
Mobil sport silver terlihat eyes-catching, perlahan menempi di pinggir jalan. Terpampang jelas bahwa ada Restoran yang namanya tidak disebutkan, terlihat besar, sederhana, dan ramai dengan orang-orang.
Berbelok sesuai dengan petunjuk arah tempat parkir. Petugas parkir yang melihat, mata langsung menyala, bergegas berlari dengan antusias memberi arahan ke tempat yang kosong.
Luar biasa banyak kendaraan yang terparkir, menandakan bahwa Restoran disini tidak biasa. Kesan awal Gin Wijaya saat tiba disini, sangat baik.
Keduanya turun dari mobil sport silver, berjalan ke arah pintu masuk. Tentu Gin Wijaya tidak lupa memberi tip beberapa dollar agar petugas parkir bahagia.
Tetapi ketika akan berjalan ke pintu masuk, sepasang pria dan wanita berjalan bersama muncul di depan.
Sedikit terkejut, mata Gin Wijaya memincing ke arah Danny seolah-olah ingin mengatakan, “ Kenapa dia berjalan dengan pria lain?”
Seingat Gin Wijaya, Wanita itu pacarannya Danny! Ini pasti topi hijau yang terkenal.
Tidak akrab dengan wanita itu, dulu saat menghadiri pesta tertentu, Gin Wijaya selalu melihatnya berjalan bersama Danny. Tetapi sekarang wanita itu berjalan dengan pria lain yang bukan Danny. ketika Gin Wijaya dan Danny mengobrol, wanita itu jarang bicara seperti tipe pendengar yang baik, dan sibuk bermain smartphone. Lupakan!
Hei! Kalau tidak salah ingat namanya Shera. Untuk penampilannya tujuh setengah poin diberikan.
“Pasti ada cerita dibalik tutup toples,” pikir Gin Wijaya dalam hati, dan menunggu drama rutinitas.
Pasangan itu juga memperhatikan kedatangan Danny dan Gin Wijaya.
Pria itu langsung menatap Danny dengan jijik, mengabaikan keberadaan Gin Wijaya. "Oh, teman sekelas saat kuliah Danny juga sering datang kemari, sungguh tak terduga."
"Danny. Sudah kubilang bahwa tidak ada kemungkinan di antara kita, jadi jangan menggangguku lagi." Shera itu menatap Danny dengan tatapan kosong, matanya penuh penghinaan, berpikir bahwa Danny mengganggunya tanpa henti, untuk membuat masalah.
Gin Wijaya segera beradaptasi dan menjadi pendengar yang baik di samping Danny. Penasaran dengan pertunjukkan ini, tentu tidak hanya dirinya, bahkan beberapa orang yang datang berhenti sejenak untuk menyaksikan drama live.
Ayo datang, ayo datang, dan saksikan. Lupakan.
Ekspresi Danny menjadi dingin, kedua orang itu adalah Neoparjan dan Shera. Shera adalah pacarnya pada saat itu.
Danny, awalnya berpikir bahwa Shera akan menemaninya, dan menjadi separuh hidupnya, namun Danny tidak pernah menyangka bahwa Shera akan jatuh ke pelukan generasi kedua yang kaya, Neoparjan.
Nasib! Oh! Nasib!
Jika itu kemarin, Danny mungkin sedikit tidak nyaman, tetapi sekarang tidak perlu peduli sama sekali, karena ini tidak ada hubungannya dengan dia. Danny dan mereka akan segera menjadi manusia di dua dunia.
"Shera, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya datang ke restoran untuk makan dengan temanku. Untuk urusanmu, itu tidak ada hubungannya denganku." Kata Danny dengan ringan, dan berjalan melewati Neoparjan dan yang lainnya, bersiap untuk memasuki Restoran.
d=(´▽`)=b
Mendengar pernyataan itu, Gin Wijaya bergegas mengikuti, dan tidak bisa tidak berkata: “Kamu luar biasa bro. Kata-katamu patut diacungi jempol. ”
Ketika mendengar apa yang dikatakan Danny, hati Shera bergetar, dia berpikir bahwa Danny akan menangis di depannya, dan memohon pada dirinya sendiri untuk tidak meninggalkannya. Dia bahkan sudah mempersiapkan alasannya. Tapi sekarang ....
