
Liburan semester pun tiba, Setelah semua tahu kalau Hani suka berbohong gadis itu menjadi lebih tertutup dan selalu mengurung diri di kamar, Ia bahkan menolak saat kedua orang tuanya menyuruh Hani untuk mengantar pesanan pelanggan. Pagi itu Hani terbangun dan langsung meraih ponselnya untuk melihat apakah ada yang mencarinya setelah mengurung diri selama seminggu di rumah, Nyatanya yang mencari Hani tak lain adalah Helen sahabatnya, Padahal Hani sangat berharap Bima lah yang datang untuk menanyakan kabarnya.
Mengingat dirinya yang sudah seminggu tidak melihat Bima rupanya membuat Hani berinisiatif untuk mengunjungi rumah cowok itu, Hani pun bangkit dan bergegas untuk ke rumah Bima, ia memilih stelan yang kasual dengan rambut yang di ikat kuda setelah menghabiskan dua puluh menit di kamarnya, Hani pun bergegas ke bawah dan meminta sang ibu untuk membungkus kan makanan spesial.
" Kamu mau kemana? " Tanya sang ibu sambil menyiapkan pesanan Hani.
" Ke rumah teman. " Jawabnya ikut menyiapkan yang lainnya.
" Ini.., ingat jangan pulang malam-malam. " Ucap sang ibu begitu semua sudah siap, Hani meraihnya dan bergegas meninggalkan rumahnya setelah mencium kedua pipi ibunya
\*
Hani tiba di rumah Bima dengan wajah berseri-seri, Ia mengetuk pintu rumah cowok itu dan memanggil nama Bima beberapa kali hingga sang empu keluar dari rumah dengan wajah kebingungan. Hani menunjukkan kotak makanan kepada Bima dan meminta izin untuknya masuk ke dalam, Bima masih menatapnya bingung sebab Hani datang secara tiba-tiba tanpa memberitahunya dulu.
" Aku masuk yah.. " Tanpa menunggu lebih lama lagi Hani pun langsung masuk dan berjalan lurus menuju ruang makan, Bima menatapnya datar kemudian mengikutinya dengan komentar pedas namun sudah dapat di terima oleh hani.
" Aku bosan di rumah, makanya aku datang ke sini sekalian bawain kamu makanan. " Ucapnya sambil mempersiapkan peralatan makan.
Kebetulan siang ini Bima belum makan sehingga ia menerima kedatangan Hani hari ini, Bima duduk berhadapan dengan Hani sambil menunggu gadis itu menyiapkan makanan untuknya.
" Ini.., Karena kamu suka sama makanan ibuku, Aku meminta agar di buatkan lebih banyak supaya bisa di makan lagi nanti malam. " Ujar Hani setelah menyimpan sebagian makanan ke dalam lemari es.
Setelah semua beres dan Hani telah menyodorkan sepiring makanan spesial kepada Bima ia pun kembali duduk menghadap Bima dengan kedua tangan yang di topang di atas dagu. Melihat Bima yang mulai menyantap makanan tersebut tiba-tiba membuat Hani merasa sudah seperti seorang istri yang tengah melayani suaminya makan siang.
" Jangan liatin gue gitu, gue jadi nggak nafsu makan nanti. " Lontar Bima sukses membuat Hani terkekeh.
" Terima kasih yah Bim.., " Gumam Hani membuat Bima meliriknya dengan tanya.
" Lo udah bilang itu sebanyak 100 kali di pesan dan 20 kali lewat pesan suara dan sekarang masih mengatakan hal itu lagi, Gue bosan tau dengarnya. " Balas Bima ketus
" Suka aja.., Rasanya ucapan terima kasih nggak cukup buat apa yang kamu lakukan padaku. "
" Terserah lo aja. "
Di awal album terdapat satu foto keluarga kecil yang di mana ada anak laki-laki yang memasang wajah lucu, Hani sudah dapat menebak bahwa foto tersebut merupakan Bima sewaktu kecil. Setelah itu Hani kembali membuka halaman demi halaman, Ia tak berhenti senyum-senyum sendiri melihat foto Bima yang sangat menggemaskan bahkan foto bayinya pun sudah terlihat sangat tampan.
