
Keesokan paginya semua murid kelas 1-A dan 1-B berkumpul di lapangan untuk di mulainya karya wisata mereka, Sebelum semua di bagi menjadi empat orang satu kelompok wali kelas mereka memberikan arahan terlebih dulu serta aturan yang harus di taati selama meneliti tentang budaya sekitar.
Setelah semua cukup barulah pembagian tim di mulai, Hani beruntung tidak satu kelompok dengan Tania dan Anna karena sejak semalam kedua gadis itu terus menyindirnya tiada henti, Kelompok Hani masih kurang satu orang lagi sehingga wali kelas langsung menunjuk Bima untuk bergabung bersama kelompok nya. Wajah bahagia Hani terlihat sangat jelas saat itu, Mimpi apa ia semalam sampai bisa satu kelompok dengan Bima.
Begitu pembagian kelompok selesai, Semua tim segera berpencar untuk mendapatkan informasi sebanyaknya dari warga setempat, Bima yang kebetulan membawa kamera di tugaskan untuk menjadi dokumentasi, Hani yang pandai berbahasa inggris pun mendapat bagian untuk mewawancarai turis yang datang, Kedua teman kelompok yang lain memutuskan untuk memisah diri sehingga saat ini Hani hanya berdua dengan Bima.
" Gimana dong? " Keluh Hani pura-pura sedih namun dalam hatinya kini ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
" Gak apa-apa, Kita berdua aja. " Balas Bima langsung membuat Hani menoleh dengan wajah berseri-seri.
Keduanya kembali mencari turis untuk di wawancarai sementara Hani memberikan pertanyaan pada salah satu narasumbernya, Bima terlihat sibuk memotret moment-moment tersebut dengan kamera miliknya.
Cekrek...cekrek..
Bima melirik hasil dari foto barusan dan berfokus pada sosok Hani yang saat itu tidak sengaja tersenyum sangat lebar.
" Gue pikir lo masih sedih seperti semalam. " Ucap Bima pelan kemudian melanjutkan dokumentasinya.
Setelah menyelesaikan tugas yang di berikan, Hani dan Bima memilih untuk beristirahat di sebuah gazebo di pinggir pantai sambil menikmati es kelapa muda, Bima memulai untuk mengecek hasil fotonya sementara Hani yang kepo ikut mendekat dan melihat foto-foto yang telah di ambil oleh Bima.
" Kamu hebat juga potretnya. " Decak Hani kagum
" Btw.., Kita bisa nggak foto berdua pake kamera itu. " Ucap Hani dengan nada yang sengaja di buat memelas
Bima mulai menjulurkan tangannya sambil mengarahkan kamera ke arah mereka berdua, Hani pun bergegas mengambil pose kemudian dalam hitungan 3 2 1 Bima sudah menekan tombolnya. Hani tak sabar melihat hasilnya dan segera meminta Bima untuk menunjukkan foto barusan.
Ketika Bima menunjukkan hasilnya kepada Hani, Gadis itu langsung meminta Bima untuk mengirimkan nya namun Bima menolak dan menjauhkan kamera tersebut dari Hani.
" Jahat banget..., Kirim nggak!!! " Lontar Hani kesal.
Dari kejauhan tampak Tania dan Anna tengah memperhatikan mereka dengan tatapan sinis, Melihat kedekatan keduanya yang tidak seperti sandiwara belaka membuat keduanya kebingungan seperti apa sebenarnya hubungan antara Hani dan Bima saat ini.
\*
Tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat setelah tiga hari menghabiskan waktu di Bali kini tiba saatnya untuk murid SMA Mahadewa kembali ke Jakarta, Semua murid-murid telah berkumpul di lapangan sebelum akhirnya memasuki bus, Tiba-tiba saja suara teriakan Anna membuat semuanya terkejut dan mencari sumber suara tersebut.
" Apa kamu yakin gelangnya hilang di sini? " Tanya Bu Yuli.
" Yakin banget bu.. " Jawab Anna mantap.
