
Setelah makan siang yang membahagiakan dengan gadis bau, Gin Wijaya merasa perlu berkeliling kompleks, untuk memahami seluk-beluk apartemen. Berjalan dengan santai, kadang menyanyikan lagu lama.
Sedangkan gadis bau itu kembali ke kamarnya, entah apa yang dilakukan, Gin Wijaya mengabaikannya.
Dibutuhkan waktu satu jam untuk sepenuhnya memahami tata letak. Meskipun ada denah yang dipajang di dinding, di setiap lantai apartemen, Gin Wijaya lebih percaya melihat dengan matanya sendiri.
Saat Gin Wijaya berniat naik lift dari lantai pertama menuju ke lantai enam, dua sosok yang dikenal tampaknya mereka berjalan berdampingan, dan terlihat saling mengenal, dapat dilihat dari tidakkan akrab mereka. Laras, dan Sarah, keduanya sama-sama cantik. Gadis bau juga cantik!....
Betul...Betul... Betul..
“Ah... Aku hampir lupa, semuanya masuk akal, John Bazooxa adalah pamannya Laras. “Gumam, Gin Wijaya menggaruk kepala yang tidak gatal. Kenapa dia hampir melupakan hal penting semacam ini.
Mereka berjalan menuju lift, begitu juga dengan Gin Wijaya.
Ketika kedua sosok itu melihat mau tidak mau berkata bersamaan: “Mengapa kamu di sini?”
Gin Wijaya melihat tampilan Sarah yang mengenakan rok**** longgar dengan perban kasa di tangan\, dan kaki. Pada bagian itu jelas mengalami memar saat diikat oleh pembajak sebelumnya.
Lalu menatap Laras, apakah orang ini tinggal di sini juga? Hei... Jika itu benar, akan menarik!
“Coba tebak!.” Jawab Gin Wijaya bercanda.
Entah mengapa ketika melihat pria ini rasanya ingin memarahinya, meremas-remasnya, menguleninya, menembakinya ke dinding hingga berkeping-keping.
Laras yang memiliki temperamen gunung berapi besar tidak dapat mentolerasi sikap buruk Gin Wijaya, dengan curiga: “Gin... Jangan bercanda, jawab pertanyaanku!”
Gin Wijaya hanya mengangkat bahu, mengabaikan gadis gila ini, ketika mengingat pernah berakting sebagai calon menantu, rasanya ingin tertawa.
“Hahaha...”
“Sialan, brengsek apa yang kamu tertawakan.”
“Tidak... tidak... Aku hanya mengingat saat terakhir kali. Saat itu....”
Ketika mendengar hal itu, Laras terdiam sejenak mengingat, dan kepalanya merokok:
“Cut... Brengsek kamu Gin... masih mengingat hal itu, sebaiknya kamu melupakan, atau gadis tua gila ini tidak keberatan untuk menghukummu, hingga kamu merasa jera.”
Menghela nafas, Gin Wijaya tanpa daya, berkata: “Ayolah keindahan, tidak baik untuk marah-marah. Bicara baik-baik adalah solusi yang sempurna.”
“Kalau begitu segera jawab pertanyaanku sebelumnya. Mengapa kamu di sini?” Tanya Laras\, sudah tidak sabar\, sangat ingin bergegas untuk *****pemukulan bersahaja.
“Hei... Sepertinya tidak ada pilihan lain. Baiklah, Itu karena sebenarnya aku baru saja check in, dan tinggal di lantai enam, kamar 606. Sekarang apakah kamu sudah merasa puas dengan jawaban ini.” Gin Wijaya segera menjawab dengan jujur dengan ekspresi santai.
“Sialan\, kenapa ******** bau seperti kamu berada di sebelah kamar kami\, jangan bilang kamu*****” Laras kembali marah\, merasa **** bergegas ke depan untuk memukuli.
“Baiklah sister Laras, jangan berteriak, impulsif tidak menyelesai masalah , oke. Sebenarnya apa masalahmu, kenapa setelah melihatnya kamu marah-marah. Ini tidak seperti kamu yang biasanya.” Suara Sarah sangat datar, namun di dalam flat seperti beberapa emosi telah ditekan.
“Hei... Jangan asal bicara tentang*****\, sekarang aku juga terkejut bahwa kalian ternyata tinggal di sebelah kamarku. Benar seperti yang dikatakan keindahan kecil ini\, jangan bicara terlalu keras di tempat ini. Lihat itu lift sudah turun. Aku akan pergi.” Kata Gin Wijaya mengingatkan\, bergegas\, saat pintu lift terbuka.
Ding..Ding...(suara lift....)
Sekarang, bahkan Sarah pun marah, bergegas ingin memulai: “Apa yang kamu katakan, cabut kembali kata keindahan kecil dari mulutmu.”
Kata “kecil” merupakan penghinaan baginya!
