
"Gyaahh..."
"Pergi! Pergi!"
"Apa maumu?! Dasar wanita gila!"
BRAKK...BOOMM...
Di pesisir pantai, terdapat para warga desa yang dikumpulkan di satu tempat. Di dekat kapal, terdapat Gui Yaru, Yu Sha, dan anak buah Gui Yaru yang bersiaga.
Di sebelah anak buah Gui Yaru, terdapat Wei dan pekerja lainnya. Mereka dalam kondisi baik-baik saja, tapi Yu Sha tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Gui Yaru menatap anak buahnya yang berlari ketakutan. Setelah itu Gui Yaru menatap kebelakang, menatap ke arah seorang wanita yang berjalan dengan tenang dengan kedua tangan yang bersimbah darah.
Setelah wanita itu cukup dekat, wanita itu menjadi panik.
"Kak Yu!"
Yu Sha yang mendengarnya membuka matanya. "Xia'er! Jangan kemari!"
Gui Yaru menatap Yu Sha dan wanita itu bergantian. "Oh, jadi ini istrimu." Gui Yaru tertawa. "Kalian berdua sama-sama mengerikan."
Yu Sha mendecih. Saat ini Yu Sha dalam keadaan sangat lemah. Dia masih mengingat ketika Yu Sha ingin menggunakan Tendangan air pecah, tiba-tiba saja ada satu anak panah yang melesat ke arah dirinya.
Anak panah itu bukan anak panah sembarangan. Anak panah itu sudah dilumuri racun. Seketika Yu Sha jatuh dikarenakan racun yang ada di anak panah.
Jadilah dia sekarang menjadi sangatlah lemah. Walau Yu Sha adalah seorang pendekar perunggu tingkat tujuh, tapi dia dikalahkan hanya dengan sebuah racun.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada suamiku?!"
Yu Xia berteriak marah.
Gui Yaru tertawa mendengarnya. "Tentu saja aku...- Apa kau istrinya?"
Dengan geram, Yu Xia berlari ke arah Gui Yaru.
"Kau! Beraninya!"
"Huh! Suami dan Istri sama saja!"
Sebuah tapak dari Yu Xia mengarah pada Gui Yaru. Gui Yaru menahannya dengan serangan tapak lainnya. Tapi Gui Yaru mundur kebelakang, dan terhempas ke arah kapal dan seketika menghancurkan kapal yang di tabrak oleh Gui Yaru.
Yu Xia berlari ke arah Yu Sha. Yu Xia memberikan sebuah pil pada Yu Sha, wajah Yu Sha yang sebelumnya pucat menjadi bewarna kembali.
"Xia'er, dimana anak-anak?"
"Bai'er dan Nie'er sudah pergi. Aku yakin Yu Bai akan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Apa Kak Yu bisa bergerak?"
Yu Sha mencoba untuk bergerak. Tapi dia merasakan tangan kanannya masih terasa sakit.
"Aku bisa bergerak walau terasa kaku. Xia'er, kau menggunakan itu?"
Yu Xia tersenyum lembut. "Kak Yu, aku baik-baik saja."
Yu Sha yang mendengarnya menjadi merasa bersalah. "Maafkan aku. Maaf karena sudah membawa masalah pada desa ini dan padamu."
Yu Xia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tidak apa-apa."
BRUAKK...
"Hehh... Wanita, kau kuat" desis Gui Yaru dengan senyuman keji di bibirnya.
"Kak Yu, kau Istirahat saja dulu."
"Tapi..."
"Sstt..." Yu Xia menaruh jari telunjuknya di bibir Yu Sha. "Percaya padaku. Kak Yu tak lupa dengan kekuatanku bukan?"
Yu Sha tersenyum kecil. "Ya, aku tak lupa."
Yu Xia membalas senyuman Suaminya. Setelah mengatakan hal itu, Yu Xia berjalan beberapa langkah dan menatap tajam Gui Yaru yang saat ini sedang membersihkan sisa-sisa serpihan kayu dari kapal.
"Sudah menyampaikan salam perpisahan?" Ucap Gui Yaru dengan nada meremehkan.
"Sepertinya kau yang harus menyampaikan salam perpisahan pada anak buahmu, tapi tunggu. Semua perompak yang berada disini pada akhirnya juga akan mati" ucap Yu Xia dengan senyuman miring.
Untuk sesaat Gui Yaru dan anak buahnya merasa merinding hanya dengan mendengar ucapan dingin dari Yu Xia.
Yang pasti mereka tahu, bahwa ucapan dari seorang wanita yang memakai gaun biru lusuh itu tidaklah main-main.
Dia serius.
"Wanita, apa kau benar-benar hanyalah seorang warga desa biasa" ucap Gui Yaru dengan keringat dingin.
"Untuk saat ini, aku bukanlah seorang warga desa biasa..."
SYUUTT...KRAKK
Sebuah anak panah melesat ke dari belakang Yu Xia, tapi demgan sigap Yu Xia menangkap anak panah itu tanpa membalikkan badan. Setelah menangkap anak panah itu, Yu Xia mematahkannya hanya dengan sekali cengkraman.
