The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 6 [Tragedi V]



"Bunuh anak mereka."


""HENTIKAN!!""


Dengan sekuat tenaga, Yu Sha dan Yu Xia berlari menghampiri kedua anak mereka yang nyawanya berada di ujung tanduk.


Kedua anak itu hanya memejamkan matanya rapat-rapat, tidak ingin melihat akhir mereka.


Bukannya menerima sabetan dari pedang tajam, yang Yu Bai dan Yu Nie terima adalah sebuah pelukan hangat.


Pelukan hangat dari kedua orang tuanya.


SYUUT... SYUUT...


"Ukhh/arghh...!"


Yu Bai membelalakkan kedua matanya.


"I-ibu?"


"A-ayah?"


Yu Nie juga sama terkejutnya dengan Yu Bai.


"Uhukk... Ka-kalian baik-baik sa-saja?" Tanya ayahnya.


"Bai'er, Nie'er, ka-kalian ba-baik-baik saja?" Tanya ibunya.


Yu Bai dan Yu Nie hanya diam. Syok dengan apa yang mereka berdua lihat sekarang.


Keadaan Ayah dan Ibunya tidaklah baik. Mereka melihat lima anak panah yang menancap pada punggung ayahnya dan satu sabetan pedang yang mengarah pada punggung Yu Xia.


"IBU!"


Yu Bai memeluk erat Yu Xia ketika ia merasa ibunya merosot jatuh. Ketika memeluknya, Yu Bai merasakan cairan hangat di punggung ibunya.


'Darah.'


Yu Bai semakin memeluk erat Yu Xia. "Ibu, ibu, Ibu! Kumohon ibu tetaplah sadar!"


"Yu.... Bai..."


"Ya, Ya, ini aku ibu. Ini aku, Yu Bai!"


Yu Bai semakin takut ketika mendengar nada lemah dari ibunya. Dia tidak ingin apa yang ada di pikiran-nya menjadi kenyataan.


"A-ayah?"


Yu Bai menoleh ke arah Yu Nie yang terpaku.


"Nie'er, maafkan A...yah..."


BRUKK...


Ayahnya-- Yu Sha terjatuh dan tergeletak begitu saja di hadapan Yu Nie yang menatap kosong Yu Sha.


"Ayah?" cicit Yu Nie.


"Yu B-bai, dengarkan I-ibu."


"Ibu, kumohon jangan berkata-kata lagi."


Yu Xia tersenyum kecil melihat Yu Bai yang menahan tangisan. "Kau, putra ibu satu-satunya. Ibu minta kamu jaga Nie'er. Walau kalian terpisah sekalipun, temukan dia, rawat dia, berikan kasih sayang seperti ibu yang menyayangi kalian."


"I-ibu..."


Yu Xia tersenyum lagi. "Kau, jadilah seperti ayahmu. Maaf ibu tak bisa menemani kalian... Lagi..."


"Ibu! Jangan bercanda! Kita.... Kita akan pulang. Bersama-sama. Kita akan tertawa ketika Yu Nie menceritakan apa yang dia lakukan seharian, kita akan menunggu ayah yang membawa tanaman obat yang salah dan tertawa bersama" Yu Bai semakin mengeratkan pelukannya, dan pada akhirnya air matanya jatuh saat itu juga.


"Kita....Kita akan pulang, bersama-sama kan, ibu?"


Inilah yang Yu Xia takutkan. Pada akhirnya Yu Xia hanya bisa mengatakan satu kata.


"Maaf..."


"...Yu Bai..."


BRUUKK...


Yu Xia jatuh. Yu Bai terdiam begitu saja ketika ibunya merosot jatuh.


Yu Bai memandang kedua telapak tangannya yang bersimbah darah ibunya.


Sakit.


Rasanya sakit di dadanya.


Sesak.


Yu Bai merasa dia tidak bisa bernapas saat ini.


Di umur Yu Bai yang masihlah 10 tahun. Melihat kedua orang tuanya yang mati melindungi mereka memberikan tekanan pada Yu Bai dan Yu Nie.


Mereka berdua menyalahkan diri mereka sendiri.


"HAHAHA... MEREKA MATI, HAHAHA...."


Gui Yaru tertawa senang. Tertawa di atas penderitaan orang lain. Itulah dasar dari seorang perompak.


"Kalian melihatnya! Para penduduk setempat!"


Para warga menjadi ketakutan.


"Tidak ada yang melindungi kalian lagi! TIDAK ADA BWAHAHAHA....!!"


"Yu Sha" ucap Wei dengan nada tak percaya.


Wei menatap tak percaya tubuh Yu Sha yang tergeletak di hadapan putrinya sendiri.


"MARI KITA MENGUMPULKAN BUDAK..!"


Mendengar ucapan lantang dari Gui Yaru. Para anak buah mulai mendatangi warga yang masih terpaku menatap kepergian Yu Sha dan Yu Xia yang mati di hadapan kedua anaknya.


