The Story of White Dragon

The Story of White Dragon
Ch. 2 [Tragedi I]



"Paman Wei sepertinya hari ini tangkapan ikan di laut tidak terlalu banyak."


Seorang pria paruh baya yang sedang menghisap cerutunya menatap seorang pria besar yang sedikit berotot. Namanya adalah Yu Sha, ayah dari Yu Bai.


Sedangkan orang yang sedang menghisap cerutu adalah Wei. Tidak memiliki nama depan, hanya Wei saja.


"Kamu benar, bahkan burung camar yang biasanya lewat tidak ada satupun hari ini."


Wei memandang langit. Memang benar, biasanya ada beberap burung camar yang sedang mencari makan, tapi saat ini tidak terlihat satupun burung camar.


"Apa ini pertanda buruk?"


Salah satu pekerja di kapal itu berkomentar. Wei yang mendengarnya menatap tajam pria itu.


"Jaga mulutmu ketika berbicara."


Pria itu langsung menutup mulutnya. Dia langsung membungkuk meminta maaf, kemudian pergi menghindari tatapan tajam Wei.


Yu Sha menatap pekerja itu, kemudian dia menatap Wei dengan tatapan bertanya.


"Ada apa dengan anda, paman Wei?"


Wei menghisap cerutunya, kemudian dia mengeluarkan asap putih dari mulutnya. "Hari ini aku merasakan firasat buruk."


"Saya juga."


Wei menatap heran Yu Sha. "Kau juga?"


Yu Sha mengangguk. "Entah kenapa, tapi firasat saya juga buruk."


Wei mengangguk. Kemudian dia membuang isi di dalam cerutu itu, setelah itu menaruhnya di dalam jubahnya. "Jika kau berkata seperti itu, berarti aku tak perlu ragu lagi."


"Paman Wei, kita akan pulang?"


Wei menghela napas berat. "Sebenarnya aku tak ingin pulang secepat ini karena tangkapan yang kita dapatkan hari ini sangatlah sedikit" Wei melirik ikan yang mereka dapatkan. "Tapi kita berdua mendapatkan firasat buruk. Lebih baik mundur daripada celaka."


Yu Sha mengangguk setuju.


"Angkat jangkarnya! Kita pulang saat ini juga!"


Para pekerja di kapal itu menjadi bingung. Biasanya mereka akan berlayar mencari ikan hingga senja, tapi saat ini masihlah siang.


"Cepat lakukan! Apa kalian ingin di potong gaji!"


Para pekerja langsung bergerak cepat ketika mendengar potongan gaji. Wei mendengus, memang ancaman seperti ini selalu ampuh.


"Paman Wei, lihat ini" Yu Sha memberikan teropong pada Wei.


Wei langsung menerimanya, kemudian dia memperhatikan apa yang di lihat oleh Yu Sha.


Tangannya bergetar, dia juga berkeringat dingin. Wei menurunkan teropongnya, Wei menatap Yu Sha serius.


"Firasat kita benar-benar terjadi."


Yu Sha melebarkan matanya. Tapi dia menjadi sedikit tenang karena jarak kapal itu dengan kapalnya sangatlah jauh. Dia berpikir masih ada waktu untuk pergi secepat mungkin.


Tapi pemikiran itu langsung hilang.


SYUTT..TAK..


Wei dan Yu Sha terdiam. Para pekerja yang sebelumnya sibuk menjadi waspada.


"Yu Sha."


Wei memanggil pelan. Wei menatap kapal yang sangatlah jauh dari kapalnya, tapi dia tahu siapa yang mengirimkan anak panah ke arah geladak kapalnya.


Wei meneguk ludahnya dengan susah payah. Begitupula dengan Yu Sha yang saat ini berkeringat dingin.


"Musuh! ADA MUSUH!"


Kepanikan menyebar di antara para pekerja. Kapal yang sebelumnya sangatlah jauh tiba-tiba saja menjadi dekat sedikit demi sedikit. Hal ini membuat para pekerja menjadi lebih panik.


"Saudara-saudaraku tenang!"


Yu Sha berteriak. Teriakan Yu Sha mampu membuat para pekerja menjadi tenang.


Wei pun akhirnya angkat bicara. "Percepat persiapan pulang! Jangan panik! Kita akan pergi secepatnya dari wilayah mereka! Jika ada yang lambat di saat seperti ini, aku akan memecatnya!"


"""Baik!"""


Dengan cepat para pekerja itu melakukan tugasnya. Yu Sha ikut membantu para pekerja. Ketika Yu Sha nelihat ke arah kapal itu lagi, jantungnya hampir berhenti.


"Ba-bagaimana kapal itu bisa sampai secepat ini!"


Para pekerja yang sebelumnya melakukan pekerjaan menengok ke arah yang sama. Di atas kapal itu ada seorang pria besar dan berotot. Wajahnya penuh luka, dan tidak dilupakan senyuman keji di bibirnya.


Orang itu memberikan perintah. Seketika kapal yang dia naiki semakin cepat menghampiri kapal Wei dan Yu Sha.


"Paman Wei, mereka akan menabrak kapal kita!"


