The Richman And Powerful

The Richman And Powerful
Episode 16: Kesalahpahaman!



Menginjak pada wajah salah satu orang yang berbaring di lantai, pilih yang terdekat: “Katakan siapa yang telah mengirimmu dengan alasan yang tidak masuk akal ini. Hei... apakah kamu tidak tahu bahwa aku baru saja check in. Tiba-tiba ada orang yang datang untuk mengecek meteran air, apakah itu masuk akal? Dan jelas ada tombol bell di samping pintu, kenapa tidak terpikirkan untuk menekannya....”


Wajah orang yang diinjak menjadi gelap, mendapati dirinya bingung harus berkata apa. Setelah menerima pukulan itu, sangat sulit berbicara. Sangat aneh, seluruh tubuh terasa kram menyakitkan, ini jelas siksaan, namun tidak dapat berteriak.


“Cepat, katakan sesuatu, setelah itu aku akan membiarkanmu pergi.” Kata Gin Wijaya, tiba-tiba teringat, bahwa dia menyerang mereka dengan teknik itu. Hei... sedikit rasa bersalah. Mereka akan merasa kram seluruh tubuh dalam waktu yang lama. Ini teknik siksaan, yang dapat membuat orang jera.


“Hei... ini semua salah kalian sendiri, oke. Hei...  Jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu. Apakah kamu tidak tahu bahwa aku merasa takut sekarang.” Kata Gin Wijaya dengan nada santai.


Takut kentutmu!


F*ck... Jelas wajahmu memiliki ekspresi main-main, di sana....


Mereka hanya dapat mengutuk dalam hati mereka yang terdalam. Sial tubuh sakit sekali!


“Gin... Apa sedang terjadi? Sebelumnya aku mendengar orang berteriak kesakitan!” Suara merdu terdengar dari belakang\, Meimei bergegas\, dengan tubuh berbalut handuk putih\, memperlihatkan kaki yang *****\, dan******.


Melihat banyak orang berbaring di lantai, mulut kecil segera ditutupi dengan salah satu telapak tangan karena terkejut, mau tidak mau menatap Gin Wijaya yang untungnya terlihat baik-baik saja, dan keren. Jantung rasanya naik turun.


“Cepat kembalilah, mereka akan segera aku urus!”


“Apakah kamu baik-baik saja? Dan siapa mereka?”


“Jangan bertanya lagi, cepat kembali, dan jangan keluar, jika aku tidak memanggilmu.” Berkata serius, sedikit menekankan dalam nada bicaranya.


Pada akhirnya, Meimei hanya bisa mengangguk patuh berbalik pergi masuk.


Melihat punggung Meimei pergi, segera bergegas mengumpulkan delapan orang menjadi satu. Kemudian mengikatnya dengan tali.


Mengambil smartphone kemudian menghubungi Nando yang kekar. Sambil menunggu orang sialan itu\, Gin Wijaya bergegas  untuk menyelesaikan misi ***** membaca Novel.


Misi **** berhasil diselesaikan\, tepat Nando yang kekar telah tiba.


Melihat delapan orang yang telah diikat dengan tali jemuran murahan\, tubuh terlihat kaku\, beberapa orang di antara mereka\, mulut terbuka lebar\, dan kaku yang dapat dimasuki telur angsa di dalamnya\, dan yang membuat orang bersimpati adalah tatapan mata yang meratap itu. Seolah-olah ingin berkata ******.


Situasi ini? Nando yang kekar tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Tidak lama kemudian Nando yang kekar, kembali ke tuhan, dan menggaruk kepala karena malu: “Sebenarnya, Mr. Gin... masalah ini hanyalah kesalahpahaman...”


“What?” Bahkan Gin Wijaya yang sedang menggali tambang emas di lubang hidung, mendadak berhenti sejenak, mau tidak mau memiliki ekspresi terkejut, kemudian menggunakan sedikit kecerdasannya, berkata acuh tak acuh: “Kesalahpahaman? Apa yang terjadi? Apa kamu mengenal mereka?”


Hei... Entah mengapa melihat tatapan itu, membuat Nando yang kekar merasa gugup untuk pertama kalinya. Kata-kata tersebut seolah-olah mengatakan bahwa masalah ini berasal dari dirinya.


Menggaruk kepala yang tidak gatal dengan rasa malu, Nando yang kekar mengambil nafas dalam-dalam, lalu hembuskan, dan berkata:


“Itu... Hei... mereka sebenarnya adalah pengawal yang bertugas untuk melindungi nona Sarah. Saat saya berkendara di jalan, saya memberitahu mereka bahwa nona Sarah telah menambah pengawal pribadi, tetapi mereka tampaknya kurang yakin, jadi mereka....”