Wali kelas pun meminta seluruh murid untuk berkumpul termasuk Hani yang baru saja tahu kalau Anna kehilangan gelangnya, Semua di minta untuk meletakkan tasnya terutama yang tinggal bersama Anna di penginapan. Ketua kelas pun ikut membantu dalam mencari gelang tersebut, Semua tampak cemas dan tidak tahu harus mencurigai siapa karena setahu mereka di kelas 1-A semuanya orang jujur tidak mungkin ada pencuri.
" Ketemu bu. " Seru ketua kelas seketika membuat semua mata tertuju kepadanya.
Dari dalam sebuah tas berwarna merah muda Ketua kelas telah berhasil menemukan sebuah gelang emas yang langsung di yakini Anna sebagai miliknya. Wali kelas kemudian mengangkat tas itu dan bertanya siapa pemiliknya.
Hani mengangkat tangan dengan wajah terkejut yang tidak tahu apa-apa, Semua kompak mencibir Hani sebagai penipu ulung, tampaknya semua murid mulai menjauhi Hani sehingga membuat gadis itu tertunduk lemas.
" Hani, jelaskan pada ibu, kenapa gelang ini bisa ada di tas kamu ?" Tanya wali kelas tegas
" Saya juga nggak tahu bu kenapa gelang itu bisa ada di tas saya. " Jawab Hani tak kalah tegas
" Bohong tuh bu.., dia kan tukang nipu. "
" Iya benar bu.. Hani itu penipu, bisa aja kan dia sengaja beralasan gitu biar nggak di salahin."
Semua terdengar menyakitkan di telinga Hani hingga akhirnya Bima ikut campur dalam masalah tersebut, Bima bersaksi kalau Hani bukanlah seorang pencuri dan dia berkata lagi bahwa bisa saja ada seseorang yang sengaja melakukan hal tersebut sehingga membuat Hani malu.
" Sudah.. Sudah.., masalah ini nanti kita bahas setelah tiba di Jakarta, Karena gelang Anna sudah ketemu biarkan gelang itu kembali kepadanya, Semua naik bus kita harus mengejar pesawat sebelum terlambat.
Semua murid bergegas memasuki bus kecuali Hani dan Bima yang masih menunggunya, Bima memanggil nama Hani sekali dan langsung membuat gadis itu menoleh dan mengikuti langkah nya memasuki bus. Saat berada di dalam bus semua murid tampak tak mau duduk bersebelahan dengan Hani, Masih ada dua kursi kosong dan Bima pun langsung menarik tangan Hani untuk duduk bersamanya walaupun kursinya berada di paling belakang.
" Bu Yuli.. " Panggil Anna tiba-tiba.
" Ya? Ada apa An? " Sahutnya melirik Anna yang baru saja mengangkat tangan.
" Kayaknya kasus pencurian ini nggak usah di libatkan sama pihak sekolah, Cukup ibu aja yang mau hukum Hani dengan cara apa. "
" Tapi aku.. " Bima menahan tangan Hani dengan maksud agar gadis itu tidak membela dirinya lagi.
" Lo kok jahat banget sih sama Hani? Dia salah apa sama lo ? Selama ini kalian selalu menyuruh Hani untuk membeli ini itu kalau jam istirahat, Kalian bahkan tega menyuruhnya mengangkat bola saat pelajaran olahraga, dan tugas piket yang seharusnya kalian bertiga yang mengerjakannya kenapa hanya Hani yang melakukan semuanya ? Hanya karena dia berbohong ke kalian bukan berarti dia seorang penjahat, Dia hanya mau diterima layak sama kalian..., Nggak lebih. "
Semuanya kompak terdiam begitu Bima angkat bicara, Selama ini Bima terlihat pendiam jika di kelas tak di sangka dia akan berani membela Hani seperti itu bahkan di depan wali kelasnya sendiri. Hani menatap Bima dengan tatapan sendu, Hatinya yang tadi sakit entah kenapa perlahan mulai membaik.
" Terima kasih Bima.., Kau membuatku merasa lebih baik sekarang. Lagi-lagi kamu berhasil membuatku semakin menyukai mu. " Batin Hani tersenyum puas.
Bu Yuli pun akhirnya memberikan teguran untuk semuanya agar menjaga barang berharganya dengan baik, Dan semua masalah pun kembali membaik walau sebagian dari mereka masih mencap Hani sebagai murid yang pembohong.