The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 1 [Yu Bai]



"Bai'er! Ayo makan siang!"


Seorang anak muda berumur 10 tahun menengok ke arah wanita paruh baya yang memanggilnya.


"Aku pergi dulu."


"Hei! Jangan pergi! Ayo kita lanjutkan."


"Apa kamu takut kalah?"


"Bai, selesaikan dulu baru kamu pulang."


Dia tersenyum ramah mendengar protesan teman-temannya ini. "Nanti aku kembali lagi."


Dia langsung berbalik pergi dan meninggalkan teman-temannya yang mengeluh tentang betapa penurutnya dia.


Yu Bai namanya. Seorang pemuda tampan dan gagah dengan rambut hitam pendek dan mata coklat tua jernih. Yu Bai berasal dari keluarga yang tidak mampu, tapi dia adalah orang yang sangat ramah dan baik. Keluarga Yu Bai terkenal di desa ini karena kebaikan dan keramahannya membuat Yu Bai menjadi terkenal.


"Yu Bai, jangan berlari seperti itu. Nanti kau sakit."


Yu Bai tersenyum kecil mendengarnya. "Tenang saja Ibu. Hari ini aku cukup sehat."


Kekurangan Yu Bai adalah, dia adalah orang yang sering sakit.


Hal ini kadang membuat Ayah dan Ibunya merasa khawatir pada kesehatannya. Setiap pergantian musim Yu Bai selalu menjalani harinya di kasur rumahnya hanya dengan tiduran.


Keluarganya hanyalah keluarga kecil, jadi Yu Bai tidak bisa memeriksa dirinya ke dokter setiap kali ia sakit. Yu Bai hanya bergantung pada obat-obatan yang diberikan ayahnya setiap kali ayahnya itu pulang dari hutan.


Yu Xia, ibunya Yu Bai mengelus kepala Yu Bai. "Ayo masuk, setelah makan baru kamu boleh main lagi."


Yu Bai mengangguk. "Ngomong-ngomong dimana Yu Nie?"


"Adikmu? Dia saat ini sedang bermain dengan anak kepala desa."


Yu Nie, adik perempuan Yu Bai. Umur mereka hanya berbeda empat tahun saja, yang berarti umur Yu Nie adalah enam tahun.


Tidak seperti Yu Bai, Yu Nie adalah seorang perempuan yang sangat kuat. Dia adalah gadis pemberani dan selalu melindungi gadis-gadis yang seumurannya. Beberapa kali Yu Nie menghajar anak lelaki yang berniat menganggu Yu Bai.


Memang terlihat Yu Nie tidaklah seperti anak gadis pada umumnya, tapi sifat inilah yang membuat anak-anak gadis di desanya menyukai Yu Nie.


Bukan hanya para gadis saja, tapi para lelaki juga banyak yang menyukai Yu Nie. Banyak yang mengirim lamaran ke rumahnya, tapi semua lamaran itu di tolak dengan halus oleh ayahnya.


Memang adiknya itu sangatlah cantik. Rambut coklat tua yang sangat lembut, kulitnya yang bagaikan giok putih, bibir merah ranumnya, dan belum lagi mata coklat madu yang jernih bisa membius siapa saja.


Walaupun baru berumur enam tahun, tapi kecantikan Yu Nie sudah terlihat. Semua karena ibunya memanglah cantik.


"Ini, makanlah yang banyak."


Yu Xia memberikan nampan ke arah Yu Bai.


"Ibu, apa ibu membeli ikan?"


"Tidak, ini pemberian dari bibi Xue."


Yu Bai mengangguk. "Apa ibu sudah makan?"


"Tentu saja ibu sudah mak-"


Kriukk....


Yu Xia terdiam. Yua Bai memandang tajam ibunya. Dia terlihat tidak suka mendengar suara yang membuat dirinya marah.


"Ibu, sudah kubilang kalau ibu lapar makan. Aku tak apa hanya makan siang. Biar aku tebak, ibu belum makan dari pagi bukan?"


Yu Xia terdiam lagi. Terkadang dia lupa kalau anak lelakinya ini adalah anak yang cerdas dan pintar. Jika saja dia memiliki banyak uang dia pasti akan menyekolahkan Yu Bai dan menjadikan Yu Bai sebagai seorang sarjana.


Yu Bai langsung berdiri, kemudian dia berjalan ke arah dapur dan mengambil mangkuk ibunya. Yu Bai kembali ke tempatnya.


"Ibu itu harus makan. Cukup aku saja yang sakit."


Yu Bai berkata sambil memindahkan setengah nasinya ke mangkuk ibunya. Dia juga membagi ikan menjadi setengah setelah itu dia memberikannya pada mangkuk ibunya.


