
Melihat semua pembajak berbaring, dan kesulitan untuk berdiri. Gin Wijaya mengangguk puas, menepuk terlapak tangan untuk menghilangkan debu.
Wiu... Wiu... Sirine Mobil Patroli Polisi mendekat.
Polisi yang melihat dua mobil yang berhenti di sisi jalan, di mana ada lima orang berbaring, dan salah satu dari mereka berdarah hingga mewarnai jalan. Oh kasihan sekali!
Kedua petugas polisi segera menepi ke sisi jalan, bergegas turun, lalu mengarahkan moncong pistol ke arah Gin Wijaya, dan berteriak: “Jangan bergerak letakan tangan di kepala.”
Membawa borgol ditangan, berjalan menuju Gin Wijaya.
“Hei... Hei... Tunggu sebentar, kamerad polisi, biar saya jelaskan. Mereka yang berbaring, semuanya adalah penjahat yang sebenarnya. Mereka berniat melakukan perampokan atau begal. Lihat mobil sport silver saya mahal. Tsk... Tsk... Nafsu makan mereka sangat besar. Untungnya saya dapat membela diri, sebenarnya saya juga merasa takut, saat di keroyok lima orang. Coba bayang jika saya tidak dapat membela diri. Mungkin saya akan babak belur, atau akan mati, sebelum Kamerad polisi datang. Dan yang paling menakutkan salah satu dari mereka membawa pistol. Jantung saya berdetak kencang saat melihatnya. Namun untungnya sebelum penjahat itu menodongkan pistolnya ke arah saya. Dengan cepat saya melakukan serangan mendadak yang mempertaruhkan jiwa, dan ragaku. Lalu berhasil menjatuhkannya. Kalau tidak percaya, lihat itu pistol yang sebelumnya di bawa oleh penjahat. Kalau masih ragu silahkan periksa sidik jarinya...” Kata Gin Wijaya panjang lebar, dengan fasih, sampai menyemprot ke mana-mana, menunjukkan letak pistol milik penjahat, sialan itu.
Kelompok pembajak memiliki garis-garis hitam di wajahnya setelah mendengarkan kata-kata Gin Wijaya. Ibumu pasti seorang novelis, sehingga anaknya dapat mengatakan hal-hal...
“Jadi kejadiannya seperti itu!” Salah satu petugas polisi yang agak kurang mempercayainya, bertanya pada orang yang terlihat berbaring nyaman, tidak bisa bergerak: “Apakah yang dia katakan benar?”
Mendapati pertanyaan itu, penjahat yang berbaring hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian petugas polisi menatap Gin Wijaya: “Lihat, orang ini menyangkal kata-katamu. Mari kita bicarakan di kantor Polisi, dan anda juga berhak memanggil pengacara...”
Gin Wijaya segera menyela: “ Kamerad polisi, mari datang ke mobil saya untuk melihat rekaman kamera depan mobil saya. Pasti anda tidak keberatankan.”
“Baiklah, perlihatkan padaku. Jika sesuai dengan apa yang kamu katakan, semua akan jauh lebih mudah menyelesaikan masalah ini.”
Pergi, dan memperlihatkan rekaman kepada petugas polisi. Melakukan skip pada bagian tabrakan, memperlihatkan bagian perkelahian.
“Oh, aku hampir lupa. Saat aku berkelahi, aku melihat seorang gadis yang berada di dalam mobil SUV, dalam keadaan terikat.” Gin Wijaya membuat alasan yang masuk akal.
“Benarkah.” Mata kedua petugas polisi langsung menyala, bergegas mengembalikan rekaman ke Gin Wijaya. Pergi-pergi!
Hei... Sebelumnya mereka mendapat tugas untuk mencari keberadaan sekelompok pembajak. Jangan bilang bahwa lima orang yang berbaring adalah penjahat yang dicari, mungkin sekarang wajah mereka yang tidak mengenakan topeng. Jika itu benar, kedua petugas polisi akan mendapat prestasi, karena telah berhasil menangkap sekelompok pembajak ini. Sialan, senang hatiku. Semoga dipromosikan!
Menggelengkan kepala, ketika melihat kedua petugas polisi yang antusias untuk bergegas melihat dengan matanya sendiri ke dalam mobil SUV. Seperti apa yang dikatakan Gin Wijaya, seorang....
Pada saat ini, di bagian kosong di baris terakhir, dapat dengan sangat jelas melihat sosok wanita terikat tali.Tak perlu dikatakan, orang ini pasti Sarah!
Sekarang Gin Wijaya dengan jelas melihat Sarah.
Kedua tangan\, dan kedua kakinya diikat dengan tali yang kuat\, dan mulutnya diselotip yang merknya tidak disebutkan. Meskipun pakaiannya terlihat agak berantakan\, mungkin belum bertemu dengan ‘Tangan-tangan yang *****’ dari orang-orang jahat itu. Hei\, apa yang kamu pikirkan?
Sarah melirik tanpa sadar, merasa sedikit pusing karena obat bius, sialan aku diculik! Ketika dia melihat dua petugas polisi menghampirinya, membuatnya merasa lega, dan Gin Wijaya dengan bingung.
Sekarang dia tiba-tiba mengingat bahwa pria dihadapannya adalah pria yang pernah melecehkan dirinya sendiri di jalan sebelumnya!
"Uuu... Ummm" Sarah menatap Gin Wijaya dengan mata terbuka lebar, dan mengingat apa yang dikatakan sebelumnya....
Tak lama kemudian konvoi mobil polisi datang, dan seorang petugas polisi wanita yang memiliki temperamen dingin turun dari mobil.
Semua mulai menjadi serius, setelah kedatangannya. Orang ini, di kenal dengan nama ‘Laras.’
