The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 14 [Kebebasan V]



"Bau darahmu, menyengat."


Yu Bau terdiam. Sedetik kemudian dirinya mencium bau badan nya sendiri. Berusaha mencium bau darah yang mungkin memang ada.


Tapi Yu Bai tidak mencium apapun.


Yu Bai mengerutkan keningnya, "Aku tidak mencium bau apapun."


Fu Ru tertawa pelan "Bai'er. Maaf, maaf, aku belum menceritakan bahwa aku memiliki penciuman yang tajam."


Yu Bai mengangguk paham.


"Jadi kau terluka?"


Yu Bai mengangguk kaku.


"Boleh kulihat?"


"Apa?"


"Boleh kulihat luka yang ada di tubuhmu?"


Yu Bai terdiam. Ini aneh baginya. Selama ini ia tidak pernah menunjukkan tubuhnya kepada siapapun, tapi...


"Untuk apa anda melihat tubuh saya?" Tanya Yu Bai penasaran.


Fu Ru tersenyum kecil "Jika kau tak ingin memperlihatkannya tak apa."


Dengan panik Yu Bai menggeleng cepat, "B-bukan begitu!"


Furu semakin tersenyum lebar. Menurutnya Yu Bai adalah anak yang manis. Jadi dia tak tahan untuk tidak menggoda Yu Bai.


Biasa, orang hamil ngidamnya memang aneh-aneh.


"Baiklah." dengan perlahan Yu Bai membuka jubah yang menutupi tubuhnya.


Mata Fu Ru tidak pernah lepas. Ia menatap intens setiap pergerakan dari Yu Bai.


'Hmm... Dia terlihat lemah, tapi kuat' batin Fu Ru.


"U-um, Ru?"


Fu Ru tersentak. "Biar kulihat" ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Yu Bai yang terlihat malu-malu.


"Kusentuh boleh?"


Yu Bai mengangguk ragu. Dengan senang hati Fu Ru menyentuh luka-luka yang sebagian masihlah kering dan sebagiannya lagi masih terlihat basah.


'Luka cambukan, kah?' batin Fu Ru.


Dengan perlahan Fu Ru menyusuri sebuah luka yang melintang panjang di punggung Yu Bai. Sepertinya luka tersebut adalah luka paling besar dari yang lainnya.


'Aku tidak tahu kenapa, tapi...' Alis Fu Ru mengerut. Terlihat bingung dengan tubuh Yu Bai. 'Di setiap lukanya... Menguarkan sebuah energi yang tidak kuketahui.'


"Dimana kau bertemu Jin?"


Yu Bai menoleh sedikit, "Tempat penjualan budak."


Bola mata Fu Ru terlihat membesar sebentar. Seketika Fu Ru melirik sebuah tatto bewarna merah yang berada di punggung dekat dengan pangkal leher.


'Apa alasan Jinzhi mengambil Yu Bai?' batin Fu Ru penasaran.


Setelah puas mengamati setiap titik luka-luka milik Sergio. Fu Ru kemudian membantu Yu Bai memakai pakaiannya kembali seperti sedia kala.


Fu Ru kembali duduk di tempat sebelumnya. Ia kemudian mengambil cangkir teh yang terasa hangat, menyeruput sedikit sebelum berkata.


"Bai'er, bisa kau ceritakan apa yang terjadi dengan dirimu?"


Yu Bai yang terlihat membenarkan pakaian miliknya membeku. Secara perlahan dirinya menatap Fu Ru dengan tatapan kosong.


Untuk sesaat Fu Ru melihat tatapan rasa bersalah, menyesal, amarah dan juga...


Dendam.


"Bai'er" panggil Fu Ru.


Yu Bai menatap Fu Ru dengan tatapan kosong. Terlihat seperti pikirannya menjelajah entah kemana.


Fu Ru menghela nafas, "Baiklah. Tidak perlu bercerita jika tak ingin."


Diam-diam Yu Bai menghela nafas lega.


"Tapi..." Fu Ru menatap tajam Yu Bai. "Dendam milikmu akan membawa dirimu kepada akhir."


"Akhir?"


Jemari lentik milik Fu Ru mengusap tangan kanan Yu Bai. "Aku bisa membaca garis hidup seseorang" ucap Fu Ru yang diakhiri dengan senyuman kesedihan.


Bola mata Yu Bai membesar. Terlihat terkejut dengan pernyataan dari Fu Ru.


Bukankah itu berarti...?


Dirinya akan mati suatu saat nanti?


"Boleh saya bertanya?"


Fu Ru mengangguk.


"Apa saya akan mati ketika saya menuntaskan dendam ini atau..."


"Bai'er" panggil Fu Ru dengan tegas. "Apa kau harus memiliki dendam ini. Kau.... Kau masihlah ke-"


"Maaf Ru. Tapi aku tak bisa" potong Yu Bai cepat. "Ada janji yang harus kutepati" lanjut Yu Bai dengan matanya yang dipenuhi amarah.


Fu Ru menggeleng pasrah "Sekarang aku tahu kemiripan kalian berdua" gumam Fu Ru.


"Apa?"


Fu Ru kembali menggeleng, "Tidak. Ahh... Ya, aku akan memberimu hadiah. Sebentar" Fu Ru berdiri dengan hati-hati karena khawatir dengan bayi yang ada di dalam perutnya ini.


Fu Ru berjalan pelan ke arah pintu. Mungkin Fu Ru ke ruangan yang entah dimana, pikir Yu Bai.


Selagi menunggu Fu Ru kembali. Yu Bai mengeksplorasi ruangan kecil yang terbuat dari kayu. Sebenarnya saat ini ia sedang duduk di gazebo kecil di halaman belakang rumah.