“Sudah cukup, oke. Aku tahu aku salah, tetapi aku menyelamatkanmu ketika kamu diculik sebelumnya. Kamu tidak boleh melupakan kenyataan ini di hati yang terdalam. Dan jangan pernah gunakan nada bicaramu ini untuk berbicara dengan dermawanmu! Atau, nyawamu lebih penting dari candaan ringan...”
Gin Wijaya bukan orang yang akan lembut saat melihat keindahan\, bahkan jika itu adalah objek yang harus dia lindungi saat ini. Kamu mungkin tidak tahu bahwa aku bertanggung jawab untuk perlindungan\, bukan kesabaran*****.
Setelah itu, suasana menjadi sunyi.
Udara di koridor seperti mengembun.
Gin Wijaya telah di dalam lift, Laras, dan Sarah juga bergegas.
Pintu tertutup, tekan tombol lantai enam, bergerak ke atas.
Terdiam untuk waktu yang lama, laras tidak berani berbicara ketika suasana canggung ini.
***Ding... Ding..***.
Bergegas ketika pintu lift terbuka, Sarah yang tampak merenung akhirnya angkat bicara: “
“Ya, seperti yang kamu katakan memang benar, kamu menyelamatkan hidupku, jadi masalah ini dilupakan saja.” Sarah berkata dengan datar bergegas mendahului, dan membuka kamar 605, masuk dan menutup pintu.
Bang!
Oh, sepertinya marah!
Saat Sarah menutup pintu, Gin Wijaya melihat kilauan di mata itu.
Mendengus, Laras juga mendahului, dan berkata: “Dermawan... Tsk... Tsk... Tetapi menyakiti hati gadis yang malang, dan ingat hal-hal saat di ruang interogasi, jangan pernah diungkit-ungkit lagi, atau....”
*Membuat gerakan memotong leher.
Bang!
Ada lagi pintu ditutup dengan berat.
Astaga orang ini tinggal disebelah, hei... di kamar 604.
Entah mengapa Gin Wijaya merasa kehidupan di masa depan tidak nyaman.
*******
Keesokan pagi yang terlihat cerah\, lihat dulu berita di smartphone\, dan ***** ya\, bagus. Selain berita cuaca yang baik\, ada juga berita lain yang mengembirakan\, sepertinya keindahan kecil itu tidak keluar untuk sementara waktu\, karena masalah luka di tubuhnya\, mungkin malu untuk datang ke sekolah dalam kondisi seperti itu.
Hari ini awal masuk sekolah, setelah hari libur sekolah berakhir.
Menyenangkan atau tidak, cobalah dulu.
Pergi ke sekolah bersama Meimei yang cantik, dan jelita, lebih awal. Tidak ada masalah untuk berjalan kaki, karena hanya berjalan beberapa blok, sebelum sampai di gerbang sekolah.
Pergi... pergi\, ke ruang **** untuk menyelesaikan formalitas siswa pindahan\, dengan menyerahkan berkas-berkas dan.....
Mendengar pendahuluan dari petugas yang ramah, Gin Wijaya hanya mengangguk dari waktu ke waktu. Sejujurnya hal ini membosankan......
Gin Wijaya juga segera memahami struktur organisasi sekolah, profil para guru yang mengajar, dan daftar nama teman sekelasnya, serta....
Tidak sulit untuk menghafal nama-nama mereka, bagi Gin Wijaya. Seiring waktu berlalu, sedikit demi sedikit, akhirnya berakhir penjelasan itu.
Teeeet... teeeeet (Bell masuk kelas berbunyi)
Gin Wijaya harus menunggu beberapa saat\, dan kemudian bertemu dengan wali kelas. Wali kelas **\, bernama Shinta*****. Berjabat tangan dengan murah senyum\, saling memperkenalkan diri. Berjalan berdampingan menuju kelas***. Sungguh untuk menggambarkan Mrs. Shinta **** \, dengan rambut****\, kemeja****\, rok****\, memiliki kaki panjang****\, dengan stocking****\, serta memiliki body S. Dia masih muda!
Perkenalan di kelas seperti rutinitas yang tidak layak disebut. Untungnya tidak sekelas dengan Meimei. Aku khawatir jika sekelas dengannya, dia akan selalu menggodaku. Setelah perkenalan singkat di podium. Pergi ke tempat duduk****\, dan tidak lupa melihat\, berkedip pada Mrs. Shinta. Sangat menarik untuk menggoda dan menggodanya. Sangat menarik\, karena memiliki temperamen dewasa.
Mrs. Shinta mendengus dan mengabaikannya, bergegas ke papan tulis, untuk menulis.....
Di awal masuk kelas ini\, belum memulai pembelajaran yang sesungguhnya\, hanya *****pendahuluan setiap mata pelajaran oleh setiap guru yang bersangkutan.