The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 17 [Kebebasan VIII]



"Ugh..."


Suara ringisan terdengar. Seseorang yang saat ini terbaring di atas kasur lembut dan empuk itu.


Terasa nyaman dan hangat, ucapnya dalam hati.


Kemudian ia merasakan sebuah kejanggalan.


Biasanya. Ia hanya merasakan kerasnya tikar bambu dan rasa dingin. Dan juga selalu bangun dengan menggigil kedinginan.


Yu Bai berpikir terlebih dahulu untuk membuka kedua matanya.


Siapa tahu ia sudah berada di surga?


Baiklah. Pemikiran yang sangat baik.


Pada akhirnya Yu Bai membuka kedua matanya. Ia sedikit menyipit karena cahaya matahari. Setelah dirasa sudah terbiasa dengan cahaya, ia mengobservasi sekitar.


Selimut tebal nan hangat, perabotan yang cukup mewah, kasur yang empuk.


Dengan cepat Yu Bai beralih dari berbaring menjadi duduk.


Ia kembali melihat-lihat sekitar.


"Tunggu. Aku ada di mana?!" paniknya.


"Kamu ada di rumahku."


"Huh?" Yu Bai langsung menoleh ke arah kanan-nya. Disana, ia mendapati seseorang yang sedang merajut sebuah pakaian?


"F-fu Ten?" Tanya Yu Bai memastikan.


"Hm? Ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" Tanya-nya yang tidak mengalihkan pandangannya dan masihlah fokus ke arah rajutan yang sedang ia buat.


Tanpa sadar mulut Yu Bai terbuka lebar. Ia terlalu terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya kali ini.


Seorang lelaki sangar sedang merajut sebuah pakaian yang sepertinya untuk bayi.


Menghangatlah hati Yu Bai ketika melihatnya.


Kemudian ia tertawa dalam hati. Demi seorang anak, anda rela untuk merajut pakaian.


Walaupun terlihat sangar. Hatinya tetap memikirkan pada anak yang akan segera lahir ke dunia ini.


"Apa kau ingin makan?"


Growlll...


Perutnya berbunyi. Wajah Yu Bai memerah malu.


Fu Ten tersenyum tipis "Tak perlu malu. Kau sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari."


"Hah?!"


Yu Bai terkejut. Tiga hari?! Bagaimana bisa ia tertidur selama itu?


Pantas saja perutnya terasa sangat lapar. Ternyata ia belum makan selama tiga hari.


Fu Ten meninggalkan rajutan yang setengah jadi itu. Ia berdiri dan mendekati Yu Bai yang terlihat melamun.


"Ayo kita pergi ke dapur. Kau perlu asupan."


Yu Bai tersadar dari acara lamunan-nya. Ia mengangguk. Kemudian Yu Bai menyibak selimut hangat yang menemani dirinya selama tiga hari. Dengan perlahan Yu Bai menapak lantai kayu yang terasa dingin pada telapak kakinya.


Dan ketika ia ingin berdiri. Ia menjadi limbung seketika. Jika saja Fu Ten tak sigap menangkapnya, sudah di pastika Yu Bai akan mencium lantai kayu itu.


"Ugh..." Kepalanya pusing.


Sebenarnya Fu Ten sudah menduga hal ini. Tanpa banyak berkata, ia dengan cepat menggendong Yu Bai pada punggungnya.


Yu Bai yang tak siap sangatlah terkejut dengan apa yang dilakukan Fu Ten.


"Pa-paman?"


Fu Ten terkekeh "Kau memanggilku paman?"


"Umm... Salah ya?"


Fu Ten terkekeh "Tidak. Panggil saja aku sesukamu."


Yu Bai tersenyum senang. Akhirnya mereka berdua pergi menjauhi kamar Yu Bai berdiam selama tiga hari.


Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan. Menyadari bahwa jarak dari tempatnya tertidur dan dapur sangatlah jauh. Yu Bai berinisiatif untuk membuat pembicaraan.


"Paman" panggil Yu Bai.


"Hm?"


"Apa paman mengenal Qing dan tuan Jinzhi?"


Fu Ten tersenyum "Tentu saja aku mengenalnya. Ada apa?"


"Seperti apa mereka berdua?"


Fu Ten mengerutkan kening, tak mengerti dengan maksud dari Yu Bai. "Maksudmu?"


"Ya... Seperti apa Qing dan Jinzhi. Entah perilaku atau kebiasaan mereka."


Fu Ten mengangguk mengerti. Jadi bocah di belakangnya ini penasaran dengan Qing dan Long Jinzhi.


Fu Ten berpikir sejenak, "Hmm... Untuk Qing. Ia perempuan licik dan cerdas, tapi berbahaya seperti ular beracun."


Yu Bai bergidik ngeri, Perumpamaan macam apa itu!


"K-kalau tuan Jinzhi?"


"Jin? Dia seorang pemalas, tapi selalu menepati janji. Kemudian ia cerewet seperti seorang ibu-ibu jika permintaannya tidak di tepati. Hmm... Seperti bocah, anak-anak."


