
SYUHH.. TAPP
"Hahh...hahh... A-aku ter-terlambat hahh...."
Sorang pria yang mengenakan jubah warna coklat dengan sulaman emas yang membentuk lambang harimau di belakangnya, tengah mengambil napas.
Pria itu melihat sekeliling dan dia mencium bau amis darah dan melihat beberapa rumah yang hangus terbakar.
'Aku telat.'
Pria itu berjalan melihat keadaan desa yang ia tahu bahwa desa ini adalah desa nelayan. Seharusnya di desa ini banyak penduduknya, tapi kenapa dia tidak melihat satupun sekarang?
Pria itu berhenti di tepi pantai. Dia menunduk hanya untuk mengambil serpihan kayu yang membentuk lukisan lima gunung yang saling menyatu.
"Perompak gunung selatan" gumam pria itu.
Seketika aura membunuh menguar begitu saja dari tubuhnya. Dalam sekejap, kayu yang ia pegang hancur menjadi serpihan debu yang kemudian di bawa angin laut.
Pria itu berdiri, melanjutkan mencari sisa-sisa kehidupan atau sebuah petunjuk bahwa 'dia' masih hidup di desa ini atau di manapun itu.
Ya, pria itu sungguh berharap bahwa 'dia' masih hidup.
Tapi pemandangan yang ia lihat membuat ia membeku seketika.
Dengan pelan ia berjalan ke arah dua mayat yang tergeletak begitu saja. Keadaan mayat itu sangatlah kotor.
Tapi pria itu tau siapa yang tergeletak itu.
"Yu Xia" gumam pria itu pelan.
Pria itu langsung jatuh terduduk di hadapan kedua mayat itu.
Pria itu mengenal mereka berdua. Sangat mengenalnya.
"Yu Xia, ini bohong kan?"
Pria itu melirik mayat satunya lagi dengan tatapan kosong.
"Yu Sha, kau....melanggar ucapanmu."
Pria itu berucap sambil menatap tajam mayat Yu Sha.
Pria itu merengkuh tubuh dingin Yu Xia dengan lembut. Dia memeluk Yu Xia dengan penuh rasa kasih sayang. Dia mengelus wajah pucat dan dingin Yu Xia, kemudian ia juga mencium pucuk kepala Yu Xia dengan sangat lembut dan penuh rasa sayang.
"Maaf, kakak telat menyelamatkanmu" gumam pria itu dengan suara yang sarat akan rasa sakit.
"Maaf, maafkan kakak Xia'er. Maafkan kakak, maaf."
Pria itu terus mengucapkan kata maaf. Dia terus mengucapkannya, walau si adik sudah tak bisa mendengarkan atau membalas ucapan sang kakak.
Pria itu menatap langit dengan tatapan kosong.
Akan tetapi tatapan kosong itu berubah menjadi tatapan tajam yang penuh dengan hasrat dan nafsu untuk membunuh sekelompok orang yang membuat adiknya harus mati dengan keadaan seperti ini.
"Aku bersumpah di hadapan mayat adikku, aku Tian Hu, akan membalas siapapun orang yang membuat adikku mati. Aku bersumpah."
Dua hari setelah perompak gunung selatang datang.
Ada dua orang yang bersumpah akan membunuh perompak gunung selatan.
Sang anak.
Dan sang kakak.
\=\=\=\=\=\=\=
Kretekk...kertekk..takk..
Suara roda kayu yang menderit menjadi teman seperjalanan dari sang anak yang dulu statusnya adalah 'manusia yang bebas' sekarang menjadi 'Manusia yang terkekang.'
Dia adalah Yu Bai. Seorang anak yang dalam semalam sudah kehilangan sesosok Ayah dan Ibu di hadapan matanya sendiri.
Dan semuanya adalah salahnya.
Di dalam kereta kayu yang kotor ini, ada beberapa orang yang sepertinya bernasib sama seperti dirinya.
Dia tidak tahu kenapa dia berada disini. Tapi satu hal yang ia tau pasti.
Dia resmi menjadi budak.
Itu semua dikarenakan ada tanda cap merah di lehernya. Tanda ini dibuat khusus hanya untuk para budak.
Miris.
Itulah yang dipikirkan oleh Yu Bai. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang sebelumnya memiliki keluarga bahagia.
Kriingg...krakk..
'Bahkan kebebasanku sudah diambil tanpa sepengetahuanku.'
Dia melirik pada kakinya yang terdapat rantai yang mengikan pada masing-masing pergelangan kakinya. Tangan-nya pun juga di rantai yang membuat ia tak bisa bergerak sebebasnya.
Yu Bai ingin menangis.
Tapi dia mengingat adiknya, Yu Nie yang entah apa yang tengah adiknya itu lakukan.
Apa adiknya baik-baik saja?
Itulah yang ia pikirkan selama ia di dalam kereta kayu.
Yu Bai selalu bergetar ketakutan ketika ia memikirkan keadaan adiknya yang kemungkinan besar akan di jual ke rumah bordil.
Yu Bai semakin sesak memikirkannya.
Yu Bai mencengkram keras kedua lengan atasnya.
Yu Bai menarik napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan dirinya dari segala kegundahan hati yang ada.
'Aku sudah berjanji.'
Ya, Yu Bai sudah berjanji pada adiknya. Berjanji bahwa suatu hari nanti Yu Bai akan menjemput Yu Nie dan akan hidup bersama sampai adiknya atau dia memiliki pasangan hidup masing-masing.
