
"Uhukk...uhukk..."
'Uhh...disini dingin.'
Yu Bai memeluk dirinya sendiri dengan erat. Dia menggigil kedinginan di dalam sel kotor yang penuh dengan jerami kasar.
Yu Bai kemudian mengingat rumahnya. Rumah yang walaupun kecil tapi terasa hangat.
Yu Bai menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan pernah bisa merasakan hal itu lagi. Tak akan pernah, pikirnya.
"Uhuukk...uhuukk..."
Yu Bai mulai terbatuk-batuk lagi. Ini sudah keempat kalinya ia terbatuk di tengah malam yang sangat dingin ini.
"Bocah! Apa kau tidak bisa diam!"
Sudah pasti ada yang merasa terganggu dengan suara batuk Yu Bai.
Yu Bai agak terkejut mendengar nada bentakan dari penghuni sel lain.
"Ma-maaf."
"Huh... Dasar bocah tak berguna."
Yu Bai menghela nafas pelan ketika ia melihat orang itu kembali tidur.
Dia ingin tidur, tapi dia tak bisa memejamkan matanya dikarenakan udara dingin dan udara yang penuh dengan debu.
Pada akhirnya Yu Bai hanya bersender pada dinding kayu usang yang dipenuhi dengan lumut dan jamur.
Lewat sela-sela dinding, ia melihat bulan purnama yang bersinar keperakan. Mata Yu Bai seketika melebar melihat keindahan malam hari.
'Ayah, Ibu, maaf.'
Yu Bai menutup kedua matanya. Berusaha untuk mencoba tertidur. Dan akhirnya berhasil. Yu Bai tertidur dengan sinar bulan yang menerangi nya.
Tapi Yu Bai tidak menyadari. Ada seseorang yang terus memperhatikannya dari jauh. Mata kuning emasnya menatap Yu Bai dengan tenang, sampai akhirnya seseorang itu juga ikut menutup matanya.
.
.
.
.
.
TAK.... TAK....
"Bangun! Bangun kalian semua!"
Yu Bai membuka matanya. Terkejut dengan suara teriakan yang sangat dekat dengan sel nya. Yu Bai mengucek matanya dan menguap lebar setelahnya.
"Aku tertidur?" gumamnya.
PLUKK...
"Itu makananmu."
Yu Bai menengok ke arah roti kering yang menggelinding ke arahnya. Roti itu terlihat kotor dikarenakan menggelinding di atas jerami kotor.
Tapi Yu Bai tetap mengambilnya. Yu Bai membersihkannya terlebih dahulu sebelum memakan roti itu dengan lahap.
Setidaknya ia harus bersyukur tetap di beri makan. Jika tidak, ia pasti sudah mati hari ini.
Yu Bai menengok ke arah kiri dan kanan. Mulutnya terlihat penuh dengan kunyahan roti kering. Sebenarnya ia mencari air.
Tunggu, bagaimana cara meminta air disini?
"Ini."
Yu Bai menoleh kearah kiri nya. Dia melihat seorang pria yang menggunakan jubah putih lusuh dan wajahnya juga tidak terlihat. Tapi pria itu menyodorkan sebuah bambu yang isinya adalah air.
"Bukankah ini punya anda?"
"Kau mau atau tidak?" ucapnya dengan dingin.
"Bolehkah?"
Pria itu tidak menjawab, tapi menyodorkan bambu itu mendekati Yu Bai. Dengan senang hati Yu Bai menerimanya. Sebelumnya ia menimang-nimang terlebih dahulu, seberapa banyak air di dalam bambu itu. Setelah di kira-kira, Yu Bai meminum air itu hanya setengahnya saja.
"Hahh... Segarnya," ucap Yu Bai dengan senyuman.
"Ini paman, terima kasih."
Pria asing itu mengambil kembali bambu itu dan ikut meminumnya juga.
Yu Bai kembali menoleh ke arah pria asing itu.
"Anda..... Penghuni baru?"
Terlihat pria itu melirik Yu Bai sebentar sebelum kembali menghadap depan. "Tidak, aku sudah lama."
Yu Bai ber-oh ria serta mengangguk mengerti.
"Berapa umurmu?"
"Hm? Saya berumur 10 tahun."
Pria itu mengangguk. Setelah itu tidak ada lagi percakapan.
Yu Bai mencoba untuk bersandar dengan nyaman. Suara rantai yang saling bergesekan terdengar. Yu Bai menatap rantai yang mengikat kakinya.
"Tak nyaman?"
Tersentak, Yu Bai langsung menoleh pada pria asing itu. Kali ini dia menatap wajah Yu Bai.
'Kuning?' pikir Yu Bai.
"Jika tidak adanya kebebasan membuatku nyaman, berarti aku sudah tidak waras lagi di dunia ini" ucap Yu Bai dengan senyuman miring di bibir nya.
Pria itu tersenyum tipis di balik tudung jubahnya. "Ingin keluar?"
Yu Bai terkekeh, "Anda bercanda? Bahkan anda juga menjadi budak disini."
Pria asing itu terdiam. Seakan tersadar dengan ucapan-nya, Yu Bai dengan gesit menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"I-itu bu-bukan maksudku, paman hehehe....." ucap Yu Bai dengan ringisan diakhirnya.
"Kau benar."
"Eh?"
"Kau benar bocah. Aku sekarang hanyalah budak. Terima kasih telah mengingatkan ku."
"Umm... Sama-sama?" balas Yu Bai dengan sedikit ragu.
