
Hani harus menerima kenyataan pahit setelah dirinya mengaku pada Bima tentang perasaanya, sejak saat itu Bima selalu menghindar bahkan tidak meliriknya sama sekali sikap dingin Bima sekarang membuat Hani benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Di kantin, Ketiga gadis itu kompak memesan mie ayam dengan es jeruk untuk menemani makan siang mereka hari itu. Di sudut kantin tampak Bima yang menjatuhkan tubuhnya dengan ekspresi datar, sementara itu pandangan Hani terus tertuju padanya sehingga membuat Anna yang memperhatikannya langsung menegur Hani saat itu juga.
" Lo marahan ya sama Bima,? Dari tadi gue perhatiin lo kok kaya marahan gitu.? " Sahut Anna sontak membuat Hani gugup.
" Ah itu.., dia.., benar aku dan Bima lagi marahan, bukannya itu hal yang biasa? " Jawab Hani terbata-bata
" Gue juga biasa gitu sama cowok gue, tapi besoknya kita baikan soalnya cowok gue nggak bisa lama-lama marahannya. " Lontar Tania sambil menyeruput jus jeruk miliknya.
" Bima juga gitu kok, Dia cuma lagi marah aja karena jarang balas pesan dia. " Hani terpaksa berbohong lagi, ia tidak ingin keduanya sampai tahu kalau hubungan mereka hanya sebuah kebohongan.
Mereka kembali melanjutkan makan siang mereka dengan tenang, Sesekali Hani terus melirik ke arah Bima hingga mereka tidak sengaja saling memandang dengan tatapan yang sulit di pahami oleh Hani.
\*
Beberapa minggu berlalu dan sikap Bima masih sama, Hal ini tentu semakin membuat Tania dan Anna bertanya-tanya hingga suatu ketika Hani tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa ke mereka dan pada akhirnya dia terus berbohong dan berbohong agar keduanya dapat percaya lagi. Hari ini Bima tidak masuk sekolah, entah kenapa Hani merasa begitu cemas ingin rasanya menghubungi cowok itu namun sayangnya dia tidak mempunyai nomor Bima.
Ketua kelas tiba-tiba menghampiri Hani dan bertanya di mana Bima dan kenapa hari ini tidak masuk sekolah, Hani membeku sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat untuk mengatakannya, Ia melirik Tania dan Anna yang sudah menunggu jawabannya.
" Bima sakit, dia nggak masuk hari ini. " Jawabnya sambil memasang wajah tegang.
" Oh kirain dia absen, ya udah ntar gue lapor ke wali kelas. " Sahutnya segera pergi dari hadapan Hani.
" Kok lo nggak bilang dari tadi sih kalo Bima sakit? " Ucap Anna sambil menatap Hani tajam.
" Itu.., aku baru tahu tadi soalnya Bima baru bales pesanku kalau hari ini dia sakit. " Jawab Hani membuat Anna mengangguk paham
" Ya udah kalo dia sakit lo tengokin gih.., siapa tahu kalau ada lo dia cepat sembuh. " lontar Tania
Sejenak Hani termenung mendengar saran dari Tania, Kenapa sebelumnya ia tak pernah memikirkan hal itu, apa salahnya menengok Bima toh mereka adalah teman sekelas. Hani melirik jam yang sebentar lagi menunjukkan waktu pulang, wali kelas akan masuk untuk mengabsen dan setelah itu ia bisa menengok Bima.
\*
Hani menatap sebuah rumah di hadapannya sembari melirik secarik kertas yang berisi alamat, Sebelumnya Hani memohon kepada wali kelas untuk memberikan alamat Bima dan setelah memohon cukup lama akhirnya wali kelas mau memberikan alamat rumah Bima kepadanya. Hani mulai celingak-celinguk sambil mendekati pagar rumah berusaha mengetuk pagar yang terbuat dari kayu itu agar mengeluarkan bunyi yang dapat membuat pemilik rumah keluar.
" Lo kok bisa ke sini ?" Tanya Bima terdengar parau.
" Aku khawatir dan berusaha mencari alamat mu, sepertinya kau sakit. " Jawab Hani menatap Bima dengan tatapan yang cemas
" Cuma demam. " lanjutnya pelan
" Udah makan. ?"
