
Gin Wijaya keluar dari Bar yang tidak disebutkan namanya. Memeriksa cuaca, tidak banyak angin, dan merasa sedikit membuatnya santai.
Pada akhirnya memutuskan untuk tidak campur tangan dalam proses interogasi, karena menemukan kenyataan yang menjijikan.
Bunuh saja, nanti pasti ada yang akan datang lagi. Tanda-tanda bahwa dunia bawah akan mengalami badai, telah menunjukkan tanda-tanda dini.
Mata-mata dikirim untuk mendapatkan informasi, guna mempelajari, menganalisis situasi terkini, untuk menentukan rencana yang akan dijalankan, dll.
"Aku sudah memiliki tebakan kasar, peristiwa pengeboman di pantai hanya awal, untuk menguji air. Hahaha ... benar-benar menarik! Mereka jelas ingin menguji apa masih ada Harimau berjongkok, dan Naga tersembunyi. "
“Tenangkan dirimu ...” Mendesah merasa bahwa dirinya terlalu bersemangat, kemudian menyalakan sebatang rokok, menyesap, dan hembuskan,
"Kuharap tidak mengecewakan seperti tiga tahun yang lalu. Tsk ... tsk ... siapa pun yang ingin membuat masalah? Datanglah, aku sangat menantikan. Aku juga sudah lama tidak mengerakkan sendi-sendiku. "
Mata berkelip berkobar penuh kerinduan: "Kuharap akan banyak putra takdir yang bermunculan. Aku tidak keberatan jika menginjak beberapa kepala lagi. Semakin sombong putra takdir, semakin menarik untuk membuatnya putus asa."
Tap! Tap! Tap!
Berbalik melihat Fatty berlari dengan penuh gumpalan lemak, Gin Wijaya bertanya: “Apa lagi? ”
“Mr. Gin, ada berita yang ingin aku sampaikan padamu …” Saat berhenti, Fatty terengah-engah dan berkeringat, serta hampir tersungkur.
Gin Wijaya berniat menghindar, tetapi melihat Fatty berhasil menyeimbangkan tubuh. Akhirnya bernapas lega.
“Bukankah kamu dapat menghubungiku melalui telepon. Hei, lihat dirimu, seperti telah menghabiskan seribu tenaga kuda. Cepat katakan dengan singkat dan jangan bertele-tele.”
(ㄒoㄒ)
Mengatur napas secara mendalam, dan berpikir kembali. Menggaruk kepala dengan malu dan berkata, “Sebenarnya aku baru saja mendapatkan berita dari dogleg-ku yang bertugas memantau rumah sakit Distrik …"
Setelah mendengarkan kata-kata tersebut, mereka berpisah. Gin Wijaya segera pergi ke mobil sport silver, kemudian meluncur ke jalan raya dengan cepat.
Melihat mobil sport telah berlalu, Fatty Bryson berbalik kembali untuk menyelesaikan hal yang belum ditangani.
*****
Saat membuka mata ada perasaan bingung, seseorang menemukan bahwa dirinya berada di bangsal rumah sakit yang cerah penuh dengan bau desinfektan, dan kepalanya terasa pusing.
“Apa yang terjadi denganku?” Mengusap kepala, dan mencoba mengingat apa yang terjadi ketika rasa pusing berkurang.
Dia ingat pacarnya yang bernama Shera, melamar putus kemarin, dan membuat suasana hatinya sangat buruk. Dia berjalan di jalan malam Mynggathocono dengan sakit hati yang terdalam!
Tetapi dia tidak menyangka akan dipukuli oleh sekelompok pria botak berotot.
Mungkin karena dipukuli dengan keras, membuatnya kehilangan kesadaran, dan dia tidak tahu orang berhati nurani mana yang telah menyelamatkannya, dan mengirimnya ke sini. Jika bertemu harus berterimakasih, tanpa perlu membakar dupa.