Yu Bai sedikit aneh atau bingung dengan sifat 'teman' sesama budaknya ini.
Tapi yasudahlah, setidaknya Yu Bai memiliki 'teman' di sini. Itulah yang dipirkan oleh Yu Bai.
.
.
.
.
.
Yu Bai kembali batuk pada tengah malam. Dia kembali terbangun dengan perasaan sesak nafas dan juga tubuhnya terasa panas dingin.
"Dingin" gumamnya.
Yu Bai memeluk dirinya sendiri. Mencoba merasakan panas tubuh sendiri dan menjaga kehangatan di tengah udara dingin ini.
"Kau kedinginan?"
Tersentak kaget, Yu Bai membuka matanya yang sebelumnya terpejam. Dia menengok ke arah pria asing yang masih setia berada di tempat yang sama.
"Maaf, sepertinya saya menganggu anda."
Pria asing itu melirik Yu Bai. "Apa kau memiliki penyakit?"
Mendengar pertanyaan dari pria asing. Yu Bai bangun dari posisi berbaringnya. Dia bersender pada dinding kayu dan menekuk kedua kakinya. Kemudian kepalanya ia tumpukan pada lutut.
"Ya. Aku memiliki penyakit."
Hening.
"Seberapa parah?"
Yu Bai terdiam. Seberapa parah? Ia pun juga tidak tahu. Seberapa parah penyakit yang ia derita.
Yang ia tahu, selama ia sakit. Kedua orangtua-nya akan berusaha untuk mencari obat. Kedua orangtua nya pun tidak pernah menceritakan seberapa parah penyakit yang ia derita.
Pada akhirnya Yu Bai mengangkat bahunya ke atas. Tanda ia tidak tahu. "Aku tidak tahu."
Terdengar suara jerami yang bergesekan. Yu Bai menoleh dan menatap pria asing yang duduk bersila menghadap sel miliknya.
"Mendekatlah."
Sebenarnya Yu Bai sedikit ragu untuk mendekat. Tapi Yu Bai mencoba memberanikan diri.
Sekarang Yu Bai sudah berhadapan dengan pria asing. Pria asing itu mengeluarkan tangannya dari balik jubah lusuhnya.
"Tanganmu."
"Eh?"
"Letakkan tanganmu di telapak tanganku."
"O-oh, baiklah."
Dengan cepat, Yu Bai menaruh tangan kanan-nya di telapak tangan pria asing itu.
Yu Bai sedikit terkejut dengan betapa halusnya telapak tangan pria asing itu. Di dalam pikiran Yu Bai, ia menjadi ragu bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah seorang budak.
Budak mana yang tangannya sehalus dan seputih ini? Yang ada seharusnya tangan yang kotor, hitam, dan banyak luka.
Selagi Yu Bai sedang bergulat dengan pikirannya. Pria asing itu diam-diam memeriksa Yu Bai dengan energi roh. Pria asing itu mengalirkannya dengan pelan agar Yu Bai tidak merasakannya.
"Uhukk.... Uhuukkk...!"
Pria asing itu tersentak kaget. Ia menatap Yu Bai yang jatuh membungkuk dengan tangan kirinya yang menutup mulutnya. Batuk-batuk Yu Bai juga tidak berhenti setelah lima menit lewat. Dan yang lebih parah lagi, batuk itu juga disertai dengan darah.
Pria asing itu membeku.
"Kau... Memilikinya" gumam pria asing itu.
Yu Bai tidak menjawab. Ia tetap terbatuk dengan keras. Bahkan dia sudah mendapat beberapa protesan dari penghuni sel lain.
Merasa kasihan, pria asing itu menarik tubuh Yu Bai mendekati dirinya. Dalam sekali pukulan, ia memukul tengkuk Yu Bai dengan keras.
Seketika Yu Bai jatuh tidak sadarkan diri.
Pelan-pelan pria asing itu menaruh Yu Bai di atas jerami.
Setelahnya pria asing itu menatap wajah Yu Bai yang sesekali mengerut di karenakan kedinginan.
"Maaf, aku tidak mengetahui kau memiliki tubuh seperti ini."
Pria asing itu meminta maaf dari lubuk hatinya. Dia sangat menyesal. Jika sebelumnya ia langsung menyalurkan energi roh yang begitu banyak, sudah dipastikan Yu Bai hanyalah tinggal nama.
Pria asing itu menyentuh kening Yu Bai dengan jari telunjuknya.
"Ini akan sedikit membantumu."
Dari ujung jari telunjuknya, ada sinar perak yang redup. Cahaya itu melingkupi tubuh Yu Bai sebentar yang kemudian cahaya itu menghilang.
Setelahnya, Yu Bai menjadi lebih tenang. Wajahnya terlihat damai dan nafasnya kembali teratur.
"Bocah, kau menarik perhatianku."
Pada akhirnya pria asing itu tetap duduk bersila di hadapan Yu Bai yang tertidur dengan damai. Terus menatap dalam keheningan malam dan cahaya bulan yang menyinari mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
Yoshh... Nih cerita Author kacangin melulu :v
Author kebanyakan nulis di cerita sebelah, jadinya melupakan novel yang satu.
Oh ya, jangan lupa.
Mampir ke novel Author yang satunya. Judulnya "The Another Soul"
Disana sudah ada 60 chapter lebih.
Okay.
Adios!
Salam manis
Raiyu.
1.280 kata
03 maret 2021