Bima terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan, Namun Hani tidak percaya akan jawabannya dan langsung melangkah masuk tanpa di persilahkan sebelumnya. Bima mencoba mengusir Hani namun gadis itu mendadak menjadi keras kepala hingga dirinya kini tiba di dapur, tak ada makanan yang jadi bahkan sisa makanan pun tak ada, melihat suasana rumah yang sepi tampaknya membuat Bima kesepian dan tidak ada yang merawatnya.
" Kamu istirahat aja dulu, aku buatin makanan. " Hani menarik punggung Bima kemudian mendorongnya pelan-pelan menuju kamar cowok itu, Setelah Bima berhasil masuk kamar Hani pun kembali ke dapur untuk membuat makanan.
Bima yang saat itu tak berdaya karena demamnya mulai kambuh memutuskan untuk kembali tidur, ia tak peduli kalau Hani ada di rumahnya saat itu yang terpenting saat ini adalah dirinya harus beristirahat.
Di dapur, Hani tampak melongo melihat isi kulkas Bima yang di penuhi oleh makanan kaleng, tentu hal ini tidak akan sehat jika di konsumsi terus menerus alhasil Hani memilih untuk membuat bubur dengan bahan-bahan yang ada untungnya kepandaian memasak orang tuanya menurun ke Hani sehingga ia dapat dengan mudah membuat bubur untuk orang sakit.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu di dapur, Kini Hani telah selesai membuat bubur untuk Bima dan langsung menuju kamar cowok itu. Hani membuka pintu kamar Bima pelan-pelan dan mendapati cowok itu yang tengah terbaring lemah di tempat tidur, Setelah Hani meletakkan nampan bubur di atas meja ia pun beralih menyentuh kening Bima yang di rasanya sangat panas. Bima membuka kedua matanya dan langsung menyingkirkan tangan Hani dari sana.
" Kau panas sekali, kita ke rumah sakit yah? " Usul Hani, Bima mulai bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.
" Pulang sana.., Gue bisa sendiri. " Ucap Bima sambil memegang kepalanya yang di rasa pening.
" Nggak.! "
Bima menoleh dengan mata membulat sempurna, Sejak kapan Hani terlihat melawan ucapannya dan karena kondisi nya yang tidak memungkinkan ia hanya dapat pasrah terlebih lagi ketika Hani berniat untuk menyuapi bubur untuknya.
" Aaaa... " Gumam Hani sambil menyodorkan sesendok bubur ke arah Bima.
Bima mendesah berat kemudian membuka mulutnya membiarkan suapan Hani mendarat di mulutnya, Bima terdiam sejenak saat mencoba bubur buatan Hani yang di mana sebelumnya semua makanan terasa sangat hambar tapi kenapa bubur buatan Hani terasa sangat enak.
Bima melirik Hani yang sibuk mendinginkan bubur tersebut, Melihat kegigihan gadis itu untuk merawatnya tiba-tiba membuat Bima tersentuh setelah kemarin berusaha menghindar dari nya karena pengakuan waktu itu tampaknya tak membuat Hani sampai membencinya.
Setelah bubur tersebut habis di makan oleh Bima, Hani memberikan obat kepada Bima yang sebelumnya sudah di belinya untuk jaga-jaga jika Bima benar-benar sedang sakit, Setelah itu Hani bergegas mencuci mangkuk bekas bubur dan kembali lagi setelah menghabiskan sepuluh menit empat detik di dapur.
" Gue mau tidur, pulang gih. " Suruh Bima lagi
" Aku bakalan pulang kalau kamu ngasih nomor ponsel kamu ke aku. " Ucap Hani mantap
Bima meraih ponsel Hani kemudian menuliskan nomornya dan langsung memberikan ponsel itu lagi kepada Hani, Jantung Hani berdegup dua kali lebih cepat padahal Bima hanya memberinya nomor ponsel, Setelah itu Hani meraih tasnya dan bergegas meninggalkan rumah cowok itu.
Di depan pintu keluar, Hani melirik kunci rumah Bima yang tergantung di sana, Hani mengambilnya satu agar besok ketika dirinya datang Bima tidak perlu repot-repot membuka kan pintu untuknya.