
Nafas Qing tercekat.
"Yu Bai!"
Qing berlari ke arah Yu Bai yang dimana tangan Yu Bai semakin mendekat ke arah bunga merah itu.
TAP...
"Apa yang kau lakukan!"
Yu Bai mengedipkan matanya dua kali. Setelahnya dirinya melihat ke arah bunga merah yang di matanya terlihat sangatlah indah.
"Umm..."
"Dasar bodoh! Bunga itu beracun! Bagaimana jika kau mati dan aku harus menjelaskannya pada Jinzhi nanti!"
Yu Bai menatap Qing dengan bingung. "Jangan tatap aku seperti itu! Ada apa denganmu yang ingin menyentuh Red poison flower!"
"I-itu" tiba-tiba saja Yu Bai menjadi gugup ketika mendengar Qing yang mengomelinya. "Tadi ada ulat, jadi aku ingin menyingkirkannya."
"Ulat?"
Yu Bai mengangguk. Ia menunjuk ulat yang bewarna biru neon dan sedang memakan daun dari red poison flower itu.
Lagi, nafas Qing tercekat. Sebuah senyuman lebar muncul di bibir ranumnya. "Aku sangatlah beruntung hari ini!"
Qing tertawa keras. Yu Bai yang sedari tadi memperhatikan Qing hanya mengerutkan dahinya dengan heran.
'Apa Qing sedang kurang sehat?' pikir Yu Bai.
Sebuah tepukan keras melayang di kepala Yu Bai. Tentu saja Yu Bai sedikit meringis kesakitan karena tepukan yang di berikan Qing tidaklah main-main.
"Hari ini aku sangatlah beruntung! Apa karena kedatanganmu?"
Oke, baiklah. Yu Bai menganggap Qing mengalami gangguan jiwa saat ini.
Qing mengambil ulat biru neon itu menggunakan tangan kanan-nya. Kemudian dirinya mengambil sebuah cincin giok bewarna putih tulang di kantung bewarna biru gelap di pinggang-nya.
Qing mengarahkan cincin giok itu ke arah dua hewan yang mana satu adalah ular dan yang satunya lagi adalah ulat.
ZINGG...
Tuba-tiba saja kedua hewan itu raib begitu saja. Yu Bai menatap kagum kehilangan dua hewan itu.
Untuk sesaat Qing merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Ayolah, dirinya mendapatkan dua hewan langka dalam sehari. Jika dijual dirinya bisa mendapatkan uang!
"Qing, kau terlihat bahagia hari ini" celetuk Yu Bai.
Qing melirik Yu Bai yang dimana tubuhnya masih dililit dengan perban putih. Jujur saja, Qing merasa sedikit kasihan dengan keadaan Yu Bai yang seperti ini.
"Apa masih sakit?"
"Huh? Apa?"
Qing dengan segera memeriksa keadaan Yu Bai dengan menaruh telapak tangan-nya di kening Yu Vai.
Yu Bai mengedip-ngedipkan bola matanya. Dirinya menatap Qing yang ternyata, jika dilihat dari dekat wajah Qing sangatlah cantik.
Dengan bulu mata lentik, netra hitam yang jernih, serta bibir ranumnya yang kecil. Dan juga rambut hitam panjangnya yang terlihat indah.
"Terpesona dengan kecantikanku?"
Yu Bai gelagapan. Dirinya ketahuan menatap Qing dengan serius. Belum lagi acara menatap Qing itu diketahui oleh orangnya langsung.
"Umm... Maaf" ucap Yu Bai dengan malu-malu.
Qing tertawa kecil. "Untuk apa kau meminta maaf? Ahh.... Sudahlah. Kau ingin apa?"
"Maksudnya?"
Qing tersenyum kecil, "Aku akan pergi ke kota. Apa kau ingin sesuatu? Seperti..."
Qing melihat Yu Bai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Qing baru menyadari. Bahwa Yu Bai terlihat dekil karena dia hanya memakai celana yang sepertinya hanya satu-satunya yang Yu Bai miliki.
Itupun terlihat sobek sana-sini dan juga terdapat bercak darah.
Qing mengerutkan keningnya.
"Sepertinya kita memerlukan pakaian baru."
Yu Bai memiringkan kepalanya. Menatap heran Qing yang sedari tadi bergumam sendiri sambil melihat dirinya dari atas hingga bawah.
"Qing? Ada apa?" tanya Yu Bai dengan bingung.
'Sudah kuputuskan.'
Qing mengangguk yakin, setelah itu dirinya menatap Yu Bai dengan senyuman lebar. "Bai'er, apa kau kuat berjalan?"
'Bai'er?'
"Ya. Aku sudah sehat dan bisa berjalan. Ada apa Qing?"
"Aku akan mengajakmu pergi dari hutan, tapi sepertinya kita perlu sesuatu untuk menutupi tubuhmu."
Netra coklat tua itu berbinar senang. Ia senang karena ini pertama kalinya ia pergi ke kota yang mana biasanya dia hanya tinggal di desa tempat ia tinggal.
Qing mengusap cincin giok putih itu sekali. Tiba-tiba saja sebuah jubah bewarna hitam muncul di tangan kanan Qing.
