
Di sebuah ruangan serba putih. Terliaht seorang anak lelaki yang sedang berdiri di tengah-tengah. Terlihat anak lelaki itu memandang sebuah pohon dengan batang kayu yang bewarna hitam legam.
Anak lelaki itu terlihat ingin menyentuh pohon yang tidak memiliki daun itu. Tangan kecil itu mulai ingin menyentuh pohon. Sedikit demi sedikit, dan ketika tangan itu ingin mencapainya, sebuah tangan lain memegang tangannya dengan lembut.
'Jangan.'
Anak lelaki itu mendengar nada lemah lembut serta tegas. Ketika ia ingin menoleh dan melihat siapa yang melarangnya itu. Ia hanya melihat sebuah bayangan hitam yang tidak memiliki bentuk dan rupa.
Terlihat berbagai macam pertanyaan di wajah polosnya. Tepat ketika ia ingin bertanya, pandangannya menjadi hitam.
.
.
.
.
.
"Hei nak!"
"Ughh..."
Perlahan-lahan, anak lelaki itu membuka matanya. Terlihatlah netra coklat gelapnya yang memandang atap sebuah gubuk tua yang terlihat berdebu.
Dia adalah Yu Bai yang telah sadar.
Bola mata itu bergulir dan menatap seorang pria asing yang memiliki rambut putih bersih dan memiliki mata kuning keemasan.
Untuk sesaat Yu Bai terpaku dengan keindahan yang ada di hadapannya ini.
"Hei nak? Kau mengingatku?"
Yu Bai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, memfokuskan pandangannya dan berusaha mengingat. Siapa pria asing ini?
"Anak itu sudah sadar?"
Perhatian Yu Bai teralihkan pada seorang perempuan yang membawa sekeranjang sayur di kedua tangannya.
Terlihat wanita itu mendekati Yu Bai. Wanita itu terlihat memeriksa denyut nadi Yu Bai. Kemudian ia meletakkan telapak tangannya ke kening Yu Bai.
"Hmm... Kau masih sedikit demam, tapi tak masalah" ucap wanita itu.
"Oh ya" wanita itu memberikan sebuah gelas yang berisi air. "Kau haus bukan?"
Tanpa ragu Yu Bai mengangguk.
"Sini kubantu."
Terlihat pria asing itu membantu Yu Bai untuk bangun dan meminum air yang diberikan oleh wanita itu.
Pria asing itu dengan lembut meminumkan air itu ke bibir pucat milik Yu Bai.
Dengan rakus Yu Bai meminum air. Dirinya bahkan meminta segelas lagi kepada wanita itu.
Setelah gelas keempat, Yu Bai berhenti minum lagi. Dirinya benar-benar haus dan...
Growwll....
Lapar.
Wajahnya langsung memerah malu ketika mendengar suara perutnya di waktu yang tidak tepat.
"M-maaf" ucap Yu Bai pelan.
Wanita itu bukannya marah malah ia tersenyum kecil. "Tunggu sebentar. Kubuatkan bubur untukmu."
"Terima kasih" ucap Yu Bai dengan senyuman.
Wanita itu pergi dari hadapan Yu Bai dan meninggalkan dirinya beserta pria asing yang terus memandangin dirinya.
Sedikit risih sebenarnya, tapi Yu Bai berusaha untuk tidak peduli.
"Kau tidak sadarkan diri selama lima hari."
"Hah?"
Yu Bai terlihat tidak percaya dengan ucapan dari pria yang ada di hadapannya ini.
"Tidak percaya ya sudah" ucap pria asing itu.
Yu Bai terdiam.
"Ngomong-ngomong, siapa nama anda?"
Pria asing itu terlihat memandang Yu Bai. Kemudian pria asing itu mendekati Yu Bai yang berada tidak terlalu jauh darinya.
"Bukankah kau yang seharusnya mengenalkan diri terlebih dahulu?"
Tersentak, Yu Bai mengangguk mengerti. "Namaku Yu Bai, umur 10 tahun."
"Itu saja?"
"Ya. Itu saja."
Pria asing itu memiringkan kepalanya ke kanan. Merasa heran dengan perkenalan singkat dari anak muda yang ada di hadapannya ini.
"Nama anda?"
Tersadar dari lamunannya. Pria asing itu mulai mengenalkan dirinya. "Long Jinzhi, seorang pengelana."
Yu Bai mengangguk paham. "Kalau wanita tadi?"
"Maksudmu Qing?"
"Qing?"
Jinzhi mengangguk. "Namanya hanyalah Qing saja. Tidak ada nama depan."
Yu Bai mengangguk.
Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka berdua lagi.
Sampai pada akhirnya Yu Bai tidak bisa menahan pertanyaan yang tidak ingin ia tanyakan.
"Tuan Jinzhi" panggil Yu Bai.
"Hmm?" Respon Jinzhi.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Hah?"
Jinzhi terlihat terkejut dengan pertanyaan dari Yu Bai yang dari wajahnya terlihat sedikit merasa bersalah.
"Kau tidak mengingatku?" Tanya Jinzhi sambil ia menunjuk dirinya sendiri.
Dengan polos Yu Bai menggelengkan kepalanya.
