The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 16 [Kebebasan VII]



"Qing!"


"Ap- ya tuhan!"


Dengan ekpresi wajah terkejut, Qing lekas berdiri ketika melihat tiga cahaya itu menjalar dari ujung jari-jemari Yu Bai yang masih menyentuh pedang.


"B-berhasil."


Dengan cepat Qing menoleh ke arah Fu Ru yang merasa lega.


"Jangan merasa lega terlebih dahulu!" tegur Qing.


Fu Ru tersentak. Ia melupakan suatu hal yang cukup fatal.


Efek samping.


Seketika Fu Ru merasakan aura dingin dan gelap menguar dari tubuh Qing. Tatapan matanya pun terasa tajam dan berbahaya.


"Jika yang muncul bukanlah Yu Bai. Aku akan menghukum-mu."


Fu Ru berkeringat dingin. Hanya mendengar nada ancaman dari Qing sudah membuat Fu Ru berpikir kemana-mana.


Qing kembali fokus ke arah Yu Bai yang perlahan-lahan ketiga cahaya itu menjalar ke seluruh tubuh Yu Bai. Terlihat garis-garis cahaya berbentuk abstrak terlihat dari balik kulit. Tapi ada garis yang berbeda bentuk.


Bentuknya terlihat seperti bunga yang menguncup. Dan letaknya tepat berada di bagian dada sebelah kiri, lebih tepatnya bagian jantung Yu Bai.


'Tanda itu... Berbeda dengan milik Jin' pikir Qing.


Beberapa saat kemudian ketiga cahaya itu meredup, dan perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya.


Hening.


Tidak ada yang berbicara. Mereka semua menunggu sebuah hasil.


Apa kah yang muncul benar Yu Bai atau orang lain?


Perlahan, binar mata itu kembali. Yang sebelumnya terlihat kosong tidak ada cahaya, sekarang memperlihatkan binar terang dan kehidupan dari netra coklat terang milik Yu Bai.


Kedua mata itu berkedip beberapa kali. Kemduain Yu Bai mengangkat pandangannya. Dari wajahnya, Yu Bai terlihat linglung.


Tanpa diketahui Yu Bai, Qing diam-diam menarik sebuah jarum perak dari balik lengan bajunya.


Terlihat ingin mengantisipasi suatu hal yang tak diinginkan.


"Kenapa kalian seperti mewaspadai sesuatu?"


Satu kalimat keluar dari mulut Yu Bai.


Setelahnya terdengar suara helaan nafas kelegaan dari penghuni yang ada di dalam gazebo.


Yu Bai menatap dengan perasaan kebingungan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Qing memastikan.


"Bai'er, ada yang aneh dengan tubuhmu?" Tamya Fu Ru dengan nada penuh kekhawatiran.


Khawatir kalau Yu Bai memiliki masalah, dirinya pun akan kena masalah.


Yu Bai mengangguk ragu, "Ya. Aku.... Aku baik-baik saja."


"Kenapa kau terdengar ragu?" Tanya Fu Ten.


Fu Ru keringat dingin mendengarnya.


Yu Bai terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. "Tubuhku terasa aneh. Seperti.... Ada yang memasuki tubuhku?" ucap Yu Bai dengan penuh rasa keraguan.


Qing menghela nafas kasar mendengarnya. Ia berjalan mendekati Yu Bai dan menepuk bahu Yu Bai dengan lembut.


"Kau yakin?" Tanya Qing sekali lagi.


Yu Bai mengangguk ragu "Qing. Aku benar-benar tak mengerti tentang hal ini."


Netra hitam Qing menajam ketika mendengar ucapan polos dari mulut Yu Bai. Dengan segera ia menatap Fu Ru tepat di mata dan seakan memberikan isyarat bahwa 'Lihat! Anak ini tak mengerti apapun! Tunggu saja balasanmu!'


Seketika Fu Ru merinding. Benar-benar hari yang melelahkan untuknya.


"Qing" panggil Yu Bai.


Atensi Qing kembali ke arah Yu Bai yang memanggilanya. Dengan suara lembut ia bertanya "Ya? Ada apa? Apa ada masalah?"


Yu Bai memegang kepalanya. Entah kenapa ia merasa pening dan kepalanya terasa berat. Yu Bai terkekeh pelan "Hahaha... Kupikir aku akan pingsan."


Tepat setelah Yu Bai mengatakannya. Ia jatuh pingsan di dalam dekapan Qing yang dengan cepat menangkap tubuh kecil Yu Bai yang akan jatuh ke lantai jika Qing tak sigap.


"Jadi....? Dia baik-baik saja?" Tanya Fu Ten.


Dengan serius, Qing menatap keseluruhan tubuh Yu Bai. Tangannya yang bebas kemudian menaruh telapak tangan pada kening Yu Bai.


Panas, batin Qing.


"Dia kena demam. Kupikir saat ini tubuhnya sedang menyesuaikan akan sebuah energi asing yang memasuki tubuhnya" jelas Qing.


