
Jam istirahat merupakan jam yang di nantikan oleh semua murid, ketika dering bel yang nyaring itu berbunyi semua murid auto berteriak histeris dan beberapa dari mereka ada yang berhamburan keluar kelas, Begitu pun dengan Hani dan kedua temannya yang bergegas menuju kantin. Pandangan Hani terus tertuju pada Bima yang masih stay di tempatnya sambil membaca sebuah buku yang berjudul Kehidupan Setelah Kematian, entah kenapa Hani merasa khawatir Bima membaca buku yang seperti itu.
Ketua kelas tiba-tiba masuk sambil tersengal-sengal dengan tangan kanan yang di tumpuh di atas meja, Berusaha mengatur nafas sebelum mengumumkan apa yang baru saja di dengarnya dari ruang guru. Beberapa murid yang masih berada di kelas memintanya untuk langsung bicara begitu pun dengan mereka yang tertahan pergi ke kantin.
" Gue ada pengumuman penting buat kita semua. " Ucap Ketua kelas yang telah selesai mengatur nafasnya
" Iya apaan, buruan dong ngomong. " Seru yang lain seketika membuat suasana kelas menjadi riuh
" Minggu depan angkatan kita bakal karya wisata ke Bali !!! ".
Awalnya kelas mendadak hening seketika seakan mereka tak percaya bahwa angkatan mereka akan melakukan karya wisata, Beberapa saat kemudian semua kembali riuh bahkan lompat-lompat kegirangan mendengar berita tersebut.
Di saat semua murid berteriak kegirangan, Hani dan Bima tampak seperti tubuh yang kehilangan jiwa, Bima sibuk membaca sementara Hani sibuk memperhatikannya.
" Tapi jangan senang dulu, Kelas kita boleh ikut kalau nilai ujian semester 2 nanti nggak ada yang error'. " Katanya sehingga membuat semua murid mendadak sedih.
\*
Untuk mengikuti karya wisata tersebut semua siswa kelas 1-A mendadak rajin belajar, Besok Ujian penaikan semester di adakan dan semuanya sibuk dengan buku mata pelajarannya masing-masing. Hani menengok ke arah kursi Bima yang kosong sejak tadi, Kemana cowok itu? Kenapa dia tidak ikut belajar seperti yang lain? Hani takut kalau nilai Bima eror maka semuanya tidak akan pergi karya wisata.
Hani beranjak dari kursinya sambil membawa buku catatan, Tania tiba-tiba bertanya kemana gadis itu akan pergi ketika semua orang sibuk untuk mempersiapkan Ujian besok.
" Aku mau ke perpustakaan. " Jawabnya lirih dan segera pergi meninggalkan Tania yang hanya dapat mengangguk pelan.
Setibanya di perpustakaan, Hani segera menuju rak buku tentang rumus fisika, deretan buku yang ada di sana membuat Hani kesulitan untuk menemukan buku yang membahas semua tentang rumus fisika hingga pandangannya tak sengaja tertuju pada seorang cowok yang tengah duduk sendirian di hadapannya terdapat berbagai macam buku dan sepertinya dia terlihat sibuk menjawab salah satu soal.
" Ternyata dia di sini. " Ucap Hani merasa lega ketika melihat Bima yang sedang belajar sendirian.
Hani tak ingin menghampiri nya karena takut mengganggu waktu Bima belajar, Ia pun memutuskan untuk belajar di sudut lain namun masih dapat melihat Bima walau dari jarak yang cukup jauh.
\*
Sepulang sekolah Hani segera menyusul Bima yang hendak keluar kelas, Ia langsung merangkul lengan Bima dan menjalankan perannya, walaupun ia sudah menyatakan perasaannya waktu itu bukan berarti hubungan palsu mereka berakhir, kecuali jika keduanya sudah memutuskan untuk mengakhiri semua itu.
Bima melepaskan tangan Hani sejenak sehingga membuat gadis itu menatapnya tak percaya namun sejurus kemudian Bima kembali merangkulnya dan mengajaknya untuk pulang bersama, Walaupun ini hanyalah akting belaka tapi Hani merasa jantungnya akan segera meledak, wajahnya memerah dan darah di tubuhnya seakan mendidih. Sorakan Tania dan Anna dari dalam membuat nya lega akhirnya mereka kembali percaya soal hubungannya dan Bima.