Gui Yaru mendatangi Yu Bai dan Yu Nie yang terdiam.


"Kalian, apa sekarang kalian merasa bersalah? Atau menyalahkan diri sendiri?"


Gui Yaru berjongkok di hadapan mayat Yu Sha dan Yu Xia dengan senyuman miring.


"Aku yakin yang ada di pikiran kalian sekarang adalah 'ahh...seandainya aku tidak tertangkap, kedua orangtuaku masihlah hidup hingga sekarang.' benar begitu, tuan muda dan nona muda?"


Gui Yaru tersenyum semakin lebar ketika Yu Bai mengangkat wajahnya dan memperlihatkan mata yang berkilat penuh dengan perasaan  dendam dan amarah.


"Kau...." ucap Yu Bai dengan geram.


Gui Yaru semakin tersenyum lebar. "Kau memiliki mata yang bagus, akan kubiarkan kau hidup..."


Gui Yaru mendekati Yu Bai dan membisikkan kata-kata yang membuat Yu Bai bersumpah akan membunuh Gui Yaru suatu hari nanti.


"....dalam penderitaan yang membuatmu menginginkan kematian" lanjut Gui Yaru.


"Br*ngsek!"


Gui Yaru langsung menjauh ketika Yu Bai hendak melayangkan satu tinjuan ke arah wajah Gui Yaru.


"Kau..." Gui Yaru menatap tajam Yu Bai. "Ikat mereka, dan jual anak lelaki ini menjadi budak rendahan" perintah Gui Yaru pada anak buahnya.


"Baik!"


"A-apa! Lepaskan!"


Yu Bai memberontak ketika akan diikat kedua pergelangan tangannya. Tanpa memperdulikan teriakan atau sumpah serapah dari seorang bocah, Gui Yaru menghampiri Yu Nie yang masih menatap kosong tubuh kaku dari sang Ayah.


Gui Yaru berjongkok di hadapan Yu Nie. "Kau, gadis kecil" Gui Yaru mengangkat wajah Yu Nie menggunakan tangannya. "Wajahmu bagus juga, kau memang putrinya."


"Sialan! Lepaskan tangan kotormu dari adikku!"


"Diam!"


BUAKHH...


"Uhukk...uhukk...!"


Anak buah Gui Yaru dengan tidak berperasaan menendang perut Yu Bai. Tentu saja Yu Bai merasa sakit. Belum lagi luka di bahu kirinya yang belum diobati sama sekali.


"Kak Bai? KAK BAI!"


"Hei, mau kemana gadis kecil?"


Gui Yaru memegang pergelangan tangan Yu Nie dengan kuat.


Yu Nie tersentak kaget. "Lepas! Lepaskan! Yu Nie ingin menolong kak Bai!"


Mendengar ucapan polos dari Yu Nie tidaklah membuat Gui Yaru melepaskan genggaman-nya.


"Gadis kecil, tempatmu bukanlah bersamanya."


"A-apa maksudmu?" Tanya Yu Bai dengan perasaan takut.


Gui Yaru semakin tersenyum lebar ketika melihat raut wajah ketakutan dari Yu Nie.


"Tempatmu berada adalah...


...Rumah Bordil, gadis kecil."


Yu Bai terdiam untuk sesaat, tapi setelah itu Yu Bai merasa ada aliran suatu kekuatan di setiap aliran darahnya.


"KAU... BA*INGAN! BR*NGSEK! AKAN KUBUNUH DIRIMU, DASAR BA-"


BUKKHH..


"Uhuuk...uhukk... Si-sialan."


Lagi, anak buah Gui Yaru kembali menendang perut Yu Bai dengan keras. Yu Nie yang melihatnya mulai menangis ketakutan. Selama ini Yu Nie tidak pernah melihat kakaknya-- Yu Bai semarah itu.


Memangnya apa yang di katakan oleh paman ini? Itulah yang ada di pikiran Yu Nie yang masihlah polos.


Yu Nie masihlah belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini.


Dia masih polos, dan Yu Bai mengetahui hal itu.


Dia tak ingin adiknya berada di tempat yang membuat adiknya menjual dirinya secara terpaksa.


"Bawa anak lelaki itu pergi. Aku akan membawa gadis kecil ini" perintah Gui Yaru.


"Tidak, tidak, tidak! Kak Bai! Kak Bai tolong aku!"


"Yu Nie!"


Gui Yaru menarik paksa Yu Nie yang memberontak dengan terus menangis.


"Yu Nie!" panggil Yu Bai.


Yu Bai ingin berlari menghampiri adiknya, tapi ketika ia mencoba untuk bangkit. Anak buah Gui Yaru menahan pergerakannya dengan menekan kepala Yu Bai di atas tanah.


Belum lagi tangan dan tubuhnya terikat dengan kuat.


"Yu Nie! Sialan! Lepaskan aku br*ngsek!"