Diam-diam Hani memotret ulang foto kecil Bima dan di simpannya di geleri ponsel, Cepat-cepat Hani mengembalikan album itu sebelum Bima sadar apa yang barusan di lakukan olehnya.
Setelah Bima selesai makan, Hani segera pulang dan akan sering-sering membawa makanan untuk Bima namun cowok itu langsung menolaknya karena tak ingin merepotkan Hani, Apalah daya Bima jika harus melawan keras kepalanya Hani seberapa banyak pun ia melarang Hani akan tetap datang kepadanya.
\*
Bukan Hani namanya jika tidak menyerah untuk bertemu dengan Bima, Hampir setiap hari setelah membawakan Bima makan siang gadis itu selalu saja datang bahkan di saat Bima sedang tidak siap menerima tamu, Alhasil tiap hari juga Hani mendapat omelan dari cowok itu hingga suatu hari ketika Hani datang tiga kali sehari dan Bima yang mulai muak menegurnya cukup keras sehingga membuat Hani tidak datang siang ini.
Hujan mengguyur kota cukup deras saat itu hingga Bima mengira bahwa Hani tidak datang bukan karena kemarin di tegur sangat keras melainkan karena hujan, Suara ketukan pintu berhasil membuat Bima menoleh dengan wajah penasaran apakah yang datang adalah Hani atau bukan.
Bima beranjak dari tempatnya menuju pintu utama, Sebelum membukanya ia mengintip melalui celah-celah jendela, Tak ada siapapun di luar sana tapi dari mana asalnya suara ketukan itu?. Lagi dan lagi ketukan itu berhasil membuat Bima bergeming, Bima baru sadar kalau ketukannya berasal dari arah dapur, dan benar saja ketika Bima mengintip melalui celah-celah jendela ia berhasil melihat Hani yang tengah berdiri di luar dalam keadaan basah kuyup.
Bima membuka pintu dengan wajah kesalnya sebaliknya Hani tampak memasang wajah ceria begitu Bima berhasil membuka pintu, Hani menarik tangan Bima keluar rumah sehingga membuat cowok itu kebahasaan, Bima menutup kepalanya dengan kedua telapak tangan sambil memarahi Hani.
" Lo ngapain sih hujan-hujanan di belakang rumah gue? Pake narik gue keluar segala lagi, pulang sana!! " Ucap Bima yang tak di pedulikan oleh Hani, gadis itu masih asyik berlarian kecil di pekarangan rumah Bima sambil tertawa-tawa.
Anehnya Bima sendiri tidak pergi walaupun sudah tahu yang di lakukan nya saat ini adalah tindakan bodoh, Hani kembali menghampirinya sambil menarik Bima agar semakin terguyur oleh derasnya air hujan.
Tampaknya Bima sudah tidak bisa menerima perlakuan Hani lagi, Ia dengan paksa menarik tangan Hani ke dalam rumah dengan tujuan agar mereka berhenti bermain hujan, Hani yang telah berhasil di bawa masuk oleh Bima di minta untuk mengeringkan badannya ,Bima kemudian menyuruh Hani memakai kamar mandi duluan selagi dirinya pergi mengambil pakaian yang bersih.
Setelah lima belas menit kemudian keduanya sudah dalam keadaan kering dan pakaian Hani pun sementara di keringkan di mesin cuci, Hani dan Bima duduk bersebelahan dengan secangkir coklat hangat di tangan mereka, Sesekali Hani melirik Bima yang fokus menatap layar televisi, Seulas senyuman tiba-tiba terukir di wajah Hani, Pakaian Bima yang di kenakan nya saat ini sangat hangat dan aroma parfum yang biasa di pakai oleh cowok itu terasa sangat kuat bahkan Hani merasa seperti sedang di peluk oleh cowok itu.
Keduanya tak banyak bicara setelah itu, Bima hanya fokus menonton TV sementara Hani lambat laun mulai merasa ngantuk hingga akhirnya menyandarkan kepalanya di sofa, Bima menoleh dengan wajah terkejut seperti ingin melarang Hani untuk tertidur, Namun melihat Hani yang tertidur sangat pulas tiba-tiba membuat Bima menghela nafas panjang.
Di luar masih hujan mau tidak mau Bima membiarkan Hani untuk tetap tidur, Jika hujan sudah redah barulah Bima akan membangunkan nya tak perduli harus melakukan apa.