Reaksi Danny jelas, telah membuatnya agak tidak terduga!
Tetapi Neoparjan tiba-tiba bergegas menghentikan jalan, dia memasang senyum mengejek di telinga Danny: "Wah ... aku sebentarnya sangat mengagumi orang sepertimu, bahkan jika kamu memiliki pacar yang begitu cantik, kamu bahkan tidak berani menyentuhnya. Tsk ...tsk ... ketahananmu sangat hebat. "
Neoparjan mulanya berpikir bahwa pihak lain akan sangat marah ketika mendengar apa yang dia katakan, tetapi apa yang tidak dia duga adalah dia akan disambut dengan ekspresi tragis.
“Neoparjan, oh … Neoparjan, bukankah menurutmu kamu idiot dan konyol. Sekarang Shera adalah pacarmu, kamu memberitahuku hal-hal privasi di antara kamu? Tentu saja, jika ini hobimu, aku tidak keberatan mendengarkan, mari kita bicarakan tentang kamu, dan aku. Orang-orang telah tumbuh dewasa, dan semua orang tahu beberapa hal di dalam hati mereka. "Danny menggelengkan kepala, memandang Neoparjan sambil tersenyum seolah-olah melihat orang bodoh di dunia.
Mendengar kata-kata Danny yang keren, Gin Wijaya mau tidak mau harus menambah dua jempol kaki.
Untuk beberapa alasan, tentu hal-hal ini dilihat oleh Gin Wijaya, dan para penonton, Neoparjan merasa seperti monyet kecil yang diejek. Hal itu membuatnya ingin meraung marah.
Shera tidak bisa berdiam diri menyaksikan suasana yang berubah, berjalan mendekat, menarik lengan Neoparjan, lalu berbisik di telinga: “Sebaiknya kita pergi dari sini. Sudah banyak orang melihat, jika ada orang yang diam-diam merekam, dan beredar di internet akan menjadi lelucon internasional. Jika ingin memberinya pelajaran, lakukan saja di lain waktu.”
Mendengar saran, Neoparjan mengangguk dan dia bukan idiot. Melotot pada Danny: “Kali ini aku sedang berbaik hati. Di lain waktu saat bertemu lagi. Kamu ... ”
Membuat gerakan tangan memotong leher.
Danny hanya mengangkat bahu saat melihat punggung mereka pergi. Menoleh ke Gin Wijaya yang berdiri di samping: "Maaf, karena aku membuatmu melihat hal yang begitu memalukan ini. Abaikan mereka, dan pergi makan. Perutku akan segera menjerit. Ingat saat makan jangan mengejekku. "
"Oke, jangan khawatir, aku akan memenuhi mulutku dengan makanan, sehingga tidak ada kesempatan mengejekmu. Hahaha ... "Tanggapan Gin Wijaya dengan tawa.
(╥_╥)
“Sial, untuk menenuhi kebutuhan makanmu aku akan miskin. Lupakan, lagipula aku sudah berjanji untuk membayar. “ Keluh Danny dalam hati yang terdalam.
Jangan lihat tubuh ideal Gin Wijaya, apabila telah menemukan makanan yang enak rasanya, dia akan menyisakan banyak piring. Orang gemuk yang ingin berlomba pun bersedia mengibarkan bendera putih. Lupakan!
Kedua berjalan masuk untuk memesan tempat, dan segera merepotkan pelayan restoran.
Hal tadi cukup menghibur Gin Wijaya. Semoga di lain waktu lebih menegangkan. Lupakan.
Memilih tempat di dekat jendela, lalu duduk di karpet empuk spesial edisi yang tidak harus disebutkan merknya. Lupakan.