"Kau banyak bicara, bocah" ucap anak buah Gui Yaru yang menahan pergerakannya.


"Kuh...!"


Yu Bai menarik napas dalam-dalam, dan kemudian dia berteriak dengan lantang.


"YU NIE! KITA PASTI AKAN BERTEMU LAGI! KUMOHON HINGGA SAAT ITU TIBA TUNGGULAH AKU! BERTAHANLAH HINGGA AKU DATANG! WALAU BUTUH PULUHAN HINGGA RIBUAN TAHUN! AKU AKAN MENCARIMU! KAU DENGAR!"


Yu Nie yang mendengarnya hanya mengangguk kecil. Dia tidak bisa menjawab karena matanya terus mengeluarkan air mata, dan dia merasa sangat takut ketika dia masihlah berada di genggaman orang asing.


Untuk sesaat, hanya untuk sesaat saja Yu Bai bisa merasa lega. Setidaknya dia sudah mengatakan janjinya pada Yu Nie.


Dan tinggal satu lagi yang belum ia sampaikan.


Dengan tatapan penuh dendam dan amarah, dan tanpa Yu Bai sadari. Dia menguarkan aura membunuh walau tipis.


Hal itu tak luput dari penglihatan Gui Yaru beserta anak buah yang menahan pergerakan Yu Bai.


"KAU! PEMBAWA BENCANA DI DESA INI MAUPUN KELUARGAKU!...


....AKU BERSUMPAH DI HADAPAN MAYAT KEDUA ORANG TUAKU! AKU AKAN MEMBUNUHMU SUATU HARI NANTI! DAN JIKA AKU MELANGGAR SUMPAHKU, AKU RELA TERSAMBAR PETIR HINGGA SERATUS KALI!!"


Yu Bai mengambil napas dalam-dalam ketika selesai meneriakkan sumpahnya di hadapan orang-orang yang membuat keluarganya menjadi seperti ini.


Dia bersumpah. Akan membunuh Gui Yaru dengan tangannya sendiri.


Gui Yaru yang mendengarnya bukannya takut malah tersenyum lebar dengan tatapan yang seperti menemukan mangsa baru.


"Bocah, kau boleh juga kekeke~"


"Anak ini!" ucap anak buah Gui Yaru dengan geram.


"Mo Shu, buat bocah itu diam. Aku jadi tak tahan ingin membunuhnya sekarang juga" ucap Gui Yaru dengan senyuman keji di bibirnya.


"Baik, tuan" setelah mengatakan hal itu. Mo Shu memukuk tengkuk Yu Bai dengan keras.


Yu Bai yang merasakan pukulan di tengkuknya tersentak kaget, dan dia merasa penglihatannya mulai buram.


'Sial, aku....minta...maaf...'


BRUUKK...


Yu Bai terjatuh dengan kepalanya yang menghantam tanah dengan keras.


Mo Shu berdiri dari tempatnya ia duduk yang sebelumnya menahan pergerakan Yu Bai dengan kuat.


Mo Shu memandang kedua tangannya yang terasa panas.


"Apa itu tadi? Rasanya kedua telapak tanganku terasa sangat panas" gumam Mo Shu pelan.


Mo Shu memandang lama Yu Bai yang tidak sadarkan diri.


'Apa ini karena mu?'


Pada akhirnya Mo Shu menganggap masa bodoh. Dia memanggul Yu Bai seperti karung beras di bahunya. Kemudian berjalan menjauhi mayat kedua orang tua Yu Bai dan Yu Nie dengan perasaan aneh.


Hari itu. Hari dimana Yu Bai kehilangan keluarga yang mencintainya dan memberikan kasih sayang pada dirinya.


Tapi ada pepatah yang mengatakan.


'Mata di balas mata


Uang di balas uang


Nyawa di balas nyawa.'


Dendam dan amarah hanya bisa dihilangkan hanya dengan membunuh sumber dendam.


Tapi jika terlalu lama, kau akan tenggelam dalam lubang hitam tak berdasar.


Dan pada akhirnya, kau tak akan pernah bisa kembali lagi menjadi dirimu yang dulu.


Dirimu yang penuh dengan cahaya.


Arc 1: Awal Tragedi [END]


Author Note:


HOLA... KEMBALI LAGI DENGAN RAIYU DISINI.


Gimana dengan ceritanya? Membosankan? Atau apa?


Terus, menurut kalian bagus The Another Soul atau The Story of White Dragon?


Buat yang belum tau, saya ada satu novel lagi yang berjudul 'The Another Soul'.


'The Another Soul' ini merupakan karya pertama saya. Jadi ada beberapa yang aneh dan belum diperbaiki di cerita itu.


Nantilah author revisi.


Tapi nanti kalau author niat


MHUEHEHEEH...


Yahh... Begitulah author Note dari saya.


Sekian, dan terima kasih


Salam manis


Raiyu