The way I love you

The way I love you
Part 8



Kedua mata Hani menangkap sosok yang tak asing di penglihatannya, Bima datang dengan membawa sebuah payung berwarna biru pastel di mana saat ini Bima tengah berdiri di sebelahnya dan mulai berjalan bersama Hani.


" Kenapa..? Kenapa aku merasa sangat senang berada di dekatnya. " Benak Hani yang mulai mengikuti langkah kaki Bima yang sudah berada di tanah yang basah akibat hujan itu.


Hani yang merasa gugup berjalan agak sedikit menjaga jarak dari Bima sehingga bahunya terkena air hujan, Melihat akan hal itu Bima dengan santai nya merangkul Hani agar gadis itu tidak kehujanan sontak Hani terkejut kedua matanya melebar dengan sempurna, darah di tubuhnya berdesir hingga membuat jantungnya ikut berdegup kencang tak beraturan.


" Apa aku menyukai Bima ?" Lirik Hani yang seketika menatap wajah Bima dengan pesona bak seorang pangeran.


Tanpa sadar mereka berdua sudah berjalan cukup jauh dan sebentar lagi Hani akan tiba di rumahnya, Hujan pun sudah redah sehingga membuat Bima menutup payungnya, rambutnya yang basah di acak-acak asal, Hani yang melihatnya hanya dapat melongo mengangumi ketampanan Bima meski sedang basah seperti itu.


" Makasih yah sudah mau mengantarku pulang. " Ucap Hani kemudian.



Tiba-tiba saja sisa air hujan yang berada di pohon terjatuh tepat di bawah Hani, Bima yang menyadarinya langsung menadahkan tangannya tepat di atas kepala Hani secara refleks bahkan tanpa berpikir panjang sebelumnya, Kedua manik mata mereka saling bertemu, waktu terasa berhenti sejenak membuat keduanya saling menikmati wajah mereka satu sama lain.


Sadar, Bima pun mundur dengan wajah salah tingkah sambil mengusap tengkuk lehernya, Hani pun ikut malu terbukti dengan wajahnya yang saat ini memerah bak udang rebus.


" Gue balik dulu, rumah lo udah dekat kan? " Ucap Bima di balas anggukan canggung dari Hani.


Setelah Bima pergi, Hani memegang wajahnya yang terasa panas, Ia loncat-loncat tidak jelas sambil mengingat kejadian barusan, walaupun hanya tiga menit tapi dirinya merasa waktu itu sangat lama, Hani benar-benar bingung dengan dirinya yang sekarang.


\*


Hari minggu, Hani hanya menghabiskan waktu di rumah dengan berbaring di tempat tidur sambil membaca buku-buku novel yang selalu di belinya dan di koleksinya hingga saat ini, Baru kali ini Hani merasa bosan dengan buku-buku nya sebenarnya dia bukan bosan karena membaca buku tapi karena hari ini dia merasa separuh dirinya ada yang hilang.


Hani menengok ponselnya dan tiba-tiba teringat dengan Bima, hingga saat ini Hani belum memilki nomor Bima dan itu benar-benar dirasakan Hani sangat aneh, Gadis itu seketika ingat dengan grup WhatsApp kelas dan segera mencari nomor Bima, sayangnya Bima belum juga join di grup kelas. Hani membuang ponselnya ketika ia tersadar sedang memikirkan Bima.


" Apa yang ku pikirkan, Kenapa aku terus mengingat cowok itu. Hani sadarlah, kamu tidak boleh menyukai cowok itu. "



" Benar juga, Hubungan kami hanya sebatas perjanjian yang menguntungkan kita berdua.., aku seharusnya segera mencari pacar baru agar kami tidak saling terhubung lagi.. Tapi siapa yang mau berpacaran denganku.. " Ucap Hani mulai berguling di atas tempat tidurnya.


Suara ibu Hani tiba-tiba membuatnya langsung beranjak dan menghampirinya di lantai satu, rumah Hani memang berlantai dua di mana lantai satu di jadikan warung makan dan lantai dua di jadikan tempat tinggal mereka, Hani adalah anak satu-satunya sehingga tak masalah bagi mereka jika membagi rumah tersebut menjadi dua.


