The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 15 [Kebebasan VI]



Sebuah tidak bukan. Bukan sebuah, tapi dua pedang dengan pedang yang satunya memiliki sarung pedang dengan ukiran api. Dan yang satunya lagi dibiarkan terbuka begitu saja memperlihatkan bilah besi bewarna hitam dengan di tengah-tengahnya terdapat cairan merah yang bependar remang-remang.



Yu Bai terpana. Sungguh merasa terpukau dengan dua buah pedang yang memancarkan aura yang begitu hebat.


Fu Ru terkekeh melihat wajah Yu Bai yang terpana itu. "Kau suka?"


Yu Bai kembali ke kenyataan. Tunggu dulu. "Ini... Buatku?" Tanya Yu Bai dengan jari telunjuknya yang mengarah pada dirinya sendiri.


Fu Ru mengangguk, "Ya. Untukmu, tapi..." Fu Ru menatap Yu Bai dengan serius. "Pedang ini yang akan mengakuimu."


"Hah?"


Fu Ru tertawa melihat wajah Yu Bai yang kebingungan, "Hahaha.... Jangan lihat aku seperti itu" Fu Ru meredakan tawanya. "Pedang ini memilih siapa yang akan menjadi tuan selanjutnya."


"Tuan... Selanjutnya? Itu berarti ada pemilik nya sebelum ada di tangan mu?"


Fu Ru terkekeh lagi, "Tidak, bukan. Aku hanya di titipkan oleh pemiliknya. Katanya 'Berikan kepada orang yang di pilih selanjutnya. Kedua pedang ini akan sangat membantunya' begitulah katanya."


Yu Bai mengangguk mengerti. Ia menatap kedua pedang yang seperti menarik dirinya untuk mengambil dan menjadi miliknya sendiri.


Tapi tunggu dulu (lagi).


"Orang yang di pilih selanjutnya itu... Apa?"


Jika Yu Bai tidak salah tebak. Orang yang terpilih itu merupakan orang-orang yang memiliki kekuatan. Dan juga Yu Bai melupakan suatu hal.


"Oh ya. Siapa pemilik pedang sebelumnya?"


"Heehhh... Kau terlihat penasaran" goda Fu Ru.


Sebenarnya Yu Bai penasaran sekaligus curiga dengan Fu Ru dan kedua pedang misterius.


"Apa ini gratis?" Tanya Yu Bai lagi.


Wajah Fu Ru langsung merengut. "Hei! Ini hadiah bocah nakal!"


Yu Bai mengangkat kedua bahanya, tanda ia tak tahu. "Siapa tahu saja, bukan?"


Fu Ru menarik nafas panjang, "Umurku bisa bertambah jika beradu mulut denganmu. Umurmu benar-benar masih 10 tahun?"


Yu Bai menatap datar Fu Ru "Ya."


"Kau terlihat seperti umur 30 tahunan dengan cara pikir mu itu" ucap Fu Ru dengan jari telunjuknya yang mengetuk keningnya sendiri.


"Pengalaman hidup menambah wawasan" ucap Yu Bai pelan.


Fu Ru terdiam. Sungguh, mendengar seorang anak-anak berkata seperti orang tua membuat Fu Ru sedikit... Aneh?


"Ahh... Sudahlah. Coba kau sentuh salah satu pedang ini."


Yu Bai menaikkan alisnya "Untuk apa?"


Mendengar jawaban Yu Bai yang terlihat tak peduli rasanya membuat Fu Ru gregetan. "Aduhh... Bisa ikuti apa kataku? Kau terlalu banyak bertanya!"


Oke Yu Bai. Kau sukses membuat Fu Ru yang sedang hamil kesal setengah mati. Benar-benar memiliki bakat untuk membuat kesal semua orang.


"Baiklah, baiklah, aku akan ikuti apa maumu" pada akhirnya Yu Bai mengalah. Ia tak ingin membuat masalah, dan kemudian masalah yang ia buat berimbas kepada Qing atau Jinzhi.


Dia hanya tidak ingin membuat kedua orang yang telah membantunya kerepotan. Itu saja.


Setelah berpikir sebentar, Yu Bai menyentuh Pedang yang masih memilik sarungnya.


"Hm? Sudah, seperti ini?" Tanya Yu Bai yang di mana tangan kanan-nya menyentuh gagang pedang itu.


Alis Fu Ru mengerut, "Apa kau merasakan suatu hal yang aneh pada tubuhmu?"


"Umm.... Tidak?"


"Huh? Kenapa kau terlihat bingung seperti itu?"


Alis Yu Bai mengerut. Jujur saja, tubuhnya merasa panas hanya karena menyentuh pedang itu. Dan rasa panas itu menjalar dari ujung jarinya hingga ujung kaki, bahkan juga ke kepala-nya.


Tapi perlahan-lahan rasa panas itu menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil seketika.


