The way I love you

The way I love you
Part 19




Pukul 10:00 pagi Hani sudah berada di depan rumah Bima, menunggu cowok itu keluar dari rumahnya wajah berseri Hani terlihat begitu jelas bagaimana tidak hari ini Bima bersedia pergi jalan-jalan bersamanya, dan hal itu benar-benar di anggap Hani sebagai kebahagiaan yang tiada tara.



Cowok itu baru saja keluar dari rumahnya dengan stelan kasual yang mencerminkan sosok pacar able walaupun Bima bukan pacarnya tapi Hani akan menganggap Bima sebagai pacar nya untuk hari ini. Keduanya segera berjalan kaki menuju tempat-tempat yang akan mereka kunjungi, Hari ini banyak tempat yang ingin di datangi oleh Hani hanya saja Bima menolak dan memutuskan untuk pergi ke dua tempat berbeda saja.


Hari itu di lalui Hani bersama Bima dengan penuh kebahagiaan, Hani benar-benar senang bisa menghabiskan waktunya bersama cowok itu walaupun hanya mendatangi dua tempat berbeda. Waktu berjalan cukup cepat sehingga tiba saat di mana mereka memutuskan untuk mengisi perut di sebuah cafe yang instagramable untuk berfoto.


Hani yang tak mau ketinggalan pun segera mengeluarkan ponselnya dan mengajak Bima untuk berfoto bersama, Awalnya Bima berusaha untuk menolak namun gadis itu terus memaksa Bima hingga akhirnya ia pun setuju untuk di ajak foto.


Setelah berfoto bersama Hani pun langsung menjadikan foto Bima sebagai walpaper hpnya, Bima hanya menggeleng pelan melihatnya. Pramusaji datang dengan membawa pesanan mereka, Hani memesan wafel crepe dan jus melon sementara Bima memesan pancake durian dengan es teh manis.


Setelah menghabiskan pesanan mereka, Keduanya tidak langsung pulang melainkan sibuk dengan urusan masing-masing, Bima sibuk melirik ponselnya sedangkan Hani sibuk memperhatikan Bima dengan sangat serius.


" Kenapa liatin gue terus, Nggak bosan apa? " Lirik Bima tajam.


" Nggak.., Aku nggak akan pernah bosan sama kamu. " Jawab Hani cepat.


Bima meletakkan ponselnya dan kembali menatap Hani dengan tajam, Hani sendiri mulai salah tingkah di perhatikan seperti itu hingga membuat wajahnya tiba-tiba memerah karena tersipu malu.


" Lo beneran suka banget sama gue? " Lontar Bima tiba-tiba.


Hani mulai mengangguk setuju dan menyunggingkan senyum yang manis.


" Kalau gitu, gimana kalau kita pacaran sungguhan..., Sepertinya gue udah mulai suka sama lo. " Lanjut Bima berhasil membuat waktu seakan berhenti, Hani masih membeku mendengar ucapan Bima barusan hingga membuatnya kesulitan untuk mengontrol emosi.


" Kamu serius. " Ucap Hani dan di balas anggukan pelan dari Bima.


Hani bersorak gembira dan mengiyakan ajakan pacaran Bima, melihat respon Hani yang kegirangan membuat Bima menyuruhnya untuk diam sebab seluruh pengunjung cafe saat ini tengah memperhatikannya.


" Aku senang banget..., akhirnya kamu beneran suka sama aku. " Seru Hani serasa ingin meledak.


Tawa Bima tiba-tiba terdengar cukup nyaring membuat Hani kebingungan melihatnya, ini pertama kalinya Hani melihat Bima tertawa lepas seperti itu.


" Lo percaya dengan ucapan gue barusan.?" Lontar Bima sambil menyeka air mata yang keluar dari pelipisnya


" Maksud kamu apa Bim ?" Tanya Hani tak mengerti.


" Gue cuma bercanda kalau gue udah suka sama lo , gue nggak nyangka aja respon lo sampai segitunya."


Byuurr....