Menatap Danny yang duduk diseberang, dan memulai percakapan, membahas hal-hal umum, kebijakan pemerintah, real-estate, peristiwa pengeboman, dan lain sebagainya.
Cukup lama menunggu, akhirnya seorang pelayan membawa nampan besar penuh tumpukan piring yang berisi pesanan.
Hidangan di atas nampan segera diturunkan ke atas meja dengan cepat, gerakan seperti tarian, terlihat lihai, dan tangan tampak fleksibel. Semua tersusun rapi, tanpa kesalahan.
Pelayan yang kelihatannya biasa-biasa saja, tapi ternyata memiliki keahlian yang menarik, dan memukau hati yang sedang gundah. Dengan keterampilan itu seharusnya dapat mendaftarkan diri ke acara televisi yang sebaikannya tidak disebutkan namanya. Entah sampai semi final atau tidak. Paling tidak anda bisa dikenal oleh banyak orang.
Setelah pelayan berbalik pergi, Gin Wijaya tidak perlu sopan, pergi menyantap lebih dahulu. Sedangkan Denny abaikan saja, biarkan mati kelaparan.
"Wuidih ... kaki ayam ini enak dan pedas ... nyam, sial, sayap ayam yang dilumuri kecap ini ternyata tidak kalah enak …" Gin Wijaya mulai melantunkan kata-kata seperti seorang foodeis.
Danny dengan wajah sedih, berada diseberang tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya sibuk menghitung pengeluaran hari ini. Tampaknya hari akan banyak membakar uang.
Mengabaikan tampang sedih Danny, terus makan dengan gembira.
Tapi Gin Wijaya juga menyempatkan berpikir dibenaknya sejenak saat makan tanpa henti: “Hei, Danny ini pasti masih sedih, karena melihat mantan dipelukan pria lain. Meski telah mengucapkan kata-kata keren di depan umum, bahwa tidak lagi di dunia yang sama. Ternyata, oh ... ternyata masih ada nyala api kecil di hati yang terdalam. Kasihan! Ternyata hanya ingin tampil cantik di depan umum. “
Jika Danny tahu apa yang sedang dipikirkan Gin Wijaya saat makan. Mungkin akan menyemprot teh yang sedang dia minum, dan berkata dengan jujur: “Aku sedih karena kamu pesan banyak makanan, dan berhasil membuatku miskin.”
Setelah puas dengan semua makanan, meja penuh tumpukan piring, semoga petugas pencuci piring bekerja lebih keras. Kalau bosnya dermawan pasti dapat bonus. Kalau bosmu pelit, itu deritamu.
Membayar banyak uang, dengan ekspresi santai, dan senyum ringan saat membayar dikasir. Namun itu hanya dipermukaan, di hati yang terdalam, rasanya ingin mengutuk Gin Wijaya.
Sialan, kamu telah membuatku miskin.
Hal-hal tak perlu diucapkan, kemudian Danny memesan taxi online.
Mengetahui hal itu, tentu membuat Gin Wijaya senang dan gembira tanpa harus repot mengantarkan pulang Danny. Itu juga kebahagiaan langka untuk memiliki teman dengan hati nurani.
Kegembiraan tersebut harus tersembunyi. Jangan ada yang tahu. Bagaimanapun juga Gin Wijaya lebih suka mengantar wanita cantik dari pada mengantarkan Danny pulang ke tempat tinggalnya. Lupakan.
Taxi online datang cepat, ada kemungkin karena kebetulan berada pada lokasi terdekat, dan dipilih oleh sistem.
Berpisah tanpa harus melambaikan tangan hanyalah sebuah episode kecil.
Berjalan menuju tempat parkir, Gin Wijaya membayar lagi agar petugas parkir bahagia. Mobil sport silver berbelok meluncur menuju jalan raya. Menyalakan music player, dan ikut bernyanyi “Go Home”.