"Bai'er, ibu tidak lapar."


"Ibu, apa ibu pura-pura tidak mendengar atau apa?"


Yu Xia terdiam lagi.


"Sekarang, ayo duduk dan makan."


Yu Bai memberikan mangkuk ibunya. Dia menunggu ibunya mengambil mangkuk yang berada di tangannya. Ibunya hanya menghela napas pasrah, Yu Xia mengambil mangkuk itu kemudian duduk di hadapan Yu Bai.


Yu Bai tersenyum. Dia melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa. Walaupun porsi makannya hanyalah setengah tapi baginya ini mengenyangkan untuk dirinya.


Yu Xia juga mulai makan. Mereka berdua makan dalam diam. Sampai akhirnya ada yang menganggu makan mereka.


"Ibu! Kakak! Nieni pulang!"


"Oh Nie'er, kamu pulang. Ibu kira kamu akan pulang sore hari."


Yu Nie menghampiri ibunya. "Tentu saja tidak ibu. Oh iya! Kakak Bai, aku membawa manisan!"


Yu Bai yang mendengarnya hanya tersenyum. Kemudian dia melanjutkan makannya seakan tidak terganggu dengan kedatangan Yu Nie.


"Ibu, dimana ayah?"


Yu Nie bertanya pada ibunya. Dia pergi main dari pagi, jadi dia penasaran dimana ayahnya.


"Ayahmu membantu paman Wei untuk mencari ikan di laut."


"Kapan Ayah akan pulang?"


Yu Nie bertanya pada ibunya. Ibunya mengelus kepala Yu Nie dengan lembut. "Mungkin sore ini. Apa Nie'er lapar?"


"Ya! Sangat lapar!" Nie berucap dengan semangat.


Yu Xia tertawa kecil. Dia langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur mengambilkan Yu Nie makanan.


Yu Nie memandang Yu Bai dengan semangat.


"Kak Bai, kak Bai, kau tahu?"


Yu Bai yang baru saja selesai makan mengangkat alisnya. "Kau baru saja pulang, dan kau tiba-tiba saja menanyakan 'kau tahu?'. "


Yu Nie tertawa mendengarnya. "Aku ingin kakak menebaknya."


"Biar kutebak. Nie'er membuat masalah lagi."


Yu Nie yang mendengarnya menjadi cemberut. "Apa kakak kira aku adalah anak pembuat masalah?"


Yu Bai terlihat memasang pose berpikir, hal ini membuat Yu Nie semakin cemberut.


"Ya dan tidak."


"Kak Bai!"


Yu Bai tertawa.


"Aku tak mau berteman dengan kak Bai lagi!"


'Dia merajuk' pikir Yu Bai.


"Nie'er, jangan berkata seperti itu."


Yu Xia menegur Yu Nie. "Bai'er tidak bermaksud untuk mengolokmu."


Yu Bai mengangguk setuju. Dia berdiri untuk membersihkan tempat makannya.


"Tapi kak Bai menyebalkan!"


Yu Bai tertawa mendengarnya. "Ibu, aku pamit main."


Yu Xia mengangguk. Berbeda dengan Yu Nie yang semakin kesal.


"Kak Bai! Jangan lari kamu!"


"Aku tidak lari. Ngomong-ngomong aku lari dari apa?"


"Kak Bai!"


Yu Nie langsung berdiri, berniat menghampiri Yu Bai. Yu Bai yang sudah mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Yu Nie langsung berlari pergi meninggalkan rumahnya.


Dia tertawa kecik ketika mendengar gerutuan kesal adiknya. Yu Bai sering membuat adiknya itu kesal karena ketika Yu Nie marah wajahnya akan semakin imut.


Yu Bai adalah seorang penyayang adik. Bahkan waktu Yu Nie masih bayi Yu Bai dengan senang hati merawat Yu Nie dikarenakan ibunya masihlah lemah saat itu.


Ayahnya, Yu Sha tidak mengerti apapun tentang merawat seorang bayi. Jadi Yu Bai yang mengambil alih tugas merawat Yu Nie.


Terlihat jelas ikatan batin yang sangat kuat di antara mereka berdua. Bahkan ketika Yu Bai jatuh sakit, Yu Nie juga ikut sakit walau tidak separah Yu Bai, tapi Yu Nie mendapatkan dampaknya juga.


"Yu Bai! Sudah selesai makan siangnya?"


"Yu Bai, kamu lama sekali."


"Yu Bai! Yu Bai! Aku akan mengalahkanmu hari ini!"


Yu Bai melihat teman-temannya masih setia menunggu dirinya. Dia tersenyum senang.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan. Kali ini aku pasti menang!"


\=\=\=\=\=\=\=