
Satu minggu telah berlalu dan Ujian pun berakhir dengan lancar, Semua murid masih stay di kelas menunggu ketua kelas kembali dari pengumuman nilai yang akan menentukan kelas mana saja yang akan pergi mengikuti karya wisata.
Pintu terkuak dan ketua kelas masuk dengan wajah merenung sehingga membuat semuanya bertanya-tanya apakah kelas mereka gagal mengikuti karya wisata atau sebaliknya.
" Kelas kita berhasil ikut karya wisata " Seru ketua kelas seketika membuat semua nya langsung bersorak gembira.
Bima beranjak dari tempatnya dan segera meninggalkan kelas, Hani yang melihatnya langsung menyusul cowok itu dan memanggilnya dengan lantang sembari tetap berdiri di ambang pintu kelas, Bima menoleh dan menatap Hani dengan seribu pertanyaan.
" Kamu akan pergi juga kan? " Tanya Hani menunggu jawaban dari Bima.
" Nggak! " Jawab nya ketus dan kembali melangkah pergi.
" Ish.. Nyesel aku tanya dia. " Kata Hani menyentak kan kaki dan berlalu ke dalam kelas.
\*
Entah sudah berapa kali Hani melipat pakaian yang akan di bawanya mengikuti karya wisata, Saat ini ia terlihat seperti kehilangan jiwa nya dan tak ada satu pun persiapannya di selesaikan mengingat besok ia sudah harus berangkat.
Lagi-lagi tentang Bima dan selalu saja tentang cowok itu, Hani bahkan tidak bisa membenci Bima walaupun ia sudah di maki-maki bahkan di sakiti sekali pun tak akan membuatnya benci dengan cowok itu.
" Kenapa aku bisa sesuka itu sama kamu sih Bim. " Keluh Hani sambil membuang pakaiannya ke segala tempat
Hani merasa lelah dan memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, Ia meraih ponselnya dan melirik bar ikon ponselnya yang tak ada pesan yang masuk, Hani beralih pada akun Whatsapp nya dan melirik foto profil Bima di mana ia bisa melihat wajah tampan cowok itu dengan pose yang sangat keren.
Tanpa sengaja Hani menekan tombol telepon dan meletakkan ponselnya begitu saja, Ia tak sadar kalau panggilannya itu berhasil dan saat ini Hani terus meneriakkan nama Bima dengan berbagai macam sebutan yang membuat Bima yang mendengar nya merasa kebingungan.
Bima yang berada di rumahnya hanya menempelkan ponselnya ke telinga sembari mendengarkan semua uneg-uneg Hani, Sampai saat ini Hani tak sadar dengan panggilan tersebut hingga saat di mana Hani sadar, ia mengatakan bahwa dirinya salah pencet dan langsung mengakhiri nya dengan cepat.
Bima melirik layar ponselnya yang di mana nomor Hani belum di save nya sama sekali. Bima kemudian berinisiatif untuk menyimpan nomor Hani di kontaknya dengan sebutan Cerewet.
\*
Hani tiba di lapangan sekolah sambil mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru berusaha mencari sosok Bima yang di harap nya akan mengikuti karya wisata ini, Sorakan seorang gadis baru saja membuat Hani menoleh dan itu adalah Helen yang kini sedang menghampiri nya dengan senyuman yang lebar.
" Aku sengaja nggak ngasih tau kamu, Tapi sayangnya kita nggak satu bus.., Tapi nggak apa-apa kita kan bisa naik pesawat bareng nanti. " Seru Helen kemudian.
" Aku senang kau bisa ikut, dengan begitu ada satu hari di mana aku tidak perlu berbohong untuk memiliki teman. " Gumam Hani tersenyum senang
Keduanya segera menuju bus masing-masing setelah wali kelas memanggil mereka, Hani yang baru saja memasuki bus melirik ke arah Tania yang terlihat duduk sendirian, Hani menghampiri nya dan berniat untuk duduk di sebelah gadis itu tapi sayangnya Tania menolak Hani dan berkata bahwa kursinya sudah di tempati oleh Anna walau pun Anna belum datang karena harus berpamitan dengan Andrew yang tengah latihan basket.
