The way I love you

The way I love you
Part 14



Hari pertama ujian semua kursi dan meja di atur berdasarkan absen dengan jarak yang cukup jauh agar tak ada yang bisa menyontek, Hani berada di tengah-tengah sementara Bima di barisan kedua hampir berdekatan dengan nya sehingga ia masih bisa melihat wajah tampan cowok itu. Dua teman Hani berada di belakang nya dan ujian pun segera di mulai ketika guru pengawas memasuki ruang kelas.


Selama ujian berlangsung Hani tampak menjawab soal dengan serius, Rupanya semua yang di pelajari nya semalam masuk semua di soal kali ini, Sesekali ia melirik ke arah Bima yang sama halnya sangat serius menjawab soal. Hani ingat semalam dirinya mengirimkan pesan kepada Bima untuk pertama kalinya, dan respon Bima saat itu sangat baik sehingga membuatnya semakin mencintai cowok itu.


Tak sadar kalau dirinya tengah senyam-senyum sendiri pengawas tiba-tiba menegurnya sehingga membuat semua mata tertuju padanya, Hani mendadak malu dan melirik ke arah Bima yang saat ini menatapnya dengan heran.


Waktu berjalan sangat cepat dan Hani berhasil menyelesaikan semua soal dengan mudah ia berharap kali ini nilainya meningkat sehingga dirinya dapat populer tanpa harus berbohong, Sebenarnya Hani sudah capek jika harus berbohong terus tapi mau bagaimana lagi hanya itu cara Hani agar dapat di kelilingi banyak teman.


 


\*


 


Bima sedang berjalan menuju kelas setelah belajar di perpustakaan untuk ujian terakhir hari ini, Langkahnya tiba-tiba terhenti di anak tangga ketika mendengar sesuatu yang membuatnya penasaran. Tepat di tangga kedua ada Tania dan Anna yang sedang asyik menceritakan keburukan Hani.



" Jadi kapan kita bongkar kebohongan si Hani? " Tanya Tania sambil membuka buku pelajaran nya dengan asal.


" Tunggu waktu yang tepat, Masih ada satu lagi yang buat gue penasaran sama tuh anak.., Gue penasaran dia dan Bima beneran pacaran apa cuma settingan sih.? " Balas Anna


" Kayaknya sih beneran, mana mungkin Bima mau bekerja sama dengan Hani, setau gue Bima tuh orangnya cuek dingin gitu.. Nggak mungkin lah mau pacaran bohongan. "


" Siapa tau aja, Bisa aja mereka sepakat buat perjanjian yang menguntungkan satu sama lain. "


Bel pertanda ujian pun berbunyi, kedua gadis itu beranjak dari anak tangga dan segera menuju kelas, Bima kembali melangkah menaiki anak tangga dengan wajah datarnya, ia mendengar semua percakapan kedua gadis itu tapi tidak membuat wajahnya berubah sedikit pun.


 


\*


 


~Tiding~


Sebuah pesan singkat baru saja masuk ke ponsel Hani, ia terkejut saat melihat nama Bima di sana kemudian Hani melirik cowok itu yang masih menggenggam ponselnya, Hani segera membuka pesan dari Bima yang berbunyi ajakan untuk pulang bareng sontak hal itu membuat Hani bangkit dan menjawabnya langsung dengan lantang.


Bima menoleh sambil menggaruk tengkuknya tak gatal, Melihat reaksi Hani yang berlebihan tentu membuatnya malu dan semua murid kini sedang memperhatikan mereka. Hani bangkit dari kursinya merangkul ransel kemudian menghampiri Bima dan mengajaknya keluar.


Bima ikut bangkit dengan malas dan mulai berjalan meninggalkan kelas, Di koridor Hani terus melontarkan pertanyaan kepada Bima perihal mengapa cowok itu tiba-tiba mengajaknya pulang duluan sehingga membuat perasaan Hani berdebar tak karuan.


Hari ini kebetulan Bima membawa sepedanya sehingga mereka bisa pulang dengan berboncengan, tapi itu hanyalah imajinasi Hani saja, Bima sama sekali tak menaiki sepeda nya melainkan hanya membawanya sambil berjalan kaki hal itu tentu membuat Hani kesal sambil mengerucutkan bibirnya.