Setibanya Hani di bawah, Ibunya tiba-tiba menyuruh Hani untuk mengantarkan makanan ke salah satu alamat yang tertera di secarik kertas yang di berikan, Hani menerimanya dan segera pergi mengantarkan makanan tersebut.


\*


Hani berlari tergesa-gesa seakan di kejar setan, Langkahnya terhenti ketika dirinya menabrak seseorang, Hani merunduk meminta maaf di hadapan seorang pria besar yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam. Tampaknya pria itu tak terima puntung rokoknya yang masih baru terjatuh akibat tabrakan tadi, ia meminta Hani untuk menggantinya dua kali lipat.



Hani mengeluarkan uang dari sakunya dengan pasrah dan menyerahkan uang tersebut pada pria yang saat ini berada di hadapannya, Seseorang tiba-tiba menahan tangan Hani untuk menyerahkan uang tersebut, Hani menoleh dan menatap Bima yang entah dari mana bisa muncul di waktu seperti ini.


" Kalau mau malak liat-liat dulu bang, dia cewek. " Ucap Bima menjauhkan Hani dari hadapan pria itu.


" Lo siapa datang tiba-tiba udah kaya pahlawan kesiangan, minggir tuh cewek mau ganti rugi rokok gue yang udah jatuh. " suruh pria yang terlihat lebih tua dari mereka.


Bima membisik Hani untuk menyuruhnya lari, awalnya Hani menolak pergi sendirian tanpa Bima tapi setelah melihat tatapan Bima yang tegas entah kenapa Hani segera pergi, berlari tanpa menoleh sementara itu pria tersebut meneriakinya dengan keras namun Bima dengan cepat menghalaunya dengan sekali pukulan yang membuat pria itu tersungkur.


" ******. " Gumam Bima segera menyusul arah Hani berlari.


Rupanya pria itu kembali bangkit dan berusaha mengejar mereka, Bima menoleh dan semakin mempercepat langkah kakinya hingga ia bisa mendapat Hani yang sudah terengah-engah, Bima menarik lengan Hani dan mengajaknya terus berlari sampai pria itu tak dapat mengejar mereka.


Setelah berlari cukup jauh, keduanya berhenti di sebuah perumahan yang tidak memungkinkan bagi pria itu mencari mereka sampai di sini, Hani mencoba mengatur nafasnya dan menjatuhkan tubuhnya di jalanan tanpa berpikir pakaiannya akan kotor.


Bima pun sama, ia terlihat kelelahan sambil menghapus keringatnya yang bercucuran. Lagi-lagi Bima berhasil membuat jantung Hani berdegup kencang sampai ia takut kalau Bima akan mendengarnya. Suara mobil es krim baru saja melintas di tempat mereka istirahat, Hani dengan cepat beranjak dan membeli es krim tersebut sebagai tanda terima kasihnya pada Bima karena telah menolongnya.


" Kamu mau rasa apa? " Sahut Hani dan Bima hanya meliriknya tanpa ada balasan apa-apa.


Hani menoleh kembali dengan bibir yang di poutkan, Hani memesan dua es krim vanila coklat dengan toping strawberry di atasnya, tak menunggu waktu lama gadis itu segera kembali dan memberikan satu cone es krim untuk Bima.


" Hanya ini? Gue bahkan udah nolong lo berkali-kali dan lo cuma traktir gue ini? " Ucap Bima seakan tak terima dengan pemberian Hani yang sederhana.


" Lalu kamu mau apa? " Tanya Hani memelas.


" Traktir apa kek yang enak, jangan cuma es krim doang.., kalau kaya gini gue juga bisa beli. "



" Ya udah sini es krimnya, nanti aku traktir makanan deh. " Saat Hani meminta kembali es krim tersebut, Bima malah bergeser sedikit lebih jauh dan mulai menikmati es krim tersebut.


" Dasar.. " Gumam Hani pelan dan kembali menikamati es krimnya.