
Di hari kelima dimana Yu Bai telah sadar. Yu Bai masihlah berada di atas tikar kayu. Luka-nya masih lah belum membaik.
Sekarang dirinya hanyalah sendiri di gubuk tua yang tak terawat ini.
Mata coklat tua nya melihat-lihat keadaan gubuk yang terlihat tak terawat. Debu bertebaran dimana-mana, sarang laba-laba hampir menutupi setiap pojokan gubuk.
Yu Bai merasa yang tinggal di gubuk tua ini bukanlah seorang perempuan, tapi seorang pria yang memiliki sifat pemalas.
Yu Bai bangun dari posisi berbaringnya. Sejenak ia merasa nyeri di punggung. Terdengar suara ringisan di bibirnya.
Dia harus bangun. Jangan hanya tiduran saja di dalam gubuk tua ini.
Yu Bai berdiri dan berjalan menuju pintu kayu yang berlumut. Sedikit terseok-seok, tapi hal itu merupakan kemajuan yang cukup signifikan.
Yu Bai mendorong pelan pintu itu kemudian suara derit pintu terdengar.
Angin lembut membias wajah Yu Bai yang cukup terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
Ini memang pertama kalinya Yu Bai keluar dari gubuk tua ini.
Yu Bai terlihat terpesona dan sedikit bingung.
Dimana dirinya berada sekarang?
Pepohonan yang lebat serta batang pohon yang besar. Belum lagi berbagai macam bunga tumbuh sehat di halaman yang penuh dengan rumput hijau yang terlihat segar karena embun pagi.
Cahaya matahari menembus lewat dedaunan yang menutupi pemandangan langit biru.
Terlihat damai dan tenang.
"Kau sudah bisa berdiri?"
Yu Bai menoleh. Ia mendapati seorang wanita yang cukup akrab.
"Non-"
"Panggil aku Qing saja" potongnya cepat.
Yu Bai mengangguk kaku.
Jujur saja. Walau sudah bertemu dengan Qing berkali-kali, dirinya tetap merasa waspada atau asing dengan Qing.
"Kemari."
Yu Bai berjalan pelan ke arah Qing yang terlihat sedang menyirami bunga.
"Kau, siram bunga ini dan yang disana" tunjuk Qing pada bunga bewarna merah yang berada di tempat paling jauh dari bunga lainnya.
Yu Bai mengangguk.
Qing menyerahkan sebuah tempat yang berisi air pada Yu Bai. Setelah itu dirinya berbalik pergi dan melangkah ke dalam hutan.
"Ahh..." Qing berbalik dan tersenyum tipis. "Jangan sentuh apapun. Mengerti?"
Lagi, Yu Bai hanya mengangguk saja. Setelah mengatakan hal itu, Qing kembali berjalan ke dalam hutan.
Yu Bai memandangi bunga-bunga yang ada di halaman rumah.
Yu Bai menghela nafas pelan. Yahh... Itung-itung sedikit olahraga dari sekian lamanya ia berbaring di atas tikar kayu. Pikir Yu Bai.
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan?"
Seorang wanita berambut hitam panjang terlihat tengah mendatangi seorang pria yang menggunakan jubah putih lusuh.
Mereka adalah Qing dan Long Jinzhi.
Terlihat Jinzhi yang tengah berbaring dengan pohon yang menjadi senderan-nya di pinggir sungai yang terlihat jernih. Di sampingnya terdapat sebuah pedang yang tergeletak bersama dengan tempat minum yang terbuat dari bambu.
Jinzhi membuka matanya yang sebelumnya tertutup. Netra kuning emas itu menatap tajam Qing yang ikut duduk di sebelah Jinzhi.
"Kau meninggalkan Yu Bai?"
Qing tertawa, "Hahaha... Kau sudah mulai memanggilnya dengan nama."
Jinzhi mendengus. "Jadi aku harus memanggilnya apa? Bocah? Nak? Itu terlalu berbelit-belit."
Qing mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat terkejut dengan Jinzhi. "Apa ini? Kau mulai banyak bicara ya."
Raut wajah jengkel muncul di wajah Jinzhi. Dia ingin membalas, tapi tak jadi. Dirinya sangatlah mengenal Qing yang sangat suka membalikkan kata-kata.
Diam itu emas. Itulah yang diterapkan oleh Jinzhi sekarang.
Tidak ada percakapan. Mereka berdua terlihat menikmati keheningan yang ada.
Suara aliran sungai yang mengalir menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan diantara mereka berdua.
"Jin, kau yakin?"
Jinzhi melirik Qing sejenak. "Kau meragukanku?"