Fu Ru yang terus memperhatikan tiap ekspresi yang di berikan oleh Yu Bai hanya terdiam.


Sebenarnya ia tahu apa yang terjadi pada tubuh Yu Bai saat ini. Dia sengaja tutup mulut karena ingin melihat, apa memang anak ini yang akan menjadi orang selanjutnya?


Di dalam pikiran Fu Ru, tak mungkin Jinzhi membawa Yu Bai kepada Qing hanya karena rasa kasihan semata. Pasti ada alasannya, dan Fu Ru mencari alasan tersebut.


Walaupun dia tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Qing ataupun Jinzhi.


Di sisi lain, Yu Bai saat ini tengah memasuki alam pikirannya sendiri. Tubuh Yu Bai menjadi transparan di dunia yang entah dimana ini.


Sekelilingnya hanya terdapat ruangan gelap beserta titik-titik kecil bewarna biru, merah, dan putih.


Apa ini? Batin Yu Bai.


Yu Bai menoleh ke kanan kiri, depan belakang. Kemudian atas dan bawah. Hasilnya...


Tidak ada apa-apa.


Tubuhnya terlihat transparan, belum lagi ia melayang atau mengambang? Entahlah. Sulit dijelaskan bagi Yu Bai yang masih bingung dengan keadaanya saat ini.


Netra coklat tua itu menoleh ke arah kanan. Ia melihat sebuah cahaya merah yang bersinar terang, yang dimana terlihat beberapa garis yang menjalar ke arah cahaya biru. Begitupula cahaya biru, garis-garis itu kemudian menjalar ke arah cahaya putih.


Sampai pada akhirnya setiap cahaya saling menyambung dan terikat dengan cahaya lain.


Di tengah silaunya cahaya, Yu Bai mendengar suara bisikan halus yang di mana bagi Yu Bai, bisikan halus itu hanyalah sebuah angin lalu.


'Raja ku'


.


.


.


.


.


.


"Kenapa kau tidak meminta izin terlebih dahulu!"


"Aku hanya mengetest nya! Tak kusangka akan terjadi hal ini!"


"Ru bodoh! Dia masih belum tau apa-apa tentang Jinzhi, aku dan dirimu!" ucap Qing dengan jari telunjuknya yang menunjuk Fu Ru kasar. "Kau membuat anak sekecil Yu Bai mulai menanggung beban yang lebih berat lagi? Huh?!"


Fu Ru dan Qing saat ini tengah berdebat panjang di gazebo yang di mana menjadi saksi bisu pembicaraan Fu Ru dan Yu Bai.


Yu Bai? Dia saat ini masih duduk dengan kedua mata yang kosong. Tubuhnya terlihat menggigil dan bibirnya pucat.


Qing menggigit bibirnya melihat keadaan Yu Bai. Qing kembali menoleh ke arah Fu Ru dengan marah, "Jika terjadi sesuatu kepada Yu Bai. Aku akan melaporkanmu kepada Jin!"


"Qing! Ini hanya... Hanya..."


"Hanya apa?! Demi tuhan! Jika saja kau tidak hamil aku akan menghajarmu saat ini juga!"


Tubuh Fu Ru membeku. Di dalam pikirannya saat ini adalah-- dirinya sudah membuat Qing marah hal itu sangatlah tak baik.


"Qing! Jaga omonganmu!" tegas Fu Ten yang berdiri di samping Fu Ru kemudian mengelus pelan kedua bahu Fu Ru yang bergetar karena menahan isak tangis.


Pada akhirnya Qing menghempaskan bokongnya pada kursi di sebelah Yu Bai. Qing kemudian melirik Yu Bai yang masih menatap kosong ke lantai dengan tangan kanan-nya yang masih terhubung dengan pedang yang di berikan oleh Fu Ru.


Dirinya benar-benar tak menduga hal ini. Ia merasa gagal dalam menjaga Yu Bai seperti yang di pesankan oleh Jinzhi.


'Aku titip Yu Bai padamu.'


Qing mengerang kesal. Ucapan Jinzhi kembali tergiang di dalam kepalanya. Ia mengusak rambutnya dengan kasar, netra hitam itu kembali melirik Yu Bai yang masih terdiam.


Qing kembali menatap kebawah, menghela nafas kasar dan kembali mengusak rambut halus miliknya.


Selagi Qing merasa frustasi dan Fu Ru yang menahan isak tangis dengan ditenangkan oleh Fu Ten.


Mereka bertiga tidak menyadari bahwa Ada tiga cahaya bewarna Merah, biru, dan putih menjalar dari ujung jari yang menyentuh gagang pedang tersebut.


Yang pertama kali menyadarinya adalah Fu Ru yang menatap kaget ketiga cahaya itu.


"Qing!"


"Ap- ya tuhan!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||


Ehehehe


Hehehe gantung 😅


Maaf 🙏


1. 157 kata