"Apa anda yang menyelamatkanku? Dan bisakah anda bercerita tentang apa yang terjadi pad- ukh!"
Yu Bai meringis kesakitan seketika. Entah kenapa ia merasa punggungnya seperti terbakar dan terasa panas.
"Obatnya mulai bekerja."
Jinzhi dan Yu Bai di sela-sela ia menahan sakitnya melirik seorang wanita yang datang dengan semangkuk bubur di tangannya.
"T-api kuh! I-ini pan-panas!"
"Tahan saja. Rasa panas itu hanya sebentar. Kau akan merasakan efeknya, setelah itu" balas wanita itu atau lebih tepatnya Qing.
Yu Bai membungkukkan dirinya. Ia terlihat memeluk dirinya sendiri. Jinzhi yang sedari tadi memperhatikan dalam diam mulai merasa kasihan dengan anak lelaki yang meringis kesakitan.
Tangan kanan Jinzhi mengelus lembut punggung Yu Bai. Untuk sesaat Yu Bai merasa ada sebuah sentuhan hangat dari telapak tangan Jinzhi. Sentuhan Jinzhi membuat dirinya sedikit melupakan rasa sakit yang ia rasakan.
"Tahanlah sebentar lagi. Rasa sakitnya hanya sementara."
"Kalau begitu aku pergi sebentar" ucap Qing.
"Kau mau kemana?" Tanya Jinzhi.
"Mencari obat" balas Qing.
Jinzhi mengangguk.
Di tengah rasa sakitnya. Yu Bai diam-diam memandangi Jinzhi. Sebenarnya ia berusaha mengingat-ingat. Dimana dirinya pernah bertemu dengan Jinzhi?
Sekelebat bayangan seorang pria yang menggunakan jubah putih lusuh muncul di pikiran Yu Bai.
Seketika Yu Bai mengangkat kepalanya dan menatap Jinzhi dengan tatapan terkejut.
"Anda.... Budak yang waktu itu?"
Jinzhi tersenyum tipis. "Ya, sekarang kau mengingatku?"
Terdiam. Di dalam pikiran Yu Bai terdapat berbagai kemungkinan ia berada di sini.
"Kenapa anda bisa berada di sana?" Tanya Yu Bai dengan bingung.
"Karena aku bosan."
"Bosan?"
Jinzhi mengangguk. Dirinya memang merasa bosan saat itu. Dikala dia merasa dirinya bosan, dia akan melakukan suatu hal yang membuatnya tidak merasa bosan lagi.
Jadilah dia masuk ke dalam perdagangan manusia atau lebih tepatnya budak.
Yu Bai yang menyadari keanehan Jinzhi hanya bisa tersenyum maklum.
Yu Bai mengerti dengan keanehan Jinzhi.
Tidak, lebih tepatnya Yu Bai tidak terlalu mengerti.
Pada akhirmya Yu Bai hanya tertawa pahit.
"Boc- maksudku Yu Bai."
Yu Bai menatap Jinzhi yang menatapnya dengan sorot mata tegas di mata kuning emasnya itu.
"Apa yang terjadi sebelum kita berdua bertemu?"
Yu Bai membeku.
Untuk pertama kalinya dia mendapatkan pertanyaan tentang 'apa yang terjadi?'
Jika ditanya seperti itu, jawabannya adalah.
Banyak.
Banyak sekali kejadian yang membuat Yu Bai ingin mengulang waktu.
Ia ingin cerita, tapi yang keluar dari bibir kecilnya hanyalah. "Aku...."
Terlihat raut wajah rumit pada wajah Yu Bai. Matanya terlihat melihat sekelilingnya berusaha menghindari pertanyaan yang membuatnya tak nyaman.
Jinzhi yang menyadari ketidaknyamanan dari Yu Bai hanya bisa menghela nafas kasar.
"Tak perlu dipikirkan."
"Eh?"
Jinzhi berdiri, kemudian ia mengambil mangkuk bubur yang ditempatkan Qing di atas meja kayu yang terlihat reyot.
"Lebih baik kau isi tenagamu terlebih dahulu" ucap Jinzhi sambil ia menyodorkan mangkuk berisi bubur itu.
Yu Bai tersenyum lembut. Ia menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya.
Apa yang dikatakan Jinzhi benar.
Perlahan-lahan Yu Bai memakan bubur itu. Mulutnya mengunyahnya kemudian menelannya dengan cepat.
Kemudian mata coklat gelapnya menutup sebentar. Setelah itu Yu Bai mengambil nafas dalam-dalam.
'Tuan Jinzhi benar. Isilah tenagamu untuk saat ini dan jangan terlalu memikirkan suatu hal dengan berlebihan.'
Akhirnya mata itu terbuka kembali dan menunjukkan netra coklat gelap yang berkilat tajam akan suatu hal yang disebut 'tekad.'
Jinzhi yang menyadari tatapan Yu Bai tersenyum miring.
'Anak ini....'
"Yu Bai, kau telah bebas."
Yu Bai menatap Jinzhi dengan tatapan yang sama.
Untuk sesaat Jinzhi merasa terkesan dengan tatapan yang diberikan oleh Yu Bai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||