Fu Ru bernafas lega "Syukurlah. Biarkan Yu Bai tinggal disini hingga ia sadar."


Dengan tajam, Qing menatap Fu Ru "Apa? Apa aku tak salah dengar?" Ucap Qing sinis.


Fu Ru menghela nafas kasar. Ia tahu bahwa Qing masihlah marah dengan dirinya. "Setidaknya akan lebih baik jika Yu Bai tinggal disini. Coba kau lihat" tunjuk Fu Ru ke langit yang mulai menggelap. "Hari sudah mulai malam. Tak baik bagi orang demam untuk bepergian di malam hari."


Apa yang di katakan Fu Ru sangatlah benar. Tapi entah kenapa Qing tak ingin tetap berada di sini begitu lama.


Ia ingin kembali ke gubuk sederhananya, dan mulai menumbuk tanaman-tanaman kering hingga halus.


Akan tetap terbesit suatu pemikiran yang mungkin terdengar licik. Bahkan Qing tersenyum miring tanpa sadar.


'Apa lagi yang ia pikirkan kali ini!' pikir pasangan suami istri ini.


"Oke, aku dan Yu Bai akan tinggal, tapi..."


'Sudah kuduga! Pasti ada mau-nya!' batin Fu Ru yang mulai merasa dijebak dengan pemikiran licik Qing.


Qing menunjukkan kelima jarinya yang lentik, kemudian berkata "Aku ingin 5.000 Fuan untuk Ular langit biru dan Snake purple venom."


'Sudah kuduga' batin Fu Ru dengan perasaan sedih.


"Apa?! 5.000 Fuan hanya untuk dua binatang yang sudah mati itu!"


Berbeda dengan Fu Ru yang hanya meratapi nasib dalam hati. Fu Ten meneriakkan protesnya dengan keras di hadapan Qing.


Sebenarnya ada sebuah fakta kecil.


Fu Ru dan Fu Ten adalah pasangan kaya.


Sekian.


Dengan kekuatan penuh, Fu Ru menyenggol Fu Ten menggunakan siku-nya. Kemudian Fu Ru berbisik "Ikuti saja kemauan Qing. Kau tak ingin mendapatkan masalah bukan?"


Fu Ten ikut membalas Fu Ru sambil berbisik "Tentu saja bukan masalah. Tapi apa yang ditawarkan Qing sangatlah tak sesuai dengan harga aslinya. Lagipula kedua hewan iblis itu juga telah mati."


Fu Ru berdecih "Turuti saja. Apa kita pernah kekurangan uang, huh?"


"Tapi...."


"Oi, Ten. Bisa tidak jangan berpikir dengan otak bisnismu itu?" celetuk Qing yang sedari tadi memperhatikan acara bisikan pada dua pasutri itu.


"Sudah. Setujui saja ya, sayang" ucap Fu Ru dengan senyuman indah terukir pada bibirnya yang ranum.


Fu Ten mengalah "Baiklah."


Seketika Qing merasa hatinya berbunga-bunga. Ia terlalu bahagia hari ini. Dengan cepat ia menatap wajah damai Yu Bai yang masih dalam pelukannya.


'Ini karenamu. Akan kubelikan apa yang kau mau ketika kau bangun nanti' janji Qing dalam hati.


"Karena kita telah mencapai kesepakatan" ucap Fu Ru. "Mari kita membawa Yu Bai ke kamar terlebih dahulu. Kemudian kita akan makan malam. Bagaimana?" Tawar Fu Ru.


Qing mengangguk "Baiklah."


Kemudian Fu Ten mendekati Qing dan berkata "Biar aku yang membawa Yu Bai ke kamar. Lebih baik kau ikuti Ru'er."


Qing mengangguk. Ia menyerahkan Yu Bai kepada Fu Ten yang dengan siap menerimanya.


"Apa kau ingin ke pemandian air panas?" Tawar Fu Ru.


"Boleh. Lagipula aku sudah lama tidak mandi di sini" jawab Qing sembari ia berjalan menjauhi Fu Ru dan Fu Ten.


"Baiklah. Kau ingin makan apa hari ini?" Tanya Fu Ru sekali lagi sambil mengikuti Qing di belakang.


"Hmm... Mungkin udang?"


Fu Ru terkekeh "Makanan kesukaanmu. Baiklah, silahkan nikmati malam ini. Nyonya Qing."


Qing tertawa pelan "Berhenti. Kau menggelikan."


Fu Ru tertawa pelan sebagai balasan.


Fu Ten yang berjalan di belakang mereka berdua sedikit mengenang masa lalu.


Masa dimana mereka berempat berkeliling di setiap kerajaan dan bertarung.


Kemudian tatapannya beralih ke arah punggungnya-- dimana Yu Bai yang masih pingsan berada.


"Selanjutnya adalah dirimu. Bai'er."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||


1. 153 kata