
"Ughh..."
Pagi harinya Yu Bai terbangun dengan rasa sakit pada kepalanya. Ia merasa nyeri dan pusing. Pandangannya berkunang-kunang, dan dia merasa suhu tubuhnya meningkat.
Yu Bai menarik kesimpulan dari rasa sakit yang ia alami sekarang.
Ia kena demam.
"Haus" gumam Yu Bai.
Ia menoleh kearah ke kiri yang dimana biasanya ia menemui pria asing yang menjadi teman nya itu.
"Eh?"
Yu Bai terkejut. Ia tidak melihat siapapun di sel sebelah kirinya. Yu Bai terdiam dan mencoba mengingat sesuatu.
"Apa yang kulakukan tadi malam?"
Yu Bai mengusap kepalanya. Dia terlihat kebingungan.
"Dimana makanan? Kenapa belum datang?"
Growll...
Reflek, Yu Bai langsung memegang perutnya. Wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Uhh... Ini memalukan."
Dikarenakan kepalanya yang terasa pusing. Yu Bai merebahkan dirinya di atas jerami. Ia rebahan dengan terlentang. Kemudian ia menutup matanya menggunakan lengan kirinya.
Yu Bai menghela nafas.
'Sampai kapan aku disini?'
.
.
.
.
.
"Hei bocah."
"Sepertinya dia terkena demam?"
Yu Bai perlahan-lahan membuka matanya. Ia masih berada di tempat yang sama dan di posisi yang sama pula.
Perbedaannya adalah-- dia mendapati tiga pria asing yang berada di luar sel nya.
Yu Bai berusaha mengambil nafas. Nafasnya terlihat terengah-engah, pandangannya juga tidak fokus. Tubuhnya terlihat gemetar.
"Bos, dia kena demam" ucap petugas yang biasanya menjaga keamanan.
Si 'Bos' itu menatap Yu Bai dengan jeli. Mata hitam itu menatap Yu Bai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Dia terlalu kurus. Darimana dia?"
"Dari perompak gunung selatan" jawab pria yang satunya lagi.
Si 'Bos' tertawa keras. "Bwahahaha.... Dari mereka ternyata."
Yu Bai terus memperhatikan percakapan ketiga pria yang ada di luar sel-nya ini.
"Biarkan saja dia mati."
Yu Bai terkejut.
"Tapi bos-"
"Dia tidak berguna untuk menjadi budak. Biarkan saja dia."
Yu Bai menggertakan giginya. Dia merasa kesal pada si 'Bos' yang sepertinya tidak menganggap dirinya sebagai manusia.
Si 'Bos' itu berbalik. Ingin pergi dari hadapan Yu Bai yang terlihat berusaha untuk bangun.
"Mati? Kau membiarkanku untuk mati?"
Si 'Bos' melirik Yu Bai dengan tajam.
SRETT....
Terlihat Yu Bai menyeret dirinya mendekati ketiga pria asing itu.
Dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. Yu Bai menatap si 'Bos' dengan tajam.
"Dimana rasa kemanusiaanmu?"
Si 'Bos' itu kembali menghadap Yu Bai. Pria itu berjongkok di hadapan Yu Bai yang masih setia memberikan tatapan tajam dan dinginnya.
"Bocah, matamu boleh juga."
Yu Bai menyipitkan matanya. Ini kedua kalinya ia mendengar pujian untuk matanya. Tapi Yu Bai tidak menyukai pujian itu.
Dia membencinya.
Yu Bai sangat membenci pujian pada matanya yang dipenuhi dengan kebencian.
"Kau bertanya dimana rasa kemanusiaanku?" pria itu tertawa remeh. "Aku tidak memilikinya."
Yu Bai terdiam.
"Perasaan itu sudah hilang" ucapnya dengan senyuman miring.
"Kau manusia rendahan" ucap Yu Bai yang tersirat sebuah amarah di perkataannya.
"Aku sudah sering mendengarnya" balas pria itu.
Si 'bos' berdiri dan berbalik, kemudia ia menatap kedua pria yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan singkat itu.
"Cambuk bocah itu. Buat dia pingsan atau matipun, aku tak peduli" ucap si bos dengan kejam.
Kedua pria itu mengangguk mengerti.
Setelah dirasa paham, si bos berjalan pergi menjauhi Yu Bai yang masih memberikannya tatapan kebencian.
Kedua pria itu membuka pintu sel dan masuk ke dalam.
