The way I love you

The way I love you
Part 10



Hani dan Bima menghabiskan waktu berdua dengan mendatangi salah satu tempat makan yang menjadi favorite Hani selain warung makan orang tuanya, Selain makanannya enak harganya pun terbilang murah sehingga dirinya bisa memesan berbagai macam menu untuknya berdua dengan Bima.



Setelah menunggu cukup lama, Pesanan mereka tiba setelah dua orang pramusaji meletakkan piring menunya di atas meja. Bima menatap semua makanan yang ada di depannya dengan tatapan yang sulit di mengerti sementara Hani langsung dengan cepat menyendok makanannya sambil berdecak kagum dengan kelezatan makanan tersebut.



Bima mengambil sendoknya dan ikut menyuap makanan itu dalam diam, sejak mereka tiba di sana cowok itu tidak pernah menampilkan ekspresi senangnya sehingga membuat Hani menegur wajah datar Bima, ia bahkan mengajarkan Bima bagaimana cara tersenyum dan membuat Bima yang melihatnya hanya dapat terdiam.


" Jangan seperti mayat hidup, sekali-kali kau harus menikmati hidupmu seperti tersenyum dan tertawa lepas. " Sahut Hani tak di tanggapi oleh Bima, Hani benar-benar merasa sedang bersama mayat hidup saat ini.


" Habis ini kita ke jalan-jalan gimana? " Ajak Hani menunggu jawaban dari Bima yang hanya bungkam seribu bahasa.


" Aku anggap diam mu itu adalah jawaban setuju " Lanjutnya kembali menikmati makanan nya dengan tenang.


Setelah keduanya selesai makan, Hani mengajak Bima mengitari kota sambil bersepeda. sepanjang jalan Bima mengaku kelelahan karena harus membonceng nya seperti itu, Tapi di lain sisi Hani tampak tersenyum kegirangan bisa dekat dengan cowok itu, Tangannya semakin menggenggam erat tas cowok itu seakan tak ingin di lepaskan, Bima hanya pasrah dan terus mengayuh sepedanya hingga keduanya sampai di Zona Game yang menyediakan berbagai macam game di dalam.


Hani menarik tangan Bima untuk mengajaknya duel melempar bola basket, Bima menerima tawaran tersebut dan mereka pun memulai permainannya dengan penuh tawa, Hanya Hani yang tertawanya sampai terdengar ke seluruh tempat beda halnya dengan Bima yang hanya menyunggingkan senyum, Hani melihatnya dan merasa lega bisa membuat Bima tersenyum walaupun belum memperlihatkan raut wajah bahagia yang sesungguhnya.


Setelah asyik bermain lempar bola, perhatian Hani tiba-tiba tertuju pada mesin boneka capit, Ia begitu ingin boneka kelinci yang ada di dalam kotak itu sehingga dirinya langsung mencobanya, Sayang Hani belum berhasil bahkan ia sudah mencoba 4 kali dan sampai saat itu ia tak bisa mendapatkannya. Wajah sedih dicampur kesal membuat Hani meninggalkan mesin itu, tapi Bima yang masih berada di sana segera mencobanya dan dalam waktu yang singkat Bima berhasil mendapat boneka yang di inginkan oleh Hani bahkan Bima berhasil mendapatkan boneka kedua di mana ia langsung memberikan boneka itu kepada Hani.



Bima berjalan meninggalkan Hani yang kegirangan di beri boneka tersebut, Ia melihat Bima dengan kedua mata yang berbinar kemudian melirik boneka itu dan memberikan nama Bima pada boneka kelinci dan Hani pada boneka beruang. Gadis itu kembali melangkah mengikuti langkah kaki Bima yang lebar dan berjalan di sisinya dengan perasaan yang sulit di gambarkan lagi.


 


\*


 


Hani merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit kamar dengan pandangan menerawang, kejadian sore ini sangat berkesan bagi Hani terlebih lagi ketika dua boneka pemberian Bima yang sudah terpajang di atas meja semakin membuatnya tersenyum tidak jelas, Perasaan bahagia yang sulit di gambarkan baru terasa setelah 17 tahun hidup, Hani benar-benar bahagia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Dering ponselnya tiba-tiba membuat Hani bangkit dan meraih ponsel itu, terdapat nama Helen di notifikasi bar dan ia pun langsung membuka pesan dari sahabatnya itu.