Setelah berjalan berdampingan sampai di luar sekolah, Bima mulai menyuruh Hani untuk pulang sendiri, Hani menolak dan memberanikan diri mengajak Bima makan siang. Melihat ekspresi Bima yang seperti itu tentu tak membuat Hani takut lagi, Ia sudah terbiasa bahkan sebelum cowok itu menjawab dia sudah menarik lengan Bima menuju suatu tempat.
Keduanya tiba di salah satu rumah makan yang menarik perhatian Bima, Pada palang rumah makan tersebut terdapat nama yang tak asing, Rumah makan Honey yang di mana jika dalam pelafalan nya berbunyi Hani, Bima melirik Hani yang sudah tersenyum manis dan kembali menarik lengan Bima memasuki rumah makan tersebut.
" Ibu.. Aku pulang, " Sorak Hani dan seketika membuat Ayah dan Ibunya melongo melihat putrinya datang bersama cowok tampan.
" Dia siapa Han? " Tanya Ibu nya yang sedikit berbisik pada Hani.
" Dia Bima, teman kelas Hani. " Jawabnya pelan.
" Silahkan duduk nak. " Ucap Ayah Hani kepada Bima dan membuat cowok itu segera duduk dengan perasaan canggung.
" Bu, tolong buatin dia menu spesial kita yah, aku mau ke atas ganti baju dulu. " Seru Hani dan segera membuat sang ibu memasak makanan spesial untuk Bima.
Selang beberapa waktu Hani turun lengkap dengan pakaian santainya, kemudian menghampiri sang ibu dan membantunya dalam menyediakan makanan sementara itu Ayah Hani terlihat sudah akrab dengan Bima, keduanya terlihat membahas soal memancing di mana Bima yang baru Hani tahu sangat suka memancing bahkan Ayah nya sampai mengajak Bima untuk memancing jika ada waktu.
Hani dan Ibu nya telah siap menyediakan makanan, keduanya dengan kompak meletakkan menu-menu yang menggugah selera di atas meja sehingga membuat Bima merasa tidak enak sampai di sediakan makanan sebanyak itu.
" Karena kamu adalah teman cowok pertama Hani yang datang ke sini maka tante buatin yang spesial, moga kamu suka yah. " Ucap Ibu Hani sambil mencubit gemas pipi Bima
Kedua orang tua Hani segera menyingkir dan membiarkan putrinya menemani Bima makan, Keduanya tahu kalau putrinya suka dengan cowok bernama Bima itu bahkan tanpa Hani mengatakannya terlebih dulu.
" Silahkan di makan. "
" Lo berlebihan tau, ini banyak banget mana bisa gue makan semuanya. " Lontar Bima
" Aku bantuin, lagi pula aku juga belum makan kok. " Balas Hani langsung menyendok makanan itu dan menyuapinya dengan nikmat.
Bima menghela nafas pelan kemudian ikut menyuap makanan itu, Sebelumnya Hani pernah membawakan bekal untuknya dan itu merupakan masakan terenak menurut Bima, sehingga saat ini ia tak ragu untuk menyantapnya dan langsung mencicipinya satu persatu.
" Kamu coba ini, Aaa~" Hani mengarahkan sepotong pangsit kukus pada Bima yang saat ini terlihat kikuk.
Perlahan tapi pasti Bima mulai membuka mulutnya dan membiarkan pangsit itu masuk ke dalam mulutnya, Sudah dua kali Hani menyuapinya seperti itu dan entah kenapa ada perasaan aneh setelahnya.
Setelah menghabiskan semua makanan itu, Bima pamit pulang karena harus belajar untuk ujian besok, begitu pamit pada kedua orang tua Hani, gadis itu pun mengantar Bima sampai di luar dengan perasaan lega bisa mengajak cowok yang di sukai nya bisa bertemu dengan kedua orang tua nya.
" Terima kasih yah.., Makanan nya enak. " Ucap Bima yang sejak tadi ingin mengatakan hal itu.
" Sama-sama.., semangat yah belajarnya. " Lontar Hani dan membuat Bima mengangguk pelan.