
"Kakak, kapan Ayah pulang?"
Yu Nie bertanya sambil menggoyangkan kedua kakinya.
"Kakak tidak tahu. Mungkin agak malam."
Yu Bai dan Yu Nie saat ini berada di depan rumah. Yu Nie memakan manisan yang dia bawa sendiri dan Yu Bai saat ini sedang membaca buku.
Walau keluarga mereka tidak berkecukupan, tapi Ayah dan Ibu mereka memberikan ilmu yang mereka ketahui. Seperti membaca dan menulis. Yu Bai sudah bisa membaca dan menulis saat dia berumur empat tahun. Umur yang sangat muda, belum lagi kecerdasan Yu Bai yang muncul saat ia berumur tujuh tahun.
Orang-orang desa menyebut Yu Bai sebagai anak cahaya dikarenakan kepintaran dan wajah tampan yang dimiliki Yu Bai.
"Yu Nie, ayo belajar menulis."
Yu Nie menoleh kebelakang, dia melihat ibunya yang sedang duduk di hadapan meja kecil yang di atasnya ada sebuah buku.
"Tidak mau ibu! Menulis itu sangat merepotkan."
Berbeda dengan Yu Bai. Yu Nie sangatlah sulit untuk diajari. Bahkan Yu Nie tidak terlalu tahu tentang huruf dan cara menulis.
"Nie'er, kau harus belajar. Bagaimana bisa kau membaca buku kalau kau malas."
Yu Nie menatap Yu Bai. "Bukannya ada kakak yang akan membaca untuk diriku?"
Yu Bai terbatuk mendengarnya. "Nie'er, apa kakakmu ini buku berjalan?"
Dengan polosnya Yu Nie mengangguk. "Ya. Karena kakak Bai suka membaca."
Yu Bai terdiam. Dia kembali membaca bukunya.
"Yu Nie, ayo kita belajar menulis. Cuman sebentar."
Yu Xia tersenyum lembut pada Yu Nie. Yu Nie yang melihat senyuman sang ibu pada akhirnya menuruti ajakan ibunya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar saja."
Yu Xia tersenyum. "Iya, hanya sebentar."
Yu Nie duduk di hadapan Yu Xia. Yu Xia mulai memberitahu cara menulis bagaimana, dan sesekali Yu Nie mengeluh tentang betapa sulitnya menulis.
Yu Bai hanya tersenyum kecil melihatnya. Dia kembali membaca buku yang selalu ia baca di waktu senggang.
Judulnya adalah 'Lima teknik beladiri'. Buku ini diberikan oleh ayagnya, walau tidak bisa mempratekkannya langsung, tapi Yu Bai sedikit mengerti tentang beladiri dari buku ini.
Buku yang Yu Bai baca juga terdapat informasih tentang pendekar dang tingkatan yang dimiliki pendekar.
Saat ini Yu Bai sedang membaca teknik tendangan air mengalir.
Tendangan air mengalir ada empat teknik. Yaitu Tendangan air pecah, tendangan air tajam, tendangan air membeku, tendangan air jatuh.
Yu Bai tertarik dengan Tendangan air mengalir karena ayahnya sering melatih bela diri ini. Yu Bai melihat ayahnya menendang udara kosong, dana ada beberapa kali Yu Bai melihat air yang muncul dari udara kosong. Yu Bai tidak akan lupa pemandangan indah waktu itu.
"Yu Xia! Yu Xia!"
Yu Bai menatap seorang wanita paruh baya yang berlari ke arah rumahnya. Terlihat wajah panik pada wanita paruh baya itu.
Yu Xia yang mendengar namanya dipanggil segera keluar rumah. "Bibi Xue? Ada apa? Kenapa anda berteriak memanggil nama saya?"
Bibi Xue masih berusaha untuk mengatur napasnya. Ketika napasnya sudah membaik, bibi Xue langsung mengatakan apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Suamimu!"
"Suami?"
"Ayah?"
Bibi Xue menatap Yu Nie dan Yu Bai bergantian. "Suamimu tertangk-"
SYUTT...
"Bibi Xue!"
Sebuah anak panah menancap di tubuh bibi Xue. Bibi Xue yang terjatuh, tapi tubuh bibi Xue ditahan oleh Yu Xia.
"Lari."
"Bi-bibi Xue! Ap-apa maksudmu!"
Bibi Xue menatap Yu Xia serius. "Lari Yu Xia! Para perompak sudah menahan warga desa! Bawa anak-anakm-uhukk!"
"Bibi Xue!"
Yu Xia panik ketika melihat bibi Xue memuntahkan darah dari mulutnya. Wajah bibi Xue juga memucat, dan tubuhnya terasa dingin.
"Ada seorang wanita yang lari! Cepat!"
Yu Bai yang cerdas segera memahami apa yang ia dengar. Dengan cepat ia menarik ibunya.
"Ibu, ada perompak di desa ini. Sepertinya mereka bermaksud buruk."