" Nggak lucu tau ! Kamu udah buat aku kecewa. " Hani meraih tasnya kemudian meninggalkan cafe itu dengan Bima yang tiba-tiba terdiam tanpa mengejar kepergian Hani.


 


\*


 


Hani menangis sejadi-jadinya di kamar setelah pulang dari cafe, di permainkan oleh Bima seperti ini sangat membuatnya terluka, ia tak menyangka rasanya akan sesakit ini di permainkan oleh orang yang di cintai Nya. Suara ketukan pintu dari luar membuat Hani tak bergerak sama sekali, Di luar tampak sang ibu sedang memanggilnya untuk makan malam namun Hani masih tetap berada di balik selimut menangis dan menyesali telah menyukai cowok seperti Bima.


Setelah beberapa saat menangis di kamarnya, Hani bangkit dari tempat tidur menuju meja belajarnya kemudian menatap wajah nya yang sembab pada sebuah cermin yang tertera di kamar nya, Wajah sembab seperi itu sangat lah di benci Hani sehingga ia pun bergegas untuk mencuci wajahnya.


Begitu Hani merasa lebih baik ia kembali duduk di bibir tempat tidur memikirkan apa yang harus di lakukan nya setelah ini. Berhenti menyukai Bima dan mencari penggantinya mungkin hal yang bagus tapi sampai saat ini entah kenapa sulit rasanya menyukai cowok lain selain Bima.


" Kau harus bisa Han.., Bima bukanlah satu-satunya cowok di dunia ini.., Kau harus bisa. " Hani berusaha meyakinkan dirinya hingga akhirnya ia memutuskan untuk melupakan Bima terlebih dahulu.


 


\*


 


Tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat dan libur semester telah berakhir, Welcome semester dua dan itulah kata-kata yang di lontarkan beberapa murid di SMA Mahadewa ketika memasuki pelataran sekolah. Hani yang baru saja tiba di sekolah menatap palang sekolahnya dengan enggan. Ia malas menghadapi semua orang yang masih sering menyindir nya terlebih lagi harus melihat Bima, Padahal sudah 5 hari ini Hani mencoba untuk tidak mengingat cowok itu lagi, namun apa daya ketika tiba di sekolah dirinya harus tetap bertemu walaupun ia tak ingin.


Seseorang berteriak memanggil nama Hani ketika gadis itu tengah berjalan sendirian di koridor sekolah, Hani menoleh dan mendapati seorang cowok tinggi tengah menghampirinya. Melihat sosok cowok itu entah kenapa Hani tiba-tiba memikirkan untuk berusaha menyukainya untuk bisa melupakan Bima.



" Udah lama nggak ketemu, Gimana kabar nya.., kok selama ini chat aku nggak di bales ?" Lontar cowok itu membuat Hani tercekat, ia bahkan tak ingat kalau selama ini cowok itu sering mengirimkannya pesan.


Hani mengecek ponselnya dan tidak menemukan pesan apapun di sana, Dan ternyata kesalahan terjadi saat di mana Rendy meminta nomor Hani, Hani tak sengaja memberikan nomor ponsel Bima yang membuatnya menepuk jidat. Untungnya semua pesan yang di kirim oleh Rendy tak ada satupun yang di balas oleh cowok itu.



" Maaf.. Maaf.., itu nomor lama, Ini nomor aku. " Hani menunjukkan nomor nya kepada Rendy dan dengan cepat cowok itu menyimpannya .


" Pantas aja nggak pernah di balas. " Ucapnya terkekeh pelan.


Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka menuju kelas, Kebetulan kelas Hani berada di lantai dua sementara Rendy di lantai satu mereka berpisah di tangga setelah Rendy melambaikan tangan kepadanya.


Di tangga, Hani tak sengaja bertemu dengan Bima. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya Hani melanjutkan langkahnya dan berlalu begitu saja, Melihat Bima seperti itu entah kenapa membuat perasaan Hani berdebar, ia tak mungkin gagal move on tapi waktu lima hari tidak akan cukup untuk melupakan Bima seutuhnya, Hani harus memikirkan cara lain untuk melupakan Bima seutuhnya.