The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 13 [Kebebasan IV]



"50 Fuan! Daging segar hanya 50 Fuan!"


"Nona, apa anda tertarik dengan ramuan cinta?"


"Lihat ini! Senjata yang sanggup untuk menebas hewan iblis yang memiliki kulit tebal! Harganya sangatlah murah! Hanya 1.000 Fuan saja! Ayo, ayo, siapa cepat dia dapat!"


Yu Bai terperangah.


Dirinya sedikit kaget melihat pasar yang terlihat ramai namun sedikit aneh.


Bagaimana tidak aneh. Yu Bai melihat ada yang menjual berbagai ramuan dalam botol dengan cairan berbagai warna.


Dan juga daging yang di jual adalah daging yang memiliki lendir hijau yang membuat Yu Bai marasa jijik seketika.


Dan apa? Senjata hebat yang mampu menembus kulit tebal hewan iblis? Dia pasti bercanda! Pedang itu berkarat dan keropos!


"Dasar penipu" gumam Yu Bai.


"Hati-hati dengan ucapanmu. Disini orang-orangnya mudah tersinggung" tegur Qing.


Otomatis Yu Bai langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan.


Qing tertawa melihat tingkah Yu Bai.


"Qing, kita mau kemana?"


"Menjual barang, setelah itu pergi membelikan dirimu pakaian."


Yu Bai mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah itu dirinya terpekik pelan mendengar ucapan Qing.


"Tak perlu membelikanku pakaian. Pakaian ku masih bag-"


"Bagus dari mananya!"


Yu Bai terperanjat. Sedikit terkejut dengan nada bentakkan dari Qing yang biasanya berbicara lembut padanya.


"Apa kau akan tinggal denganku hanya dengan memakai celana panjang yang sobek dan bercak darah?"


Yu Bai mengangguk kaku.


"Kau pasti bercanda! Aku yakin pakaian dalam pun kau tak punya."


Wajah Yu Bai langsung memerah.


"Lihat. Aku benar bukan?"


Qing tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Yu Bai yang terdiam dengan wajah malu-malu.


"Jadi terima saja. Aku membelikanmu pakaian karena aku tidak ingin kena omel dari Jin. Jujur saja, ketika dia mengomeli orang, dia lebih cerewet dari seorang ibu yang menawar dengan harga terendah."


Yu Bai terkekeh "Aku tak percaya Jinzhi seperti itu."


"Apa yang kau tahu? Jin itu seorang pria yang suka sekali meminum minuman keras, tapi dirinya paling mengetahui bahwa ia tidak sanggup meminum minuman keras. Bahkan hanya minum satu gelas dirinya sudah tumbang."


Yu Bai tertawa. Dirinya membayangkan Jinzhi yang mabuk dengan wajah memerah serta berbagai gumaman tak jelas keluar dari mulut Jinzhi.


Karena Qing membahas Long Jinzhi. Yu Bai baru menyadari. Bahwa dirinya tidak melihat Jinzhi sedari pagi.


"Qing, di mana Jinzhi?"


"Melakukan tugas."


"Tugas?"


"Ya. Sebuah tugas rahasia."


Yu Bai sedikit bibgung dengan ucapan Qing, tapi dirinya tidak ingin bertanya lagi karena mereka berdua telah sampai di tempat tujuan Qing.


Sebuah rumah kayu sederhana dengan tulisan toko Fu di plat kayu yang terlihat usang dan tua.


Qing membuka kasar pintu kayu yang reyot dan benar saja. Pintu itu langsung terbuka dan lepas dari engselnya.


Yu Bai menatap pintu yang tergeletak mengenaskan di atas tanah. Kemudian ia beralih menatap Qing yang memasang wajah angkuh.


Suara langkah kaki yang terdengar berat terdengar dari arah depan Yu Bai yang hanya di batasi etalase kayu yang diisi dengan berbagai macam tanaman yang sudah di keringkan.


"Siapa.... Yang menghancurkan pintu yang baru kupasang!"


Suara serak dan besar terdengar. Yu Bai menatap Qing yang masih setia memasang wajah angkuh.


Yu Bai tidak mengerti dengan kondisi yang ada saat ini.


"Fu Ten! Jangan banyak omong dan cepat kemari! Istrimu akan marah jika melihatmu lambat melayani pembeli!"


Tiba-tiba saja seorang pria besar dan memiliki tubuh yang kekar muncul dari belakang etalase yang menunjukkan tanaman kering.


Rambut hitam pendeknya sangatlah rapi. Di wajah pria itu terdapat luka memangjak dari mata kiri hingga dagu-nya. Pria itu memakai celemek bewarna hijau tua dan di tangan kanan-nya terdapat cerutu yang mengeluarkan asap.


"Ohh... Nona Qing yang terhormat. Apalagi yang akan kau hancurkan di tokoku ini?"


Dengan tenang dan ekspresi angkuhnya. Qing menunjuk pintu kayu yang tergeletak mengenaskan. "Kali ini aku menghancurkan pintu. Lain kali beli pintu yang memiliki kualitas terbaik."