Cukup mengejutkan bagi Yu Bai. Terlihat dari depan toko milik Fu Ru terlihat kecil. Tapi semakin kedalam terlihat luas dan mewah.


Yang jelas, Fu Ru dan Fu Ten bukanlah orang yang biasa-biasa saja.


Bukankah Jinzhi dan Qing perlu ditanyakan tentang identitasnya juga?


Long Jinzhi. Seseorang yang masih misterius bagi Yu Bai. Misterius karena Jinzhi lah yang membawanya ketika ia tidak sadarkan diri karena cambukan.


Pertanyaannya adalah-- Bagaimana bisa Jinzhi membawanya keluar? Sedangkan dirinya masih memiliki tatto yang menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang budak rendahan.


Perlu dijelaskan. Bahwa sebenarnya tatto yang ada di setiap budak bukanlah hiasan semata, tetapi sebuah segel yang bisa membuat seseorang tidak bisa mengeluarkan energi dan juga. Jika seorang budak yang keluar melewati batas tempat tuannya tinggal. Seorang budak akan mendapatkan ajalnya dengan mengenaskan.


Bisa terbakar, terpotong-potong, tubuh meledak, dan paling parah mati karena racun.


Kematian yang mengenaskan.


Tapi mengapa Yu Bai masih sehat-sehat saja? Tidak ada luka yang membuat dirinya melanggar tatto yang ada di lehernya?


Dan Qing? Seorang wanita yang dimana rumahnya terdapat tumbuhan yang beracun (diketahui oleh Yu Bai pagi hari ini), hewan-hewan dengan bentuk yang sulit di deskripsikan mengering dan tergantung dengan indahnya di dinding kayu rumah.


Dan sekarang Fu Ru dan Fu Ten. Dilihat dari toko milik mereka di depan pasti orang akan berpikir, 'Kasihan sekali toko itu. Sudah reyot, rumah tua, dan lihat. Bahkan toko itu sepi pengunjung.'


Tapi aslinya. Semakin masuk ke dalam, semakin mewah furniture nya.


Yu Bai hanya bisa menghela nafas pelan. Dirinya harus berhati-hati dengan orang baru.


Walau orang itu baik dengan dirinya sendiri.


Jangan kecam perbuatan Yu Bai. Dirinya masihlah kecil dengan cara pikir yang mirip orang dewasa. Kehilangan kedua orang tua beserta adik menjadi pukulan keras baginya yang masih berumur 10 tahun.


Belum lagi sebuah janji yang dipikulnya pada umur semuda ini.


"Hei, kau melamun lagi?"


Yu Bai mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedikit terkejut dengan lambaian tangan yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Berpikir apa? Sepertinya menarik" ucap Fu Ru yang menaiki tangga Gazebo dengan pelan. Kemudian Fu Ru duduk di tempatnya semua dengan kedua tangan yang memeluk sebuah peti besi panjang.


Yu Bai menaikkan alis kanan-nya "Umm... Ru. Apa yang ada di tanganmu itu?" Tanya Yu Bai penasaran.


Fu Ru bukannya menjawab malah memberi senyuman misterius. "Hadiah untukmu, tapi sebelumnya aku akan bertanya padamu dulu. Bisa?"


Sebenarnya ia masih bingung dengan apa yang di katakan Fu Ru. Tapi setelah dipikir beberapa saat, tidak ada ruginya menjawab beberap pertanyaan dari Fu Ru.


Lagipula dirinya penasaran dengan hadiah yang akan di berikan oleh Fu Ru.


Yu Bai mengangguk ragu. Ia menyetujui untuk menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Fu Ru.


"Baiklah, siapa nama adikmu?"


"...."


"Jangan tatap aku seperti itu! Aku hanya ingin tahu nama adikmu!"


Fu Ru sedikit terganggu dengan tatapan curiga yang diberikan oleh Yu Bai. Kan Fu Ru cuman bertanya tentang nama Adiknya. Kenapa Yu Bai menatapanya securiga itu?


Setelah keheningan beberapa detik, Yu Bai menghela nafas pelan "Yu Nie. Itu nama adikku."


Wajah Fu Ru seketika langsung ceria "Adikmu pasti sangat cantik!"


Yu Bai tersenyum kecil, "Ya. Adikku mirip ibuku."


Fu Ru mengangguk semangat, "Aku tak sabar untuk bertemu adikmu."


'Aku pun juga tak sabar' batin Yu Bai.


"Baiklah," Fu Ru meletakkan peti besi itu di atas meja. "Karena kau sudah menjawab pertanyaanku. Akan kuberikan hadiahmu" lanjutnya sembari jari-jemari itu sibuk membuka peti besi yang terlihat di tutup dengan rapat.


"Hanya itu pertanyaannya?"


"Ya, hanya itu. Kau berharap aku bertanya apa?"


'Kupikir akan bertanya tentang latar belakangku' pikir Yu Bai.


"Uhh... Kenapa peti ini sangatlah sulit di buka?!" keluh Fu Ru yang terlihat susah payah membuka peti besi tersebut.


Yu Bai hanya diam dan menunggu. Terlihat tak ingin membantu.


Tak lama setelah keluhan dari mulut Fu Ru. Peti besi itu terbuka. Fu Ru menghela nafas lega "Ahh... Akhirnya terbuka juga. Aku akan memarahi Jinzhi nanti."


Jinzhi? Pikir Yu Bai.


"Nah Yu Bai" Fu Ru memberikan senyuma cerah. Ia membalik peti besi itu dan memperlihatkan apa isi di dalamnya. "Ini hadiahmu."


Yu Bai tercengang. Benar-benar terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang.


Sebuah...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°||


Nah dah update tuh.


Tapi cuman 2 chapter 😅


1. 331 kata