"Kalian mau apa?" Tanya Yu Bai dengan waspada.
Tidak ada jawaban.
"Bangun" perintah pria itu.
Yu Bai melirik pria itu. Di otak cerdasnya, ia sangat tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Dia ingin kabur, tapi bagaimana?
Dikarebakan rantai yang mengikat kakinya, ia jadi tidak bisa berlari. Bahkan untuk berjalan saja sudah sulit, apalagi berlari dari para penjaga keamanan.
Apa dia harus pasrah saja?
Tidak, Yu Bai menolak pemikiran itu.
Satu-satunya adalah.
'Aku harus bertahan. Walau itu sakit.'
Ya. Itulah yang harus dilakulan oleh Yu Bai.
Ia tidak tahu hidupnya akan berakhir malam ini atau lain hari.
Tapi sebelum ia memikirkan tentang kematiannya. Ia ingin mengingat sebuah janji.
Dikarenakan Yu Bai yang tidak berdiri juga. Pria itu menarik lengan Yu Bai dengan kasar.
Yu Bai meringis kesakitan. Kepala-nya tambah berdenyut sakit dikarenakan dipaksa bangun tiba-tiba.
Yu Bai menutup matanya.
Sekelebat ingatan lewat dipikirannya.
'Kak Bai!'
Tersentak, Yu Bai membuka kembali kedua matanya. Ia merasa mendengar suara Yu Nie yang meminta tolong.
"Yu Nie" gumam Yu Bai.
Bersamaan dengan pintu sel yang ditutup kembali. Yu Bai di seret oleh kedua pria itu. Menjauh, pergi dari sel miliknya.
Tak lama kemudian ia sampai di sebuah tempat yang agak luas.
Dengan tidak berperasaan, Yu Bai di geletakkan begitu saja di tanah.
Otomatis Yu Bai terbatuk-batuk dikarenakan debu yang masuk melalui mulutnya.
Kemudian kedua pria itu menarik kedua tangan Yu Bai dan mengikatkan tali pada pergelangan tangan Yu Bai. Tali itu masing-masing terikat pada tiang yang berdiri di sisi kiri dan kanan Yu Bai.
Yu Bai menggertakan giginya. "Jadi ini hukumanku?"
Tidak ada jawaban.
Yu Bai tertawa keras, tapi suara tawa itu terdengar seperti keputusasaan.
"Baiklah. Hukum aku, cambuk aku sepuasmu." Yu Bai melirik kedua pria itu dengan tajam.
Untuk sesaat, kedua pria yang bertugas untuk memberikan hukuman pada Yu Bai merasa merinding.
Mereka seperti melihat bayangan kematian di mata coklat gelap Yu Bai.
Dengan tangan gemetar, pria pertama mulai mencambuk punggung Yu Bai.
CTASS....
"Ukh...!"
CTASS....
"Akh!..."
'Bertahan.'
CTASS....
"Urghh...!"
Setetes demi setetes. Cairan bewarna merah yang disebut darah mengalir dari punggung Yu Bai dan berakhir pada tanah.
Suasana malam hari yang sebelumnya hanya diisi dengan suara primata malam, sekarang terdengar suara teriakan penuh rasa sakit dari seorang pemuda yang masih berumur 10 tahun.
CTASS...
Yu Bai mengangkat kepalanya. Ia menatap bulan dan bintang yang bersinar.
'25 cambukan.'
Yu Bai dengan nafas terengah-engah melirik kedua pria yang masih terus memberikan cambukan pada dirinya.
Dia tidak akan memohon.
Dia tidak akan memohon untuk berhenti menyiksa dirinya.
Tidak akan pernah.
CTASS...
"Arghh....!"
'30 cambukan.'
Kepala Yu Bai langsung terkulai lemah. Yu Bai terus melihat bintik-bintik hitam dan ia tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.
Keringat berjatuhan dari wajah Yu Bai. Terlihat Yu Bai berusaha untuk mengambil nafas walau sulit.
Matanya terasa berat.
Dia berusaha untuk menjaga kesadarannya.
Tapi sepertinya tak bisa.
'Sampai sini saja, kah?'
Setelah berpikir seperti itu. Yu Bai pingsan.
Kedua pria yang memberikan cambukkan pada Yu Bai segera memeriksa kondisi Yu Bai.
"Bagaimana?" Tanya pria penjaga keamanan.
Pria lainnya menyentuh leher Yu Bai, "Dia masih hidup."