Hani pun tersenyum paksa kemudian menoleh ke arah kursi kosong kedua dari belakang dan dia pun menjatuhkan tubuhnya di sana, Tidak masalah jika dirinya duduk di paling belakang toh semua murid yang ada di bus itu merupakan teman kelasnya. Tampaknya Anna sudah tiba dan segera duduk di sebelah Tania yang membuat Hani merasa cemburu.
Hani kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela dan entah kenapa dirinya masih berharap Bima akan segera datang sebelum bus berangkat, Semenit kemudian Hani terkejut ketika melihat seorang cowok yang baru saja memasuki bus dan berjalan ke arahnya, Dia adalah Bima yang ternyata datang sebelum bus benar-benar pergi.
Sayangnya Bima tidak memilih tempat di sebelah Hani, ia lebih memilih untuk duduk di kursi paling belakang tepat di belakang Hani yang masih membeku karena mengira Bima akan duduk di sebelahnya. Tania dan Anna pun meliriknya dengan tatapan aneh yang membuat Hani tak bisa berkutik lagi.
Wali kelas tampak mulai menghitung anak walinya sebelum bus berangkat, setelah semua lengkap ia pun melapor kepada supir bus untuk segera berangkat namun sebelum itu seorang guru lain datang dan berbicara kepada wali kelas mereka, Semua tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing hingga seorang cowok yang tak asing memasuki bus kelas 1-A sambil mengedarkan pandangan nya ke semua siswa yang sudah duduk manis di tempat masing-masing.
" Dia Rendy dari kelas 1-B, Karena jumlah siswa kelasnya penuh dan dia tidak kebagian tempat duduk, Ibu ingin kalian memberikan satu tempat kosong untuk Rendy, " Jelas wali kelas membuat semua orang menoleh mencari tempat kosong, Dan satu-satunya tempat kosong hanyalah kursi di sebelah Hani.
Rendy tampak tersenyum senang mengetahui tempat kosong itu ada Hani di sebelahnya, ia pun langsung melangkah menghampiri Hani, menyapanya sebelum akhirnya duduk di sebelah gadis itu.
" Jadi kamu sekelas sama Helen? " Ucap Hani yang baru mengetahui nya.
" Helen, tentu saja, dia kan sekretaris kelas kami. " Jawab nya mantap.
Bima yang berada di belakang tampak memperhatikan keduanya dengan tatapan tajam, Sejenak ia merasa menyesal memilih tempat yang tidak nyaman seperti itu dan alhasil ia hanya dapat menutup mata sambil memutar musik menggunakan earphone ketika bus sudah berjalan.
\*
Karya wisata yang di adakan di pulau Bali merupakan tujuan semua murid tentunya selain bebas biaya pulang pergi, Mereka juga bisa menikmati keindahan di sana setelah kemarin menghabiskan waktu untuk berpikir, belajar dan menghafal untuk persiapan ujian.
Setibanya mereka di penginapan, wali kelas membagi kamar untuk masing-masing kelas di depan penginapan dengan cara mengacak daftar absen, Satu kamar di huni oleh 4 orang dan nama yang telah di sebutkan adalah Tania, Anna dan Dita. Saat nama Hani di sebut gadis itu tampak senang sambil mengangkat tangannya, Hani pun merasa sangat beruntung bisa sekamar dengan Tania dan Anna.
Setelah pembagian kamar selesai di sebut, Masing-masing dari mereka langsung menuju kamar dan beristirahat sampai waktu makan malam tiba. Begitu tiba di kamar mereka berempat harus meratapi keadaan penginapan yang hanya menyediakan satu tempat tidur inti yang hanya dapat di pakai dua sampai tiga orang.
" Gue nggak bisa tidur di bawah. " Ucap Anna yang sudah terlebih dulu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Sama gue juga. " Sambung Tania ikut-ikutan
Sementara itu Dita dan Hani kini saling melirik satu sama lain, Sejurus kemudian Dita juga mengaku tidak bisa tidur di bawah sehingga Hani harus mengalah dirinya lah yang harus tidur di bawah malam ini.
" Lo nggak apa-apa kan Han kalau harus tidur di bawah ?" Tanya Anna meliriknya sekilas.
" Nggak apa-apa, santai aja. " Jawabnya pelan.