Hei\, ***** aku tidak bisa berkata-kata.
Ruang Interogasi Tim Interpol Kantor Polisi Shimpony.
Tidak di sangka Gin Wijaya masih harus pergi ke kantor polisi. Tidak punya pilihan ikuti saja rutinitas, sebagai orang yang taat hukum (munafik), dan suka bercanda, ya terima saja rutinitas ini.
Dengan pencahayaan super terang di ruang interogasi memberi kesan*****\, jangan dikatakan.
"Yo..Yo.. Yo.. Nyanyikan lagu pantai..., Sialan dengan cahaya yang begitu terang ini, hati-hati aku menuntutmu untuk melecehkan anak di bawah umur." Gin Wijaya menyipitkan mata dan berteriak dengan penuh semangat.
Kata-kata Gin Wijaya terdengar oleh polwan yang sedang membuka pintu, dan bergegas duduk:
“Kamu berusia 21 tahun tahun ini, kamu bukan lagi anak di bawah umur. Tsk... Tsk... orang yang sudah dewasa mengaku anak di bawah umur, sangat menjijikan, dapat di jelaskan jika mengalami kerusakan otak.” Laras mencibir, duduk langsung di meja interogasi di depan Gin Wijaya, kakinya yang indah dengan stoking hitam menjuntai di sajikan di hadapan.
*Menyemprot 10.000 liter darah ayam.
Menelan seteguk, sialan terlalu menggoda. Tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, ambil nafas dalam-dalam, lalu keluarkan, dan cobalah tahan kentut agar tidak keluar. Jika tidak tahan keluarkan saja demi kesehatan. Lupakan!
"Bahkan jika saya bukan lagi anak di bawah umur. Anda tidak bisa memperlakukan anak yang baik yang membantu Anda menyelesaikan kasus ini, dan bertindak dengan berani, mengorbankan semangat juang darah ayam."
Gin Wijaya meringkuk bibirnya dengan kesal, dan berkata, sejak di bawa, dia langsung dikirim ke ruang interogasi seperti seorang tersangka, dan sekarang bolak-balik oleh polwan di hadapannya. Saya tidak tahu kapan, atau berapa kali saya harus kembali ke interogasi.
“Memacu mobil sport hingga melebihi batas kecepatan, hampir menyebabkan kecelakaan dijalan karena berkendara ugal-ugalan, sehingga memicu kemarahan publik, bukankah hal yang dilakukan oleh orang-orang pemberani. Melukai empat orang hingga organ internalnya bergeser serius, sekarang tidak sadarkan diri, dan satu orang masih di ruang operasi, di rumah sakit Shimpony besar, lebih buruknya lagi dokter mengalami kesulitan untuk menarik belati yang tertancap hingga ke tulang. Saya ingin tahu di mana Anda berada.... Apa yang terjadi? " Laras bertanya.
“Kecantikan, Anda sudah menanyakan pertanyaan ini beberapa kali. Jawaban saya masih sama. Saat itu, saya sangat ingin menyelamatkan kecantikan itu, tapi kamu juga jangan khawatir karena kamu juga cantik, kembali ketopik, jadi saya tidak pilihan lain selain melakukan tindakan sebelumnya. Saya minta maaf atas tindakan itu. Adapun apa yang terjadi dengan orang-orang jahat. Saya tidak tahu mengapa terjadi kejadian tabrakan, dan beberapa orang mengeluarkan senjata, tetapi pada akhirnya.... Saya beruntung, dan dapat membela diri. ”
Gin Wijaya mengangkat bahu dengan ekspresi acuh tak acuh: "Begitulah adanya!"
“Apa menurutmu aku akan percaya dengan kata-katamu itu? Biar kuberitahu, sebaiknya cepat ceritakan urusanmu dengan sejujurnya, jika tidak, setelah tersangka yang selamat bangun, mungkin kita akan menanyakan beberapa hal yang menarik.” Meskipun Laras memiliki ekspresi serius, Tetapi kakinya masih bergoyang secara konstan.
*Menyemprotkan 10.000 liter darah ayam.
Gin Wijaya menjadi gugup, tanpa sadar menatap kaki sutra hitam itu, dan kemudian tertawa kecil, "Lalu aku akan bertanya kepada kecantikan polisi, menurutmu seperti apa fakta yang sebenarnya?"
Laras memilah-milah, lalu mengambil file di sebelahnya, dan sebuah cahaya melintas di mata yang indah.
"Sebelum kejadian terjadi, petugas patroli kami kebetulan bertemu dengan Anda yang saat itu mengganggu sandera. Sangat mungkin bagi Anda untuk menginjaknya, tetapi Anda tidak menyangka bahwa Anda kebetulan bertemu dengan petugas patroli kami. Pada akhirnya, Anda melarikan diri, yang seharusnya anda pergi ke kantor polisi bersama dengan petugas kami."
"Oke."
Puk...puk... Puk...
Gin Wijaya bertepuk tangan, dengan senyum ramah tidak membahayakan hewan, dan manusia, lalu berkata dengan penuh kekaguman: “Kamerad Polisi, anda memiliki imajinasi yang luar biasa. Saya pikir anda menyia-nyiakan bakat anda jika tidak menjadi penulis novel. Jangan khawatir, saya akan berlangganan, jika novel anda di terbitkan secara online.”
Menepuk-nepuk dada, menyatakan bahwa anda dapat yakin!
"Cut, berhentilah bicara omong kosong, saya menyarankan Anda untuk segera berkata dengan jujur."
Laras melompat dari meja\, berjalan ke arah Gin Wijaya\, tiba-tiba mengangkat kaki kirinya\, dan menginjak kursi tempat Gin Wijaya duduk\, tepatnya di antara kedua kaki! Sial\, ini jelas provokasi *****