Yu Xia masih tak rela meninggalkan bibi Xue yang saat ini tidak bergerak. Kemudian Yu Xia mengingat tentang perkataan bibi Xue.
"Ayahmu. Pasti terjadi sesuatu padanya!"
Yu Xia ingin pergi menghampiri Yu Sha. Yu Xia yakin bahwa Yu Sha saat ini sedang terluka parah.
Yu Xia menatap Yu Bai. "Yu Bai, jangan menghalangi ibu."
Yu Bai terkejut, "Ibu, apa ibu ingin kita berdua tidak memiliki orang tua lagi?"
"Yu Bai, apa maksudmu!?"
"Ibu!"
Yu Xia terkejut. Selama ini Yu Bai adalah seorang anak lelaki lemah lembut. Dia tidak pernah membentak siapapun, tapi kali ini Yu Bai membentak Yu Xia, membentak ibunya sendiri.
Terlihat air mata dari mata Yu Bai. "Ibu, apa ibu tidak memikirkan perasaanku dan Nie'er?"
Yu Xia menjadi merasa bersalah. Dia menatap Yu Bai, kemudian menatap Yu Nie yang saat ini menatap nanar tubuh bibi Xue. Untuk anak seumuran Yu Nie, pemandangan yang ia lihat membuat Yu Nie menjadi takut.
Yu Xia membungkuk, " Yu Bai, ibu minta jaga adikmu."
"Ibu..."
Yu Xia tersenyum, kemudian Yu Xia menatap Yu Nie yang masih diam membeku. "Yu Nie, maaf ibu tidak bisa menemanimu lagi."
"Ibu, jangan seperti ini. Ayo kita pergi dari desa."
Yu Bai menarik tangan Yu Xia. Tapi Yu Xia tetap diam, Yu Xie menggelengkan kepalanya pelan.
"Yu Bai, ibu tidak bisa meninggalkan ayah."
Tanpa bisa di tahan, air mata Yu Bai mengalir. Tak disangkanya keluarga yang sangat menyayangi dirinya akan menghilang seperti ini.
"Disana! Ada satu wanita dan dua anak kecil! Cepat, cepat!"
Yu Xia yang mendengarnya menjadi panik. "Yu Bai, bawa adikmu pergi!"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, bawa adikmu pergi!"
Yu Xia berdiri seakan siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yu Bai menggigit bibirnya, dia ingin tetap disini bersama ibunya membantu ibunya menghadapi masalah.
Tapi dia sadar bahwa dirinya lemah. Sangat lemah.
"Ibu, kita akan bertemu lagi bukan?"
Yu Xia melirik Yu Bai. Yu Xia tersenyum. "Tentu saja, ibu akan pulang bersama ayahmu."
Yu Bai tahu apa yang dikatakan oleh ibunya adalah sebuah kebohongan, tapi di dalam hati kecilnya Yu Bai berharap. Bahwa apa yang di katakan oleh ibunya itu benar.
Yu Bai berbalik, dia menghampiri Yu Nie yang masih terdiam. Tiba-tiba saja Yu Bai menggendong Yu Nie, kemudian berlari meninggalkan sang ibu di belakang.
Setelah berada di gendongan Yu Bai, Yu Nie tersadar.
"Kak, ibu mana?"
Yu Bai menggertakkan giginya. Dia merasa kesal tentang betapa lemahnya dirinya. Adiknya Yu Nie masih setia menunggu kakaknya menjawab pertannyaan yang diberikan.
"Kak, ibu mana?"
"Ibu....ibu akan pulang nanti."
"Pulang? Bukankah rumah kita di san-"
Yu Nie tidak menjawab. Dia melihat kebelakang dan dia melihat asap hitam. Yu Nie membelalakkan kedua matanya.
"Kak, ibu...Ibu masih di sana bukan!"
"Yu Nie..."
Yu Bai semakin mengeratkan gendongannya. Yu Bai sadar dengan apa yang di katakan oleh Yu Nie.
Ibunya masih di sana. Entah masih hidup atau sudah mati.
"Turunkan Yu Nie!"
Yu Nie memberontak. Yu Bai menjadi sulit bergerak dengan Yu Nie yang terus memberontak.
"Yu Nie!"
Yu Bai membentak Yu Nie dengan keras. Yu Nie terdiam mendengarnya. Mendengar seorang Yu Bai yang selalu lemah lembut tiba-tiba saja membentak dirinya.
"Nie'er, ibu akan baik-baik saja."
Yu Nie memeluk erat Yu Bai. Di dalam pelukannya terdengar suara isak tangis. Di umur Yu Nie yang baru berumur enam tahun, dia sudah kehilang sosok seorang ayah dan seorang ibu.
Yu Nie menatap ke belakang ke arah rumah yang dulu dia tinggali. Sekarang yang dilihatnya hanyalah pepohonan.
Di sela-sela pepohonan, Yu Nie melihat sesuatu yang berkilau dikarenakan cahaya matahari sore.
Setelah sekian lama melihat, Yu Nie tahu benda apa itu.
"KAK BAI!"
SYUTT....