Mendengar itu, mata Gin Wijaya menyala, langsung angkat tangan untuk menyela, dan langsung mencibir:


“ Mereka tidak yakin, sehingga mereka datang ke pintu, dan ingin memberi diri mereka sedikit gengsi. Tetapi pada akhirnya mereka berakhir malu, karena menendang lempengan besi. Hei... jelas rutinitas semacam ini tidak baik untuk diterapkan. Tampaknya mereka perlu didik kembali........  Aku juga berharap situasi yang konyol ini tidak akan terjadi lagi lain kali. Aku di sini bukan untuk menemani kalian dalam perkelahian, melainkan untuk melindung keindahan... Batuk... Batuk... maksudku melindungi orang. Dan jika ada waktu lain, aku tidak menjamin bahwa aku akan berhenti begitu saja, aku akan mematahkan kakimu, aku akan mematahkan lenganmu, aku akan mematahkan....”


Horror! Orang ini mengerikan! Berpikir tentang itu membuat menggigil!


Mendengar khotbah yang begitu lama\, wajah para pendengar sudah gelap tinta gurita\, dan yang terburuk mereka terkena semprotan. Sialan ******.


“Cukup... Cukup... Mr. Gin... Jangan khawatir saya tahu apa yang anda maksud, dan yang lebih penting sekarang ini, bagaimana menangani kondisi mereka.....” Memohon,... Mengusap wajah yang basah dengan sapu tangan, Wajah Nando yang kekar sudah lama menjadi hijau, karena merasa malu, kemudian mememarahi para pengawal: “Lihat seperti apa penampilan kalian, jangan malu. Cepat minta maaf kepada Mr. Gin...”


Jika mereka dapat memutar mata mereka\, mereka akan segera melakukan\, hanya saja sekarang sungguh ***** tidak memungkinkan.


Sungguh pit...  karena rasa malu anda! Anda melampiaskannya dengan memarahi kami!


Para pengawal hanya ingin sekali-sekali mengutuk pamanmu!


Dan bagaimana cara kami minta maaf, bahkan mulut kami sulit digerakan!


“Ehem... Karena tenggorokanku sudah terasa kering, aku akan pergi untuk meminum sesuatu.”


Kata Gin Wijaya menjadi serius: “Pergi ke rumah sakit untuk menerima suntikan di ****** \, kram seluruh tubuh akan dapat di selesaikan. Ah... Benar\, karena tidak dapat bergerak\, panggil saja ambulans untuk bergegas... Baiklah\, aku pergi dengan urusanku sendiri. Bye... Bye...  Jangan terlalu di pikirkan\, aku telah memaafkan kalian.”


Melambaikan tangan, Gin Wijaya bergegas berbalik pergi dengan cepat, seolah-olah semua yang terjadi tidak ada hubungannya, dengannya.


Mendapat suntikan di *****?


Nando yang kekar: ????


Para pengawal yang diikat tali murahan: ????


Pada akhirnya dengan panggilan yang terjawab\, tidak lama kemudian dua mobil ambulans tiba di depan apartemen******. Membawa tandu untuk mengangkut ******.


Setelah berpamitan, dan sekali lagi meminta maaf, Nando yang kekar juga segera kembali, karena khawatir akan disemprot khotbah yang panjang lagi. Karena saat berpamitan, Nando yang kekar telah melihat Gin Wijaya telah membasahi tenggorokannya dengan minum air mineral. Dia panik, terburu-buru pergi.


Melihat punggung Nando yang kekar, telah menghilang dari pandangan, Gin Wijaya mau tidak mau bergumam: “Kenapa dia terlihat ketakutan saat melihatku. Bahkan gadis bau tidak takut padaku, bahkan berkata bahwa aku tampan.”


Merasa meragukan wajahnya.


Tangan Gin Wijaya, mau tidak mau menyentuh wajahnya. Merasa tidak ada masalah dengan wajahnya. Lalu, kenapa Nando yang kekar takut melihatku? Hei...


*******


Berdiri di balkon, Gin Wijaya menyalakan sebatang rokok, menyesap, dan keluarkan. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Mendesah.


Hei... kesalahpahaman pasti hanya dibuat-buat, tetapi godaan dari John Bazooxa, memikirkan hal ini hanya membuat Gin Wijaya mencibir. Beraninya bermain-main denganku!


Jika dipikir-pikir, sisihkan saja masalah ini. Lalu pikirkan bagaimana dengan mengatur medan perang yang sesungguhnya, sebelum berangkat.


Bersandar dipagar balkon, menjentikan jelaga di ujung rokok, menatap langit yang berawan. Entah apa yang dipikirkan kali ini. Namun memperlihatkan senyum yang tidak membahayakan hewan, dan manusia.


Lamunan berakhir ketika suara merdu terdengar dari belakang: “Gin... Menu makanan apa yang kamu inginkan?”


Gin Wijaya berkata tanpa berbalik: “ Aku ingin makan......” Dan tidak lupa mengingatkan: ”Kartu Vip Brilian, aku letakan di atas meja......”


Memesan takeaway secara Online, sudah menjadi kebiasaan beberapa orang di era ini.


Waktu berlalu, dan setelah lama menunggu, kurir datang, membunyikan bell, dan.....


Pesanan akhirnya sudah datang.


Jangan lupa untuk menggesek kartu Vip Brilian....