
Sepulang sekolah, Hani berjalan sendirian tanpa di temani siapapun, Tania dan Anna sudah pulang duluan karena harus mengikuti les dan mau tidak mau Hani harus pulang untuk membantu kedua orang tuanya.
Seseorang tiba-tiba meneriakkan nama Hani sehingga membuatnya menoleh sejurus kemudian cowok yang sedang mengayuh sepeda menghampirinya dan melemparkan tasnya ke arah Hani.
" Jangan lupa buat jadi asisten gue, tasnya lo yang bawa sampai di perempatan jalan. " Bima kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Hani yang tampak kesal sambil mencengkram kuat tas ransel milik Bima.
Hani menghentakkan kakinya dengan kesal kemudian berlari mengejar arah laju Bima dari belakang, Sesekali Bima hanya menoleh dengan tawa kemenangan di atas penderitaan Hani, begitu Hani tiba di perempatan Bima langsung meraih tasnya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
" Dia benar-benar cowok yang sulit ditebak, kadang baik kadang nyebelin.. " Batin Hani menatap kepergian Bima yang perlahan menghilang di balik bangunan.
\*
Hani berjalan ke arah lokernya dengan malas, ketika gadis itu membuka lokernya dan mengambil beberapa buku pelajaran ia tak sengaja mendengar seseorang sedang membicarakannya, Hani tak mengenali suara itu dan melalui celah-celah loker Hani dapat melihat dua orang gadis sedang membicarakannya.
" Hani anak 1-A itu benar-benar parasit, dia selalu menempel dengan Tania dan Anna yang sangat populer di angkatan, melihatnya berada di dekat mereka membuatku ingin tertawa. "
" Benar banget, Orang kaya dia kok bisa ya di terima Tania sama Anna jadi bagian dari mereka. "
" Tapi anehnya juga ya dia pacaran sama Bima anak baru itu."
" Yang cakep itu ? Kamu nggak tahu kalau si Bima itu anaknya nakal, dia pindah kesini karena di sekolah lamanya dia udah gebukin anak orang sampai masuk rumah sakit, "
" Wahh parah banget, kalo gitu dia pantas dong buat si Hani. "
Hani merasa muak dan menutup pintu lokernya hingga kedua gadis itu tercekat kaget, Hani berbalik dan meninggalkan tempat itu sambil menggerutu kesal, siapa mereka berani-beraninya menjelekkan Bima dan dirinya, Hani benar-benar kesal hingga tidak menyadari kalau di tempat itu juga ada Bima yang mendengarnya.
Hani yang lebih dulu berada di kelas menjatuhkan tubuhnya dengan gusar membuat Tania meliriknya heran, Semenit kemudian Bima datang dengan wajah datarnya, duduk setelah itu mengusap kepala Hani dan merebahkan kepalanya seperti biasa.
" Bim.., kemarin ucapan Aldo jangan di ambil hati yah.., dia orangnya emang gitu asal ceplas-ceplos. " Sahut Tania yang sudah merunduk di hadapan Bima.
Hani melirik Bima yang tidak bergeming, sejurus kemudian Hani menerima maaf dari Tania sebagai perwakilan Bima namun hal itu membuat Bima membuka mata dan menatap Hani dengan tajam.
Hani meraih tangan Bima dan memberikan sinyal untuk tidak emosi, Untungnya Bima merupakan orang yang cepat peka, ia melirik Tania dan menerima maaf itu kemudian melanjutkan tidurnya.
\*
Hal yang paling di tunggu-tunggu tiba juga, Jam istirahat kedua di mulai lebih awal Tania dan Anna mengajak Hani untuk makan di kantin namun dia menolak karena sudah membuat bekal dan akan pergi memakannya bersama Bima, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah dimana Bima sekarang? Sejak pelajaran kedua di mulai dirinya izin keluar dan tidak pernah kembali lagi.
Hani ingin menghubunginya namun dia tidak memiliki nomor Bima, Hani menarik kotak bekalnya dari dalam tas kemudian keluar mencari cowok itu. Di semua semua tempat yang Hani datangi tampaknya ia tak berhasil menemukan Bima hingga dirinya berjalan keluar gedung berharap dapat menemukannya di luar.
Dugaan Hani tepat, Bima sedang bermain dengan seekor kucing di taman sekolah, Melihat cowok itu yang sayang dan perhatian terhadap kucing jalanan membuat hati Hani tersentuh hingga membuatnya tersenyum manis, Bima yang menyadari kehadiran Hani menoleh dengan heran karena sejak tadi Hani tersenyum ke arahnya.
" Ngapain senyum-senyum begitu. " Sahut Bima sontak membuat Hani menggeleng sadar, Ia maju beberapa langkah sambil memperlihatkan kotak bekalnya.
