
Keesokan harinya seperti kemarin Hani kembali mengunjungi rumah Bima, kali ini ia membawa sekantung penuh bahan makanan yang di mana ia akan membuat masakan yang enak spesial untuk cowok yang di cintai nya. Setibanya di rumah Bima, Hani yang kemarin telah mengambil kunci rumah nya segera membukanya tanpa berpikir panjang kalau nanti Bima akan marah.
Suasana rumah yang masih terlihat sepi membuat Hani bertanya-tanya, Kemana kedua orang tua Bima bahkan foto-foto keluarga pun tak ada satu pun yang terpajang. Hani berjalan menuju dapur dan memulai rencananya, Ia sudah terlihat memasuki rumah sendiri tanpa ada rasa takut sama sekali.
Rupanya suara ribut-ribut yang di ciptakan oleh Hani telah mengundang Bima yang saat itu terbangun dan langsung menuju dapur dengan tongkat sapu yang di pegang nya cukup kuat, Setelah melihat sosok Hani di dapur perlahan membuat Bima meletakan tongkat itu dan menghampiri nya dengan tatapan tajam.
" Lo kok bisa masuk ke rumah gue? " Ucap Bima sukses membuat Hani terkejut hingga hampir menjatuhkan pisau yang di pegang nya.
" Aku sengaja mengambil kunci rumahmu agar aku bisa masuk, Aku tahu kamu lagi sakit dan berjalan untuk membuka pintu ketika aku datang pasti akan sangat melelahkan. " Jawabnya sambil kembali memotong sayuran.
" Lo nggak usah peduli sama gue kalo kita nggak lagi di sekolah. " Sahut Bima membuat Hani menghentikan aktivitasnya
Hani menoleh ke arah Bima dengan tatapan mata yang tak biasa " Aku sudah memutuskan untuk tetap berada di dekatmu, Sekali pun kamu melarang ku untuk menyukaimu aku akan menyukaimu dua kali lipat, Aku sudah bukan Hani yang selalu menyerah menghadapi apapun.., Aku Hani yang akan melakukan segala cara supaya kamu bisa suka sama aku. " Sahut Hani tegas, beberapa saat setelah itu seorang pria paruh baya masuk dan menyaksikan keduanya yang baru saja saling melempar argumen.
Bima menoleh menatap pria itu dan bergegas kembali kamarnya, Hani yang kebingungan pun menjelaskan kepada pria yang tak lain adalah Ayah Bima bahwa dirinya hanyalah seorang teman yang berusaha membantu Bima yang tengah sakit.
" Ini baru pertama kalinya Om melihat Bima membiarkan teman perempuan nya untuk datang ke rumah. " Ucap Ayah Bima yang kini sedang berhadapan dengan Hani di meja makan.
" Masa sih Om, Tapi Bima anak yang baik kok Om dia suka bergaul dengan anak-anak di sekolah. " Jawab Hani lagi-lagi berbohong agar Ayah Bima tidak khawatir
" Sepertinya kamu teman dekatnya Bima, Kamu harus tahu nak kalau Bima memiliki keluarga yang broken home, seperti yang kau lihat sekarang.., Setalah Ibu Bima meninggalkan kami demi pria lain Bima berubah menjadi anak yang pendiam dan dingin seperti sekarang, Om tidak bisa terus pulang ke rumah karena pekerjaan Om harus terus pergi dari satu tempat ke tempat lain.., Mengetahui Bima sakti dari wali kelasnya membuat Om menyempatkan untuk pulang dan ternyata di sini sudah ada gadis cantik yang merawat putra Om. "
Hani mendadak terbawa suasana, sekarang ia paham kenapa Bima selalu menampilkan tatapan mata yang menyedihkan, kenapa dia kurang bergaul hingga alasan Bima di pindahkan dari sekolah semua itu karena Bima merasa kesepian.
" Om sangat sibuk, kamu bisa kan memberikan obat dan uang ini untuk Bima, Sepertinya dia tidak mau bertemu dengan Om.., tolong Om yah. " Ayah Bima menyerahkan sekantung obat serta amplop pada Hani kemudian berlalu pergi.
Hani menatap kantung obat dan amplop itu dengan tatapan sayu, Entah kenapa hatinya ikut sedih ia bahkan bisa merasakan kesepian Bima walau baru mengetahui hal ini sekarang.
Beberapa saat kemudian Hani memasuki kamar Bima dan mendapati cowok itu tengah duduk manis di atas tempat tidur, pandangannya tertuju ke bawah dan setelah itu mulai menatap Hani yang membawa nampan berisi makanan.