Siku-siku imajiner muncul di kepala Fu Ten. "Nona, setiap kali kamu datang ke tokoku. Pasti ada saja barng yang hancur. Apa selama ini aku memiliki salah padamu?"


Qing tertawa remeh, "Ha. Ha. Ha. Ten, jangan banyak omong dan ingatlah masa lalu."


Fu Ten mendecih kasar. Dirinya kembali menghisap cerutu sebelum mengatakan "Itukan hanya masa lalu."


"Sayang...?"


Fu Ten tiba-tiba saja lamgsung menyembunyikan cerutu yang ada di tangan kanan-nya di balik celemek. Dirinya langsung berbalik dan menghadap seorang wanita cantik yang memakai pakaian bewarna kuning cerah.


Belum lagi perut wanita itu membuncit yang berarti wanita itu sedang hamil.


"Ru'er, kenapa kau keluar?"


"Aku mendengar keributan. Apa yang ter- oh Qing!"


Ekspresi wanita itu langsung cerah ketika menatap Qing yang langsung merubah ekspresi wajahnya. Qing tersenyum lebar melihat Fu Ru yang bergegas menghampiri Qing dan dengan segera memeluk tubuh Qing erat.


"Sudah lama aku tak melihatmu! Apa kabarmu dan Jin?"


"Aku baik Ru. Dan Jin.... Biasalah."


Fu Ru mengangguk paham. Netra hitam milik Fu Ru menatap Yu Bai yang sedari tadi diam dan mengamati percakapan yamg terlihat akrab ini.


"Dia siapa? Anakmu?"


Fu Ten tiba-tiba saja terbatuk-batuk mendengar ucapan polos dari nulut istrinya.


Qing sedikit membeku mendengar ucapan dari Fu Ru.


Yu Bai pun terdiam melihat Fu Ru yang menghampirinya dan memverikan pelukan hangat.


"Hei!" protes Fu Ten.


"Siapa namamu nak?"


"Y-yu Bai, nona."


Fu Ru tersenyum kecil. "Yu Bai, panggil aku Ru saja. Jangan pakai nona. Itu menyebalkan."


Yu Bai terkekeh pelan. Kesan Yu Bai pada Fu Ru adalah 'Ramah dan menyenangkan'.


Yu Bai langsung merasa nyaman dengan Fu Ru yang menatapnya hangat.


"Jadi.... Apa yang ingin kamu jual kali ini?"


"Sebelum itu, kau pergilah menjauh sedikit. Apa yang kubawa sedikit berbahaya."


Kedua mata Fu Ru berbinar. "Apa itu?!"


Fu Ten menghela nafas pasrah. "Sayang, kau sedang hamil."


Qing terkekeh. Ia mengusap cincin giok di jari manisnya. Kedua hewan yang dimana satu mati dan yang satunya lagi masihlah hidup muncul di atas meja yang tersedia di toko itu.


"Hohhh...."kagum Fu Ru.


"Tidak buruk" komentar Fu Ten.


"Ulat langit biru dan Snake Purple Venom. Qing! Kau mendapat tangkapan yang bagus!" ucap Fu Ru dengan semangat.


Qing tersenyum bangga. "Hehh... Siapa dulu yang mendapatkannya."


"Cih, sombong sekali dirimu" ucap Fu Ten.


"Jadi berapa harga yang kau tawarkan?"


"2.500 Fuan."


"Apa!" kaget Fu Ten.


Fu Ru tertawa pelan, "Seperti biasanya. Qing tidak tanggung-tanggung ya."


Yu Bai yang sedari tadi menjadi penganat sedikit terkejut ketika mendengar berapa harga dari kedua hewan ini.


'Apa aku harus ikut berburu hewan seperti ini juga biar aku mendapat uang?'


Otak cerdas milik Yu Bai mulai memikirkan bisnis. Setidaknya dia bisa menghidupi dirinya ketika ia pergi nanti.


"2.000 Fuan saja. Bagaimana?" Tawar Fu Ten.


"Rendah sekali. Kedua hewan ini sangat langka tahu!"


"Tapi ularnya sudah mati. Seharusnya kau beri diskon" sanggah Fu Ten.


"Apa kau tidak tahu usaha apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan kedua hewan ini?"


Yu Bai sedikit mengerutkan keningnya. Sedikit bingung dengan ucapan Qing.


"Memangnya aku peduli!"


"Aduh... Mereka mulai lagi" ucap Fu Ru dengan tenangnya.


Aduk cekcok nulut tak terelakkan lagi. Terlihat seperti adu mulut yang sudah biasa mereka lakukan.


"Bai'er, mau minum teh sembari menunggu mereka selesai adu mulut?" tawar Fu Ru.


Yu Bai mengangguk. Ia setuju dengan ajakan Fu Ru.


"Aduhh... Kau manis sekali."


Yu Bai tertawa kering.


"Yu Bai" panggil Fu Ru.


Netra hitam milik Fu Ru menatap instens Yu Bai yang berdiri diam dengan mata coklat tua itu ikut menatap mata milik Fu Ru.


"Apa... Kau terluka?"


Yu Bai membeku.


"Bau darahmu terlalu menyengat."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||



212 kata