Begitu memikirkan sekelompok pria berotot yang memukulnya, Mata dia menunjukkan ekspresi marah.
Bagaimana cara aku bisa balas dendam?
Saat sedang memikirkan dirinya harus berbuat apa, pintu bangsal terbuka, dan seorang perawat long-legged berjalan masuk.
Ketika seorang perawat long-legged melihat orang duduk wajahnya langsung memucat: "Ada, ma ... mayat hidup!"
"Anda mayat hidup, seluruh keluarga Anda mayat hidup." Meringkuk bibir, kemudian tidak mungkin untuk tidak bertanya:
"Di mana tempat ini?"
Perawat long-legged tahu bahwa pria ini bernama Danny.
Bagaimana bisa tahu?
Sebelumnya, perawat kecil ini yang membantu proses pendataan formalitas, dan dia tidak menemukan adanya catatan kerabat.
“Ini di rumah sakit. Kamu … apakah kamu benar-benar bukan mayat hidup seperti yang telah tayang difilm-film bioskop?” Perawat long-legged itu masih menatap dengan ekspresi takut, tapi melihat penampilan orang yang duduk itu, saat ini memang tidak seperti mayat hidup, wajah sedikit kemerahan, tidak terlihat pucat seperti mayat, dan kewaspadaan di dalam hati yang terdalam juga perlahan menurun.
‘'Jika kamu tidak percaya silahkan periksa sendiri.” Mengulurkan tangan ke perawat long-legged.
Perawat long-legged itu datang dengan sedikit ragu-ragu, meletakkan tangannya di lengan Danny yang di hadapannya, dan memeriksa suhu tubuhnya.
Kemudian perawat long-legged tidak mau tidak terkejut: "Sulit dipercaya, ketika Anda dibawa ke rumah sakit ini, dokter yang bertugas dengan jelas telah menyatakan bahwa Anda sudah mati! Apakah anda baik-baik saja? "
Tanpa menunggu tanggapan, perawat long-legged melanjutkan terburu-buru: " Oh, benar! Anda ... anda tunggu sebentar dan jangan berpergian, aku akan menghubungi dokter lain. "
Σ( ° △ °|||)
Danny: ???
Melihat punggung perawat long-legged menghilang dari pandangan, Danny tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
“Sial, kenapa pergi terburu-buru? Padahal aku ingin saling memahami satu sama lain. Kalau tidak keberatan bisa saling bertukar nomor.” gumam Danny.
(╥﹏╥)
“Hei, seperti rumah sakit ini bermasalah, tidak dapat membedakan orang yang mati, dan orang yang hidup.”
Ketika mengeluh dalam hati yang terdalam, ingatan terlintas dibenaknya, dan segera mengecek kalung yang tergantung dilehernya: “Untungnya masih ada, jika itu hilang, aku tidak akan tahu kemana harus mencari. ”
Kalung yang terikat dilehernya, telah ada sejak Danny kecil. Hidup tidak terasa lengkap, tidak tahu siapa orang tuanya, yang dia tahu hanya tinggal di panti-asuhan.
Setelah dewasa, Danny memberanikan diri untuk bertanya tentang masa lalunya kepada ibu kepala panti- asuhan, dan yang mengecewakan hanya mendapatkan jawaban bahwa saat dirinya masih bayi yang umurnya hanya berapa bulan, dia ditemukan diambang pintu panti-asuhan dengan hanya dibalut selimut kecil.
Di kalung giok yang terikat, terukir kata “DANNY”, dan ibu kepala panti-asuhan, hanya mengikuti rutinitas. Begitulah kenapa dia bernama Danny!
Danny sekarang sudah hidup mandiri, tidak lagi tinggal di panti-asuhan. Memiliki apartemen di pinggir kota, dan memiliki pekerjaan tetap, sebagai staff input data diperusahaan swasta. Lupakan!