" Hani sombong.., mentang-mentang udah punya pacar, aku di cuekin. " Tulis Helen sehingga membuat Hani tersenyum geli membacanya, Tanpa babibu lagi Hani pun langsung menghubungi sahabatnya itu.


Panggilan tersambung kemudian Hani meminta maaf kalau selama ini tidak pernah menemui Helen, Di seberang sana Helen tampak kesal dan hanya menjawab dengan singkat, Hani merasa bersalah dan menjelaskan yang sebenarnya, bahwa dirinya dan Bima tidak menjalani hubungan serius dan ketika Hani mengatakannya entah kenapa hatinya sakit, Kata tidak menjalin hubungan serius terasa sangat menyebalkan baginya.


" Jadi, apa kau akan terus menjalani hubungan seperti itu? Ayolah Han, hentikan semua kebohongan ini.., sudah berapa kali aku bilang padamu, hari di mana semua akan terbongkar pasti akan datang, Sebaiknya kau akhiri semua ini sebelum terlambat. "


" Aku tidak mempermasalahkan itu, yang jadi masalahnya sekarang aku suka sama Bima. " Ungkap Hani


" Tapi Bima melarangku menyukainya, Aku harus gimana Len? "


" Coba aja dulu, Bukannya selama ini kalian sering jalan bareng, siapa tau aja Bima juga punya rasa sama kamu. "


Hani tiba-tiba mendapat rasa percaya diri yang penuh setelah menelepon Helen, Hatinya seakan ingin meledak dan Hani ingin malam segera berganti pagi dan cepat-cepat memberitahu Bima soal perasaannya ini.


 


\*


 


Bima sedang berjalan di koridor saat teriakan seseorang yang sangat nyaring membuatnya terkejut dan menoleh ke belakang, Bima mendapati seorang gadis tengah berlari ke arahnya. Dia menunggu sampai gadis itu tiba dengan wajah datarnya.



" Bim.., " Ucapnya membungkukkan badannya dengan tangan yang bertumpu pada kedua lututnya, menetralkan nafasnya yang masih tersengal-sengal.


" Ada apa? Kenapa berlarian seperti itu? " Tanyanya menatap Hani heran.


Hani kembali berdiri tegap sambil mengibaskan tangannya agar rasa panas karena berlarian tadi segera menghilang, Setelah nafasnya kembali normal Hani mulai menyunggingkan senyumnya ke arah Bima yang saat ini tidak mengerti apa yang akan di katakan gadis itu.


" Aku suka sama kamu. "


Hening..


Bima mengerjapkan matanya beberapa kali seakan tak mengerti maksud ucapan Hani, Bima menoleh ke sana kemari rupanya koridor masih sepi sehingga ucapan Hani barusan sepertinya tidak di dengar oleh orang.


" Ikut aku. " Bima menarik tangan Hani menuju tempat aman untuk mereka dapat membahas soal ini.


Setibanya di belakang kelas, Bima kembali meminta Hani mengatakan hal yang sama saat di koridor barusan. Hani kembali mengungkapkan perasaan nya kepada Bima dengan wajah berseri-seri namun tidak dengan Bima.


" Bukannya gue udah bilang kalau lo nggak boleh sampai suka sama gue. " Balas Bima berhasil membuat nyali Hani mendadak ciut.


" Aku tahu kamu melarangku untuk menyukaimu dan aku tahu kalau hubungan kita selama ini hanya kebohongan agar aku bisa berteman dengan mereka, tapi aku tidak mau berbohong kalau aku benar-benar sudah menyukaimu. " Lanjut Hani kemudian


Bima menghela nafas kasar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, Hani hanya dapat menunggu jawaban dari Bima yang saat ini masih terdiam seribu bahasa.


" Jangan suka sama gue, Lo harus lupain perasaan itu. " Bima pergi setelah mengatakannya, wajah Hani terkejut bukan main mendengarnya bersamaan dengan hatinya yang terasa sangat sakit, Ini pertama kalinya Hani merasakan sakit seperti di remuk bahkan sakitnya tidak seperti saat dirinya di bully dulu, Tangisnya pun pecah saat itu juga.