Yu Sha panik. Wei yang mendengarnya dengan cepat mengambil alih kemudi kapal. Wei kemudian memerintahkan untuk mempercepat kapalnya dengan memperbesar layar. Dalam sekejap, kapal Wei dan Yu Sha menjadi cepat. Untuk sesaat mereka menjauh sedikit dari kapal.


Tapi sesuatu yang tidak terduga muncul. Sebuah jangkar yang diikatkan pada tali mengenai geladak kapal. Bukan hanya satu, tapi lima jangkar.


Kapal Wei hanyalah kapal nelayan biasa, jadi jangkar berat itu membuat kapalnya mengalami kebocoran dan tinggal tunggu waktu saja bagi mereka untuk tenggelam.


"Paman Wei!"


"Yu Sha, tenang dan jangan panik. Aku akan mencoba untuk berbicara dengannya."


Wei terlihat tenang. Berbanding terbalik dengan Yu Sha dan pekerja yang lain. Mereka semua memiliki keluarga yang sedang menunggu di rumah, jika terjadi sesuatu pada mereka, apa yang terjadi pada keluarga yang menunggu?


Yu Sha juga terpikirkan akan hal itu. Dia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Belum lagi anak lelakinya adalah orang pesakitan membuat Yu Sha khawatir anaknya itu menjadi sakit parah jika tidak ada dirinya.


Tidak perlu menunggu waktu lama, kapal Wei menabrak salah satu sisi kapal besar itu. Mereka yang berada di kapal Wei menjadi terguncang karena bentrokkan antara kedua kapal.


Pria besar itu langsung melompat ke arah kapal Wei. Ketika pria itu sampai di geladak kapal membuat kapal Wei terguncang lagi.


Pria besar itu membawa kapak di punggungnya, wajahnya penuh dengan luka, senyuman keji tidak pernah lepas dari wajahnya.


"Siapa yang memperbolehkan kalian berlayar di lautku?"


Suaranya penuh dengan ancaman. Para pekerja menjadi takut, sedangkan Wei dan Yu Sha berusaha untuk tetap tenang walau saat ini mereka berdua berkeringat dingin.


"Hmm...apa kau pemilik kapal ini?"


Orang itu mendekat kearah Wei. Memang penampilan Wei sangat berbeda dengan penampilan Yu Sha dan pekerja lainnya.


Orang itu tiba-tiba saja mengambil kapak yang ada di punggungnya, melihat hal ini Yu Sha langsung bergerak cepat.


"Hentikan apa yang akan anda lakukan!"


Orang itu mengangkat alisnya. Heran dengan Yu Sha yang saat ini menghalangi dirinya dan Wei.


"Tuan, bisakah kita bicara baik-baik."


Wei angkat bicara. Dia berpikir untuk bernegoisasi. Jika orang ini hanya menginginkan uangnya, dia akan memberikan semua, karena baginya uang tidaklah penting di saat nyawa terancam seperti ini.


Orang itu tertawa mendengarnya. "Tuan, anda benar-benar tahu apa yang saat ini aku butuhkan, tapi aku kurang tertarik."


Yu Sha dan Wei menjadi bingung mendengarnya. Jika bukan uang yang dia inginkan, jadi dia ingin apa?


"Dimana tempat kalian tinggal?"


Wei dan Yu Sha saling pandang. Pada akhirnya Yu Sha mengambil inisiatif untuk bertanya lebih dahulu.


"Tuan, kenapa tuan bertanya hal itu?"


Terlihat wajah orang itu marah. "Apa kau tidak bisa menjawab saja!"


Wei dan para pekerja terkejut dengan bentakan orang asing itu. Yu Sha masih terlihat tenang, dia berusaha mencari maksud orang asing yang berada di hadapannya ini. Dia yakin kalau orang yang berada di hadapannya ini bukanlah orang baik, tapi orang jahat.


"Kalian para manusia biasa memang sulit untyk diajak bicara!"


BRAKK...


Para pekerja menjadi terkejut. Beberapa bahkan sampai jatuh berlutut karena kaki mereka yang tidak pernah berhenti bergetar.


"Mo-monster!"


Orang asing itu baru saja melempar kapak yang ia pegang. Kapak yang ia lempar mengenai salah satu pekerja. Dan pekerja itu mati seketika dikarenakan kapak yang menancap di tubuhnya.


Yu Sha dan Wei yang melihatnya menjadi marah.


"Tuan, bukankah perbuatan anda tidak pantas."


Wei masih berusaha menjaga kesopanannya. Yu Sha mengepal tangannya, rasanya dia ingin menghajar lelaki besar dengan senyuman keji itu.


"Hmm? Apa kau berhak memutuskan pantas dan tidak pantas tentang apa yang akan ku lakukan, manusia?"


"Tuan, apa anda tidak memiliki hati nurani?"


Orang itu tertawa mendengarnya. "Hahahaha! Hati nurani! BWAHAHAHA...."


Setelah orang itu puas tertawa, orang itu semakin melebarkan senyuman keji.


"Aku ingin lihat, apa kalian juga memiliki hati nurani?"