" Lo mulai suka sama gue..?" Tanya Bima
" Apa? Suka? Sama kamu ? " Jawab Hani terkejut.
" Sikap lo aneh banget, kenapa juga ngajak gue makan siang bareng, di sini nggak ada mereka buat apa akting segala. "
" Emang salah yah kalau aku ngajak kamu makan bareng, belum tentu juga aku punya rasa sama kamu. "
Bima berjalan menuju sebuah kursi panjang kemudian menepuk sebelah kursi yang kosong untuk di tempati Hani, Gadis itu segera menghampirinya dengan bibir yang di kerucutkan.
Jam istirahat itu mereka habiskan dengan menikmati bekal buatan Ibu Hani yang di anggap Bima sangat enak, ia bahkan menghabiskan tanpa sisa sehingga membuat Hani tersenyum senang melihatnya.
" Jangan terus menatap seperi itu, lo bisa suka nanti. " Sahut Bima yang menyadari aksi Hani dan di balas wajah konyol oleh gadis itu.
" Oiya soal kemarin, Apa benar kamu pindah sekolah karena memukul anak orang. ?" Hani melirik ke arah Bima yang terlihat memikirkan sesuatu, beberapa saat kemudian ia mengangguk dan membenarkan pertanyaan Hani
" Tapi kenapa ? Kau terlihat seperti anak yang baik tapi kenapa melakukan hal itu? " .
" Pertama.. Lo nggak boleh sampai suka sama gue karena hubungan palsu ini dan kedua, jangan ikut campur urusan gue. " Bima menyodorkan kotak makanan Hani dan beranjak dari kursinya.
" Makasih. " Ucap Bima berlalu meninggalkannya.
" Hufft.. Dia benar-benar tidak bisa di tebak. " Ucap Hani sambil merapihkan kotak bekalnya.
\*
Langit mulai berubah menjadi kelabu menutupi sinar matahari dengan awan hitam yang menandakan akan turun hujan, Hani melirik keluar jendela ketika pak Anton guru matematika sedang menjelaskan sesekali ia mendesah berat membuat cowok tampan di sebelahnya melirik sinis. Cowok itu kemudian mengetuk mejanya tiga kali hingga membuat Hani menoleh, siapa sangka gerakannya barusan membuat pak Anton lalu memanggil mereka berdua untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
Bagi Hani itu bukanlah soal yang sulit tapi untuk Bima yang selalu menyuruhnya mengerjakan soal membuat Hani khawatir kalau Bima akan menjawabnya dengan salah, mereka kompak beranjak dari kursi menuju papan tulis, setelah di berikan spidol keduanya langsung menjawab soal tersebut dengan area papan tulis yang di batasi oleh Pak Anton.
Sesekali Hani melirik Bima khawatir tapi Bima terlihat lebih santai dari yang di kiranya, setelah beberapa saat menjawab Hani yang telah selesai menjawabnya seketika di buat terkejut dengan hasil jawaban Bima yang benar tanpa bantuannya.
Apa yang di pikirkan Hani soal Bima si anak nakal yang tidak tahu apa-apa seketika terbantahkan dengan kepintaran Bima dalam menjawab soal matematika yang terbilang sulit itu, Bima berjalan melewati Hani sambil senyum penuh kemenangan, setelah mereka kembali duduk di kursi mereka, Hani mulai bertanya bagaimana Bima bisa menjawab soal tersebut.
" Gue nggak sebodoh yang lo kira. " Jawabnya membuat Hani tiba-tiba tersipu malu.
Bel tanda pelajaran telah berakhir pun berbunyi tapi sayangnya di luar sedang turun hujan yang sangat lebat, Hani tidak membawa payung sehingga ia terpaksa harus menunggu hujan tersebut redah.
" Tan ikut gue pulang bareng Kak Andrew yuk. " Ajak Anna membuat Hani menoleh berharap dirinya juga ikut di ajak pulang.
" Oke.., kebetulan banget hari ini nyokap nggak jemput gue, Hani gimana An? " Ucap Tania melirik Hani yang masih menatap mereka dengan penuh harap. Sementara itu Bima yang sempat mendengar percakapan mereka keluar lebih dulu.
" Rumah Hani kan berlawanan dengan rumah kita, Jadi sorry to say yah Han..,lo kan bisa minta supir pribadi lo buat jemput. "
" Anna benar, kalian duluan aja pulangnya. " Jawabnya dengan pasrah.
Hani yang terakhir meninggalkan kelas pun segera keluar dengan wajah lesuhnya, ia benar-benar kesal dengan hujan yang datang di saat seperti ini, ketika berada di depan gedung sekolah Hani hanya dapat memandang langit yang masih kelabu dengan ribuan bahkan miliaran rintik hujan yang membasahi bumi waktu itu.
" Pulang bareng. " Sahut seseorang berhasil membuat Habib menoleh ke arahnya.