"Hmm.... Aku tak tahu ini milik siapa. Tapi pakai saja dulu" ucap Qing sembari memberikan jubah hitam itu pada Yu Bai.
Yu Bai menerimanya dengan senang hati. Ia langsung memakai jubah hitam itu ke tubuhny, dan sedikit merapikan rambut hitamnya yang sedikit memanjang.
"Begini lebih baik" Qing mengangguk yakin ketika melihat penampilan Yu Bai yang menutupi seberapa berantakannya tubuh Yu Bai.
"Qing" panggil Yu Bai.
"Ya?"
"Sebenarnya aku ingin bertanya sejak aku bangun lima hari yang lalu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Saat ini kita ada di mana?"
Yu Bai mengangguk.
"Kita sekarang berada di kekaisaran Tanyin. Dan kota Zhe."
Seketika Yu Bai melebarkan kedua bola matanya. "Apa!"
Yu Bai panik.
Dirinya pergi sangatlah jauh dari tempat tinggal sebelumnya.
Tempat dimana ia tinggal disebut dengan benua Wanyin. Benua Wanyin dibagi menjadi empat kekaisaran, yang mana setiap kekaisaran memiliki beberapa kota.
Kekaisaran pertama adalah Raiyin. Tempat yang terkenal dengan obat-obatan dan para alchemist yang memenuhi kekaisaran Raiyin.
Kekaisaran kedua, Tanyin. Tempat dimana Yu Bai dan Qing tinggal. Kekaisaran yang dimana terdapat 1000 macam bahaya, karena di kekaisaran ini terdapat begitu banyak tanaman beracun atau hewan berbahaya yang berkeliaran bebas.
Kekaisaran ketiga, Haiyin. Satu kata untuk kekaisran Haiyin adalah 'perdagangan'. Haiyin adalah pusat dari berbagai macam perdagangan. Seperti senjata, pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya.
Kekaisaran keempat, Vuiyin. Kekaisaran terbesar dan terkenal dari yang lainnya. Disini menjadi pusatnya para kultivator dengan berbagai macam sekte dan usia dapat dengan mudah di temukan di kekaisaran Vuiyin.
Dan faktanya adalah. Yu Bai tinggal di kekaisaran Haiyin karena dirinya tinggal di dekat pelabuhan dagang. Bisa di katakan tempat tinggalnya dulu sering di datangi beberapa pedagang yang ingin menyebrang. Pelabuhan di tempat tinggalnya tidaklah seramai dulu. Entah kenapa perlahan-lahan para pedagang mulai tidak mendatangi pelabuhan di tempatnya.
"J-jauh sekali."
Qing memiringkan kepalanya, "Memangnya di mana tempatmu tinggal, sebelumnya?"
"Haiyin."
Qing ber-oh ria, "Sangatlah jauh."
Yu Bai mengangguk. Apa yang di katakan Qing benar. Sangatlah jauh untuknya kembali ke rumah kecilnya dulu.
"Apa kau ingin kembali?"
Yu Bai terdiam. Ia mengingat kembali kilasan-kilasan tentang apa yang terjadi sebelumnya. Apa yang menyebablan dirinya berakhir di jual sebagai seorang budak. Dan penyebab kedua orang tuanya harus mati di tangan perompak gunung selatan.
Belum lagi keadaan adiknya yang tidak ia ketahui. Apakah baik atau buruk?
Qing memperhatikan raut wajah rumit Yu Bai. Sebenarnya Qing tidak terlalu tahu kisah hidup Yu Bai. Tapi dari apa yang di lihatnya hingga hari ini, satu hal yang Qing tahu.
Yu Bai terlalu banyak menerima luka secara fisik maupun mental.
Yu Bai mungkin tidak tahu. Bahwa selama dirinya tidak sadarkan diri kafena terkena demam, Yu Bai terus memanggil Ibu atau Ayah di setiap dirinya mengigau.
Atau nama Yu Nie yang dipanggil dengan isak tangis.
Qing jadi memahami, kenapa Jinzhi mengambil Yu Bai. Kenapa Jinzhi harus repot-repot membantu Yu Bai yang tidak dirinya kenal sama sekali.
Sekilas, Qing melihat bayangan Jinzhi yang menangis dengan rambut putihnya yang bersinar karena sinar matahari.
Dan jangan dilupakan mata kuning emasnya yang berair karena menahan tangis di kala Jinzhi mendengar bentakkan dari seorang pria lainnya yang memiliki warna rambut yang sama, tapi sedikit memiliki surai bewarna hitam.
Qing merasa bernostalgia.
Perlahan Qing mengangkat tangan kanan-nya. Mengelus lembut pucuk kepala Yu Bai yang mana rambut Yu Bai terasa kasar di tangan Qing yang lembut.
"Jangan di pikirkan. Semua sudah berlalu."
Yu Bai merasa tenang. Sudah lama dia tidak merasakan sebuah usapan lembut di kepalanya.
"Terima kasih" ucap Yu Bai pelan.
Qing tersenyum kecil. "Ayo kita pergi ke kota."
Yu Bai mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
Sepertinya Rai terlalu lama membiarkan The Story of White Dragon nggak up 😅
Sorry ya lama up nya.
Rai buat sambil kalian nunggu buka puasa :v
13 April 2021
1. 252 kata