Selanjutnya, sekelompok besar dokter datang dengan almamater putih, dan memeriksa Danny dari atas ke bawah. Sulit dipercaya bahwa akan ada kesalahan yang begitu besar ini, jika berita ini tersebar akan memengaruhi reputasi rumah sakit di mata publik.
Setelah itu mempertimbangkan, mereka mengalihkan semua tanggung jawab kepada dokter magang baru, yang bertugas tadi malam.
Berpikir bahwa dia telah salah dalam mendiagnosis, dan akhirnya setelah Danny mengatakan bahwa mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban, mereka bahkan tidak menginginkan biaya pengobatan Danny, dan masalah ini dianggap selesai begitu saja.
Menyelesaikan formalitas, dan perjanjian untuk bungkam, berlangsung singkat. Ketika keluar dari rumah sakit, sudah menunjukkan pukul tiga belas siang.
Menggaruk kepala yang agak gatal dan bergumam: "Aku tidak menyangka akan tidur di luar untuk semalam. Sepertinya sudah saatnya kembali ke Apartemen."
Berdecit!
Suara melengking, yang tiba-tiba membuat Danny yang masih terpesona, kembali ke Tuhan. Menoleh, Pupil membesar!
Melonggo menatap mobil sport silver yang berhenti di samping kirinya. Merasakan gugup ketika mendengar suara mekanis ketika jendela diturunkan.
Ketika jendela diturunkan, Danny sudah siap untuk dimaki seperti dalam rutinitas.
Namun, apa yang dipikirkan ternyata tidak terjadi karena ....
Suara dengan nada santai, tetapi menyayat hati yang terdalam: “Hei, Danny! Ternyata kamu belum mati. Oh, sial! Terbuang percuma air mataku. Tipuan apa yang kamu buat?”
Mendengar kata-kata itu, dan melihat orang yang sudah lama tak bertemu, Danny yang dalam mood buruk, tidak mau tidak mengutuk, dan melepaskan amarah: “Kamu penipu, seluruh keluargamu penipu!”
“Hahaha ... jadi temperamenmu tidak pernah berubah. Apa? Kematian palsu? ”
“Tidak ... tidak ... itu hanya kesalahan pihak rumah sakit! Tunggu ... tunggu ... bagaimana kamu tahu? ” Bukankah seharusnya dirahasiakan, dan berita tidak boleh tersebar. Tapi yang jelas bukan dirinya menyebarkan. Jadi merasa tenang.
Menyadari dirinya menanyakan yang seharusnya tidak ditanyakan, Gin Wijaya segera membuat alasan, “Ah ... benar, aku memiliki kolegan yang memahami seluk beluk rumah sakit ini. Begitulah adanya. ”
“Well, kalau begitu masuk akal jika kamu mengetahuinya. ” Danny memilih untuk percaya.
Keduanya tidak terlalu akrab, hanya beberapa kali bertemu ketika menghadiri pesta yang diadakan oleh kolegan-kolegan, dan saling mengenal.
Namun apa yang tidak diketahui oleh Danny.
Gin Wijaya telah menganggapnya sebagai teman. Alasannya, karena dulu Danny telah membagikan beberapa informasi terkait tempat-tempat makan yang enak. Informasi itu sangat penting bagi Gin Wijaya sebagai seorang foodies (pecinta makanan). Jadi merasa berhutangbudi!
Terbukti ketika mengetahui berita kematiannya. Gin Wijaya segera datang padanya.
“Apa yang kamu lakukan berdiri disana? Cepat naik mobilku!” Gin Wijaya mengingatkan.
Sial, apa kamu belum menyadari, jika kamu memblokir jalan, dan itu masih tepat di depan mobilku.
Tersenyum kencut, Danny tertawa malu masuk ke co-pilot: “Hehe ... oke, jika kamu tidak keberatan, aku akan menawari makan. Aku tahu tempat baru yang makanannya disana di jamin enak. Maknyuus! ”
Kemudian mobil sport silver berkelok, mengubah arah menuju tempat yang sesuai dengan rekomendasi Danny.