" Lo terlalu ikut campur sama urusan gue, Sebelumnya kan gue udah bilang jangan pernah ikut campur. " Sahut Bima terdengar serius
" Aku tahu kamu kesepian, dan aku tetap akan menemanimu sampai kamu sembuh.. Sekarang makan ini dan minum obatnya, Ini ada uang dari Beliau untuk mu. " Setelah Hani meletakkan nampan tersebut ia beralih memberikan amplop itu kepada Bima.
Bima mulai menerima amplop tersebut namun langsung di buang begitu saja, Hani sampai terkejut melihatnya dan segera mengambil amplop itu kembali.
" Kau tidak boleh seperti itu, Ayahmu sudah capek-capek mencari uang dan kau membuangnya begitu saja. " Protes Hani menatap Bima tajam
" Lo nggak ngerti ! Mendingan lo pulang aja sana, jangan ganggu gue lagi." Sahut Bima kesal
" Kalau kamu nggak mau aku datang lagi, Cepatlah sembuh dan ke sekolah.., dengan begitu aku nggak akan ganggu kamu lagi." Hani beranjak pergi namun sebelum itu ia meletakkan kunci rumah Bima di atas meja samping makanannya dan kembali berlalu.
Bima ikut beranjak dari tempatnya dengan tangan yang berusaha menggapai kepergian Hani, Bima tersadar dan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Hani melompat turun dari mobil ayahnya setelah mobil tersebut berhenti di depan toko ATK, hari ini tumben sekali dia ikut Ayahnya lagi setelah beberapa minggu terakhir memilih untuk naik taksi online sehingga uang jajannya harus terkuras habis, Hal itu dilakukannya hanya untuk membuat kedua temannya percaya bahwa mobilnya sedang di bengkel dalam proses modifikasi.
Hani melirik palang gerbang sekolahnya yang bertuliskan SMA 02 Mahadewa dengan tatapan malas, Hari ini ia bingung apakah harus menengok Bima lagi atau tidak, Setibanya di kelas Hani langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi kemudian meletakkan tasnya di atas meja sembari melirik seisi ruangan yang tampak kosong, Rupanya Hani datang sangat pagi hari ini dan jam masih menunjukkan 06:30 masih ada setengah jam lagi hingga jam pelajaran di mulai.
Suara langkah kaki segerombolan orang perlahan terdengar sangat jelas, Hani menengok ke arah pintu dan mendapati seorang cowok yang tiba-tiba berhenti ketika mereka saling menatap satu sama lain.
" Kamu..., Hani kan? " Sahutnya seketika membuat teman-teman nya yang lain ikut berhenti dan melirik Hani.
" Rendy? " Gumam Hani dan langsung membuat cowok itu mengangguk senang.
" Kalian duluan aja, gue mau ngobrol bentar. " Lanjut Cowok itu seketika membuat teman-teman nya langsung menggodanya.
Cowok yang bernama Rendy itu masuk dan menghampiri Hani dengan senyuman yang manis, Hani membetulkan posisi duduknya agar tak terlihat canggung kemudian cowok itu mengeluarkan ponsel dan meminta nomor telepon Hani.
" Nomor telepon ?" Ucap Hani melongok menatapnya.
" Ia..,biar kita bisa lebih dekat gitu. Sejak kejadian waktu itu aku merasa bersalah banget udah bikin kamu pingsan."
" Kenapa? Nggak mau yah berteman sama aku? " Lanjut nya setelah melihat ekspresi kebingungan Hani.
" Oh nggak kok.., Sini Hp kamu. " Lontar Hani dan langsung di berikan oleh Rendy
Beberapa teman kelas Hani yang baru saja datang kompak menggoda Hani selingkuh dari Bima hingga Tania dan Anna yang ikut baru datang langsung menghampirinya dengan wajah yang begitu penasaran.
" Dia siapa Han? " Tanya Anna sambil meletakkan tasnya.
" Dia teman aku, kami baru aja kenal ya kan Ren. " Ucap Hani melirik Rendy dan di balas anggukan mantap olehnya.
" Ohhh..., Bima datang. " Ucap Tania seketika membuat Hani menoleh, dan benar saja Bima baru saja datang dan berjalan menuju kursinya.
Pandangan Hani tetap tertuju pada Bima yang saat ini sudah duduk manis di tempatnya, ia bahkan mengabaikan Rendy saat cowok itu meminta kembali ponsel nya.
" Maaf.., nomorku udah aku save. " Lanjut Hani kemudian
Baru saja Rendy hendak melanjutkan percakapannya dengan Hani, bel berdering menandakan pelajaran akan segera di mulai membuat cowok itu terpaksa pergi. Setelah Rendy pergi, Hani kembali melirik Bima yang masih berwajah dingin tapi entah mengapa Hani senang akhirnya bisa melihat Bima kembali sehat.