Qing menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya...."
"Hanya?"
Terlihat raut wajah sedih di wajah pucat Qing.
Jinzhi yang menyadarinya hanya menghela nafas kasar. Tangan kanannya kemudian menepuk pelan kepala Qing. Setelahnya ia mengelus dengan lembut.
"Jangan menunjukkan wajah itu Qing. Aku tak suka."
Qing mengangguk kaku. Di dalam hatinya, ia sangatlah senang mendapatkan sebuah elusan dari Jinzhi yang terkenal memiliki sifat cuek.
Jinzhi mengambil pedang-nya dan mengikatkannya di bahu kiri dan bambu itu ia taruh di ikatan yang ada di pinggangnya. Kemudian ia mengambil tas kulit yang ia taruh di bahu kanan-nya.
Jinzhi menarik jubah putih lusuh itu sampai rambut putihnya tidak terlihat.
"Apa tidak terlalu cepat?"
Jinzhi berbalik. Ia berdiri menghadap Qing yang juga berdiri dan menatap dirinya. Mata hitam milik Qing terlihat tidak senang ketika melihat Jinzhi akan pergi. Lagi.
"Aku akan kembali lagi."
"Kapan?"
Terlihat wajah Jinzhi sedang mengira-ngira. "Hmm... Satu atau dua bulan?"
"Kau akan pergi kemana?"
"Kau sedang mengintrogasiku, yah?" Tanya Jinzhi dengan jengkel.
"Sudahlah. Jawab saja pertanyaanku" jawab Qing tak kalah jengkel.
"Ke selatan."
"Selatan?"
Jinzhi mengangguk. "Sudah? Aku titip Yu Bai padamu."
"Ya" balas Qing dengan pelan.
Jinzhi tersenyum tipis. Setelah itu ia berbalik dan mulai berjalan menjauhi Qing yang menatap punggung Jinzhi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bahkan setelah bayangan dari Jinzhi tidak terlihat lagi. Qing masihlah berdiri di sana.
Pada akhirnya Qing menghela nafas kasar.
Dirinya tidak dapat merubah pikiran Jinzhi lagi. Jinzhi sudah menetapkan tujuan selanjutnya.
Qing antara senang dan sedih ketika Jinzhi sudah menetapkan pilihannya.
Akhirnya Qing pun berjalan menjauhi tempat dimana dirinya dan Jinzhi berbincang.
Di tengah perjalanannya untuk kembali ke gubuk tua yang tak terawat itu. Qing terlihat melamun dan tidak menyadari sebuah ular yang tterlihat menghampiri dirinya.
Ular itu memiliki panjang enam meter dan warna kulitnya adalah ungu gelap dan sedikit kehijau-hijauan di kulit bagian perut.
Ular itu meliuk-liuk dengan cepat ke arah Qing yang masih melamun.
Terlihat ular itu bersiap-siap untuk menggigit kaki Qing yang tidak terlindungi apapun.
Tepat sebelum ular itu menggigit kaki Qing. Sebuah jarum tipis serta bewarna keperakan menusuk kepalah ular itu dengan cepat.
Ular itu terlihat menggeliat kesakitan dan mendesis sebelum ular itu mendapatkan kematian.
Pelakunya adalah Qing yang menatap dingin ular yang telah mati itu.
"Snake purple Venom, kah?" Gumam Qing pelan.
Qing membungkuk dan mengambil jarum perak yang ia lemparkan ke arah ular itu.
Sesaat dirinya terdiam ketika melihat enam garis kehijauan di kulit ular.
"Ini...." Qing memfokuskan pandangannya. Setelah itu ia berteriak kencang. "6000 Tahun!"
Terlihat raut wajah senang dan bahagia di wajah Qing.
"Aku mendapatkan Snake purple Venom dengan usia 6000 tahun!"
Qing terlihat menampar dirinya sendiri. "Ini bukan mimpi!"
Qing terlihat girang di tengah hutan itu. Sesekali ia tertawa keras dan terkikik tak jelas.
"Aku akan kaya" gumamnya selama diperjalanan.
"Berapa harga Snake purple Venom? 500 Fuan? 1.000 Fuan? Atau 1 juta Fuan?!"
Qing kembali tertawa tak jelas.
Tak lama kemudian ia sampai di halaman rumahnya.
Masih terlihat bahagia, Qing berjalan dengan santai dan sesekali bersenandung senang.
Tapi suara senandung itu berhenti ketika dirinya melihat Yu Bai yang terlihat ingin menyentuh bunga bewarna merah gelap itu.
Nafas Qing tercekat.
"Yu Bai!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||