"Cara licik yang murahan seperti ini tidak akan berpengaruh padaku, tuan."
Yu Xia melangkah dengan pelan, di setiap langkahnya nafsu membunuh menguar dari tubuh semakin besar.
Para warga menjadi takut dan memandang Yu Xia sebagai monster.
Yu Sha yang menyadari tatapan takut dari para warga hanya bisa menghela nafas pasrah.
'Dimanapun kita berada, tidak ada tempat bagi seorang pembunuh.'
Yu Sha tertawa dalam hati. Dia mengingat perkataan seseorang yang telah ia tinggalkan sejak 20 tahun yang lalu.
"Wanita sialan!"
Yu Sha menatap pertarungan istrinya dan Gui Yaru yang berat sebelah.
Gui Yaru yang tidak bisa mengalahkan Yu Xia hanya bisa terus mundur dengan kedua kapak yang bertahan dari setiap serangan tapak Yu Xia.
Jika diperhatikan dengan jeli, kapak yang di pegang oleh Gui Yaru sudah retak dan hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur.
"Wanita Sial, sial, sial!"
"Teruslah berucap seperti itu. Aku semakin menyukainya."
Gui Yaru memasang ekspresi wajah takut. Dia menganggap bahwa wanita yang berada di hadapannya ini adalah seorang pembunuh yang sangat handal.
Gui Yaru mengetahuinya dari cara Yu Xia menempatkan serangan yang mengarah pada organ vital. Beberapa kali Gui Yaru terkena serangan, dan hasilnya adalah gerakan Gui Yaru semakin kaku di setiap waktu.
Belum lagi nafsu membunuh yang besar membuat nafas Gui Yaru menjadi tak beraturan.
'Nafsu membunuh ini mirip...'
KRAKK...KLANGG...
Gui Yaru membelalakkan kedua matanya. Kedua kapaknya sudah hancur berkeping-keping. Tanpa membuang waktu Yu Xia memberikan serangan terakhirnya.
"Teknik Keempat: Tendangan air jatuh."
BOOM...!
Yu Xia mengarahkan tendangan air jatuh pada kepala Gui Yaru. Tendangan dari Yu Xia tidaklah main-main.
Itu karena di sekitar Gui Yaru terdapat kawah kecil dari hasil tendangan Yu Xia yang sangat keras. Bahkan Gui Yaru tergeletak begitu saja.
"Sudah selesai" gumam Yu Xia.
Yu Xia merasa tubuhnya akan jatuh, dan ketika ia akan jatuh sebuah tangan yang hangat memeluknya.
"Yu Xia, kau cukup menakutkan juga."
Yua terkekeh kecil mendengarnya. "Aku tak ingin mendengarnya darimu."
"Ayah! Ibu!"
Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah hutan.
"Yu Bai! Yu Nie!" teriak Yu Sha dengan nada khawatir.
Bagaimana tidak khawatir? Saat ini kedua anaknya diapit sekitar lima anak buah Gui Yaru. Dan yang membuat Yu Sha semakin khawatir adalah Yu Bai yang terluka di bahu kirinya. Bahkan anak panah masih tertancap di bahu anaknya.
Dengan murka, Yu Xia melepaskan diri dari pelukan Yu Sha dan berdiri tegak dengan aura membunuh yang lebih pekat dari sebelumnya.
"Yu Xia! Berhenti! Kau belum stabil!"
"Aku tak peduli! Siapapun yang membuat anakku terluka, akan kubuat neraka sekalipun menolak roh-nya!"
Perkataan lantang dari sang ibu yang murka. Siapapun pasti akan takut mendengar ucapan Yu Xia dengan aura membunuh yang pekat bukan?
"Yu Xia" panggil Yu Sha dengan pelan.
Tapi panggilan Yu Sha tidak ia herankan. Dengan cepat Yu Xia berlari menghampiri Yu Bai yang tengah menahan sakit dan Yu Nie yang menangis terisak-isak.
"JANGAN MENDEKAT!"
SRINGG...
Yu Xia tersentak kaget. Dia langsung berhenti ketika melihat sebuah pedang mengarah pada leher Yu Nie dan Yu Bai.
"Kau..." ucap Yu Xia dengan geram.
"Kekekeke... Kau tetaplah seorang wanita ternyata."
Yu Sha dan Yu Xia tersentak kaget. Mereka langsung menoleh ke arah Gui Yaru, yang dimana sebelumnya Gui Yaru yang tergeletak tak berdaya, sekarang berdiri dengan tegak dan menampilkan senyuman lebar.
"Seorang ibu tidak mungkin mengabaikan anaknya bukan?"
Yu Xia terdiam mendengar ucapan Gui Yaru. Dia tidak menyangka Gui Yaru masih bisa bangkit berdiri dengan tegak. Padahal Yu Xia sudah yakin dengan serangan-serang yang ia berikan mampu membuat Gui Yaru berada di kasur selama satu minggu.
Melihat reaksi Yu Xia. Gui Yaru semakin tersenyum lebar. Dia sudah menemukan kelemahan terbesar dari wanita gila ini.
"Bunuh Anak mereka."
""HENTIKAN!!""
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=