"Bocah yang tangguh" komentar pria penjaga keamanan.
"Jadi bagaimana?"
"Biarkan saja dia disini. Besok pagi pasti dia sudah mati."
Pria yang satunya mengangguk mengerti.
"Siapa yang akan mati di pagi hari?"
Kedua pria itu langsung merasakan sesak nafas ketika mendengar suara seseorang.
Terlihat kedua pria itu sangat tersiksa karena tidak bisa bernafas.
Salah satu pria itu mencoba melihat siapa yang datang.
Kemudian pria itu terkejut ketika melihat penampilan seseorang itu.
Menggunakan pakaian serba putih dan rambut putih panjang dengan tali biru yang mengikat rambutnya sebagian. Mata kuning emas nya menatap buas kedua pria yang memberikan cambukan pada Yu Bai.
Terlihat orang itu menarik sebuah pedang dari sarungnya.
"Tak bisa dimaafkan" ucapnya dingin.
Kedua pria itu menjadi panik ketika melihat bilah besi tajam yang mengilat di bawah sinar bulan purnama.
Terlihat raut wajah ketakutan dari dua pria itu.
Mereka berdua menyadari. Malaikat maut telah datang menjemput mereka.
"Pergilah ke neraka."
SLASHH....
TUK...TUK...
Dengan sekali tebasan. Kepala kedua pria itu sudah terpisah dari tubuhnya.
Mereka berdua tidak mengetahui sama sekali. Siapa yang telah membunuh mereka?
Pria itu kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Bergegas, ia menghampiri Yu Bai yang tidak sadarkan diri dengan keadaan masih terikat.
"Bocah! Hei bangun!"
Pria itu langsung menebas tali yang mengikat Yu Bai.
Sebelum tubuh Yu Bai terjatuh ke tanah, pria itu menahan tubuh Yu Bai.
"Hei bocah!"
Tidak ada jawaban. Pria itu merasa tubuh Yu Bai sangatlah panas. Dengan segera ia melepas pakaian terluarnya dan menyelimuti tubuh Yu Bai.
Seketika kain putih itu menjadi memerah dikarenakan darah Yu Bai yang terus mengalir.
Pria itu menggertakkan giginya, kesal. "Bertahanlah bocah."
.
.
.
.
.
"Qing!"
Di hutan yang gelap, terlihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba putih tengah sibuk menggedor pintu. Ia terus mengetuk sebuah gubuk tua yang terlihat tidak terurus.
"Qing! Cepat keluar!"
Setelah ia berteriak, keluarlah seorang perempuan yang terlihat masih muda.
"Siapa?" ucap perempuan itu setengah mengantuk.
"Qing! Obati bocah ini!"
"Eh?"
Perempuan itu seperti baru saja tersadar dengan nada panik dari pria itu. Ia melihat seorang bocah laki-laki yang berada di punggung pria itu.
Bocah lelaki itu adalah Yu Bai yang masih tidak sadarkan diri.
Mata gadis itu langsung berubah serius. "Bawa dia masuk."
Pria itu langsung masuk ke dalam. Setelah itu ia membaringkan Yu Bai itu di atas tikar kayu.
Perempuan itu langsung menyiapkan kain bersih, obat dan alat-alat lainnya.
"Kau, siapkan air hangat" perintah perempuan itu.
Pria itu mengangguk. Ia langsung mencari sebuah wadah untuk air hangat.
Perempuan itu mulai melepas pakaian Yu Bai dengan perlahan.
"Siapa yang melakukan ini?" ucapnya dengan terkejut.
Mata perempuan itu berhenti pada leher Yu Bai.
"Dia seorang budak?!" kaget perempuan itu.
Perempuan itu langsung menoleh ke arah pria yang sedang menghangatkan air.
"Jin! Apalagi yang kau perbuat kali ini?!"
Dengan tenang pria itu menjawab. "Aku menemukannya."
"Apa?"
"Aku menemukannya, Qing" ucap pria itu dengan tatapan tegas di mata kuning emasnya.
Perempuan itu-- Qing menyadari keseriusan dari pria yang ada di hadapannya ini.
Qing menghela nafas kasar. "Baguslah jika kau sudah menemukannya."
Qing langsung menatap Yu Bai. "Aku butuh penjelasan."
"Pasti" balas pria itu.
"Sepertinya aku akan kerja keras malam ini" gumam Qing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||
1.546 kata