Pemikiran masa depan yang sangat indah.
Tapi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
\=\=\=\=\=\=\=
"Lepaskan! Lepaskan Yu Nie!"
PLAAKKK..
"Diam kau gadis kecil!"
Gadis itu-- Yu Nie terdiam membeku di dalam sel kotor yang hanya dia sendiri yang menempatinya.
Baru saja Yu Nie di tampar oleh penjaga yang kesal padanya dikarenakan terus meminta untuk di keluarkan dari kurungan tersebut.
Yu Nie meraba pipi kanan-nya yang terasa perih di karenakan tamparan yang sangat keras.
Itulah yang dipikirkan oleh pikiran anak kecil berumur 6 tahun.
Yu Nie masihlah polos.
Dia berpikir bahwa apa yang terjadi sekarang adalah neraka itu semua di karenakan Ibu, Ayah, dan kakaknya tidak pernah menampar dirinya.
Mereka selalu memanjakan Yu Nie. Selalu berbicara dengan nada lemah lembut, selalu memeluk dirinya dengan perasaan kasih sayang yang mampu membuat Yu Nie tersenyum lebar.
Sekarang, ia tidak bisa merasakan hal itu. Dia tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.
Matanya yang dulu bercahaya, sekarang menjadi mata yang menatap kosong apapun itu.
Wajahnya yang selalu menunjukkan ekspresi secerah matahari, sekarang hanya memasang wajah kelam dan murung.
Tidak ada lagi Yu Nie yang cerah.
Yang ada hanya Yu Nie yang kelam.
"-Begitulah aku mendapatkannya kak Xing. Apa kau akan menyukainya?"
"Akan kupertimbangkan setelah aku melihatnya."
Terdengar suara dua orang yang tengah berdiskusi. Yu Nie mengangkat wajahnya untuk melihat seseorang yang sekarang berada di hadapannya.
"-Hah? Aku yakin kau akan.... Hei, ada apa denganmu kak Xing?"
Seseorang yang di panggil Xing itu diam membeku.
Ia membeku melihat seorang gadis kecil yang memiliki rambut coklat tua yang terlihat kusam namun tak dapat dipungkiri lagi bahwa gadis di depannya ini dulunya memiliki rambut yang indah.
Mata coklat madunya yang jernih menatap kosong dirinya, dan kulit putih yang sedikit kotor.
Benar-benar....indah.
Itulah yang dipikirkan oleh Gui Xing. Ketua dan pemimpin utama dari perompak gunung selatan.
Gui Xing memiliki tubuh yang tegap dan tinggi juga berotot. Tubuhnya dibalut dengan pakaian bewarna merah gelap dan jubah hitam yang dibelakangnya di sulam benang perak membentuk lima gunung yang menyatu.
Rambut hitam panjangnya terikat membentuk ekor kuda, mata hijau zamrudnya menatap tajam siapapun itu.
Tapi untuk sekarang, tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan lembut.
Bahkan Gui Yaru, orang yang membawa Yu Nie ke markas utama perompak gunung selatan sempat teperangah dengan mulut terbuka lebar.
"Buka pintu-nya" ucap Gui Xing dengan dingin.
Cepat-cepat penjaga itu membuka pintu sel yang mengurung Yu Nie.
Gui Xing masuk ke dalam sel yang kotor itu. Ia berjongkok di hadapan Yu Nie yang masih menatap kosong dirinya.
'Indah dan.... Cantik' pikir Gui Xing.
Gui Xing mengelus pelan pipi Yu Nie yang sedikit memerah. Kemudian Gui Xing beralih pada sudut bibir Yu Nie yang berdarah.
Seketika aura membunuh menguar begitu saja.
Gui Yaru bahkan sempat merasa sesak napas dikarenakan aura membunuh dari Gui Xing.
"Siapa yang dengan beraninya menampar gadis ini?" tanya Gui Xing dengan dingin.
Penjaga yang melakukannya itu seketika tergagap.
"A-a.."
SYUTT...BRUKK...
Tubuh penjaga itu terjatuh begitu saja dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
Dan yang melakukannya bukanlah Gui Xing, tapi Gui Yaru yang melakukannya hanya dengan sabetan tangan kanan-nya.
"Kak Xing, aku sudah membereskannya" ucap Gui Yaru sambil membersihkan tangan kanan-nya dari darah.
Gui Xing tak membalasnya. Dia masihlah fokus pada wajah kelam Yu Nie. Gui Xing menghapus bekas darah dari bibir Yu Nie dengan lembut.
Seketika Yu Nie merasa tubuhnya bergetar hanya dengan sentuhan kecil.
"Siapa namamu?"
Seperti terhipnotis, Yu Nie menjawab pertanyaan Gui Xing "Yu Nie."
Gui Xing tersenyum lembut. Dengan lembut, Gui Xing menarik tubuh kecil Yu Nie ke dalam pelukan.
Tapi Yu Nie merasakan suatu perbedaan dari pelukan yang selama ini ia rasakan.
Di pelukan orang tua nya, Yu Nie merasa hangat dan aman.
Tapi untuk Gui Xing
Yu Nie merasa dingin dan penuh rasa ancaman.
"Mulai sekarang, kau akan terus bersamaku" ucap Gui Xing dengan lembut.
'Menakutkan.'
"Dan mulai sekarang juga namamu adalah..."
'Tolong Aku...'
"....Gui Yue. Mulai sekarang namamu adalah Gui Yue."
'Tolong aku kak Bai!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||