kan lagi nanya ke Bima bukan lo. " Sahut Tania menyela ucapan Hani barusan
" Gue emang lahir di Bali, Hani nggak tahu kalau selama ini gue tinggal di Jakarta buat bisa mantau dia terus. " Jawab Bima sukses membuat Hani terselamatkan lagi
" So sweet banget sih.. " Decak Tania menatap Bima kagum.
Setibanya di SMA Nusa, Bima tampak tidak melirik mantan sekolahnya sama sekali Hani menyadari akan hal itu ketika Bima terus menunduk tidak jelas, Begitu Aldo pacar Tania tiba mereka harus mundur ke belakang, Aldo yang telah berhasil duduk lantas melirik satu persatu penumpang di mobil itu hingga tatapan matanya menangkap sosok Bima yang membuatnya cukup terkejut.
" Bima.., Lo pindah ke SMA Mahadewa?? " Lontar Aldo seketika membuat semuanya menoleh heran.
" Emang kenapa beb? " Sahut Tania.
" Kaget aja, kirain dia di D.O karena habis mukul anak orang. " Lanjut Aldo seketika membuat suasana hening, Bima terlihat berusaha menahan emosinya dan Hani yang terlihat ketakutan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sepanjang perjalanan Aldo terus melontarkan kata-kata yang membuat emosi Bima melunjak, Rasanya sudah tidak bisa di tahan lagi hingga Bima meminta Andrew untuk menghentikan mobilnya. Andrew menurut dan segera menepih di pinggir jalan.
Sejurus kemudian Bima keluar namun sebelum itu ia melirik Hani yang hanya dapat menatapnya dengan sayu, Bima mendesah berat sambil memperbaiki tas ranselnya. " Turun, Kita kencan berdua aja. " Sahut Bima segera membuat Hani ikut turun
Bima menarik tangan Hani menjauh dari mobil itu, Mereka yang masih ada di dalam hanya melirik keduanya yang sudah menghilang di balik pepohonan. Setelah cukup jauh dari mereka Bima melepas tangan Hani dan membelakanginya dengan raut wajah yang kesal.
" Jangan pernah minta ke gue buat melakukan hal ini lagi, Kalau lo mau hubungan palsu ini tetap berjalan lo harus ikutin aturan gue. " Ucap Bima membuat Hani menunduk menyesal.
" Maafin aku." Balasnya lebih pelan dari suara Bima barusan.
" Gue mau pulang, Lo bisa kan pulang sendiri." Sahut Bima lagi dan di balas anggukan pelan dari Hani.
\*
Keesokan harinya, Bima tampak berbeda dari sebelumnya ia mulai mempermainkan Hani suka-suka, Setelah menyuruh Hani mencatat pelajaran sejarah sebanyak 5 bab Bima kembali menyuruhnya untuk mengerjakan tugas fisika dan matematika yang di mana Hani terlihat kewalahan dengan semua itu belum lagi tugasnya sendiri belum selesai.
Sebisa mungkin Hani mencoba untuk terlihat santai dan menikmati setiap waktu yang ada, Terlebih lagi ketika Tania dan Anna terus memantau mereka tentu Hani tidak ingin mereka sampai tahu kalau sebenarnya Bima tengah mempermainkannya saat ini. Saat ini jam istirahat sedang berlangsung dua gadis itu tidak ada di kelas sehingga Hani dapat bernafas sedikit lebih legah, Di sela-sela mengerjakan tugas Bima meminta Hani untuk ke kantin membelikannya minuman dingin, dengan nafas berat Hani meletakkan puplennya kemudian bergegas menuju kantin.
Tidak lama setelah itu Hani kembali dengan membawa sebotol minuman dingin, Hani menyodorkan nya ke arah Bima namun pria itu menolaknya dan menyuruh Hani untuk membeli minuman lain. Saat ini Hani melihat sisi buruk dari Bima yang sangat menyebalkan, Gadis itu berbalik dan bergegas kembali ke kantin. Sebanyak lima kali Hani terus membawakan minuman serta cemilan yang masih membuat Bima merasa puas.
" Cukup, Aku capek. " Ucap Hani yang tidak mau lagi pulang balik kantin hingga ibu kantin di sana sampai mengenalnya dengan siswi terajin yang belanja hari ini.
" Gue baru meminta hal ini dan lo udah ngeluh gitu, gimana gue yang tiap hari ngaku-ngaku sebagai pacar lo? " Sahut Bima seketika membuat Hani bungkam.
Hani merasa tertolong dengan bunyi bel tanda pelajaran ketiga masuk, dengan begitu ia bisa melanjutkan aktingnya di mana dalam akting ini Hani lah yang akan bertindak lebih sering ketimbang Bima.