Yu Bai mendengar nada kekesalan dari Fu Ten.


"Tapi tenang saja" lanjut Fu Ten. "Mereka berdua tidak berniat untuk membahayakan dirimu."


Yu Bai tersenyum "Aku tahu."


Jika mereka berdua berniat membahayakan dirinya. Tak mungkin ia masihlah hidup hingga saat ini. Sudah pasti ia sudah mati ketika ia di hukum saat ia masih menjadi seorang budak.


"Sekarang. Gantian aku yang bertanya" ucap Fu Ten yang sedikit menoleh ke arah Yu Bai.


Yu Bai tertawa "Baiklah."


"Siapa Yu Nie?"


"....."


Hening. Hanya terdengar suara tapak kaki Fu Ten saat ini.


"Sebelum aku menjawabnya. Paman mendengarnya darimana?"


"Kau mengigau di tidurmu" jelas Fu Ten.


Faktanya, Fu Ten selalu menemani Yu Bai dari awal. Ini semua karena Qing dan Fu Ru pergi ke kota untuk membeli perlengkapan bayi mereka.


Kenapa Fu Ten tak ikut?


Jawabannya mudah. Ia terlalu malas menemani kedua gadis yang akan pergi berbelanja. Waktunya akan terbuang sia-sia. Lebih baik ia menunggu Yu Bai sadar dengan merajut sebuah pakaian untuk bayinya nanti.


"Dia adikku" Jawab Yu Bai.


"Oh, kau punya adik?" Fu Ten mendapatkan fakta baru.


Yu Bai mengangguk "Ya. Seorang perempuan keras kepala dan memiliki sifat seperti lelaki" Yu Bai terkekeh setelahnya.


"Apa dia cantik?"


Yu Bai tersenyum senang. Terlihat binar keantusian dari matanya "Ya! Nie'er sangat cantik! Ia mirip seperti ibuku."


"Dan kau mirip Ayahmu?" tebak Fu Ten.


Yu Bai terlihat berpikir sebentar "Hmm... Sepertinya iya. Tapi banyak yang bilang aku mirip Ibu daripada Ayah."


"Sudah pasti kau mirip Ayahmu."


"Hm? Kenapa paman berpikir seperti itu?"


"Karena kau tampan."


Yu Bai membeku. Sebenarnya ia tak terbiasa dipanggil tampan. Biasanya ia akan dibilang memiliki wajah yang manis dan lembut.


"Wahh... Paman. Aku baru pertama kali mendengar bahwa aku seorang yang tampan."


Fu Ten terkekeh "Setiap laki-laki pasti memiliki ketampanannya sendiri."


Yu Bai merasa tercerahkan "Akan selalu kuingat perkataanmu paman!"


Fu Ten tertawa keras. Baru kali ini ada yang akan mengingat perkataannya.


"Oh. Kita sudah sampai."


Tanpa disadari mereka berdua. Saat ini sudah sampai di depan pintu dapur yang dari wanginya saja sudah menggugah selera Yu Bai.


Fu Ten membuka pintu dan terlihatlah pemandangan yang membuat Yu Bai meneguk ludah dengan kasar.


Daging asap, roti, dan rempah-rempah. Tak hanya itu, daun teh yang siap untuk di seduh pun tersedia.


Aku belum pernah melihat makanan sebanyak ini, batin-nya.


Fu Ten menurunkan Yu Bai pada sebuah kursi. Yu Bai duduk dengan manis di kursi dan mulai mengobservasi sekitar dengan mata berbinar senang.


Fu Ten yang melihatnya tersenyum tipis. Kehidupan apa yang kau lalui sebelum datang kemari, Bai'er.


"Karena kau baru bangun setelah tiga hari. Kuharap semangkuk bubur tak masalah?"


Yu Bai tersentak. "Tak masalah paman" ucap Yu Bai dengan sebuah senyuman senang.


Fu Ten mengangguk paham. Fu Ten kemudian mendekati semangkuk bubur yang diatasnya terdapat daun bawang, potongan-potongan daging yang kecil, dan kacang-kacangan.


Siapa yang membuatnya?


Tentu saja pelayan yang ada di rumah ini. Setiap pagi, akan ada yang memasak. Dan setelah tugasnya selesai, mereka akan pergi dan datang kembali pada siang, dan malam hari.


"Ini milikmu. Pelan-pelan saja makan-nya."


Terlihat Yu Bai tengah menahan air liurnya yang akan jatuh jika ia tak berusaha untuk menahannya.


"Terima kasih paman!"


Fu Ten mengangguk.


Kemudian Fu Ten duduk tepat di deoan Yu Bai yang sedang makan dengan lahap. Ia memperhatikan betapa bahagia-nya Yu Bai hanya untuk semangkuk bubur yang bagi Fu Ten tidaklah seberapa.


Yu Bai, kau terlalu menarik. Kuharap ketika kau mengetahui alasan Jin merawatmu. Kau akan menerimanya, ucap Fu Ten dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||


Author Note:


Yo?


Hola! Halo!


Silahkan nikmati 2 chap yang Rai buat.


Ehehehe


1. 177 kata