Sepanjang jalan pulang Bima hanya diam seribu bahasa, Hani meliriknya sambil mendengus kesal berjungkir balik pun tak akan membuat Bima tertarik untuk melihatnya, Sejenak Hani hanya berpikir bahwa ajakan Bima ini sebenarnya bukan karena keinginan Bima melainkan untuk menutupi kecurigaan Tania dan Anna saja.



" Kenapa? " Tanya Hani penasaran serta tak rela jika hubungan palsu itu akhirnya berkahir.


" Gue nggak mau jadi orang yang suka bohong kaya lo. " Ucap Bima seketika di rasa Hani seperti ada seribu pisau yang menghunus jantungnya.


" Bukannya kita sudah sepakat, Perjanjian ini akan tetap ada kecuali aku sudah punya pacar atau di antara kita sudah memiliki pacar? " Lanjut Hani.


" Gue udah bilang, gue nggak mau berbohong kaya lo.., udahlah jangan paksa gue buat ikutan bohong juga. " Lontar Bima ketus


Tanpa sadar air mata Hani terjatuh, ia menunduk sedih mencoba menahan tangisnya terus keluar Bima mulai merasa tidak enak terlebih lagi ketika Hani menangis di tempat umum seperti itu, Ia takut orang-orang akan mengira kalau dirinya sedang menjahati Hani.


" Kau tidak mengerti bagaimana rasanya hidup sendirian, Setiap hari di bully dan di perlakukan tidak adil.., Aku tidak mau hal itu kembali terjadi di masa-masa SMA ku.., Maka dari itu aku terus berbohong supaya kehidupanku jauh lebih baik. "


" Lo terlihat bodoh dengan berbohong yang tidak-tidak ke mereka. "


Hani menatap kedua manik mata Bima dengan tatapan yang sulit di pahami oleh cowok itu, Air mata Hani kembali mengalir dan membuatnya kesulitan untuk bicara.


" Baik.., Kalau kamu tidak mau melakukan nya lagi tidak masalah, Terima kasih sudah mau menolong ku selama ini. " Hani menoleh dan melangkah meninggalkan Bima yang saat ini menatapnya sendu.



" Gue cuma mau bantu lo sadar, Kenapa jadi gue yang merasa bersalah " Ucap Bima mengacak-acak rambut nya.


 


\*


 


Keesokan harinya ketika Bima memasuki kelas ia melirik Hani yang sibuk mengobrol dengan Tania dan Anna, dalam benak Bima ia sangat kesal ketika melihat Hani yang bergaul dengan kedua orang yang sangat munafik, Hani memang salah karena telah berbohong namun kelakuan mereka juga tidak baik, Bima hanya dapat menghela nafas kasar kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.


" Lo marahan lagi sama Bima? " Tanya Anna kepada Hani.


" Itu.., Aku udah putus. " Jawabnya sambil menunduk, kedua nya kompak terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi.


" Udah yah jangan bahas dia, Aku males. " Lanjut Hani.


Bima yang masih mendengar percakapan mereka bertiga terpaksa harus menutup telinganya dengan earphone kemudian melanjutkan belajar. Walaupun sudah memasang earphone nampaknya Bima masih terganggu dengan hal yang baru saja di dengarnya.


Bima menggebrak meja dengan kuat sehingga membuat semua mata tertuju padanya, Hani enggan menoleh ke arah Bima karena masih sakit hari setelah apa yang terjadi kemarin.


" Kalian bisa nggak sih pada belajar, Bukannya kalian mau karya wisata? Tapi kenapa kalian semua malah tinggal ngegosip seperti itu. " Keluh Bima berhasil membuat beberapa murid kembali ke meja masing-masing dan segera mempelajari mata pelajaran yang akan mereka kerjakan hari ini.


Alasan Bima menegur satu kelas tak lain agar Hani dan kedua temannya berhenti membahas hal dapat membuat Hani berbohong, Bima kembali duduk setelah semua kembali belajar, begitu pun dengan Hani yang sudah duduk manis di tempatnya.